
Vaye dan Nicholas berjalan mengitari mall itu, lalu tiba tiba muncul Lucas dari sisi yang tidak terlalu jauh dari Vaye berada saat ini. Jika sudah muncul Lucas berarti bahaya datang mendekati Vaye, Vaye sebisa mungkin bersikap biasa saja karena tidak mau membuat Nicholas ikut panik dan curiga dengan kemunculan Lucas.
' Apakah telah terjadi sesuatu? paman Lucas tidak biasanya muncul sedekat ini dariku. ' Batin Vaye.
Lucas memberi tahu Vaye dengan kode menunjuk jam tangan nya dan menunjuk keatas. Yang berarti Vaye harus langsung kembali keatas apartemen nya saat ini juga, dan Vaye pun mengangguk.
" Kamu kenapa?" Tanya Nicholas yang melihat Vaye tampak seperti tengah gelisah.
" Tidak ada, hanya saja aku teringat malam ini aku harus menghubungi mommyku. Dan aku baru mengingatnya sekarang." Ucap Vaye sambil menepuk kening nya, Nicholas pun terkekeh mendengarnya.
" Sepertinya benar bahwa jatuh cinta itu membuat kita lupa segala hal." Ujar Nicholas.
" Pulanglah, nanti mommy mu menunggu dirimu." Ucap Nicholas lagi.
" Kalau begitu aku harus pulang, kamu juga pulang lah.." Ujar Vaye.
" Hmm.. sampai ketemu besok my Vaye." Ucap Nicholas.
Akhirnya keduanya pun berpisah, Nicholas langsung kembali ke kediaman nya, dan Vaye langsung naik keatas unit apartemen nya. Di depan pintu keluar rupanya sudah ada Lucas yang menunggu kedatangan Vaye, dan Vaye pun membawa Lucas masuk kedalam unit apartemen nya.
" Ada apa paman?" Tanya vaye.
Lucas langsung menunjukan pada Vaye foto foto pria yang sangat di kenalinya, foto Nicholas. Vaye tidak mengerti mengapa Lucas memberinya foto foto itu.
" Apa ini paman?" Tanya Vaye.
" Nicholas adalah salah satu anggota musuh daddymu, Vaye. " Ujar Lucas. Dan tentu saja Vaye terkejut.
" Akan sangat berbahaya jika kamu berhubungan degan Nicholas, paman sudah menyelidikinya, dan seharusnya Nicholas di bunuh semalam, karena orgaisasi itu sudah tidak membutuhkan Nicholas lagi. Namun Jilian melindunginya semalam, jadi dia lolos. Saat ini Nicholas sedang menjadi kejaran musuh daddy mu. " Ujar Lucas lagi.
Vaye jadi teringat dengan ucapan Nicholas yang mengatakan bahwa ia memiliki pekerjaan rahasia. Apakah mungking pekerjaan yang di maksud oleh Nicholas adalah pekerjaan nya di dunia gelap ( mafia ).
" Vaye mengerti paman, Vaye akan menangani itu." Ujar Vaye.
" Bukan itu maksud paman, nak. Paman ingin agar kamu menjauhi Nicholas, terlalu bahaya untuk berurusan dengan musuh daddy mu. " Ujar Lucas.
" Nicholas sudah berjuang paman, jadi aku akan membantunya. " Ujar Vaye.
" Haih, kamu selalu keras kepala seperti mommy mu. Tadi salah satu anggota itu mengikuti kalian, dan paman sudah membereskan mereka. Tapi paman tidak tahu besok besok apa yang akan terjadi pada klian." Ujar Lucas.
" Bukankah ada kalian yang akan melindungiku?? " Ujar Vaye dengan cengiran nya.
" Astaga.. Siapa yang bisa menolak senyum menggemaskan ini. " Ujar Lucas sambil mengusap kepala Vaye.
" Sudahlah, paman kalah. Kamu benar, semua akan mengerahkan kekuatannya jika sesuatu terjadi padamu. Kamu hanya harus melangkah maju kedepan tanpa ragu." Ujar Lucas
Dan akhirnya setelah pembahasan itu selesai, Lucas pun pergi dari apartemen Vaye. Setelah Lucas pergi Vaye menjadi berubah ke mode serius. Saat ini fokusnya adalah pada Timothy, malam ini dia akan mencari tahu tentang Timothy.
Vaye membuka alat alat canggihnya, sebelum itu dia menghubungi salah satu kakaknya, Nathan.
__ADS_1
" Halo adik kesayangan kakak, ada apa?" Tanya Nathan dari seberang.
" Adik kakak hanya aku seorang, tentu saja aku kesayangan kakak." Ujar Vaye dan Nathan terkekeh.
" Kak, bantu Vaye please.." Ujar Vaye.
" Bantu apa, sayang?" Tanya Nathan.
" Aku punya seorang teman yang memiliki sifat seperti psyhcopath. Dan aku harus bisa membuka kejahatan nya itu, karena dia sudah membuat salah satu teman kelasku sampai koma di rumah sakit." Ujar Vaye.
" Wow.. siapa namanya?" Tanya Nathan antusias. Salam hal hal seperti itu, Nathan sangat semangat untuk bertindak.
" Timothy Morgan." Ujar Vaye.
" Wait, what!! Timothy?? You mean Timothy yang datang pada saat kamu ulang tahun??" Tanya Nathan.
" Benar." Ujar Vaye.
" Astaga.. beri kakak setengah jam, dan kakak akan. Kirimkan semua datanya padamu." Ujar Nathan.
" Terimakasih kakak.." Ujar Vaye dengan nada bicara sangat manis.
" Ugh!! Jantung kakak tertusuk." Ujar Nathan, dan Vaye terkekeh.
" Lebay nya.. Sudah, aku juga harus menyelididki sesuatu. Telpon aku jika kakak sudah mendapatkan buktinya." Ujar Vaye.
" Oke.." Ujar Natahan.
" Wajah ini, kenapa mereka seperti tidak asing." Ujar Vaye, saat melihat para pria yang memukuli Gama.
Vaye berpikir sangat serius, ia mengingat ingat dimana kiranya dirinya pernah bertemu dengan wajah wajah itu, hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.
" Pria yang ini adalah pria yang meminta dompet Timothy. Ya, aku yakin.. Wajah nya sama hanya terlihat lebih tua. " Ujar Vaye ketika mendapatkan titik terang.
" Astaga, apakah Timothy berkomplot untuk membunuh Gama??" Gumam Vaye, ketika menyadari sesuatu.
Setelah kurang lebih setengah jam berlalu, Beberapa pesan masuk, dan itu dari Nathan.
" Timothy Morgan.. Memiliki kepribadian yang mengerikan sejak kecil, dia mengidap Skizofrenia juga Bipolar. Namun jika penderita skizofrenia lainnya cenderung ingin bunuh diri, dia kebalikannya. Dia justru ingin membunuh orang lain." Ucap Vaye saat membaca laporan yang di berikan oleh Nathan.
Vaye tentu terkejut membacanya, rupanya diamnya Timothy sungguh menyimpan sesuatu. Vaye kembali membaca laporan laporan lainnya tentang Timothy yang Nathan kirimkan.
Bahkan dalam waktu sesingkat itu, Nathan berhasil mendapatkan data dan tanda bukti pengobatan Timothy di pusat penanganan orang orang dengan gangguan skizofrenia selama ini.
" Apakah itu sebabnya Timothy tidak berekspresi ketika melihat Gamalael meninggal dunia? Atau dia lah yang menyusun rencana pembunuhan itu." Gumam Vaye.
Ring!! Ring!!
Ponsel Vaye berdering.
__ADS_1
" Ya kak.." Ujar Vaye.
" Apakah sudah cukup?" Tanya Nathan.
" Lebih dari cukup kak, tapi apakah kakak bisa membantuku satu lagi?" Tanya Vaye.
" Katakan, kakak senang membantu adik kesayangan kakak." Ujar Nathan.
" Kakak yang terbaik.." Ujar Vaye.
" Tolong cari siapa dalang di balik pembunuhan Gamalael, putra pertama ayah Timothy dari istri pertamanya." Ujar Vaye.
" Tunggu, apakah kamu sedang mencurigai Timothy?" Tanya Nathan.
" Hmm.. entahlah, semiga hanya perasaanku saja. Tapi aku curiga dia tidak sesederhana itu." Ujar Vaye.
" Baik, kakak akan selidiki." Ujar Nathan.
Panggilan kembali di akhiri, dan Nathan kembali berkutat dengan komputernya.
Di tempat lain..
Nicholas sedang berada di kediaman nya dengan menggunakan pakaian Gama seperti biasanya. Dan Nely saat ini sedang menonton tv bersama Nicholas.
" Gama.. Kemana kira kira adikmu pergi? apakah dia bisa makan dengan baik?" Ujar Nely tiba tiba.
Nicholas tersenyum mendengar Nely mulai sering menanyakan keberadaan dirinya, kondisi Nely sudah semakin membaik.
" Dia akan baik baik saja, ma." Ujar Nicholas.
" Gama.. Mama selalu bermimpi bahwa kamu sudah meninggal. Mama melihatmu bersimbah darah dan dimakamkan. Tapi itu terasa sangat nyata." Ujar Nely.
' Itu bukan mimpi ma, itu adalah ingatan mama saat mengebumikan kakak di peristirahatan terakhirnya.' Batin Nicholas.
" Gama.. Cari adikmu, suruh dia kembali. Mama merindukannya." Ujar Nely.
' Aku di hadapan mama.' Batin Nicholas.
" Ya, nanti Gama cari adik. Sudah malam ma, mama tidurlah." Ujar Nicholas, dan Nely mengangguk.
" Gama, boleh temani mama tidur?" Tanya Nely, dan Nicholas mengangguk.
Nicholas menggandeng tangan Nely, dan Nely melihat ke jari tangan Nicholas yang tidak memiliki tahi lalat di telunjuknya. Seketika air matanya luruh.
Nely masih ingat betul, Gama.. memiliki tahi lalat di jari telunjuknya. Nicholas pun panik karena Nely tiba tiba menangis.
" Ma, ada apa?? Apakah ada yang sakit??" Tanya Nicholas, khawatir.
" Nicholas.. " Tangis Nely pecah, Nicholas terkejut karena ibunya itu memanggilnya dengan namanya, bukan nama Gama.
__ADS_1
" Nicholas.. hiks.. hiks, maafkan mama nak." Ujar Nely, terisak sambil memeluk Nicholas.
TO BE CONTINUED..