
Vaye dan Nicholas sudah duduk dengan benar saat ini. Nicholas akhirnya bisa mengendalikan dirinya berkat pelukan Vaye yang menenangkan.
" Vaye, aku sudah tidak tinggal di apartemen lagi." Ujar Nicholas.
" Ha! Kenapa?? Apakah telah terjadi sesuatu? " Tanya Vaye khawatir.
" Tidak ada.. Hanya saja aku sudah selesai membangun rumahku, jadi aku tinggal dirumahku sendiri, bersama ibuku." Ujar Nicholas.
" Ibumu?? Bukankah..." Ucap Vaye menggantung.
" Ya.. Aku membawanya pulang dari rumah sakit jiwa, supaya ibuku bisa menjalani perawatan yang lebih baik. Aku berencana mendatangkan dokter hebat yang mungkin bisa menyembuhkan ibuku." Ujar Nicholas.
" Oh.. begitu.." Gumam Vaye mengangguk angguk.
" Ngomong ngomong, dari mana kamu mendapatkan bukti bukti itu?? Itu sudah lewat bertahun tahun lamanya." Tanya Nicholas.
" Rahasia." Ujar Vaye, dan Nicholas hanya menggeleng ngelengkan kepalanya.
" Ayo.." Ujar Vaye.
" Kemana?" Tanya Nicholas.
" Makan, kau lupa ini jam berapa??" Ujar Vaye terkekeh.
Keduanya pun pergi dari danau itu bersama Joly. Joly benar benar basah kuyup karena sejak siang dia berada di air.
" Patuh ya?? Nanti aku jemput kamu setelah kamu kembali tampan." Ujar Nicholas, dan Vaye mengernyit bingung.
Saat ini mereka berfua berada di tempat pemandian anjing. Nicholas akan meninggalkan Joly untuk pergi makan, sementara Joly akan mandi disana terlebih dahulu.
" Nama dia Joly bukan??" Tanya Vaye.
" Hm.. " Sahut Nicholas.
" Lalu kenapa kamu bilang kembali tampan, dia jantan? " Tanya Vaye.
" Ya, dia jantan." Ucap Nicholas.
Vaye tak habis pikir dengan anak satu itu, anjing jantan di beri nama Joly. Tapi setidaknya Joly lebih baik dari pada kuda jantan yang gagah pemberani dia beri nama ayam.
Akhirnya mereka pun pergi dari sana dan mencari restoran yang dekat dekat dengan pemandian anjing. Mereka masuk ke restoran cepat saji yang berada disana, san mulai memesan.
" Vaye, kamu disini??" Ucap sebuah suara yang lagi lagi Vaye dengar.
Timothy, saat ini berbaris di sebelah Vaye. Vaye tidak tahu bahwa ada Timothy disana, entah mengapa Vaye menjadi kesal ketika mengingat ingat apa yang di ucapkan Timothy saat di LA.
" Ya.." Sahut Vaye singkat.
" Kamu sendirian??" Tanya Timothy.
" Tidak, aku bersama Nicholas." Ujar Vaye.
__ADS_1
" Silahkan, kak.. pesan apa?" Tanya pelayan.
Vaye menyebutkan apa saja yang ingin dia makan, tentu saja termasuk pesanan milik Nicholas, sementara Nicholas sendiri mencari tempat duduk.
" Silahkan kak, totalnya sekian.." Ujar pelayan. Vaye pun membayar, dan hendak membawa baki berisi makanan nya pergi.
" Biar aku bantu." Ujar Timothy.
" Tidak perlu, terimakasih Timothy." Ujar Vaye menolak.
Vaye pun pergi dari sana dan mencari keberadaan Nicholas. Nicholas melambaikan tangannya dan mengernyit saat melihat siluet orang yang tidak asing, Timothy.
Vaye duduk di hadapan Nicholas dengan perasaan sedikit kesal, hingga Nicholas mengernyit bingung juga.
" Apakah aku tidak salah lihat, itu tadi Timothy? " Ujar Nicholas.
" Hm.. Jangan bahas dia, aku kesal." Ujar Vaye, dan Nicholas hanya tersenyum sambil mengangguk.
Hingga akhirnya makan malam mereka pun selesai, dan keduanya berjalan menuju ke tempat pemandian anjing untuk menjemput Joly.
" Bye.." Ucap Nicholas.
" Bye?? Kau tidak mau aku antarkan pulang?" Tanya Vaye.
" Tidak perlu, ini sudah malam, kamu pulanglah." Ujar Nicholas.
" Kau yakin??" Ucap Vaye.
" Hmm.. Hati hati di jalan." Ucap Nicholas.
Nicholas pun berjalan kaki dan mencari taksi, kemudian pulang.
Di rumah sakit jiwa..
Pras datang kesana untuk mengunjungi Nely, tetapi perawat dan petugas disana mengatakan bahwa Nely sudah tidak berada disana. Dan ketika Pras bertanya kemana Nely dan siapa yang membawanya, petugas itu mengatakan bahwa mereka tidak bisa memberi tahu atas permintaan pihak keluarga.
" Siapa yang membawa Nely pergi, apakah ada kerabat Nely yang datang kemari saat aku di luar negeri?" Gumamnya.
Pras mengendarai mobilnya, dan tujuannya saat ini adalah dia akan ke apartemen Nicholas. Sesampainya disana, Pras meminta pihak resepsionis untuk naik ke lantai dimana unit Nicholas berada.
" Apakah dengan tuan Prasetya? " Tanya petugas resepsionis.
" Ya, benar." Ujar pras.
" Seorang pria menitipkan sebuah berkas untuk anda." Ujarnya.
Pras menerima berkas yang tertulis nama Nicholas disana. Ia mengernyit bingung, karena berkas itu lumayan tebal.
" Lalu ini adalah kunci akses masuk ke unit 32 D." Ujar resepsipnis itu lagi.
" Terimakasih." Ujar Pras.
__ADS_1
Pras mengambil kunci itu, lalu menaiki lift menuju unit apartemen Nicholas berada. Sesampainya ia diatas, ia terkejut mendapati apartemen yang gelap.
" Kemana anak itu." Gumamnya.
" Ibunya hilang pun dia malah tidak bisa di temui, memang anak berandalan." Ujar Pras.
Pras duduk di sofa dan membuka berkas yang di berikan oleh pihak resepsionis tadi. Ia terkejut mendapati banyak nya cek yang tertera tanda tangan dirinya disana.
" Apa apa an anak ini." Gumam Pras emosi.
Ia mengeluarkan semua isi dari map cokelat itu, di dalamnya terdapat banyak cek, kartu atm yang pernah dirinya berikan juga surat surat unit apartemen dan selembar surat yang bertuliskan..
' Jika anda membaca surat ini, maka itu bagus. Aku sudah mengembalikan semua yang pernah anda berikan padaku, uangmu aku tidak pernah menggunakannya sepeserpun. Terimakasih telah meminjamiku apartemen ini, aku sudah pergi. '
' Aku sudah membawa ibuku bersamaku, jangan khawatir.. Kami tidak akan mengganggu kehidupan bahagiamu bersama mantan selingkuhan yang sudah menjadi istri sahmu dan putra barumu yang sekarang. '
' Dan satu lagi, aku bukan putramu lagi. Hubungan diantara kita, sudah selesai. Semoga kau tidak menyesal di kemudian hari karena sudah menyia nyiakan istri sebaik ibuku, terimakasih.'
" Apa - apaan anak ini, dia membawa Nely pergi kemana. Heng!! Dasar anak keras kepala, sudah bagus aku tidak memenjarakan dia dulu karena membunuh kakaknya. Entah menurun dari siapa sifat keji nya itu." Ujar Prasetya.
" Baik, dia yang mengatakan itu maka bagus, aku juga tidak mau memiliki putra seorang pembunuh yang keras kepala. Sudah ku beri hati malah minta jantung, mati pun aku tidak peduli." Ucap Pras.
Ke esokan harinya, Nicholas sudsh rapi dengan pakaian casualnya. Ia melihat Nely yang masih tidur di dalam kamarnya, dan ia pun pergi dari sana.
" Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Ucap Nicholas.
" Baik tuan." Ujar perawat.
Nicholas mengendarai mobilnya dan melaju pergi dari rumah nya, tujuan nya saat ini adalah menemui Vaye. Ia dan Vaye sudah memiliki janji hari ini untuk sama sama menemui dokter.
Nicholas telah sampai di loby apartemen Vaye, ia pun menunggu Vaye turun dengan tetap duduk di mobil. Tiba tiba ia melihat Timothy yang turun dari mobil dan masuk kedalam apartemen.
" Mau apa dia kemari??" Gumam Nicholas.
Nicholas terus mempergatikan gerak gerik Timothy, terlihat Timothy seperti terkejut saat berbicara dengan resepsionis. Lalu kemudian terlihat Timothy juga mengangguk, dan berbalik pergi. Sayangnya, Vaye justru bertemu dengan Timothy di loby.
" Vaye.." Gumam Nicholas.
Sementara itu, Vaye sendiri terkejut melihat Timothy yang berdiri disana. Ia melirik keluar dan ia juga melihat mobil Nicholas yang terparkir di luar loby.
" Vaye, apakah kamu tahu bahwa Nicholas pindah??" Tanya Timothy.
" Ya, aku tahu." Ujar Vaye dan terbit senyuman di bibir Timothy.
" Tapi maaf aku tidak tahu dimana dia tinggal sekarang " Ujar Vaye, dan Timothy kembali kecewa.
" Dia membawa ibunya pergi dari rumah sakit jiwa, jika tidak di rawat dengan benar.. Ibunya akan membahayakan orang lain." Ujar Timothy.
' Kenapa dia peduli pada ibunya Nicholas? dia bahkan hanya diam tanoa ekspresi saat melihat kakak Nicholas terbunuh.' Batin Vaye.
" Jika kamu tahu dimana dia, tolong beri tahu aku, ya? " Ucap Timothy sembari menepuk bahu Vaye, lalu pergi dari sana.
__ADS_1
' Aneh..' Batin Vaye.
TO BE CONTINUED..