
Setelah ibu Lini pergi, Vaye berjongkok di hadapan Lini, ia menatap kasihan pada Lini.
" Kita pernah saling bersapa walau hanya sebentar, kita pernah saling bicara walau kita tidak sedekat itu. Kita adalah teman kelas, Lini." Ujar Vaye.
Lini hanya menunduk dengan menahan sakit dan menyembunyikan air matanya.
" Jika kamu mengalami kesulitan, mengapa tidak kamu meminta tolong? Alih alih terus berusaha menjadi gadis cerdas dan ceria untuk menyembunyikan kesulitanmu." Ujar Vaye.
Lini mendongakkan wajah nya dan tatapan keduanya bertemu. Lini tidak menyangka bahwa sampai di akhir Vaye masih memiliki hati yang baik. Sebutir air mata lolos begitu saja.
' Firasatku benar, Lini di paksa menjadi sempurna oleh orang tuanya. ' Batin Vaye.
" Kau lahir dari orang tua yang lengkap dan sempurna, bagaimana mungkin kau tahu rasanya menjadi aku." Gumam Lini, lalu kembali menunduk.
" Bukankah kedua orang tuamu juga lengkap? ibumu baru saja datang memukulimu dan ayahmu di bawa ke kantor polisi." Ujar Vaye.
" Dia bukan ibuku.. " Gumam Lini, Nicholas dan Vaye saling pandang.
" Dia ibu tirimu?" Tanya Nicholas, dan Lini mengangguk.
" Maaf.." Ujar Lini pada akhirnya.
" Aku juga tidak mau semuanya menjadi rumit begini, tapi aku tidak secerdas itu. Aku selalu berusaha keras untuk belajar agar bisa menggeser Timothy yang peringkat satu, tapi aku tidak bisa. Sedangkan wanita itu selalu mencaci maki diriku karena aku tidak bisa melampaui Timothy." Ujar Lini.
" Bagaimana dengan ayahmu?? Apakah ayahmu tidak tahu perbuatan ibu tirimu?" Tanya Vaye, dan Lini menggeleng.
" Terimakasih, setidaknya aku bisa mengatakan alasanku. Aku akan menyerahkan diri." Ujar Lini.
Lini bangun dan tersenyum kearah Vaye dan Nicholas, lalu ia berjalan pergi. Baik Vaye dan Nicholas keduanya saling pandang, tidak menyangka Lini mengalami begitu rumitnya hidup di kekang dan di tuntut untuk menjadi sempurna.
" Ayo kita pergi, dia bilang dia akan menyerahkan dirinya sendiri." Ujar Nicholas.
" Hmm.. Ayo." Ujar Vaye.
Vaye dan Nicholas pun pergi dari koridor itu, mereka berjalan berlawanan arah. Lini ke kiri, Vaye dan Nicholas ke kanan.
Lini berjalan dengan tertatih tatih menaiki tangga. Ia menangis tapi wajahnya datar tidak menunjukan ekspresi atau emosi apapun, hanya air matanya yang sesekali menetes. Hingga akhirnya ia sampai di atap sekolah.
" Akankah disana lebih baik?? Aku lelah." Gumamnya.
Lini menatap matahari sore itu yang terlihat sangat cerah. Lalu ia menatap keseluruhan pemandangan yang terlihat oleh matanya itu. Ia berdiri di tepi pembatas dan tanpa aba aba dia menjatuhkan dirinya.
BRAK!!
__ADS_1
" KYAA!!! " Teriak semua orang yang melihat Lini dihadapannya tergeletak bersimbah darah di atas tanah dekat sekolah.
" Astaga!! Ada yang bunuh diri!!" Teriak siswa lainnya.
Lini yang tengah di cari semua orang tergeletak tak bernyawa disana. Ia lompat dari atap sekolah karena merasa lelah dengan semua tekanan di hidupnya.
" Itu Lini.. dia lompat dari atap sekolah." Ujar siswa lain.
" Lini, bunuh diri??" Gumam Vaye.
Vaye dan Nicholas berlari dan melihat tubuh Lini dengan banyak darah di kepalanya. Mata Lini bahkan terbuka dan masih mengalirkan sisa air matanya.
Akhirnya sekolah di evakuasi, polisi melakukan penyelidikan karena luka luka di tubuh Lini yang begitu banyaknya. Vaye dan Nicholas pun maju, untuk menjadi saksi. Bahwa Lini di pukuli oleh ibu tirinya dan di tuntut untuk menjadi sempurna olehnya.
" Saya sarankan untuk bapak memeriksa kediaman Lini, dia pasti memiliki petunjuk tentang apa yang dia alami yang dia tinggalkan di dalam kamarnya." Ujar Vaye.
Polisi membawa jasad Lini pergi dari sekolah dan beberapa polisi lain mendatangi kediaman Lini untuk memeriksa sang ibu.
Hari itu, peristiwa besar terjadi di sekolah. Dari mencuatnya identitas Vaye, hingga terbongkarnya kasus Lini yang rupanya di tuntut menjadi sempurna oleh orang tuanya.
Kadang orang tua selalu memaksa apa yang tidak menjadi kesukaan anaknya, tanpa tahu apakah anaknya itu nyaman atau tidak. Kesempurnaan anak adalah kebanggaan tersendiri bagi para orang tua, namun.. Apakah harus menuntut sang anak?
Kita bisa belajar dari Lini.. Dia adalah gadis yang ceria, namun di dalamnya ia memendam banyak luka. Dia yang baik itu selalu di triger untuk menjadi lebih, lebih, dan lebih dari sempurna. Hingga akhirnya ia menjadi jahat dan menghalalkan segala cara untuk kesempurnaan nya.
Seminggu berlalu
Setelah Lini bunuh diri, sekolah di liburkan selama seminggu karena polisi melakukan olah TKP dan penyelidikan selama Lini belajar disana. Dan hari ini sekolah kembali di mulai.
Selama seminggu itu Nicholas menjalani terapinya bersama sang ibu, Nely. Sementara Vaye..
" Mommy, Vaye harus ke sekolah." Ujar Vaye, ia merengek karena sejak pagi mommy nya memeluk dirinya.
" Mommy ikut." Ujar Yara.
Ya, Yara datang dari LA ke Indonesia demi sang putri yang sempat di kabarkan mencontek itu. Yara murka putrinya di perlakukan demikian, jadi disinilah dia sekarang. Tinggal bersama Vaye.
" Mana bisa mommy ikut Vaye sekolah, Vaye sudah besar. Nanti apa kata orang orang disana." Ujar Vaye.
" Mommy hanya ingin melihat sekolahmu, sayang.. mommy mohon, hum??" Ujar Yara.
" Astaga... " Gumam Vaye.
" Baiklah, mommy boleh ikut." Ujar Vaye akhirnya. Yara tersenyum senang dan akhirnya dirinya bersiap.
__ADS_1
Yara yang memang pada dasarnya cantik itu tidaklah perlu menggunakan make up, rambut peraknya juga ia biarkan tergerai. Sungguh Yara tidak terlihat seperti wanita yang telah memiliki 3 anak remaja.
" Ayo." Ujar Yara.
Keduanya turun menuju basment dan melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan itu, Yara sendiri merasa bernostalgia, ia tumbuh di kota itu hingga dewasa. Pahitnya hidup ia jalani hingga akhirnya bertemu keluarga kandungnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di sekolah. Dan seperti biasanya Nicholas sudah duduk diatas motornya menunggu Vaye. Nicholas mengernyit bingung, karena dari luar ia seperti melihat ada dua orang di dalam mobil Vaye.
Dan benar, setelah Vaye membuka pintu, sosok di samping Vaye juga membuka pintunya.
" Halo.." Ujar Yara, namun Nicholas justru bingung dan menatap Vaye.
" Nicholas, ini mommy ku." Ujar Vaye.
" Oh.. Halo tante, saya Nicholas." Ujar Nicholas.
Nicholas memang belum bertemu dengan Yara sejak Yara datang ke tanah air, karena Yara hanya berada di apartemen dan Ia bertemu dengan Vaye di luar apartemen. Vaye sendiri tidak bilang bahwa sang mommy datang dari LA.
" Halo juga.. Apakah kamu teman Vaye?" Tanya Yara.
" Ya, benar.." Ujar Nicholas.
" Waah.. anak mommy sudah punya TEMAN ruoanya." Ujar Yara menggoda. Yara sengaja menekan kata Teman pada Vaye.
" Mom... Please. Vaye harus ke kelas, mommy pergi saja keruangan paman Jil sendiri." Ujar Vaye.
Jilian kini turun tangan menjadi kepala sekolah di sekolahnya sendiri. Dia ingin mendisiplinkan dan menata ulang lagi sistim guru guru disana.
" Eh, mana bisa begitu.. Mommy bisa tersesat nanti." Ujar Yara.
" Yara?? Kamu datang kemari?" Tanya Jilian yang baru saja turun dari mobil.
" Hai kak, aku mengantar Vaye.. Sekaligus ingin melihat sekolahmu." Ujar Yara.
" Nah.. Karena paman Jil sudah datang, maka Vaye dan Nicho pergi ke kelas dulu, bye mommy.. bye paman." Ujar Vaye dengan senyum manis dan langsung menarik tangan Nicholas pergi dari sana.
" Aih... Anakku sudah besar kak." Ujar Yara.
" Sudah siap punya menantu?? " Ujar Jilian sambil terkekeh.
" Astaga.. menantu?? " Ujar Yara terkejut sendiri.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1