Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. MENGINTROGASI


__ADS_3

Vaye dan Nicholas membawa dua pria itu pergi dari sana lalu memasukan nya kedalam mobil Vaye.


" Sayang, biar aku yang menyetir. " Ujar Nicholas


" Kamu tidak akan tahu kemana tujuan kita, aku saja. " Ujar Vaye dan tersenyum misterius.


Memangnya kemana tujuan kita?" Tanya Nicholas, namun Vaye hanya tersenyum.


Vaye melajukan mobilnya, sementara dua preman di jok belakang nya kini sedang pingsan karena Vaye memukul titik saraf mereka.


" Kita mau kemana? Aku belum pernah lewat ke jalan ini." Ujar Nicholas.


" Kamu akan tahu nanti." Ujar Vaye misterius.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang megah, bangunan itu ber cat putih dan memiliki pekarangan yang luas. Nicholas bingung karena saat sampai di sana gerbang itu dibuka otomatis oleh penjaga disana, yang lebih aneh lagi adalah penjaga itu menunduk memberi hormat kepada Vaye.


Mobil Vaye pun memasuki pekarangan itu lalu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah, lalu tiba tiba muncul para penjaga lain yang menghampiri mobil Vaye.


" Nona Vaye.. akhirnya nona datang juga kemari. " Ujar sebuah suara, Vaye menengok kearah yang punya suara dan berdiri Noah disana.


" Halo Noah.. " Ujar Vaye.


Noah.. apakah kalian masih mengingat sosok bernama Noah? Jika masih, maka kini penampilan nya berubah. Noah menjelma menjadi laki laki dewasa yang matang. sementara Dawn, Dawn telah meninggal sekitar 3 tahunan yang lalu karena perang dengan pihak musuh.


Dawn mengorbankan diri nya untuk melindungi sang sahabat, Noah. Noah bersumpah bahwa dia akan selamanya mengabdi pada BLOOD meskipun ia akan tua nanti, ia akan tetap berdiri menjaga BLOOD dengan segenap jiwanya.


" Siapa yang nona bawa ini?" tanya Noah.


" Kekasih Vaye, Nicholas. Noah, di dalam mobil ada dua orang tahanan kami, tolong bawa mereka berdua ke ruang introgasi." Ujar Vaye.


" Baik, nona.. " Sahut Noah.


" Ayo.. " Ujar Vaye pada Nicholas. Vaye membawa Nicholas msuk kedalam rumah itu.


" Rumah siapa ini, sayang?" Tanya Nicholas, sejak tadi di kebingungan sendiri.


" Ini adalah rumah daddyku, lebih tepat nya markas BLOOD yang berada di Jakarta." Ujar Vaye, dan Nicholas tentu saja terkejut mendengarnya.


" BLOOD?? " Nicholas bertanya dengan wajah terkejut.


" Hmm.. Jangan takut, meskipun kamu bekerja di pihak musuh, tapi kamu tidak tahu apapun. " Ucap Vaye, tapi tentu saja Nicholas tetap ketakutan.


Vaye mengajak Nicholas untuk ke ruang tahanan, banyak yang ingin Vaye katakan dan Nicholas tanyakan. Tapi untuk sekarang Vaye ingin agar preman itu membuka kebenaran. Saat Vaye dan Nicholas sampai disana, terlihat kedua preman itu sudah sadar, dan terkejut ketika melihat Noah yang berdiri di hadapan nya saat ini.


" Noah!! "Ucap mereka.


Siapa yang tidak mengenal Noah, sosok yang selalu berdiri di garda terdepan BLOOD. Pria bengis dengan sejuta cara sadis yang membuat lawan nya mati menderita apabila tidak menjawab pertanyaan nya dengan jujur.

__ADS_1


" Kenapa kau menculik kami? kami tidak melakukan kesalahan apapun padamu." Ujar salah satu preman itu.


" Kalian tidak membuat kesalahan padaku, tapi padanya. " Ujar Noah sambil melihat kearah Vaye ketika Vaye masuk ke dalam.


" Hei nona! Kami hanya tidak sengaja mengganggumu malam itu, apa harus melakukan hal seperti ini!" Ujar preman yang satu lagi.


" Beraninya membentak nonaku!!" Ujar Noah.


" N- nonamu?? Apakah dia putri ketua BLOOD?" Ujar yang satu lagi, dengan ketakutan.


Bukan hanya preman itu yang kaget tapi Nicholas juga. Jika Vaye adalah putri ketua BLOOD bukankah berarti Ethan Dominique adalah orang nya? Nicholas sering mendengar tentang BLOOD tapi dia tidak tahu nama ketua BLOOD.


" Aku bisa melepas kalian, tapi tentu saja itu tidak cuma cuma. Ada beberapa syarat yang harus kalian lakukan, jika ingin bebas dari sini hidup hidup." Ujar Vaye.


" Ap- apa syaratnya??" Tanya preman yang berwajah seram.


" Kau mengenal dia bukan?? " Ucap Vaye sambil menarik tangan Nicholas agar mendekati preman itu.


Preman itu tentu saja diam dan pias, dia sudah pasti mengenal Nicholas.


" Jawab!" Bentak Noah.


" I- iya aku mengenalnya." Ujar pria itu.


BUGH!!


Tiba tiba bogeman mentah melayang begitu saja dari Nicholas kearah pria itu.


" Nicho, sabar." Ujar Vaye.


" Kita harus mendapatkan semua buktinya." Ujar Vaye lagi.


Wajah Nicholas saat ini sangat muram dan penuh emosi, bagaimana tidak.. Saat ini dia berhadapan dengan pria yang tiga tahun lalu membunuh kakak nya.


" Timothy yang menyuruhmu?" Tanya Vaye dan preman itu terkejut.


" Bukan!! Aku sendiri yang membunuhnya." Ujar pria itu.


" Kau mau kaki, tangan, atau kepalamu yang terpisah dari tubuhmu lebih dulu?? " Ujar Noah, dan pria itu ketakutan.


" Jangan menunggu untuk di siksa, jika kamu bisa bekerja sama dengan baik, maka kamu bisa keluar dengan selamat dari sini." Ujar Vaye.


" Apakah kalian sungguh tidak akan menyiksaku??"


" Hmm.." Ujar Vaye.


" Baiklah, aku akan mengakuinya.. Benar tuan muda yang nenyuruhku." Ujar pria itu.

__ADS_1


" Apa maksudmu tuan muda?? Apakah kalian bekerja pada ayahku!! Apakah ayahku juga terlibat dengan pembunuhan ini itu?" Ucap Nicholas.


" Tuan muda bukan anak ayahmu, dia putra tuan kami. " Ujar pria itu.


Tentu saja Nicholas dibuat terkejut sampai tidak bisa berkata apa apa, apa apaan pikirnya.


" Kita lanjutkan obrolan kita lagi nanti. Sekarang aku ingin kalian mengakui kebenaran tentang kejadian pembunuhan itu sedetail mungkin, aku akan merekamnya. Jika sampai kalian berani bohong, kalian tahu sendiri konsekuensinya." Ujar Vaye dan kedua orang itu mengangguak dengan cepat.


Di tempat lain..


Ibu Bagas sedang berjalan di lorong rumah sakit, ia baru saja selesai dari toilet. Entah mengapa ia merasakan merinding yang luar biasa, seolah dirinya tengah di tatap seseorang saat ini.


' Apakah hanya perasaanku saja, kenapa aku merasa seseorang sedang mengawasiku.' Batin ibu Bagas.


" Halo tante.." Ujar Timothy tiba tiba.


Ibu Bagas tentu langsung terkejut dan sedikit takut. Walau dia sebelumnya ingin menghajar Timothy tapi ketika melihat Timothy yang saat ini berdiri di hadapan nya dengan senyum manis, dia menjadi takut.


Padahal Timothy bersikap selayaknya remaja 17 tahun pada umumnya, bahkan dia tersenyum sangat manis. Tapi entah mengapa ibu Bagas justru merasa ngeri sendiri melihatnya.


" Eh.. I- iya nak.. " Ujat ibu Bagas.


" Tante kenapa? Sepertinya sangat terkejut melihatku? Apakah aku mengagetkan tante??" Tanya Timothy.


" Ah, iya.. Tante sedang memikirkan sesuatu, jadi terkejut." Ujar ibu Bagas.


" Begitu? Tante.. Aku ingin mengunjungi Bagas, apakah Bagas sudah ada kemajuan?" Tanya Timothy.


' Anak ini benar benar psikopat yang mengerikan, dia bahkan bisa bersikap sangat manis setelah melakukan kekerasan pada anakku.' Batin ibu Bagas.


" Tante..." Panggil Timothy.


" Ah, iya.. Maaf nak, tante terlalu lelah jadi tidak fokus. Kamu bilang apa tadi?" Tanya ibu Bagas.


" Aku ingin mengunjungi Bagas, tante." Ujar Timothy.


" Oh, silahkan nak.. Bagas pasti senang memiliki teman yang baik sepertimu." Ujar ibu Bagas.


" Kalau begitu aku masuk tante." Ujar Timothy, dan ibu Bagas mengangguk.


Timothy masuk kedalam ruangan Bagas, dan terlihat Bagas yang terbaring di ranjang rumah sakit. Timothy menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan.


" Nak, apakah tante bisa titip Bagas sebentar? Tante harus menemui dokter." Ujar ibu Bagas.


" Oh, iya tante.. aku akan menemani Bagas. " Ujar Timothy dengan senyumnya.


Ibu Bagas tersenyum dan kemudian pergi dari sana. Setelah dua menit ibu Bagas pergi, Timothy mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Entah apa itu yang jelas itu adalah cairan berwarna putih bening seperti air biasa.

__ADS_1


Timothy menyuntikan cairan itu ke selang yang membantu pernafasan Bagas. Kemudian Timothy tersenyum sambil melihat Bagas, dan memasukan kembali suntikan itu kedalam tas.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2