
Ke esokan harinya..
Matahari telah menyingsing cukup tinggi, Yara baru saja terbangun dari tidurnya. Mungkin karena semalam ia tidur hampir pagi dan kelelahan , jadi ia tidur sangat nyenyak.
Yara duduk sembari mengucek matanya sambil mengumpulkan nyawa. Ia bingung melihat selimut yang ada di atas tubuhnya.
" Selimut.?? Siapa yang menyelimutiku.? " Ucap Yara bingung.
Tapi kemudian ia mengingat Rayson dan Jilian. Mungkin antara mereka berdua pikir Yara. Ia tak ambil pusing dengan hal itu.
Tok.. Tok..
Rayson masuk membuka perlahan pintu kamar itu.
" Kamu sudah bangun, aku membawakan baju ganti untukmu. Ini pakaian mu di kediaman Ethan." Ucap Rayson.
" Terimakasih." Ucap Yara.
" Bersiaplah, aku sudah menyiapkan makanan untuk kita bertiga." Ucap Rayson.
" Baik, tunggu sebentar." Ucap Yara. Yara pergi memasuki kamar mandi yang berada di ruangan itu.
Tak lama Yara keluar, ia sudah mandi dan berganti pakaian. Saat ini ia menggunakan kaos berwarna hitam, dan kemeja kotak kotak berwarna navy, dengan celana jeans hitam. Beruntungnya Yara sudah tidak menyimpan barang barang berbau perempuan di kediaman Ethan, Kain yang selalu melilit di dadanya juga ia sembunyikan dengan rapi.
Satu yang membuat Yara susah, yaitu saat tamu bulanan nya datang. Yara harus ekstra hati hati dalam menaruh benda itu, mau tak mau ia mampir kesebuah toko, lalu menggantinya di toilet umum jika ia sedang berada di luar rumah.
" Kemana Rayson.." Ucap Yara yang tak melihat Rayson berada di ruangan itu.
Yara keluar dari kamarnya, tiba tiba dokter yang menangani Ethan berlarian memasuki ruangan rawat Ethan. Yara menjadi panik juga, karena ia tak melihat Rayson ataupun Jilian.
Tiba tiba Rayson keluar dari kamar Ethan dengan wajah khawatir.
" Apa yang terjadi.?" Ucap Yara.
" Ethan.. Kondisinya semakin lemah. Kami menyelidiki peluru yang di tembakkan oleh ayah nya Ethan , disana terdapat racun mematikan." Ucap Rayson.
" Apa.!! " Ucap Yara terkejut.
Tak lama muncul dokter yang berlarian keluar, Yara menjadi bingung sendiri. Ia sangat khawatir dengan keadaan Ethan. Lalu tak lama dokter kembali lagi masuk kedalam ruangan Ethan sembari membawa sebuah kotak.
" Dokter, apa yang terjadi.?" Ucap Yara.
" Maaf tuan, kami sedang terburu buru." Ucap Dokter itu.
Dokter itu masuk kedalam ruanga Ethan lagi, dan tak lama seorang perawat muncul.
"Apakah disini ada yang bernama Yara.??" Ucap sang perawat.
__ADS_1
" Saya, saya Yara." Ucap Yara tanpa ragu.
" Tolong anda masuk, pasien menyebut nama anda." ucap perawat itu.
Dengan segera , Yara masuk kedalam ruangan Ethan. Terlihat Ethan yang nampak pucat pasi. Bibirnya sedikit membiru, ia menyebut nama Yara berulang kali.
" Yara... " Lirih Ethan.
" Ethan, Ethan kau baik baik saja.? " Ucap Yara.
" Pasien sedang tak sadarkan diri, dia menyebut nama anda di bawah alam bawah sadarnya." Ucap dokter.
" Saya permisi dulu." Ucap sang dokter.
" Tapi dokter, apa dia sudah di tangani? Mengapa wajahnya begitu pucat." Ucap Yara.
" Tuan Dominique sudah kami tangani, racun juga sudah ditawar. Semoga tuan Dominique bisa melewati ini. Jika tidak... " Ucap Dokter menggantung.
Yara menatap Ethan dengan pandangan gusar. Dokter yang berada disana pun keluar dari ruangan, lalu masuklah Rayson.
" Dia mencarimu saat kamu diculik oleh Roger, bahkan ia juga menghajar Roger tanpa ampun. Kau tahu Yara, dalam seumur umur aku bersama Ethan, baru saat hari itu aku melihatnya begitu marah saat mengetahui kamu di culik oleh Roger. Ditambah lagi kamu tidak bisa di temukan seharian itu." Ucap Rayson dengan wajah sendu.
Yara menatap Ethan, perlahan tangan nya ia ulurkan. Dengan ragu ragu Yara menyentuh tangan Ethan. Itu adalah pertama kalinya ia berinisiatif menyentuh tangan Ethan.
" Ethan.. Cepatlah bangun, cepat sembuh." Ucap Yara.
" Yara, dia tidak pernah begitu perhatian kepada siapapun, dia tampaknya menyukaimu." Ucap Rayson.
" Lalu, bagaimana denganmu.?" Tanya Rayson.
Yara terlihat bingung, ia tidak mengerti dengan perasaan nya. Mungkin memang benar ia juga sudah mulai menyukai Ethan, tetapi bagaimana dengan janjinya. Ia juga tidak ingin selamanya menggunakan identitas palsu.
" Yara, jika hari ini Ethan tidak bisa melewati masa kritisnya... "
" Dia akan melewatinya, dia pasti bisa." Ucap Yara memotong ucapan Rayson.
" Yara... Aku mencintaimu." Ucap Ethan lirih dalam tidurnya.
DEG.!! DEG.!! DEG.!!
Jantung Yara berdetak tak bisa dikondisikan. Ia mendengar Ethan mengigau.
" Aku mencintaimu.. " Ucap Ethan lagi.
" Dasar berandalan, bahkan dalam kondisi kritis saja selalu memikirkanmu.." Ucap Rayson.
' Bagaimana ini Tuhan.' Batin Yara berucap.
__ADS_1
" Sayang nya waktunya hanya sebentar." Ucap Rayson sendu.
" UGH.!! Uhuk.!! Uhuk.!! Uhuk.!! " Ethan terbatuk, lalu tiba tiba ia muntah darah.
Rayson dan Yara panik, mereka membantu Ethan agar muntahan itu tidak masuk kehidung dan mengakibatkan tersedak. Tiba tiba Ethan membuka matanya.
" Yara.. " Ucap Ethan, lalu kembali tak sadarkan diri.
TUUUUUUUUTTTTTT...!!!
" ETHAN.!! " Teriak Rayson.
Rayson langsung memencet tombol darurat.
" Dia tidak bernafas.! Than, bangun kau baj*ngan. Kau tidak boleh mati.!!" Teriak Rayson.
Yara tertegun melihat kondisi Ethan di hadapan nya saat ini, ia tidak percaya Ethan tewas di hadapan nya. Entah mengapa jantungnya berdetak tak karuan, nafasnya memburu ada rasa sakit di dadanya. Sesak.. Yara berkaca kaca, kakinya begitu lemas.
Tiba tiba dokter masuk , dan memeriksa Ethan. Mereka mengecek alat bantu nafas Ethan.
" Siapkan defibrillator sekarang.! " Ucap sang dokter.
Perawat perawat yang berada disana pun langsung menyiapkan defibrillator, sebuah alat untuk mengembalikan detak jantung pasien yang mengalami kondisi henti jantung atau hilang detak jantung.
" Siap, satu, dua , tiga.!!"
Berulang ulang Ethan diberikan defibrillator, namun tidak menunjukan tanda tanda jantung yang berdetak kembali di layar monitor, akhirnya dokter pun menyerah.
" Maaf tuan Silvester, tuan Dominique tidak dapat diselematkan." Ucap Dokter itu.
" Tidak.!! Kalian harus membangunkan dia lagi, kalian adalah dokter, tugasmu adalah menyembuhkan pasien. Cepat lakukan apapun agar dia kembali bangun, CEPAT !! " Teriak Rayson.
" THAN, kau tidak boleh begini. Kau tidak boleh pergi, aku tidak mengijinkanmu pergi Bangs*t.!! Bangun Than. Ini tidak lucu.!! " Teriak Rayson.
" Tuan Silvester, tolong tenangkan diri anda." Ucap Sang dokter.
Mereka membawa Rayson keluar, dan kini hanya tinggal Yara seorang bersama dengan Jasad Ethan di ruangan itu. Entah mengapa sesak di dada Yara tidak bisa di tahan lagi. Air matanya luruh begitu saja. Yara terisak, ia berjalan menghampiri Ethan dengan tidak percaya.
" Kamu menyerah begini saja.? Kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kamu menyerah begitu saja.? Ethan Dominique, beraninya kamu membohongiku." Ucap Yara dalam tangisnya, Yara tidak meraung, hanya terisak pelan. Namun air matanya sangat deras mengalir.
" Kamu pembohong, kamu bilang akan selalu ada untukku, tapi sekarang kamu pergi begitu saja. Lalu bagaimana dengan aku..?" Ucap Yara.
Entah, setelah melihat jasad Ethan, Yara akhirnya menyadari. Ia merasa kehilangan, kehilangan sesuatu yang ada didalam hatinya, Yara menyadari ternyata dirinya juga mencintai Ethan.
" Kamu pernah bertanya padaku, apakah aku sudah mulai mencintaimu atau belum, sekarang akan aku jawab.. Aku mencintaimu." Ucap Yara terisak pelan sambil menggenggam tangan Ethan.
" Aku mencintaimu Ethan.." Ucap Yara lagi, sembari menjatuhkan kepalanya diatas tangan nya yang tengah menggenggam tangan Ethan.
__ADS_1
DEG!! DEG!! DEG!!
TO BE CONTINUED ..