
Pada akhirnya, Nicholas ikut dengan Vaye yang memiliki janji nonton bareng dengan Timothy. Bukan ikut, lebih tepatnya mengikuti keduanya. Nicholas sampai menggunakan penyamaran untuk mengikuti dua orang itu.
" Apakah begini sudah aman, aku seperti orang aneh sekarang." Gumam Nicholas sendiri.
Nicholas menggunakan kemeja seperti kemeja bapak bapak, kemeja itu ia masukan kedalam celana dan dia menggunakan kaca mata juga kumis palsu. Tidak lupa topi anyaman khas bapak bapak yang akan pergi ke pantai.
' Ah, itu mereka.' Batin Nicholas.
Terlihat Vaye bersama Timothy yang berjalan berdua, tidak ada yang istimewa dari penampilan Vaye sebenarnya, tapi Nicholas menatapnya tidak suka. Karena Vaye menggerai rambutnya yang biasanya selalu terkuncir.
" Apakah dia berdandan demi bertemu si bren*sek itu, ck!" Gumam Nicholas.
Apakah itu termasuk cemburu?? Aneh bukan? Nicholas kemudian pergi mengikuti kemana Vaye dan Timothy pergi. Hingga akhirnya mereka berdua sungguh masuk ke dalam bioskop.
Nicholas juga ikut masuk kedalam, walau saat di pemeriksaan petugas yang memeriksa Nicholas bingung.
Pasalnya film yang akan di putar itu film anak anak remaja, petugas itu mengernyit bingung karena mengira Nicholas adalah bapak bapak tua mesum.
" Maaf tuan, apakah anda tidak salah masuk? ini untuk film anak remaja." Ujar petugas.
" Oh, maaf. Saya sedang memantau anak gadis saya yang barusan masuk. Dia bersama teman laki laki nya, saya khawatir anak saya melakukan hal yang tidak tidak." Ujar Nicholas.
Ada saja akal nya, petugas itu pun mengangguk anggukan kepalanya.
" Rupanya begitu, kalau begitu silahkan masuk tuan." Ujar petugas.
" Terimakasih, terimakasih." Ujar Nicholas.
' Huuft.. Untung saja dia tidak minta tanda pengenal.' Batin Nicholas.
Akhirnya Nicholas di izinkan masuk juga, Nicholas mencari tempat duduk yang berada di belakang Vaye dan Timothy, dan mereka menonton film yang di putar di layar bioskop.
' S*alan, apa si bren*sek ini mencoba merangkul Vaye.' Batin Nicholas, ketika melihat tangan Timothy terulur kebelakang tubuh Vaye.
Tapi rupanya Vaye juga menyadari itu, Vaye dengan sigap menghindar.
' Good girl. ' Batin Nicholas.
Hingga akhirnya film itu selesai, yang Nicholas lakukan hanya memantau Vaye dan Timothy, pergerakan sedikit saja dari Timothy, dia tahu dengan sangat jelas walau ruangan itu gelap.
" Bagaimana menurutmu film tadi?" Tanya Timothy.
Kini keduanya sedang duduk di sebuah restoran untik makan malam bersama. Padahal tidak ada janji makan bersama, tapi Timothy mengajak Vaye untuk makan malam.
" Bagus.." Ujar Vaye.
__ADS_1
Nicholas sendiri duduk tidak jauh dari mereka, dan menguping pembicaraan mereka. Tapi karena tempat itu ramai, Nicholas tidak begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Vaye dan Timothy.
' Apa yang bagus? Apakah Vaye memuji si bren*sek itu?' Batin Nicholas.
" Vaye, boleh aku jujur satu hal?" Ujar Timothy.
" Jujur perihal apa??" Ucap Vaye.
" Perasaanku.. Vaye aku menyukaimu. Aku tahu ini terlalu cepat tapi aku menyukaimu sebelum aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Lebih tepatnya sejak pandangan pertama kita bertemu di kelas." Ujar Timothy.
' Woah.. Dia buru buru sekali.' Batin Vaye.
Nicholas mendengar itu, seketika darahnya mendidih. Ia emosi mendengar apa yang Timothy katakan. Tapi jika dia maju sekarang, dia akan ketahuan. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya.
' Vaye, apakah kamu juga menyukai si bren*sek itu? Kenapa kau diam saja.' Batin Bicholas.
Nicholas menatap tajam keduanya, Ia melihat Vaye hanya menatap Timothy tanpa berkata apapun. Tanpa sadar mata Nicholas memanas, ia hendak bangkit dan menghampiri Vaye namun tiba tiba Vaye berucap.
" Maaf Timothy.." Ujar Vaye.
Nicholas kembali duduk dan mendengatkan aoa yang sekiranya ingin Vaye katakan.
" Aku tidak ingin berpacaran, tidak bisakah kita hanya menjadi teman?" Ucap Vaye.
" Apakah kamu tidak menyukaiku?" Tanya Timothy.
" Mungkin aku terlalu terburu buru, Vaye apakah kamu keberatan jika aku mengejarmu?" Tanya Timothy.
Vaye menatap Timothy, sebenarnya ia ingin sekali pergi dari sana meninggalkan Timothy. Tapi Timothy seperti orang yang sedang terobsesi dengan sesuatu.
" Tidak, tapi aku mohon kamu mundur ketika aku tidak kunjung membalas rasamu. Aku tidak ingin menyakiti hati orang lain." Ujar Vaye, dan Timothy tersenyum.
" Baiklah, terimakasih." Ujar Timothy.
Nicholas pergi dari sana ketika sudah mendengar jawaban dari Vaye. Ia merasa lega karena Vaye menolak cinta Timothy, tapi Nicholas juga takut karena Vaye tidak melarang Timothy untuk mengejarnya.
Setelah makan malam selesai, akhirnya Vaye dan Timothy berpisah. Vaye berjalan memasuki lorong dimana lift untuk penghuni gedung itu berada. Tiba tiba seseorang menarik tangan nya hingga Vaye berbalik badan dan orang itu memeluk erat Vaye.
" HEI!!" teriak Vaye.
" Ini aku.." Ucap Nicholas.
Nicholas sudah berganti pakaian dengan pakaian normalnya, ia langsung kenbaki mencari Vaye dan kebetulan melihat Vaye masuk kedalam lorong itu. Ia pun langsung berlari mengejar Vaye dan memeluknya erat erat.
" Ish! Bisa lepas tidak." Ujar Vaye.
__ADS_1
" Tidak mau." Ucap Nicholas.
" Kau kenapa? Apa kau sedang ketakutan?" Tanya Vaye, dan Nicholas mengangguk.
" Kau takut apa? Ini tidak mati lampu." Ujar Vaye.
' Aku takut kamu pergi, aku takut kamu menerima perasaan Timothy, aku takut.. Kehilangan kamu.' Batin Nicholas.
Tentu saja hanya bisa Nicholas ucap dalam hati. Ia sendiri masih belum yakin dengan apa yang dia rasakan, apakah dirinya itu mencintai Vaye? Atau hanya sekedar takut kehilangan sahabatnya itu.
" Tidak ada, aku sudsh tidak takut sekarang." Ujar Nicholas akhirnya.
" Ck.. Ck.. Aneh aneh saja. Eh, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Vaye.
" Emmm.. aku mengikutimu." Ujar Nicholas jujur.
" Astaga.. bisa bisanya kau mengikuti kami, kau takut Timothy menyakitiku? Ini tempat umum Nicholas, mana mungkin dia menyakitiku." Ujar Vaye.
" Tetap saja aku takut." Ujar Nicholas, dan Vaye hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
" Ayo ke taman, sudah lama kita tidak duduk di taman apartemen." Ujar Nicholas dan Vaye mengangguk.
Kini keduanya pun berada di lantai 15, dimana taman apartemen berada. Keduanya duduk di gazebo dan menikmati pemandangan langit malam kota Jakarta itu.
" Nicholas, bagaimana jika aku berpura pura menjadi kekasih timothy??" Ucap Vaye
" Tidak boleh." Ujar Nicholas.
" Kenapa? Dengan begitu mungkin aku akan mendapat petunjuk langsung darinya." Ujar Vaye.
" Tidak, jangan bahayakan dirimu. Aku tidak mau kamu terluka." Ujar Nicholas.
" Ini adalah masalahku, Vaye.. Aku tidak mau kamu terlibat begitu jauh dan melukai dirimu. Aku akan mendapatkan kebenaran nya sendiri." Ujar Nicholas.
" Dengan apa? Kau bahkan belum seratus persen sembuh dari traumamu." Ujar Vaye.
" Intinya tidak boleh." Ujar Nicholas.
" Ish!! Kepala batu, aku ingin membantumu." Ujar Vaye kesal.
" Aku tidak mau kamu terluka Vaye, kamu adalah orang yang penting bagiku, aku tidak mau ada kehilangan lagi seperti aku kehilangan kakak ku, apa kamu tahu?? " Ucap Nicholas menatap Vaye dalam dalam sambil menyentuh kedua pipi Vaye.
" Kamu sangat penting bagiku, Vaye. Aku tidak tahu apa yang aku rasa tapi aku sangat takut kehilanganmu. Aku kesal saat kamu bersama Timothy tadi, aku bahkan hampir menghajar Timothy saat aku dengar dia mengutarakan perasaan nya padamu. " Ujar Nicholas lagi.
Vaye yang di tatap begitu dalam dan mendengar apa yang Nicholas ucapkan itu pun terkejut. Nicholas mengatakannya dengan bersungguh sungguh.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..