
Hari sekolah telah dimulai, banyak murid berdatangan yang masih tampak enggan untuk bersekolah, sebagian ada yang bersemangat, sebagian lagi ada yang masih tampak lesu.
Vaye sampai di sekolah, dan ia melihat Nicholas yang sudah duduk di atas motornya seperti sedang menunggu seseorang.
" Akhirnya.. Aku pikir kamu masih malas dan ingin berlibur lebih lama." Ujar Nicholas.
" Kepalamu.. " Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.
" Selamat kembali kesekolah." Ujar Nicholas.
" Hehe, selamat untukmu juga.. Semoga kamu tidak kembali lupa dengan apa yang kamu pelajari di tahun ajaran kemarin." Ujar Vaye.
" Perasaan aku tidak mengajak ribut seseorang, tapi kenapa aku kesal, ya?" Ujar Nicholas dan Vaye terkekeh.
Akhirnya Nicholas memiting leher Vaye dan keduanya masuk kedalam sekolah sambil Nicholas memiting leher Vaye. Sementara yang di piting hanya bisa tertawa terbahak.
" Wah.. Apakah ini kelas baru kita??" Ucap Vaye, setelah keduanya sampai di deoan ruang kelas.
" Sepertinya begitu." Ujar Nicholas.
Keduanya masuk, dan benar terdapat beberapa teman kelas lama disana termasuk Timothy.
" Apa kalian mengambil jurusan yang sama?" Tanya Vaye berbisik.
" Tidak tahu, rasanya aku ingin keluar saja dari kelas ini. Melihat wajahnya membuat aku emosi jiwa." Ujar Nicholas.
" Yee.. mana bisa kau begitu. Sudahlah, selama kamu tidak mempedulikannya maka semua akan baik baik saja." Ujar Vaye.
" Humm.. " Sahut Nicholas.
" Tempat duduk kita sebelahan lagi." Gumam Vaye.
" Kenapa?? Kau tidak mau bersebelahan denganku? Padahal aku yang memalaknya dari murid lain." Ujar Nicholas.
" Astaga! Kebiasaan burukmu apa tidak bisa di hilangkan??" Ucap Vaye.
" Bisa, tapi soal tempat duduk.. aku tidak mau terpisah darimu, atau aku akan emosi jiwa nanti." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Pagi Vaye.." Sapa Timothy.
" Pagi." Sahut Vaye.
' Dia bahkan bisa bersikap begitu tenang setelah kejadian hari itu.' Batin Vaye.
Guru laki laki datang, guru itu guru baru yang akan menjadi wali kelas di tahun ajaran mereka kini. Guru itu memperkenalkan diri dan kemudian pelajaran pertama dimulai.
Hingga akhirnya jam istirahat pun di mulai. Tiba tiba kantin sekolah ramai dengan bisikan bisikan. Padahal itu bsru awal sekolah, tapi mereka sudah mendapatkan berita besar saja.
" Kita baru mulai sekolah tapi mereka semua sudsh mendapat bahan gosipan." Ucap Vaye.
__ADS_1
Nicholas memasang telinganya baik baik, dan ia mendengar nama Vaye di sebut sebut. Nicholas pun bangun dari duduknya dan menghampiri segerombol anak perempuan yang sejak tadi bergosip.
" Apakah kalian bisa beri tahu aku apa yang sedang kakian bicarakan??" Tanya Nicholas dengan nada biasa.
Beberapa murid perempuan disana pun terkejut, sekaligus terpesona karena bisa melihat Nicholas begitu dekat. Wajah Nicholas memang memiliki kategori visual idol, enak di pandang dan membuat yang bertatapan dengannya salah tingkah.
" I- itu kak, ada yang mengatakan bahwa kakak kelas kami yang bernama Vaye mencontek kertas catatan guru sehingga menduduki peringkat pertama." Ujar salah satu siswi itu.
Nicholas langsung emosi mendengarnya, namun ia tahan. Ia sudah berjanji pada Vaye untuk tidak menggunakan kekerasan, alhasil ia menahan emosinya.
" Siapa yang katakan itu?" Tanya Nicholas.
" Guru kami, mantan guru kakak." Ujar siswi itu.
" Jadi sekarang seorang guru pun bisa begitu bebas membicarakan muridnya, sepertinya guru itu sudah begitu lama bersantai." Gumam Nicholas.
Vaye mendatangi Nicholas, dan melihat Nicholas yang begitu emosi.
" Tidak apa apa, toh hanya rumor tanpa bukti." Ujar Vaye.
" Tapi nama baikmu jadi tercoreng, ayo kita datangi kantor kepala sekolah." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.
Vaye tidak begitu mempermasalahkan nya sebenarnya, toh itu hanya rumor. Tetapi benar yang dj katakan Nicholas, nama baiknya akan tercoreng dan jika sampai itu berlanjut pasti Ethan dan Yara bisa bisa datang.
Kini keduanya berada di ruangvkepala sekolah, dan ternyata kepala sekolah itu di ganti dengan yang baru. Entah apa yang terjadi dengan kepala sekolah sebelumnya, bahkan yang ini belum di ketahui namanya.
" Pak, saya mau melapor. Vaye di tuduh melakukan pencontekan catatan guru oleh guru kami sebelumnya. Saya kenal Vaye pak, dia memang cerdas. Bahkan saya belajar dari dia." Ujar Nicholas.
Kepala sekolah itu terlihat membenarkan kaca matanya dan menatap dengan teliti Vaye.
" Bukankah memang demikian?? " Ujar kepala sekolah.
" Apa maksud bapak mengatakan demikian?? Apakah bapak juga percaya Vaye mencontek catatan guru?" Ucap Nicholas.
" Dia anak baru bukan, menurut catatan di buku dia baru masuk beberapa bulan, tapi dia sudah bisa menggeser teman kelasnya yang selalu menempati peringkat pertama." Ujar kepala sekolah.
' Dia orang yang berpihak tanpa bukti, bagaimana bisa dia menjadi kepala sekolah.' Batin Vaye.
" Lalu apa masalahnya?? Dia anak yang cerdas." Ujar Nicholas.
" Kamu, Nicholas bukan? Kamu juga tiba tiba menggeser Lini yang selalu menempati peringkat kedua, kalian berdua sebenarnya mencontek dari mana?" Ucap Kepala sekolah.
" Kok bapak jadi nuduh saya?? Saya datang untuk meminta keadilan bukan di tuduh." Ucap Nicholas emosi.
Kepala sekolah terkejut melihat bagaimana wajah menyalak Nicholas saat ini, Nicholas benar benar emosi hingga urat di lehernya terlihat.
" Jika kau menyakiti saya, maka saya akn laporkan kamu ke polisi." Ujar kepala sekolah.
" Nicho, sabar.." Ujar Vaye.
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa sabar Vay, kepala sekolah ini benar benar minta di pukul." Ucap Nicholas.
" Pak, saya bisa pastikan bahwa nilai yang saya peroleh adalah asli hasil pemikiran saya. Jika boleh, mari kita melakukan sidang.. Tunhukan catatan guru yang bapak maksudkan, lalu bandingkan dengan jawaban saya." Ujar Vaye.
" Tidak perlu, Lini melihatmu diam diam masuk ruang guru dan memoteret catatan guru untuk jawaban soal ujian." Ujar kepala sekolah.
" Lini lagi?? Gadis itu benar benar tidak waras!" Ucap Nicholas dan langsung pergi mencari Lini.
" Jika anda adalah kepala sekolah yang baik, tolong adili seadil adilnya kasus ini. Saya tidak mau kedua orang tua saya datang dari luar negeri hanya untuk masalah sepele ini, terimakasih saya permisi." Ujar Vaye kepada kepala sekolah lalu langsung pergi mengejar Nicholas.
' Kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis ini, seperti pernah melihatnya.. Tapi dimana?? ' Batin kepala sekolah.
Nicholas menemukan Lini dan langsung menyeret Lini dari gerombolan teman temannya, Nicholas menghempas Lini hingga Lini tersungkur di lantai.
" Hei!! Beraninya ka...." Ucap Lini tertahan ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
" N- Nicholas?!" Ucapnya gugup.
" Kau menyebar fitnah terhadap Vaye dan aku, apa sebegitu irinya kau dengan kami, huh!! Apakah Vaye pernah mengganggu hidupmu?? " Teriak Nicholas.
Seluruh sekolah langsung heboh melihat Nicholas yang lagi lagi melabrak siswa lain. Sementara Lini, kini tubuhnya gemetar.
" Hanya posisi ranking yang tergeser, tapi kau menyebar fitnahan kejam tenatang Vaye yang mencontek catatan guru. Matamu yang sebelah mana yang melihat Vaye masuk ke ruang guru, huh!!?" Teriak Nicholas.
Lini menangis, ia gemetar ketakutan karena suara Nicholas benar benar menggelegar. Vaye melihat itu dari jauh dan dia langsung lari menghampiri Nicholas dan Lini.
" Nicholas, jangan!" Teriak Vaye ketika melihat Nicholas hendak menarik tangan Lini.
" Dia harus mengakui kepada semua orang bahwa dia menyebar kabar bohong, Vay. Dia sudah sangat keterlaluan, dia bahkan merencanakan penculikan terhadap kita berdua, dia hampir mencelakai kita hanya karena nilainya turun." Ujar Nicholas.
Semua murid yang menyaksikan itu terkejut, Lini merencanakan penculikan terhadap Nicholas dan Vaye?? Yang benar saja..
" Jika kamu melakukannya dengan kekerasan, dia malah akan semakin keras kepala. " Ujar Vaye.
Vaye jongkok dan menatap Lini yang saat ini menangis sambil menunduk. Vaye memeluk Lini, dan semua orang menatap heran Vaye, terutama Nicholas.
" Lini, apakah aku pernah berbuat salah padamu?? " Tanya Vaye setelah melepas pelukannya.
" Aku minta maaf Lini, jika menurutmu posisi ranking itu sangat penting bagimu. Aku tidak bermaksud menggeser posisimu, begitu juga Nicholas. Kami belajar, agar nilai kami semakin baik, karena kami juga ingin lulus dengan nilai bagus." Ucap Vaye.
" Hiks.. Hiks.. " Tangis Lini semakin pecah.
" Tapi aku melihat sendiri kamu masuk keruang guru, dan kamu memotret sesuatu. Kamu tidak perlu berbuat baik padaku, aku tidak akan menurutimu." Ucap Lini.
Semua orang jadi menganggap bahwa Vaye tengah menyogok Lini saat ini. Bahkan Nicholas menatap tidak percaya dengan gadis yang berada di hadaoan Vaye saat ini.
" Gila.." Gumam Nicholas.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1