
Di halaman belakang sebuah rumah, 2 anak kecil tengah bermain bersama, sementara satu anak kecil lain nya tengah duduk dengan buku di tangan nya. Jika dilihat lihat, usia mereka sekitar 4 tahunan.
" Kakak... dorong lebih kuat lagi." Ucap anak kecil perempuan.
" Jangan terlalu cepat adik, jika jatuh kamu akan menangis nanti." Ucap anak kecil laki laki.
Mereka sedang bermain dengan sebuah sepeda kecil.
" Dengar adik, kakak tidak mau jika sampai kamu jatuh. Lebih baik kita sudah ini." Ucap anak kecil laki laki yang mencorong sepeda itu.
" Ahh.. Kakak tidak seru." Ucap anak perempuan.
" Daddy... Kak Nathan tidak mau bermain denganku." Ucap anak perempuan itu.
" Mana ada.. Bukankah kita sedari tadi bermain." Ucap anak yang di panggil Nathan.
" Kalian berdua benar- benar.. Tidak bisakah bermain tanpa berteriak memanggil daddy atau mommy? Vaye, kamu pergi ke kamarmu dan belajar. Nathan, kamu juga belum menyelesaikan PR mu kan. Cepat selesaikan." Ucap anak yang sedari tadi membaca buku.
" Kak Edmund tidak seru." Ucap Valleria.
Mereka adalah anak anak Ethan dan Yara, sifat mereka benar benar sesuai dengan apa yang Yara alamai saat hamil. Edmund adalah yang paling dingin dan dewasa, Nathanael adalah yang paking cerewet, dan Vaye atau Valleria adalah yang paling manja.
" Jika tidak belajar, kita tidak akan pergi mengunjungi oma dan opa saat weekend nanti." Ucap Edmund.
" Aaa... kakak, ayo kita belajar." Ucap Vallerie.
" Pergilah duluan, kakak ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan kak Edmund." Ucap Nathanael.
" Baiklah.. Bye.." Ucap Vallerie lalu langsung pergi memasuki kediaman nya.
" Ada apa.?" Ucap Edmund.
" Mmm.. Kakak, kapan paman Ryu akan datang.?" Ucap Nathan.
" Kenapa.? Jangan bilang kamu ingin berlatih menembak lagi." Ucap Edmund.
" Hehehe.. Aku lebih suka latihan menembak dari pada belajar matematika. " Ucap Nathan.
" Usia kita masih jauh dibawah umur, bisakah kamu belajar sesuatu yang lebih bermanfaat terlebih dahulu.?" Ucap Edmund.
" Bukankah kakak juga tahu bahwa Mommy dan Daddy adalah ketua sebuah kelompok mafia.? Paman juga demikian. Aku sudsh memutuskan, kelak.. Aku akan menjadi seperti mommy dan daddy." Ucap Nathanael.
Edmund menepuk keningnya, percuma dirinya menyembunyikan sesuatu dari Nathan, anak itu selalu saja mendapat cara untuk mengetahui kebenaran nya.
" Dan lagi.. Kakak juga , bukankah kakak sudah terjun ke dunia mafia diam diam.? Jika kakak melarangku berlatih menembak dengan paman Ryu, aku akan memberi tahu mommy bahwa kakak juga sudah terjun menjadi salah satu hacker di BLOOD." Ucap Nathan.
" Apa yang kalian berdua bicarakan anak kecil.?" Ucap Yara yang tiba tiba muncul.
__ADS_1
" M..mommy.." Ucap Nathanael terkejut.
" Kenapa dengan wajah kalian? Tampak sangat terkejut. Ohhh... Apakah kalian sedang membicarakan seorang gadis yang kalian sukai.?" Ucap Yara antusias.
Baik Nathan maupun Edmund, mereka hanya menepuk kening nya.
' Bagaimana bisa mommy menjadi ketua sebuah mafia, mommy begitu tidak peka.' Ucap Nathan dalam hati.
' Aku rasa Mavros drakos salah memilih ketua.' Batin Edmund bermonolog.
Mereka berdua tidak tahu saja bagaimana perjuangan ibunya itu saat sebelum menikah dulu. Yara dan Ethan tidak pernah membicarakan masalalu kelam mereka kepada anak anak mereka. Mereka ingin agar anak anak mereka tumbuh tanpa bayang bayang masalalu kelam orang tuanya.
" Hei.. Kalian sedang menyembunyikan apa sebenarnya.? " Ucap Yara lagi.
" Tidak ada mom, ayo kita masuk. Apakah daddy sudah pulang.?" Ucap Edmund.
" Oh, daddy mu baru saja datang. Ayo, kita akan segera makan malam." ucap Yara.
Akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah. Di dalam rumah sudah ada Ethan yang sedang menyuapi Vaye.
" Anak anak daddy, kalian kenapa lama sekali? Harus yah mommy jemput dulu.?" Ucap Ethan.
" Daddy tidak perlu tahu, ini urusan kami, para pria kecil." Ucap Edmund.
" Hahahaha.. Masih kecil sudah punya urusan. Urusan apa hum.?" Ucap Ethan sembari mengacak rambut Edmund.
" Pria kecil, daddy beri tahu kamu sesuatu ya, jangan terlaku dewasa.. nikmati masa kanak kanak kalian dengan bebas, atau kelak kalian akan merindukan masa itu." Ucap Ethan.
Ethan selalu merasa bahwa Edmund ini lebih seperti dirinya dimasa kecil, selalu bersikap dewasa , padahal ia masih kanak kanak. Ethan tidak mau Edmund kehilangan masa kanak kanaknya.
" Siapa yang akan merindukan masa membosankan seperti ini." Ucap Edmund lagi.
" Apa katamu? Membosankan..??" Ucap Yara dengan lirikan tajam.
" Ehehehe.. Tidak mommy, Ed hanya bercanda." Ucap Edmund.
Edmund selalu kalah dengan apapun yang Yara katakan. Baginya, perintah Yara adalah yang paling mutlak. Walaupun ia juga sangat menghormati Ethan, tetapi bagi Edmund Yara adalah yang paling utama.
" Makan dengan benar. Ed, yang daddy mu katakan benar.. Nikmati masa kanak kanakmu dengan bebas. Mungkin sekarang terasa membosankan bagimu, tapi percayalah.. Kelak, kamu akan merindukan masa masa ini." Ucap Yara.
" Baik momny.." Ucap Edmund.
"Keponakan keponakan paman... " Teriak seorang pria yang sudah bisa di tebak siapa itu.
" Paman Ryu.." Teriak Nathan antusias.
" Hay.. Paman bawakan donat untuk kalian. Vaye, kamu paling suka donat kan.? " Ucap Ryu.
__ADS_1
" Paman, makanan manis tidak bagus untuk gigi dan kesehatan." Ucap Edmund komplain.
" Nah, lihat.. Anak ini selalu saja berkomentar. " Ucap Ryu.
" Karena paman sekalu membawa sesuatu yang salah." Ucap Vaye.
" Hiks.. Vayeku tidak membela paman." Ucap Ryu mendrama.
" Tenang paman, masih ada aku." Ucap Nathan.
" Benar, masih ada kamu yang paling sepemikiran dengan paman." Ucap Ryu.
Entah percaya atau tidak, sepertinya doa Ryu terkabul. Saat Yara hamil, Ryu ingin keponakan kembar dan salah satunya seperti dirinya. Dan lihat.. Nathan adalah foto kopian Ryu dalam sifat cerewet, dan tukang drama.
" Kakak, awas kalau kakak meracuni pikiran anak ku." Ucap Yara.
" Astaga adik, kakak tidak akan menjerumuskan keponakan keponakan kesayangan kakak ini. Mereka terlalu menggemaskan, benar.?" Ucap Ryu sembari mengacak rambut Edmund dan Nathan.
" Aa... Paman, rambutku baru aku betulkan, berantakan lagi." Ucap Edmund protes.
" Dasar pria kecil berjiwa tua." Ucap Ryu.
" Dari pada paman, pria besar berjiwa bocah." Ucap Edmund.
" Hahahahahaha... " Tawa semua orang pecah, hanya Ryu dan Edmund yang saling menatap.
" Kejam.." Ucap Ryu.
" Cengeng.." Balas Edmund.
" Astaga Ethan, anak mu yang ini benar benar foto kopian dirimu." Ucap Ryu kesal.
" Kan dia memang anak ku kakak ipar." Ucap Ethan.
" Sudah.. Sudah.. Makan yang benar. " Ucap Yara.
" Mommy, aku mau makan pasta itu.." Ucap Vaye.
" Ya sayang.." Ucap Yara.
" Paman, donatmu di buang saja. Makanan manis cepat membunuhmu." Ucap Edmund.
" Huaaa.. Donatku tidak laku." Ucap Ryu.
" Hahahahaha.. Paman seperti bocah lima tahun." Ucap Vaye..
Hangat, kebersamaan sebuah keluarga yang tampak normal dan baik baik saja. Siapa yang tahu bahwa mereka semua adalah keluarga kelompok mafia.
__ADS_1
Hargailah waktumu bersama keluarga, karena itu tidak akan bisa di ulang kembali. Manis pahit, suatu hari akan menjadi kenangan yang akan membuat kita tersenyum senyum saat mengingatnya...