Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS.88. Gara gara foto Selfie.


__ADS_3

Keesokan harinya, Pagi pagi buta sekitar jam 5 pagi ,Yara sedang berada di tempat latihan boxing dirumahnya. Baginya olah raga seperti itu kini menjadi asupan nya setiap hari. Karena jika ia tidak kuat, maka tidak akan bisa mengalahkan musuh. Apalagi dirinya menggunakan identitas sebagai laki laki.


Terkadang ia juga berlatih Muay Thai dengan beberapa bawahan nya, agar ia bisa mengimbangkan tenaga nya dengan tenaga pria.


Sering kali Yara terkena pukulan, namun itu tidak mempengaruhi nya, bagi Yara latihan tanpa terkena pukulan itu tidaklah seru.


Jadi tidak salah jika tubuh Yara kini jauh dari kata kecil dan ramping. Walau memang ramping, namun terdapat otot otot di kedua lengannya. Meskipun tidak terlalu besar, tapi jika mengingat dia adalah seorang gadis berusia 18 tahun, maka tubuh nya itu bisa dikatakan sempurna.


BAK!! BUK!!


Suara pukulan menggema diruangan itu.


Yara menggunakan pakaian olah raga, pun.. Pakaian pria. Dia sudah tidak mengoleksi pakaian wanita satupun dilemari pakaian nya, karena ia tidak ingin selalu mengalami dilema nantinya. Baginya, balas dendam yang utama, penampilannya itu urusan belakangan.


"Hosh.. Hosh.. gara gara Ethan Dominique, aku tidak bisa tidur. Bisa bisanya dia mengirimiku foto selfienya dengan caption menggelikan yang membuatku tidak bisa berhenti tertawa." Ucapnya disela sela aktifitas memukulnya.


Semalam, setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Ryu, ia berencana untuk segera tidur. Namun tiba tiba ponselnya berbunyi dan masuk sebuah pesan dari Ethan. Saat Yara membuka pesan itu, keningnya mengernyit bingung lalu tiba tiba ia tertawa terbahak bahak.


Bagaimana tidak, Ethan mengiriminya foto selfie dirinya yang memperlihatkan wajah dinginnya dengan senyum kuda yang sepertinya sedikit dipaksakan. Lalu tersemat caption ' Semoga malammu menyenangkan, dan mimpi indah. Dari calon kekasihmu.' Siapapun yang melihat foto itu, Yara yakini akan tertawa terbahak bahak seperti dirinya.


Bukannya bisa tidur nyenyak dan mimpi indah, Yara malah terus tertawa dan membayangkan Wajah aneh Ethan itu. Bagaimanapun Ethan pada dasarnya sangat jarang bisa tersenyum dan tertawa, jadi saat melihat itu Yara merasa geli sendiri.


" Apakah dia bodoh? Mengambil gambar selfie saja tidak bisa. Wajah datar seperti tembok dengan cengir kuda itu.. Pffftt.. Hahaha.."


Ucap nya seketika kembali tertawa.


Semua pelayan yang berjaga malam disana bingung dengan tingkah aneh Yara. Bagaimana tidak, Yara yang biasanya diam dan serius semalaman hingga menjelang pagi, masih terus tertawa.


" Apakah nona sedang bahagia? sejak semalam ia sering tertawa, bahkan tenaganya itu seolah tak habis untuk berlatih. " Ucap seorang pelayan.


" Entah.. Jika nona bahagia itu bagus, nona sering terlihat murung sejak kita pertama kali bertemu." Ucap pelayan satu lagi.


Sementara Yara sendiri kini menghentikan aktifitasnya setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 5.


" Hosh.. Hosh.. Sialan, kenapa aku tidak bisa lupa wajah itu. Aku butuh istirahat sekarang." Ucap Yara, lalu terkapar di atas ring tinjunya.


.........


Sementara itu, di kediaman Ethan.


Ethan tengah berjalan mondar mandir, ia masih bingung mengapa Yara tidak membalas pesannya sejak semalam. Ia bahkan tidur sangat larut, dan bangun sangat pagi demi melihat notifikasi handphone nya.


" Kenapa dia tidak membalas? Apakah dia sudah ridur semalam? Tapi pesan nya sudah terbaca yang berarti dia sudah melihat fotoku. Tapi kenapa dia tidak membalasnya.? Apakah dia marah? " Gumamnya sembari mondar mandir di lapangan tembak.


Saat ini Ethan sedang memantau para bawahannya latihan menembak, tapi sebenarnya bukan itu penyebab utamanya. Ia hanya kebetulan tengah bermondar mandir di lapangan pagi pagi buta, hingga para anak buahnya melihat Ethan yang seperti orang marah.


Orang orang tidak bisa membaca ekspresi wajah Ethan, karena memang terlalu datar. Para anak buah nya menjadi salah paham dan mengira mereka akan disidak oleh ketua mereka secara langsung. Dan saat ini, mereka tengah berlatih dengan rasa ketakutan. Takut mereka tidak sengaja membuat kesalahan dan dihukum berat.


"AARRGGHH.!!!! " Teriak Ethan frustasi.


Dan saat itu juga anak buah Ethan menjadi menciut, mereka bergetar ketakutan mendengar Ethan berteriak. Sementara si pembuat onar itu sendiri saat ini tengah terlentang di tengah lapangan.


Merasa sekelilingnya hening, Ethan bangun dan duduk diatas rerumputan sembari menatap satu persatu anak buahnya.


" Kenapa kalian ketakutan begitu? " Ucap Ethan dengan suara datar.


" T.. Tidak apa apa tuan, M.. Maaf kalau kami punya salah." Ucap Salah satu anak buah Ethan dengan gugup dan takut takut.


" Kenapa juga kalian minta maaf? Lanjutkan saja latihannya." Ucap Ethan.


Ethan menatap bingung semua anak buahnya itu, mereka tidak sedang berperang dengan mafia lain, mengapa mereka bergetar ketakutan pikirnya. Dia tidak menyadari, bahwa dirinyalah penyebab ketakutan anak buahnya sendiri.


" B.. Baik tuan." Sahut anak buanya lagi.


Akhirnya anak buahnya pun melanjutkan kembali aktifitas latihan mereka. Bahkan karena saking gugupnya mereka disidak oleh Ethan, ada dari salah satu anak buah Ethan yang kini tengah menahan sakit perutnya namun tidak berani bicara.


Sementara itu, Ethan kembali terlentang diatas rerumputan itu. Matanya menerawang melihat langit yang sudah hampir cerah itu lalu tiba tiba terpejam.


Tak lama, Jilian keluar dan menatsp bingung para anggotanya itu. Pagi pagi buta wajah mereka seperti orang yang tengah melihat hantu.


" Tumben sekali mereka latihan tembak pagi pagi. Apakah aksn ada perang dalam waktu dekat.?" Ucap Jilian sembari berjalan menuju lapangan tembak.


" Hei, apakah kita akan membantai sebuah kelompok gangster atau semacamnya?" Tanya Jilian pada salah satu anak buahnya itu.


" Itu.. Tuan, Tidak.. Eh, itu.. " Ucap anak buahnya gugup dan bingung.


" Itu, itu apa? Bicara yang jelas.?" Ucap Jilian emosi.


" Ketua sedang menyidak kita." Ucap anak buah itu akhirnya.

__ADS_1


" Ketua??" Ucap Jilian, matanya mencari cari si sosok yang di panggil ketua itu, yang tak lain adalah Ethan.


" Mana? Aku tidak melihat Ethan disini." Ucap Jilian.


Terlalu banyak nya anak buah yang tengah berlatih disana, jadi ia tidak melihat satu sosok yang tengah terkapar si atas rumput.


" Itu, ketua sedang tidur diatas rumput." Ucap Anak buah itu lagi.


Jilian ternganga melihat temannya sekaligus atasannya itu terlentang diatas rumput. Biasanya Ethan gila bersih, oleh sebab itu Jilian terkejut.


Jilian pun menghampiri Ethan ysng rupanya sedang tertidur pulas.


" Setan mana yang mampir di otaknya sampai membuat kerusuhan begini. Than.. Bangun." Ucap Jilian yang menepuk nepuk pundak Ethan.


" Than..!" Teriaknya lagi.


" Hmm.. " Sahut Ethan.


" Kenapa kau tiba tiba menyidak anak anak? Apakah mereka akan dikirim untuk perang.?" Tanya Jilian.


" Menyidak?? Siapa yang menyidak mereka.?" Ucap Ethan setelah membuka matanya.


" Kalau bukan menyidak mereka lalu apa.? Lihat tampang mereka , sudah seperti orang yang tengah menahan buang air." Ucap Jilian, walau memamg kenyataannya begitu.


" Aku tidak menyidak mereka, aku memang sedang berjalan jalan pagi dilapangan. Tiba tiba mereka datang dan berlatih, rupanya anak buah kita sangat tekun dan disiplin. Lihat, mereka sangat rajin berlatih." Ucap Ethan polos.


Jilian tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Rupanya Ethan hanya iseng saja berjalan jalan di lapangan, tapi semua anak buah mereka sangat ketakutan.


" Kau tidak sadar mereka sedang ketakutan?" Tanya Jilian.


" Ketakutan? Kenapa.?" Tanya Ethan polos.


" Astaga Than, tentu saja mereka takut denganmu. Kau ada dilapangan tembak pagi pagi buta dan membuat mereka berpikir bahwa kau sedang menyidak mereka. Mereka ketakutan karena kehadiranmu disini." Ucap Jilian.


Lalu dengan polosnya Ethan menatap anak buahnya. Memang Ethan menyadari ada yang aneh dengan wajah mereka, hanya saja Ethan tidak berpikir bahwa mereka sedanbmg ketakutan dengan dirinya.


" Jadi itu sebabnya wajah mereka aneh?" Ucap Ethan polos.


Jilian hanya bisa menepuk kening, lalu membubarkan semua orang yang sedang latihan itu. Setelah semua anak buahnya bubar, kini Jilian kembali duduk di sebelah Ethan.


" Kenapa juga kau pagi pagi ada disini.??" Tanya Jilian.


" Aku sedang menunggu balasan pesan penting masuk." Sahut Ethan.


" Apakah kau menunggu balasan pesan dari menteri?" Tanya Jilian.


" Menteri? Menteri mana yang berani membuatku menunggu balasan pesan." Ucap Ethan.


" Lalu apakah presiden?" Ucap Jilian lagi.


" Presiden tidak sepenting itu bagiku." Ucap Ethan lagi.


Jilian kembali terkejut, Presiden saja tidak dianggap penting, lalu siapa yang membuat Ethan menunggu balasan pesannya.


" Apakah ketua mafia lain.?" Ucap Jilian.


" Bukan.." Sahut Ethan sedikit emosi.


" Menteri bukan, Presiden bukan, ketua mafia lain juga bukan, lalu siapa sebenarnya yang membuatmu menunggu balasan pesan.? " Ucap Jilian.


" Yara.." Ucap Ethan.


" Ternyata Yara.." Ucap Jilian manggut manggut, ia belum menyadari sesuatu hingga akhirnya..


" What.!! Yara.?? Kau uring uringan begini karena menunggu balasan pesan dari Nayara Valerie?" Tanya Jilian terkejut.


" Hmm..." Sahut Ethan dengan malas.


Jilian hanya bisa menjatuhkan dagunya, ia ternganga. Rupanya orang penting yang dimaksud Ethan adalah Yara.


' Bisa bisanya seorang Yara membuat seorang ketua mafia Blood uring uringan seperti ini. Sebenarnya pesannya sepenting apa.? ' Pikir Jilian


" Apakah kau menunggu kabar perkembangan Kristin.?" Tanya Jilian.


" Tidak." Ucap Ethan.


" Lalu.?" Tanya Jilian.


Ethan bangkit dari tidurnya, saat ini ia duduk dengan rambut acak acakan karena ia rebahan diatas rumput sebelumnya.

__ADS_1


" Apakah kau pernah punya pacar.?" Tanya Ethan pada Jilian.


Mendengar ucapan Ethan, seketika Jilian tahu apa yang menyebabkan temannya itu seperti orang kemasukan setan.


" Jika bertanya pacar padaku maka jawabannya tentu saja.. Tidak. Wanita hanya mendekatiku karena uang." Ucap Jilian.


" Apakah kau sedang bertengkar dengan Yara.? Kapan kalian jadian?" Ucap Jilian.


" Jadian.. Seandainya aku sudah jadian dengannya, saat ini pasti aku sudah berada didepan rumahnya." Ucap Ethan


" Lalu?? Kenapa kau seperti orang gila begini.?" Tanya Jilian.


Ethan menatap Jilian lekat lekat, ia bkngung apskah ia akan meminta pendapat kepada Jilian atau tidak. Namun akhirnya ia memutuskan untjk bercerita.


" Aku mengiriminya sebuah foto padanya semalam, dia membuka pesanku..Tapi tidak membalasnya." Ucap Ethan.


" Foto.? Kau.. Mengirim foto apa memangnya.?" Pikiran Jilian sudah kemana mana.


" Foto selfie ku." Ucap Ethan


" Aku juga menuliskan caption disana, tapi dia tidak membalasku sama sekali." Ucap Ethan lagi.


" Kau..? Foto selfie.? Sejak kapan kau jadi se narsis itu.? Astaga.. " Ucap Jilian.


" Diam kau, aku tahu kau tidak akan bisa membantuku. Menyesal aku bercerita." Ucap Ethan.


" Baik baik.. Maaf. Memangnya fotomu seperti apa.? Kau tidak foto sembarangan selfie kan.?" Tanya Jilian.


" Tentu tidak, itu adalah foto selfie pertamaku setelah 28 tahun aku hidup." Ucap Ethan sembari memberikan ponselnya kepada Jilian.


Memang, Ethan bukan tipikal pria yang suka dengan hal hal seperti itu. Baginya, foto ya harus dengan seorang fotografer terkenal. Jilian pun membuka foto itu dan...


" PPFFTT.... HAHAHAHAHA.. " Tawa jilian lepas.


Ia sampai terjungkal dan terpingkal pingkal di tempat.


Melihat Jilian malah menertawakan hasil foto selfienya, Ethan langsung merebut ponselnya dari tangan Jilian.


" Kenapa kau tertawa.? Minta dihajar.?" Ucap Ethan


Jilian tidak berhenti tertaw, ia memegangi perutnya dan terpingkal pingkal. Jilian tidak menyadari bahwa sast ini mata suram Ethan tengah menatapnya dengan tajam.


" JILIAN CAVILL.!!" Teriak Ethan.


Jiliam langsung menghentikan tawanya, lalu duduk dihadapan Ethan dengan masih menahan tawanya sekuat tenaga. Jika Ethan sudah menyebut nama lengkap, berarti dia benar benar sedang kesal, dan Jilian tidak ingin mencari masalah dengan temannya itu.


" Oke.. Oke.. Ku berhenti.. Pftt.. Aku berhenti." Ucap Jilian.


" Kenapa kau tertawa begitu? Memangnya apa yang lucu.?" Ucap Ethan.


" Astaga Than.. Apa kau mengirim foto itu pada Yara.?" Tanya Jilian.


" Hmm.." Sahut Ethan polos.


" Pffttt.. Kau tau Than, jika sampai foto ini menyebar ke publik, maka hancur sudah imagemu sebagai pemimpin Blood." Ucap Jilian.


" Kenapa, apa yang salah dengan foto selfie ku ini.? " Ucap Ethan tidak mengerti.


" Hahahaha.. Astaga, sungguh oerutku tidak bisa menahan tawa. Ethan Dominique, kau sungguh sungguh polos. Apa kau pernah melihat seseorang mengambil foto selfie nya seperti dirimu begini.?" Tanya Jilian.


" Mana aku tahu, aku tidak sesenggang itu melihat foto orang lain." Ucap Ethan.


Tidak salah memeng Ethan bicara begitu. Jilian menggeleng gelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan ponselnya dsn menunjukan hasil dari foto selfienya.


" Begini Than, seseorang jika mengambil foto selfie. Setidaknya berpose lah.. Lihat, hasil fotomu dan fotoku ini. Wajahmu itu lebih mirip seperti orang idiot menahan buang air. Hahahaha.." Ucap Jilian dengan tawa sumbangnya.


Ethan memperhatikan dengan seksama hasil fotonya dan foto jilian. Menurutnya tidak ada bedanya, toh hanya sebuah foto. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa fotonya itu lebih seperti foto anak kecil yang dipaksa senyum oleh ibunya dengan emosi. Wajah datar nya sama sekali tidak mendukung dihiasi cengir kuda seperti itu.


" Ya Tuhan, aku berharap Yara tidak akan menganggapmu sedang menerornya." Ucap Jilian lagi.


" Meneror nenekmu, jelas jelas aku tersenyum disini." Ucap Ethan.


" Senyum dan meringis itu berbeda Ethan Dominique. Yang kau lakukan itu menyengir kuda, bukan senyum. Astaga, begini kalau pohon tua 1000 tahun tidak pernah berbunga. Sekali berbunga meresahkan." Ucap Jilian.


Ethan bangkit dari duduk nya, lalu melangksh pergi dari sana sembari berkata..


" Tertawa saja, jika sampai jam 12 siang nanti aku belum melihat laporanmu tentang anak cabang di Papua, maka kau akan tinggal disana besok." Ucap Ethan.


Dan seketika tawa Jilian berhenti.

__ADS_1


" THAN.. " Teriak Jilian.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2