
Setelah pulang sekolah, Vaye dan Nicholas pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Bagas. Bagas dinyatakan koma karena lukanya fatal, di tambah lagi semalaman dia berada di toilet. Beruntung dia tidak meninggal karena kehabisan darah.
" Padahal kemarin dia masih baik baik saja." Ujar Nicholas.
' Aku harus menyelidikinya, Bagas adalah anak yang baik, dia layak mendapatkan keadilan.' Batin Vaye.
" Nak, terimakasih sudah mengunjungi Bagas." Ujar ibu Bagas.
" Sama sama tante, Bagas adalah teman kami.. Dia juga yang sudah membantuku untuk belajar." Ujar Nicholas.
" Tante senang Bagas akhirnya memiliki teman . Dia selalu sendirian sebelumnya." Ujar Ibu Bagas lagi.
" Bagas, kau harus kuat dan sembuh, lalu beri tahu aku siapa yang membuatmu begini. Aku akan menghajarnya nanti." Ujar Nicholas.
" Kalau begitu kami pulang dulu, Tante." Ucap Vaye.
" Ya, nak.. Hati hati di jalan." Ujar Ibu bagas.
Vaye dan Nicholas pun keluar dari ruangan Bagas. Lalu keduanya pun pulang menuju apartemen Vaye.
" Hati hati di jalan." Ujar Vaye ketika sudah turun dari motor Nicholas.
" Hmm... Sampai jumpa besok." Ucap Nicholas. Dan Vaye pun pergi dari sana.
TING!!
Ponsel Nicholas berbunyi, Nicholas membuka ponselnya dan itu dari nomor pria yang selalu memberinya tugas selama ini. Setelah membalas pesan itu, Nicholas pun pergi dari sana.
Vaye masuk kedalam apartemen nya, Dan langsung mengeluarkan alat alat canggih nya. Ia berencana mencari tahu siapa yang mencelakai Bagas di toilet sekolah.
Sambil menunggu, Vaye berganti pakaian menjadi pakaian yang nyaman dan menguncir asal rambutnya. Ia pun siap berperang dengan komputernya.
Vaye menyabotase sistem keamanan sekolah, dan mencari rekaman cctv hari kemarin saat jam pulang sekolah. Vaye memantau itu tanpa sedikitpun terputus dari layar komputer, tujuan nya adalah mencari si pelaku.
Terlihat Bagas yang berlari masuk toilet sebelum jam pulang sekolah tiba, cukup lama Bagas berada di dalam sana, hingga akhirnya Bagas keluar. Namun belum ada satu menit, Bagas kembali masuk kedalam dan tidak keluar untuk waktu yang lebih lama.
" Seharusnya ini jam pulang sekolah." Gumam Vaye.
Dan benar, terlihat banyak murid yang berlalu lalang melewati koridor itu. Sampai akhirnya tiba tiba cctv itu mati.
" Dia cukup cerdas juga, bisa mematikan cctv, Tapi bukan Vaye kalau tidak bisa mencari tahu dari sisi lain." Gumam Vaye.
Vaye melihat dari cctv lain, mencari orang yang mencurigakan yang mungkin masuk ke toilet itu. dan beruntungnya, Vaye menangkap siluet siswa yang mencurigakan berjalan membawa tongkat bisbol.
" Jika aku ingat ingat, jalanan ini kurang lebih adalah jebolan dari toilet yang Bagas masuki, dan... " Gumam Vaye terhenti saat melihat ujung tongkat bisbol itu terdapat darah di ujungnya.
" Astaga... Apakah luka di kepala Bagas adalah dari tongkat bisbol itu?" Gumam Vaye.
__ADS_1
Vaye sampai memutar berulang ulang rekaman itu, karena cctv itu hanya menangkap sekitar tiga detik saat siluet siswa itu lewat.
" Punggung ini, aku merasa tidak asing dengan punggung ini, dimana aku pernah melihat punggung ini." Gumam Vaye.
Vage menyimpan gambarnya, lalu kemudain dia bangun dari depan komputernya, saat ini Vaye akan kembali kerumah sakit untuk bertanya pada Ibunya Bagas atau Dokter yang menangani Bagas, Vaye ingin memastikan sesuatu.
Vaye mengganti kembali pakaian nya, ia menggunakan celana cargo over size berwarna hitam dengan atasan kaos putih crop dan jaket sport berwarna hitam sebagai luaran nya. Rambutnya ia urai dan menggunakan topi putih serta sepatu putih lalu ia pun pergi.
Karena jalanan macet, Vaye sampai di rumah sakit sekitar pukul 20.00 malam, ia pun berjalan menuju keruangan dimana Bagas dirawat.
" Malam tante." Ucap Vaye pada ibu Bagas.
" Oh, malam nak.. Kamu teman Bagas yang tadi sore kan, ya?" Tanya ibu Bagas.
" Iya tan, maaf malam malam mengganggu. Saya mau tanya tentang luka Bagas, apakah dokter memberi tahu tante penyebab luka di kepala Bagas?" Tanya Vaye.
Tapi tiba tiba ibu Bagas menatap Vaye curiga, mungkin ibu Bagas mengira Vaye ini salah satu perundung Bagas.
" Kenapa kamu bertanya demikian?" Tanya ibu Bagas.
" Saya hanya ingin tahu, tante. " Ujar Vaye, tidak mungkin jika Vaye mengatakan sedang mencari pelakunya, yang ada ibu Bagas semakin curiga dengan Vaye.
" Jatuh di toilet karena panik, dan kepalanya membentur lantai." Ujar ibu Bagas.
' Karena senjatanya di bawa, jadi Bagas dikira jatuh di toilet. Tapi apakah dokter tidak bisa membedakan luka jatuh dan luka di pukul? ' Batin Vaye.
' Aku akan membantumu mendapat keadilan.. Jadi tetaplah hidup, Bagas.' Batin Vaye.
Vaye menatap Bagas lumayan lama, hingga ibu Bagas semakin menatap curiga Vaye. Sebagai seorang ibu ia tentu tidak rela anaknya di sakiti, apalagi Bagas adalah anak satu satunya.
" Tante, saya pulang dulu." Ujar Vaye.
" Ah, ya nak.. " Ujar ibu Bagas.
Vaye pun pergi dari sana, dan saat Vaye keluar dari ruangan Bagas ia melihat sosok laki laku yang mencurigakan yang berbalik badan ketika melihat Vaye. Laki laki itu menggunakan topi dan masker dan berjalan pergi dengan cepat.
Vaye yang curiga pun langsung mengikuti pria itu. Dengan sedikit berlari Vaye mengikuti langkah pria itu yang semakin cepat.
" Hei, berhenti." Ujar Vaye.
Tapi bukan nya berhenti, sosok pria itu malah lari. Vaye pun langsung berlari mengejar pria itu hingga masuk ke gang gang yang sepi.
Vaye yang pada dasarnya tidak takut apapun itu, berlari mengejar pria tadi hingga memanhat tembok dan melompati pagar tinggi pun, Vaye masih terus mengejar.
" Berhenti!!" Teriak Vaye.
Tapi naas nya, saat pria itu hilang di kegelapan, justru muncul beberapa sosok pria yang berbadan besar dan membawa senjata.
__ADS_1
" Halo nona manis, cari siapa?" Tanya salah satu pria
' Apakah ini tempat persembunyian pria tadi? ' Batin Vaye.
Vaye pun berjalan berbalik hendak meninggalkan mereka, Vaye tidak ingin berurusan dengan preman yang berujung ketelinga sang Daddy.
" Eit!! Mau kemana? Tadi semangat sekali berlarinya, kemari istirahat dulu." Ujar yang lain.
" Aku sedang tidak ingin membunuh orang, jadi jangan ganggu aku." Ujar Vaye.
" Uluh uluh.. Sadisnya." Ujar preman itu dan di susul tawa oleh yang lain nya.
' Buang buang waktu.' Ujar Vaye dan kembali berjalan, namun kali ini tangan nya di cekal satu preman itu.
Dengan gerakan kilat, Vaye memutar tubuhnya dan membanting preman itu di tanah lalu menginjak kepalanya.
" Jika ingin dia hidup, maka biarkan aku pergi baik baik. Aku sedang tidak ingin mengotori tanganku." Ujar Vaye.
Para preman yang tadinya tertawa kini tegang dan terkejut. Tubuh kecil Vaye mamou membanting preman berbadan besar tanpa kesulitan sama sekali.
" Lepaskan dia!" Ucap suara yang sangat Vaye kenal.
' Timothy, kenapa dia ada disini?' Batin Vaye.
Timothy tentu terkejut melihat pemandangan di hadapan nya, meskipun dia tahu Vaye jago bela diri tapi Timothy sama sekali tidak menyangka bahwa Vaye mampu mengalahkan preman dengan tubuh sebesar itu.
" Jika kalian ingin sesuatu, ambil saja milikku. Tapi lepaskan dia." Ujar Timothy.
" Oh.. Rupanya pahlawan. Baiklah, berikan benda benda berhargamu." Ujar preman itu.
Timothy dengan tenang memberikan dompet nya pada preman itu, dan preman itu tersenyum saat membuka isinya.
" Nona, kau boleh pergi." Ujar preman itu pada Vaye.
' Semudah itu?? sudahlah, aku akan selidiki lagi nanti.' Batin Vaye.
Vaye menyingkirkan kakinya dari kepala preman itu, dan kemudian berjalan pergi kearah Timothy.
" Berikan dompet itu padaku." Tiba tiba dari arah belakang, terdengar suara.
Vaye melihat kebelakang, terlihat sosok pria yang menggunakan pakaian yang sama dengan pria yang Vaye kejar.
' Aku yakin pria yang aku kejar tadi bukan dia.' Batin Vaye, lalu melangkah pergi dari sana bersama Timothy.
" Kamu tidak apa apa?" Tanya Timothy.
" Tidak apa apa." Ucap Vaye.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..