
Yara telah kembali ke Jakarta, ia di bawah pengawalan ketat Sandy dan orang orangnya sampai dengan selamat di Jakarta tanpa Yara sendiri ketahui bahwa dirinya di kawal secara ketat dari kejauhan. Bukan tanpa alasan Sandy dan orang orang nya mengawal Yara seperti itu,
Itu karena Sandy melihat gerak gerik mencurigakan seseorang yang ia yakini anggota Mahkota berduri.
Saat ini Yara bahkan menurut saja tinggal di penthouse keluarganya setelah mendapatkan telepon dari sang kakak sebelumnya.
Flashback on.
Yara tengah mengemudikan mobil sportnya membelah jalan tol, tiba tiba ponselnya berdering itu adalah panggilan dari Ryuchie.
" Sayang, kamu baik baik saja.?" Tanya Ryu dengan nada panik.
" Ya kak.. Aku baik baik saja, kakak jangan khawatir." Ucap Yara
" Tolong sekali ini saja sayang, menurut dengan kakak oke, tinggal di penthouse ayah akan lebih aman karena itu daerah kita sendiri." Ucap Ryu tiba tiba.
" Kenapa tiba tiba sekali kak? apa terjadi sesuatu.?" Tanya Yara bingung.
" Anggota Mahkota berduri saat ini sedang mengintai mu di Jakarta, meskipun Sandy bisa mengatasinya tapi kakak tetap tidak tenang. Kakak belum bisa terbang kesana menemuimu karena tugas disini banyak. Jika kamu kesepian kakak akan mengirim seorang asisten perempuan untukmu, Jangan tinggal dengan Jack dan Caleb lagi." Ucap Ryu panjang lebar.
" Kakak yang tenang oke, selesaikan dengan baik tugas kakak disana. Tentang Mahkota berduri aku akan mengurusnya dengan kak Sandy. Juga... kenapa aku tidak boleh tinggal dengan Jack dan Caleb? mereka teman temanku yang sudah seperti kakak bagiku kak." Ucap Yara panjang lebar.
" Tidak boleh, kamu tidak boleh memiliki kakak lain. Sandy, Jack, dan Caleb adalah bawahan kita, Mereka tidak boleh kamu panggil kakak." Ucap Ryu merajuk tiba tiba.
" Astaga, kakak cemburumu itu tidak mendasar sama sekali. Bagaimanapun Jack dan Caleb lah yang selalu ada untuk ku sebelum aku bertemu kalian." Ucap Yara.
" Jadi kamu tidak mau mengakui kakak ini sebagai kakak mu satu satunya karena hal itu?" Ucap Ryu semakin merajuk.
Mendengar kakak nya merajuk, Yara hanya menghela kan nafasnya pasrah.
" Baiklah, kakak satu satunya kakak ku. Aku paling sayang kakak, dan aku akan tinggal di penthouse seperti yang kakak bilang oke." Ucap Yara menghibur
" Begitu baru adik kakak tersayang."
Flashback off
Yara sempat terkejut melihat penthouse miliknya itu sangat besar dan mewah. Semuanya lengkap, termasuk 4 pelayan perempuan dan 8 orang penjaga laki laki. Saat ini ia sedang membaringkan dirinya di atas ranjang king size nya.
" Haih.. bosan sekali." Ucapnya dan bangkit dari ranjang itu menuju meja bar.
" Nona ingin minum sesuatu?" Ucap seorang pelayan perempuan yang selalu siap siaga disana.
" Kau bisa membuat minuman?" Tanya Yara.
Ya, pelayan dan pengawal disana sudah mengetahui identitas Yara. Tentu saja itu karena Ryuchie yang memberi tahu.
" Saya bisa membuat beberapa minuman enak terkenal nona. Nona ingin yang ber alkohol atau tidak? " Tanya pelayan itu.
" Sedikit beralkohol sepertinya enak hehe.." Ucap Yara menyengir kuda. Bagaimanapun ia tidak bisa minum dengan kadar alkohol tinggi untuk saat ini.
Pelayan itu sampai salah tingkah sendiri, bagaimanapun Yara itu 90% sama persis demgan Ryuchie.
" Baiklah nona, biar saya buatkan sekarang." Ucap pelayan itu.
__ADS_1
Pelayan itu pun langsung memproses pembuatan segelas minuman yang akan disajikan untuk nonanya itu. Ia mengeluarkan semua bahan nya dan mulai meracik. Bak seorang bartender profesional pelayan itu mencampurkan satu demi satu cairan beralkohol itu hingga jadilah segelas minuman.
" Margarita untuk nona dengan kadar alkohol 20%. " Ucap sang pelayan.
" Woah.. terimakasih." Ucap Yara.
Yara pun meneguk minuman itu, rasanya berbeda dengan minuman yang selalu ia racik. Padahal Yara sendiri sering meracik minuman, namun rasa yang ia sesap kali ini sangat enak.
Ting..
Suara lift terbuka
Sandy berjalan menuju tempat Yara berada saat ini. Ia membawa sebuah map berwarna cokelat.
" Kau datang?" Ucap Yara.
Sandy terkejut dengan perubahan bicara nonanya, biasanya Yara akan memanggilnya kak.
" Jangan terkejut tuan Sandy, kakak ku melarangku memanggil kakak selain dirinya, dan aku telah berjanji." Ucap Yara memberi penjelasan kepada Sandy.
" Tidak apa apa nona, saya mengerti dengan ke posesifan tuan muda." Ucap Sandy.
" Kau membawa apa.? " Tanya Yara.
" Tuan muda menyuruhku menyelidiki setiap anggota keluarga Todd, dan ini adalah hasilnya. Tuan muda meminta agar nona membaca ini." Ucap Sandy.
Yara mengernyit bingung, mengapa kakaknya menyelidiki keluarga Todd lagi? bukankah pembagian warisan juga dudah selesai pikirnya.
" Tidak nona terimakasih, kalau begitu saya permisi nona." Ucap Sandy lalu membungkuk.
Hal itu sebenarnya adalah tata krama yang berlaku antara bawahan dan atasan nya di keluarga Maxwell dan untuk pertama kalinya Yara melihat Sandy membungkukan badan padanya.
Tanpa bicara lagi, Sandy pun melangkah pergi dari penthouse itu.
Ring... Ring...
Tiba tiba ponsel Yara berdering, namun yang muncul di layar adalah nomor baru yang tidak Yara kenali.
" Halo.."
" Kau pikir bisa bersembunyi berapa lama dariku Y.?" Ucap seseorang di seberang sana.
Yara mengernyit bingung, suara itu tidak pernah ia kenal sebelumnya.
" Siapa kau?" Tanya Yara.
" Bukankah kau sedang mencari keberadaanku? Oh.. Setelah kau bertemu keluarga kandungmu kau jadi anjing rumahan ya?" Ucap orang itu lagi.
Yara yakin suara itu bukan suara asli si penelepon. Kemungkinan besar itu menggunakan suara samaran, karena suara itu bukan seperti suara manusia normal.
" Kenapa diam? bukankah kau sedang berusaha menemukanku sebelumnya? ayo cari aku lagi." Ucap Orang itu kembali.
" Kau... Kristin Evron?" Tanya Yara menebak.
__ADS_1
" Ahhh... Kau terlalu pintar menebak sayang. Apa kau tahu, aku tahu kau sekarang sedang duduk di sebuah mini bar di penthouse mu dengan segelas minuman, Benar?" Ucap penelepon itu lagi.
Panik, Yara langsung melihat kesekelilingnya. mencoba mencari cctv yang mingkin tersembunyi namun tidak ada, Ia menjoba menjadi setenang mungkin agar si penelepon tidak merasa tebakan nya benar.
" Tebakanmu salah." Ucap Yara.
" Oh.. Iya kah? atau alu harus sebutkan jenis minuman apa yang kau pegang sekarang?" Tanya orang itu lagi.
" Aku tahu kau juga sedang berusaha menangkapku kan?" Ucap Yara mengalihkan perhatian, namun tangan nya sigap mengirim pesan sinyal pada penjaga, terutama Sandy.
" Margarita.. apakah benar?" Ucap si penelepon tetap fokus pada pembicaraan pertama.
DEG
Yara seakan mati kutu, bagaimana bisa Kristin tahu bahwa yang ia pegang adalah jenis minuman Margarita. Sebenarnya darimana Kristin memata matainya.
Tiba tiba Sandy datang dan langsung menyambar Yara untuk merunduk. Dan tiba tiba hunan peluru memenuhi ruangsn itu. Jika saja Sandy terlambat satu detik saja, maka Yara tidak akan tertolong lagi.
" Nona, anak buah Kristin ada di gedung seberang. Saya sudah menghubungi GHOST untuk melacak keberadaan mereka." Ucap Sandy dengan tangan sigap memakaikan anti peluru yang sebelumnya berada di tubuhnya kepada Yara.
Yara masih syok dan terkejut dengan apa yang dialaminya tadi, ditambah bising bunyi barang pecah berantakan membuat dirinya diam saja.
Sandy dengan sigap mengambil senapan nya lalu ia mencoba mengintai dari teleskop dimana letak posisi penembak.
" Ghost, lantai 40 unit ke 7 dari sebelah kiri" Ucapnya menggunakan earpiece penghubung suara antara dirinya dan tim lain.
Tak lama hujan peluru itu berhenti. Yara berdiri dari persembunyian nya matanya menatap lurus kearah gedung seberang. Yara tidak takut, ia hanya terkejut. Bisa bisa nya ia tidak siaga dengan penyerangan tiba tiba.
" Nona anda baik baik saja?" Tanya Sandy.
" Terimakasih, aku baik baik saja." Ucap Yara.
Ring.. Ring... Ring..
Tiba tiba ponselnya kembali berdering, dan yang menghubunginya itu nomor yang sebelumnya di gunakan Kristin.
" Kita akan bertemu lagi sayang." Ucapnya lalu panggilan itu langsung kembali diakhiri sebelum Yara sempat menjawab.
Dengan sigap, Sandy mencatat nomor itu lalu mengirimkannya pada anggota Ghost.
" Nona, disini tidak aman, mari ikut saya ke kediaman pribadi saya." Ucap Sandy.
Yara belum menjawab ucapan Sandy, namun tiba tiba ponsel Sandy berdering.
" Halo, baik." Ucapnya , lalu panggilan itupun di akhiri.
" Kenapa?"
" Nona, Tuan besar sudah mendengar kabar penembakan ini dari pihak gedung. Saat ini beliau koma karena mengalami serangan jantung." Ucap Sandy.
DEG.. DEG.. DEG..
TO BE CONTINUED..
__ADS_1