Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 49. Undangan pernikahan.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Yara melihat sebuah mobil yang nampak mengikuti mereka dari saat di hotel.


" Pak Jamie, tambah kecepatan." Ucap Yara.


Ethan yang mendengar Yara berbicara seperti itu pun terkejut. Ternyata insting Yara cukup tajam juga. Sebenarnya Ethan sudah merasa ada seseorang yang sedang memantau dirinya.


" Apa ada yang mengikuti.?" Ucap Jamie.


" Benar, di depan akan ada lampu merah, tambah kecepatan, sebelum lampu merah menyala kita harus sudah lewat, dalam 15 detik." Ucap Yara lagi.


Jamie pun menancap gasnya, dengan kecepatan tinggi, dan benar saja 15 detik setelah kemudian lampu merah menyala, dan mobil yang mengikuti terjebak di lampu merah.


" Bagaimana kamu bisa tahu lampu merah itu akan menyala dalam 15 detik? perkiraan mu ini sangat tepat. " Ucap Jamie.


" Hanya sudah terbiasa dengan jalanan ini." Ucap Yara.


Sebenarnya Yara juga memperhatikan sekitar nya. Dan kebetulan bisa memanfaatkan lampu merah yang ada di sana. Setelah berhasil lolos dari pengejaran, mereka pun sampai di gedung perusahaan Ethan.


Ethan berjalan dengan langkah cepat dan memasuki lift begitu juga dengan Yara dan Jamie.


" Y, kau ikut aku masuk kedalam ruangan ku." Ucap Ethan.


" Baik tuan." Ucap Yara.


Mereka berdua pun memasuki ruang kerja Ethan, namun tidak dengan Jamie.


" Sejak kapan kau merasakan ada yang mengikuti mobil kita tadi.?" Ucap Ethan setelah duduk di kursi kerja nya.


"Sejak keluar dari gedung hotel itu tuan." Ucap Yara singkat.


" Mulai sekarang, kau akan menjadi pengawal di sampingku. Tugasmu lindungi aku dengan baik dengan nyawamu, apa kau bersedia.?" Ucap Ethan dengan wajah serius menatap Yara.


" Apa maksudnya ini.. Apa dia menjadikan aku tangan kanan nya.? Tapi tidak mungkin, Tuan Rayson lebih hebat dari diriku. " Ucap Yara dalam hati.


Melihat Yara yang diam kebingungan Ethan pun membuka suara.


" Untuk sementara, kau gantikan posisi Rayson di sampingku, dia sedang melakukan tugas besar jadi aku tidak bisa memintanya kembali. Ku lihat pengamatan mu juga bagus, jadi aku menawarkan ini kepadamu. Bagaimana.? kau setuju.?" Ucap Ethan menjelaskan.


" Tangan kanan tuan? , itu tugas yang berat. Meskipun hanya untuk sementara, tanggung jawab sebegitu besarnya, takutnya saya tidak bisa melakukan nya, maaf tuan saya menolak.." Ucap Yara menolak dengan halus.


" Apa.! Apa kau tahu kakak angkat mu, Jilian saja menginginkan posisi ini tidak aku berikan, dan kau malah menolaknya.? " Ucap Ethan.


" Jika aku menerima tawaran ini, selain bisa melindungi tuan aku juga bisa mencari tahu tato apa yang ada di tengkuk leher pak Jamie. Jika kecurigaan ku benar, maka aku bisa memiliki peluang untuk mencari tahu siapa itu nyonya Evron dan bisa segera bebas dari hutang ini. Tapi jika kecurigaan ku salah, maka aku secara tidak langsung melibatkan diri lebih dalam dengan pria ini.. aku harus bagaimana.." Ucap Yara dalam hati.


" Anggaplah aku yang memohon kepadamu." Ucap Ethan di tengah tengah lamunan Yara.

__ADS_1


" Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali." Ucap Yara dalam hati.


" Baiklah, saya terima." Ucap Yara.


" Bagus, mulai sekarang, kau hanya harus selalu berada di sekitarku." Ucap Ethan.


" Baik tuan." Jawab Yara.


Tak lama Jamie mengetuk pintu ruangan Ethan, dan masuk kedalam.


" Tuan, Anda mendapatkan sebuah undangan pernikahan dari keluarga Todd. " Ucap Jamie yang masuk kedalam sembari memberikan sebuah buku undangan.


Yara sedikit terkejut, mendengar Jamie mengatakan undangan pernikahan.


" Siapa yang akan menikah.?" Ucap Yara dalam hati.


" Keluarga Todd..? Untuk apa mereka mengundangku, tidak perlu datang ke sana. Hanya sebuah keluarga yang sudah hancur saja. " Ucap Ethan.


" Tapi tuan besar dan mendiang tuan besar keluarga Todd pernah berhubungan baik." Ucap Jamie.


" Baiklah, aku akan tanya pendapat kakek, berikan undangan itu kepada Y." Ucap Ethan.


" Baik, Y ini.." Ucap Jamie memberikan undangan pernikahan itu.


Ethan menyadari jika Yara nampak penasaran dengan nama siapa yang tertulis di buku undangan itu. Jadi ia sengaja menyuruh Jamie memberikan undangan itu kepada Yara.


" Kenapa.? kau mengenal mereka.?" Ucap Ethan berpura pura tidak tahu.


" Tidak. " Ucap Yara singkat.


" Baiklah." Ucap Ethan.


Ethan membuka laptopnya lalu mulai serius bekerja, Jamie juga keluar dari ruangan Ethan. sementara Yara kini duduk di sofa di ruangan Ethan.


Di tempat lain.


"Undangan sudah di sebar, Megan pasti akan senang dengan kejutan ini." Ucap Darren.


Setelah berdiskusi dengan ayah nya, Darren langsung mencetak undangan pernikahan yang memang sudah ia rancang dengan Megan sejak jauh jauh bulan yang lalu. Tanpa Darren tahu, wanita yang sangat ia cintai dan yang ia tahu sedang mengandung anaknya kini sedang bersama pria lain.


" Tapi dimana dia, kenapa sudah siang begini belum datang juga. " Ucap Darren yang mulai sedikit tidak sabar memberikan kejutan.


Sementara Megan sendiri kini sedang berada didalam mobil Robin, mereka menuju kediaman Todd. Dan tak lama mereka pun sampai.


" Megan, Robin kalian kok bisa datang bersama.?" Ucap Darren yang melihat Megan turun dari mobil Robin.

__ADS_1


" Aku tidak sengaja bertemu dengan kak Robin di jalan, dia menawariku tumpangan jadi aku ikut saja." Ucap Megan yang langsung berhambur ke pelukan Darren.


" Oh.. Kebetulan kamu datang kemari. Ini, ada undangan juga untuk mu, paman, bibi dan Danica. Jangan lupa datang ke pernikahan kami yah." Ucap Darren yang seketika mengundang kilatan petir di antara Megan dan Robin.


" Pernikahan.? Pernikahan siapa sayang.?" Ucap Megan sedikit gugup.


" Tentu saja pernikahan kita, seminggu lagi kita akan melakukan resepsi pernikahan di gedung hotel mewah. Apa kamu senang..? " Ucap Darren antusias.


" Eh... Apa kamu serius sayang.? kamu tidak sedang membuat prank kan.?" Ucap Megan.


" Aku serius sayang.. " Ucap Darren yang mencium bibir Megan di depan Robin.


" Cih, berbagi kasih sayang di depanku, menjijikan. Jika Darren tahu seperti apa kelakuan calon istrinya itu, pasti bisa mati berdiri ." Ucap Robin yang sedikit kesal.


" Cukup.. cukup.. kalian berbagi kasih sayang di depan aku yang jomblo ini, apa tidak khawatir aku jadi iri dan mencium calon istrimu juga.?" Ucap Robin dengan candaan namun sedikit menyindir.


" Apa maksudmu jomblo akut? kami berbagi kasih sayang itu wajar. Dia kekasihku juga ada calon anak kami, jadi maaf tidak ada kesempatan untuk mu hahaha.. " Ucap Darren yang tidak menyadari sindiran Robin.


" Heng, tidak punya kesempatan katamu, jika kau tahu semalaman wanita yang kau sebut calon istri ini menghabiskan malam yang panjang denganku di ranjang, apa kau yakin masih bilang tidak punya kesempatan." Ucap Robin dalam hati.


" Baiklah baiklah, aku kalah.. Dimana paman aku ada yang harus di diskusikan." Ucap Robin.


"Ayah di kantornya, apa yang ingin kau diskusikan.?" Tanya Darren.


" Bukan apa apa, kalau begitu aku pergi ke kantor paman dulu. Kalian bersenang senanglah.." Ucap Robin sembari melambaikan tangannya lalu pergi.


" Bersenang senanglah dengan wanita yang bekas pakai ku. Sial, jika nanti mereka menikah, akan sulit menikmati tubuhnya. Tapi tidak apa apa, aku Robin.. wanita mana yang tidak takluk oleh pesonaku." Ucap Robin dalam hati.


Di tempat lain..


Tidak terasa hari sudah sore, baik Ethan maupun Yara mereka masih di dalam ruang kerja mereka.


" Ini sudah lewat jam makan siang , jika kau lapar kau boleh istirahat untuk makan terlebih dahulu." Ucap Ethan.


" Baik, terimakasih tuan." Ucap Yara.


Yara pun langsung bangun dari duduk nya dan keluar dari ruang kerja Ethan.


" Y, apa tuan tidak keluar untuk makan siang.?"Ucap Jamie.


" Tidak pak, saya akan membeli makanan dulu." Ucap Yara.


Yara pergi menuruni lift dan sampai di loby. Gedung perusahaan itu kebetulan dekat dengan kafe dan restauran , Yara pun masuk ke sana yang tidak perlu memakan banyak waktu. Setelah selesai membeli beberapa makanan Yara pun kembali. Namun saat hendak keluar dari pintu Kafe itu Yara melihat Bima yang sedang berjalan kaki dan memasuki sebuah mobil.


" Pak Bima.. Mengapa dia ada di daerah sini? Dan itu, pak Bima masuk kedalam mobil yang sebelumnya mengikuti kami. Jangan jangan.."

__ADS_1


Ucap Yara terlihat risau.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2