
Setelah bertemu Nely dan Vaye ikut meyakinkan Nely bahwa Nicholas baik baik saja, Kini Nicholas dan Vaye berada di taman belakang kediaman Nicholas setelah selesai makan malam. Sementara Nely sendiri sudah tidur bersama perawat setelah meminum obat nya.
" Jadi sehari hari kamu berperan menjadi kakak mu terlebih dahulu?" Ujar Vaye.
" Hm.. Dokter ingin membangun rasa di hati mama untuk ku, perlahan tapi pasti Dokter Abraham membuat mama yakin bahwa aku bukan pembunuh. Dokter juga mengatakan bahwa aku hidup menderita di luaran sana karena mama mengusirku." Ujar Nicholas.
" Begitu?? Eh.. Bukankah itu Ayam?? Kok dia disini?" Tanya Vaye, ketika melihat kuda hitam Nicholas berada disana.
" Dia pindah kemari, disana sudah tidak ada apa apa lagi." Ujar Nicholas.
" Maksudmu??? " Tanya Vaye.
" Nanti aku akan mengembalikan itu pada pemiliknya, tempat itu memang mengandung banyak kenangan manis, tapi jika aku ingat ingat, aku malah menjadi tenggelam dalam masalalu." Ujar Nicholas.
" Aku ingin membuka lembaran hidup baru, Vaye. Aku ingin melupakan setiap kenanagan manis di masalalu, dan membuat kenangan baru bersama mama." Ujar Nicholas.
" Kamu mau move on?" Tanya Vaye sambil terkekeh.
" Ya, kenangan manis di masa itu biar saja menjadi kenangan. Masa itu pernah ada, dan pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Tapi itu semua sudah di rusak oleh kenangan buruk." Ujar Nicholas, sambil menatap bintang malam di langit yang cerah itu.
" Kakakku tentu saja selalu tersimpan di dalam lubuk hatiku, dia tidak akan pernah hilang dari kenyataan perjalanan hidupku. Tapi aku sudah memutuskan untuk bisa menerima lembaran baru. Dan semoga mama juga bisa sembuh dan melakukan hal yang sama denganku." Ujar Nicholas lagi.
Vaye menatap Nicholas dari samping, wajah tampan nya, garis wajahnya yang begitu tegas meski masih berusia muda. Vaye tidak pernah bisa bayangkan hidup di hantui masalalu dan kesakitan tersiksa sendirian. Nicholas, Yara, dan Ethan.. Mereka melaluinya dengan kuat.
Vaye merasa beruntung, karena lahir dari dua orang yang saling kuat menguatkan seperti Yara dan Ethan. Didikan Ethan dan Yara yang terbilang tegas namun tidak memaksa itu, yang mebuat dirinya tumbuh dengan banyak cinta dan kasih sayang.
Tiba tiba Nicholas menengok kearah Vaye dan tatapan keduanya bertemu. Vaye merasakan kembali jantungnya yang berdetak kencang saat menatap Nicholas seintens itu.
" Kamu kenapa hanya diam??" Tanya Nicholas.
" Kagum.." Ujar Vaye, dan membuang pandangan nya kedepan.
" Aku kagum denganmu yang bisa kuat menjalani hidup yang penuh luka itu. Aku tidak pernah hidup sepertimu, tapi aku bisa merasakan betapa tersiksanya dirimu. Jadi aku kagum.. " Ujar Vaye dan kembali menatap Nicholas.
" Terimakasih.." Ujar Nicholas.
" Kamu hadir dalam hidupku, dan mengubahku dengan kekeras kepalaan mu itu. Aku menjadi merasa kembali tertantang karena selama ini aku selalu hidup membosankan." Ujar Nicholas.
" Apakah itu sebabnya kau sering menghajar orang? Karena kau bosan." Tanya Vaye, dan Nicholas terkekeh.
" Aku menghajar mereka bukan tanpa alasan, Vay. Aku terkenal kejam tapi pada kenyataan nya aku adalah orang yang terbully. " Ucap Nicholas.
__ADS_1
" Aku selalu mendengar mereka membicarakan tentang hidupku, ibuku, semua tentangku sebagai lelucon dan candaan. Dan aku yang bertempramen buruk ini, tidak pikir dua kali dan langsung menghajar mereka." Ujar Nicholas.
Vaye terkejut tentu saja, Nicholas terkenal sebagai iblis di sekolah. Tapi rupanya sisi iblisnya itu hanya tameng untuk melindungi dirinya.
" Maaf.." Ujar Vaye.
" Kenapa juga kamu minta maaf. Sudahlah, ini sudah malam.. Ayo aku antar pulang." Ujar Nicholas.
" Naik Ayam." Ujar Vaye.
" Yang benar saja, yang ada aku di tangkap polisi." Ujar Nicholas dan Vaye terkekeh.
" Dasar, senangnya meledek orang." Ujar Nicholas sambil memiting Vaye.
" Sakit.." Ujar Vaye mengelus kepalanya.
" Uluh.. Uluh.. Cakit ya." Ucap Nicholas sambil mengusap usap kepala Vaye.
' Betapa manisnya makhluk Tuhan di hadapanku ini.' Batin Nicholas, sambil mengusap kepala Vaye.
Akhirnya Nicholas mengantar Vaye pulang dengan mobilnya, udara malam terlalu dingin untuk Vaye menurut Nicholas. Jadi ia menggunakan mobilnya.
__________________________
Sekolah heboh karena ada ambulance pagi pagi di depan sekolah. Semua murid ingin tahu siapa yang terluka pagi pagi begitu.
Terlihat Bagas di gotong menggunakan tandu dan memasuki Ambulance, kondisinya mengenaskan karena kepalanya berdarah dan Bagas juga hilang kesadaran.
" Astaga, itu Bagas.. Siapa yang begitu tega menyiksa Bagas begitu." Ucap seorang murid.
Vaye dan Nicholas yang baru sampai kebingungan karena sekolah sangat ramai di pagi hari.
" Ada apa ini?" Tanya Vaye pada seorang murid.
" Kak Bagas, kak. Dia di temukan pingsan dan terkunci di kamar mandi dengan luka di kepalanya." Ujar murid itu.
Vaye tentu terkejut, ia pun melihat Bagas yang langsung di bawa ambulance sambil di beri pertolongan pertama, sepertinya Bagas tidak bernafas.
' Siapa yang melalukan ini.' Batin Vaye.
" Ayo cari paman Jilian." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.
__ADS_1
Tak lama, orang tua Bagas juga datang kesana, ibu Bagas sampai menangis nangis mendengar kabar bahwa putra semata wayang mereka di temukan tidak sadarkan diri di toilet.
Vaye mengetuk pintu ruangan Jilian, dan Jilian memoersilahkan nya masuk. Rupanya Jilian sedang menginterogasi petugas yang bertugas membersihkan toilet kemarin.
" Saya bernai bersumpah, pak. Toilet itu tidak rusak kemarin, bahkan setelah saya membersihkan, saya masih berpapasan dengan murid yang pingsan tadi. " Ujar petugas Toilet.
" Baiklah, pergilah dulu. Cctv yang akan membuktikan nya." Ujar Jilian.
" Baik, pak. Saya permisi." Ujar petugas itu, lalu pergi dari ruangan Jilian.
" Paman, apakah Bagas terkunci sejak semalam?" Tanya Vaye.
" Ya, nak.. Paman sedang menyelidikinya." Ujar Jilian.
Dan tak lama, orang tua Bagas pun masuk kedalam dengan wjaah penuh khawatir.
" Pak kepala sekolah, dimana putra kami?" Ujar Ibu Bagas dengan berlinang air mata.
" Nyonya, mohon untuk tenangkan diri nyonya, Bagas sudsh di bawa kerumah sakit." Ujar Jilian.
Vaye dan Nicholas akhirnya keluar dari ruangan itu karena tidak mau mengganggu pertemuan antara orang tua Bagas dan Jilian.
" Siapa yang berani menyakiti teman kita itu? " Ucap Nicholas.
" Kita akan menyelidikinya nanti." Ujar Vaye.
Setelah keriuhan itu terjadi, Bel berbunyi dan semua murid pun masuk kedalam kelas mereka masing masing. Saat Vaye dan Nicholas sampai di kelas, terlihat Timothy yang sudah duduk dengan elegan sambil membaca bukunya.
" Pagi Vaye.." Ucap Timothy dengan senyum seperti biasanya.
" Timothy, apakah kamu tidak mendengar keriuhan di luar? Seseorang mengunci Bagas di toilet semalaman, dan Bagas di temukan bersimbah darah." Ujar Vaye.
" Ya, aku mendengarnya tadi, banyak yang berbincang juga." Ujar Timothy, dengan tenang.
' Mendengar teman kelasnya terluka dia bisa duduk dengan tenang di kelas seakan tidak terjadi apapun. Normalnya orang akan ikut setidaknya panik, karena di sekolahnya ada kasus kekerasan. Apakah karena dia penyendiri?' Batin Vaye.
" Apakah Bagas baik baik saja?" Tanya Timothy.
" Dia di bawa ke rumah sakit, tadi." Ujar Vaye.
Hingga akhirnya guru datang, dan kelas pun dimulai, kasus yang gerjadi itu sedikit mengganggu berjalan nya pelajaran, namun masih bisa di kondisikan.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..