
Yara mengintip dari pintu yang sedikit terbuka itu, dan mendengar Darren mengatakan beberapa hal kepada Bima.
" Pak Bima, coba tebak apa yang saya bawa. " Ucap Darren.
Bima terlihat terkejut dengan sebuah map yang di tunjukan oleh Darren, begitu juga Yara.
" Anda lancang sekali tuan muda, anda memasuki rumah saya demi mendapatkan surat kuasa itu.!" Ucap Bima lemah.
" Siapa suruh kau terlalu keras kepala.! Kalau kau mau sedikit saja bekerja sama dengan ku dan orang tuaku, pasti tidak akan seperti ini." Ucap Darren kasar.
" Itu bukan hak milik anda tuan muda, mendiang Tuan besar akan marah.!" Ucap Bima di sela sela sesak nafas nya.
Bima di rawat di rumah sakit setelah terkena serangan jantung. Dan hal itu di manfaatkan oleh keluarga Darren untuk memindahkan kepemilikan harta milik Yara.
" Berisik! tenang saja, sebentar lagi kau akan menyusul kakek. Sebelum itu, kau tanda tangani dulu surat ini, agar aku tidak kesulitan." Ucap Darren yang memaksa Bima untuk tanda tangan.
" Saya tidak akan tanda tangan.!! Tuan muda, apakah anda tidak malu.?" Ucap Bima.
" Malu.? kenapa aku harus malu? Cucu kandung kakek adalah aku, siapa Yara.? Dia hanya orang jalanan yang di pungut kakek. Apakah pantas demi membayar jasa anak pungut, kakek memberikan setengah harta warisan nya kepada anak pungut itu.?!" Ucap Darren.
Yara yang mendengar itu pun merasa emosi. Nafas nya memburu seolah ingin menghajar Darren saat itu juga.
" Tuan muda, sekarang saya semakin tau mengapa Tuan besar lebih memilih nona Yara dari pada keluarga kandung nya. Anda dan yang lain nya, hanya penggila harta.!" Ucap Bima yang semakin merasa sesak nafas.
" Sudahi ocehan mu pak Bima, sekarang cepat tanda tangani surat ini atau.." Ucap Darren tertahan.
" Atau apa tuan muda , Mati pun saya tidak akan menuruti kemauan anda. Berikan surat itu." Ucap Bima yang berusaha bangkit dari duduk nya untuk mengambil map itu.
" Hentikan !!" Ucap Yara yang tiba tiba masuk kedalam dan mengunci pintu dari dalam.
Darren dan Bima sama sama kaget melihat Yara disana.
" Kau !!" Ucap Darren.
" Awalnya aku masih berpikir, dengan menghilangkan surat wasiat itu akan membuat kalian jadi bertobat sedikit. Tetapi aku salah.. Kalian malah semakin berani." Ucap Yara.
Yara berjalan menghampiri Darren yang berjalan mundur ketika Yara berjalan kearah nya.
" Kau, Nayara.?" Ucap Darren .
__ADS_1
" Benar, aku Yara. Aku belum mati, dan hari ini berdiri di hadapan mu. Kenapa? Kau terkejut.? Kak Darren.?" Ucap Yara yang semakin mendekat ke arah Darren.
" Mustahil.! Kau sudah mati, Bagaimana bisa.." Ucap Darren tertahan .
" Pertama kau mengecewakan kakek, lalu berpura pura mencintaiku, lalu menjebak ku dan membuat nama baikku rusak, berusaha membunuhku. Sekarang bahkan kau ingin menyerang pak Bima.? Kak Darren kau sungguh sampah.!" Ucap Yara.
" Beraninya kau! " Ucap Darren yang melayangkan tangan nya mencoba menampar Yara namun di tahan oleh Yara.
" Kak Darren, tahukah kau mengapa kakek lebih sayang padaku? Karena kakek tahu siapa yang bisa di andalkan. Setiap hari kakek mengajariku semua hal tentang bela diri, mengajari ku menembak dan lain nya, adalah untuk hari ini." Ucap Yara yang tiba tiba menodongkan pistol kearah Darren.
" Ka.. kau , apa yang kau lakukan.? Kau tidak bisa membunuhku Nayara ." Ucap Darren sedikit ketakutan.
" Kenapa tidak bisa.? Hampir setiap hari setelah aku keluar dari keluarga Todd, aku membunuh orang. Kenapa, kau takut ?" Ucap Yara dengan tatapan dingin nya.
" Kau mencintaiku Nayara, kau tidak mungkin membunuhku, aku tahu kau orang yang seperti apa." Ucap Darren.
" Oh yah.? Seperti apa aku ini.?" Ucap Yara.
" Apa kau tidak tahu, Nayara Valerie yang dulu sangat lemah lembut, penyayang, baik hati, dan mencintaimu itu sudah mati, di hari kau memfitnah nya?. Yara yang berdiri di depanmu sekarang, bukan Yara yang dulu kau kenal. Tega nya kau melakukan itu, bukan hanya itu, kau juga membunuh suster Lilith , dan sekarang mengancam pak Bima. Kalau kau mati hari ini, kau pantas mengalaminya. " Ucap Yara yang semakin dekat menodongkan pistol ke arah Darren.
" Nona Yara, tolong jangan mengotori tangan nona. Jangan lakukan itu nona." Cegah Bima.
" Nayara, kau jangan bunuh aku.. Aku akan kembalikan surat ini oke , kau anggaplah karena kebaikan ku dulu. Tolong jangan bunuh aku Nayara, kau mencintaiku kan.?" Ucap Darren yang meletakan map surat wasiat itu di meja.
" Kebaikan.? Kebaikan apa yang pernah kau berikan padaku.? Dan Cinta..? Maaf, dulu aku memang buta bisa mencintai orang bren*sek sepertimu." Ucap Yara dengan senyum sinis nya.
" Nayara, tolong ampuni nyawaku, aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, tolong jangan bunuh aku." Ucap Darren.
Yara terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Darren, Darren yang melihat ada celah langsung mendorong Yara hingga terjatuh, sementara Darren sendiri langsung kabur keluar.
"Ayah..? " Ucap Yara dalam hati.
" Nona, nona tidak apa apa..?" Ucap Bima.
Yara tersadar, dan langsung berdiri. Akibat dorongan Darren, lengan nya kembali berdarah karena luka nya terbuka.
" Nona, anda berdarah.." Ucap Bima.
" Tidak apa apa pak Bima. Tadi kak Darren bilang dia akan jadi seorang ayah, apa dia sudah menikah.?" Tanya Yara.
__ADS_1
" Setahu saya belum nona, tapi memang setelah nona pergi, tuan muda sering terlihat bersama seorang gadis. " Jawab Bima.
Yara semakin emosi mengetahui itu.
" Memang laki laki bren*gsek. Dia yang mengatakan aku menjual diri , dia juga yang langsung punya hubungan baru." Ucap Yara.
Yara mengambil surat wasiat yang di tinggalkan kakek nya.
" Pak Bima, Istirahatlah baik baik, agar bisa cepat sembuh. Aku akan bawa surat ini, jika keluarga Todd menyerang pak Bima, segera hubungi aku." Ucap Yara.
" Nona anda harus tetap baik baik saja. Saya akan berusaha sembuh." Ucap Bima.
" Kalau begitu saya pergi dulu pak, sebelum paman dan bibi melihat ku." Ucap Yara.
" Hati hati nona, saya senang anda masih hidup." Ucap Bima.
"Terimakasih pak, Saya akan meminta teman saya untuk melindungi anda, sampai jumpa lagi pak Bima." Ucap Yara, dan langsung pergi dari ruangan Bima.
Setelah Yara pergi, Bima menangis bahagia.
" Tuan besar, Apakah tuan besar melihat nya.. Nona Yara.. dia sudah berubah menjadi gadis yang kuat seperti yang anda inginkan. Anda harus bangga taun besar." Ucap Bima yang mengenang mendiang Tuan nya.
Yara kembali keruangan Caleb , dan melihat Jackson yang sedang duduk di sofa, sementara Caleb tertidur.
" Yara, kau kembali.? apa terjadi sesuatu.?" Ucap Jackson yang khawatir.
" Jack, tolong kau bantu aku simpan ini." Ucap Yara sembari memberikan map berisi surat kuasa tadi.
" Ini apa Yara.?" Tanya Jackson.
" Ini adalah surat kuasa pembagian harta milik ku. Dan apa aku boleh minta tolong.?" Tanya Yara sambil terlihat cemas.
" Katakan, apa pun itu aku pasti akan membantumu." Ucap Jackson.
" Tolong kau lindungi seorang pria bernama Bima Laksmana, dia adalah seorang pengacara pribadi kakek ku. Katakan saja kau adalah teman ku. Dia ada di lantai ini, nomor 110. " Ucap Yara.
" Baik.. " Ucap Jackson tanpa bertanya.
" Terimakasih Jack." Ucap Yara, Yara pun langsung berlari keluar meninggalkan Jackson.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..