Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 171. SEASON 2. KUCING KUCINGAN.


__ADS_3

Vaye berjalan sangat cepat meninggalkan Nicholas yang sedari tadi mengejar dan memanggil namanya. Setelah Nicholas menghajar Timothy, keduanya di panggil guru dan mereka berdua mendapatkan hukuman.


Nicholas berdiri di lapangan menghadap bendera, begitu juga dengan Timothy. Mereka bahkan berhadap hadapan. Dan saling memberi hormat, tentu saja pada tiang bendera yang berada di hadapannya hingga jam pelajaran berakhir.


" Vaye!!" Teriak Nicholas kencang, sehingga membuat semua orang melihat kearah Nicholas dan Vaye.


Akhirnya Vaye berhenti, dan berbalik menatap Nicholas dengan kesal, dan Nicholas tersenyum saat Vaye berbalik.


" Apa?" Tanya Vaye.


" Kenapa kau mendiamiku? kau mau kemana? " Ucap Nicholas.


" Susah bicara dengan batu." Ujar Vaye, dan kembali pergi.


" Eh, batu??? Apa dia mengatakan aku batu?" Ucap Nicholas sambil menunjuk dirinya sendiri.


" Hey! Vaye.. Vaye.. Vaye tunggu aku." Teriak Nicholas mengejar Vaye yang semakin jauh.


Nicholas tidak sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Para gadis disana menatap Nicholas dengan lucu, jika biasanya Nicholas seperti Iblis, maka saat ini dia seperti anak ayam yang takut di tinggal induknya.


Vaye bersembunyi di perpustakaan, ia mengendap endap agar tidak terlihat dan tidak di temukan Nicholas. Ia tersenyum saat melihat tidak ada Nicholas dimanapun.


" Kamu sedang mengintip siapa?" Tanya Nicholas, dan Vaye terkejut mendengar suara Nicholas di belakangnya.


' Bagaimana dia tahu aku disini?' Batin Vaye.


" Va.."


" Sst!!! Aku tidak mau bicara denganmu." Ucap Vaye memotong perkataan Nicholas.


" Tapi kamu tadi bicara denganku." Ujar Nicholas polos.


" Oke, sekarang aku tidak mau." Ujar Vaye.


" Nah.. Itu tadi bicara lagi." Ucap Nicholas.


" Issh!! Kamu bisa diam?" Ujar Vaye kesal, dan Nicholas mengangguk angguk lucu.


Semua penghuni perpustakaan menahan tawanya melihat Nicholas yang berdebat dengan Vaye, mereka seperti orang yang tengah berpacaran dan saat ini sedang bertengkar.


Vaye duduk di kursi perpustakaan dan menatap kesal kearah Nicholas. Sementara yang di tatap hanya duduk diam memandang Vaye dengan tatapan lugu dan sesekali berkedip.


' Bagaimana bisa ada manusia seperti dirinya ini, bisa menjadi iblis yang tidak ingat tempat.. Lalu ini, wajah seperti ini siapa yang akan tahan marah dengannya. Ck! Mungkin ini yang dinamakan kekuatan orang tampan. ' Batin Vaye kesal sekaligus heran.


" Kenapa kau menghajar Timothy?" Tanya Vaye pada Nicholas.


Tapi Nicholas hanya diam, dan matanya melirik kekanan dan kekiri.


" Hey, aku bertanya padamu." Ujar Vaye lagi.

__ADS_1


Nicholas menunjuk bibirnya, dan seketika Vaye ingat, dia yang sudah melarang Nicholas bicara. Dia pun menepuk keningnya.


" Oke, kau boleh bicara sekarang." Ujar Vaye akhirnya.


" Nah.. Begitu dong dari tadi." Ujar Nicholas.


" Ish! Cepat katakan.. Kenapa kau menghajar Timothy?" Ucap Vaye.


" Hei!! Jangan berisik. Jika mau mengobrol silahkan keluar dari perpustakaan." Ucap petugas perpustakaan.


Keduanya pun akhirnya di usir keluar dari perpustakaan. Dan kini mereka berada di atap duduk di tepian atap sekolah.


" Aku emosi mendengar bahwa kamu di rendahkan di club malam, di tambah Henry dengan beraninya mengganggumu. Aku tidsk rela temanku disakiti." Ujar Nicholas pada akhirnya.


" Tapi tidak harus memukul Timothy juga, kan?? Yang mencelakai aku itu Henry, bukan Timothy." Ujar Vaye.


" Tetap saja, dia yang mengajakmu." Ujar Nicholas.


" Haish!! Benar benar keras kepala. Dengar! Jangan menjadi pria yang ringan tangan, kendalikan emosimu dengan baik. Kau sudah hampir bisa melawan dirimu sendiri, bukan?" Ujar Vaye.


' Rupanya dia mengkhawatirkan kindisiku..' Batin Nicholas, dan dia tersenyum.


" Kenapa kau malah senyum senyum?" Ucap Vaye heran.


" Tidak ada.. Ya sudah, akunminta maaf. Lain kali aku akan menghadapinya dengan kepala dingin, dan tidak akan asal menghajar orang." Ujar Nicholas.


" Janji?" Ujar Vaye memberikan jari kelingkingnya.


" Ya sudah, ayo kembali ke kelas." Ucap Vaye.


" Kau sudsh tidak marah padaku, kan?" Tanya Nicholas.


" Hm.."


" Hm?? Jadi marah atau tidak?" Ujar Nicholas.


" Iya, Ish... Cerewet." Ucap Vaye, dan Nicholas terbahak.


Akhirnya mereka kembali ke kelas mereka. Pelajaran kembali di mulai, tapi tidak ada Timothy disana. Entah kemana perginya Timothy, keadaannya cukup parah tadi.


Sampai akhirnya jam pulang sekolah pun tiba, Timothy tidak kembali ke kelas. Vaye dan Nicholas berjalan menuju parkiran dan mereka pun pulang menuju apartemen.


" Nicholas, ada yang mengikuti kita." Ujar Vaye.


" Ha? Mana?" Tanya Nicholas sambil melihat spion mobil.


" Mobil sedan putih, di kanan." Ujar Vaye.


Nicholas melihat dsri spiaon belakang, ia tidak mengenali mobil siapa itu. Nicholas mengetes apakah benar mobil itu mengikuti mereka atau tidak, dia keluar dari Jalur tol dan melaju ke daerah lain.

__ADS_1


Dan benar, mobil itu juga masih berada di belakangnya. Vaye berpikir apakah itu mobil Lucas atau anak buah Lucas tapi saat Vaye melihat platnya, itu bukan plat mobil anggota GHOST.


' Siapa dia, pakah orang suruhan Henry lagi? Ck! Menyusahkan saja.' Batin Vaye.


Nicholas berbelok menuju ke jalan yang lumayan sepi, dan mobil itu menambah kecepatannya lalu menghadang mobil Nicholas. Turun beberapa anak laki laki yang menggunakan seragam sama dengan Vaye dan Nicholas.


" Ck! Mereka teman teman Henry." Ujar Nicholas. Nicholas hendak turun, tapi Vaye mencegahnya.


" Kamu duduk diam disini saja, mereka pasti mencariku. Biar aku beri tahu mereka bagaimana rasanya di hajar perempuan." Ujar Vaye.


" Tapi.."


" Aku ingin berolah raga." Ujar Vaye dan langsung turun menemui lima teman teman Henry.


" Kalian mencariku?" Tanya Vaye.


" Ya, kau sudah menyinggung Henry, jadi kau harus membayarnya." Ujar salah satu dari mereka.


Mereka langsung maju hendak menghajar Vaye, tapi dengan gerakan cekatan Vaye menghindar dan menghajar mereka satu persatu. Nicholas benar benar terkesima melihatnya.


" Woahhh.. Dia juga jago karate, untungvsaat itu kami tidak jadi tanding. Atau aku akan malu berkali kali." Gumam Nicholas.


Vaye berkelahi dengan santainya melawan lima orang pria, dan bahkan tiga diantaranya sudah terkapar di jalanan. Vaye mengeluarkan gantungan kunci gajah dari Ryu, dan hal itu membuat dua laki laki itu tertawa.


" Kau mau apa dengan kepala gajah itu?" Ucap salah satu dari mereka.


" Mengajari kalian cara menjadi anak yang baik." Ujar Vaye.


" Astaga, Vaye.. Aoa yang kamu lakukan." Ucap Nicholas didalam mobil.


Vaye mengarahkan kepala gajah itu pada salah satu dari anak buah Henry, lalu ia menekan mata gajah itu dan seketika menjadi tongkat dan mengenai kening anak itu hingga dia jatuh.


" Aduh!!" Teriaknya.


" Nah.. Mari kita mulai pelajarannya anak anak." Ujar Vaye, sambil tersenyum smirk.


Dengan gerakan cantik, Vaye menghajar lima anak muda itu hingga semuanya terkapar, dan mereka memegangi bagian belakang mereka dengan kesakitan.


" Ampun!! ampun.." Teriaknya.


" Ampun - ampun kepalamu! kalau aku tidak bisa bela diri, kalian pasti tidak akan mengatakan ampun." Ujar Vaye sambil kembali memukul bokong mereka.


Nicholas menatap ngeri pemandangan di hadapanya itu. Nicholas yakin bukan hanya bagian belakang mereka saja yang sakit, tapi mungkin belalai mereka juga kesakitan.


" Ugh.. Aku turut berduka cita untuk adik kecil kalian." Ujar Nicholas, sambil meringis seolah ikut merasakan sakitnya.


Beberapa pukulan sudah selesai, dan akhirnya Vaye kembali masuk ke dalam mobil. Nicholas menatap ngeri tongkat kecil kepala gajah itu.


" Ayo kita pulang, mereka tidak akan mengejar dengan kondisi mereka yang seperti itu." Ujar Vaye, dan Nicholas langsung mengangguk angguk.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2