
Di kediaman Ethan, saat ini operasi sudah berakhir, peluru di dada Roger sudah berhasil di keluarkan. Karena masih dibawah pengaruh obat anastesi, jadi Roger belum sadar.
" ini sudah beberapa jam setelah operasi, mengapa dia belum juga menunjukan tanda tanda kesadaran?" Tanya Jilian pada dokter yang menangani Roger.
" Mungkin karena pengaruh obat tuan, kami juga sudah mengcek peluru itu, tidak ada racun di dalamnya." Ucap sang dokter.
Sementara Ethan hanya diam saja memandangi Roger, namun pikiran nya menebak nebat sebenarnya mengapa Roger datang kekediamannya, dan mengapa kristin tega menembak Roger yang adalah putra kandungnya sendiri, sebenarnya ada apa pikirnya.
" Than.. Kau istirahat saja, aku yang akan berjaga." Ucap Jilian.
" Tidak perlu, kau saja pergi istirahat. Dia kakak ku, aku yang akan menjaganya." Ucap Ethan.
Tiba tiba saja Roger menunjukan kesadara, matanya perlahan mulai terbuka.
" Kau sudah sadar, katakan apakah ada bagian lain yang sakit?" Tanya Ethan
Roger masih terdiam, matanya menatap Ethan dalam dalam. Jilian yang melihat itu akhirnya memutuskan keluar dengan sang dokter.
" Apa ada yang ingin kau sampaikan.?" Tanya Ethan lagi.
" Maaf.. " Ucap Roger lirih.
" Kau meminta maaf padaku? Untuk apa.?" Tanya Ethan.
" Semuanya.. " Ucap Roger lagi dengan lirih.
" Kau istirahatlah. Kau baru saja sadar, jangan terlalu banyak bergerak. Jika kau butuh sesuatu kau bisa mengatakan nya padaku." Ucap Ethan
" Kau tidak mau memaafkanku? " Tanya Roger.
" Jangan bahas ini sekarang, fokus saja pada kesembuhanmu lalu ceritakan apa yang terjadi padamu sampai seperti ini." Ucap Ethan.
Roger menjadi semakin sendu, ia menyadari ke egoisan nya dulu, yang selalu menuduh Ethan sebagai pembunuh ibunya, dan tidak pernah mau mendengarkan apapun penjelasan Ethan. Kini saat ia menyadari kebenaranya, rasa rasa nya sudah terlambat, karena Ethan seakan tak mau memaafkan nya.
Yang Roger tidak tahu adalah, sebenarnya Ethan sendiri bingung. Ia ingin mengucapkan telah memaafkan sang kakak, namun ia terlalu gengsi dan bingung bagaimana mengucapkan nya, Ethan terlalu bahagia akhirnya sang kakak menyadari kebenaran nya dan meminta maaf padanya, hanya gengsinya terlalu besar.
Namun ketika melihat wajah sendu sang kakak, hatinya menjadi luluh, bagaimanapun mereka dulunya tumbuh bersama, saling berbagi dan saling menyayangi meskipun mereka saudara beda ibu, namun mereka sangat rukun.
" Jangan dipikirkan lagi, aku.. aku sudah memaafkanmu." Ucap Ethan dengan gugup.
Mendengar itu Roger menjadi tersenyum cerah.
" Terimakasih.." Ucap Roger lirih.
Jilian yang berdiri di luar pintu pun tersenyum, akhirnya sahabatnya itu mendapatkan kembali sang kakak yang telah lama pergi menghindarinya.
" Istirahatlah, dokter akan memeriksamu lagi nanti. Aku pergi dulu, besok setelah kau pulih baru ceritakan." Ucap Ethan sembari melangkah pergi.
Roger tersenyum lalu mengangguk patuh. Saat Ethan membuka pintu, dirinya dibuat terkejut karena Jilian berdiri di hadapan nya dengan senyum aneh menurut Ethan.
" Kenapa kau senyum senyum? Jangan buat aku merinding dengan senyum itu." Ucap Ethan pada Jilian.
" Selamat..." Ucap Jilian, sembari menjabat tangan Ethan. Ethan yang bingung menurut saja tangan nya di guncang oleh Jilian.
" Selamat untuk apa.? " Tanya Ethan.
" Selamat, karena akhirnya kak Roger terbuka mata dan hatinya. Akhirnya dia sudah mengetahui siapa yang salah dan siapa yang menjadi korban." Ucap Jilian.
" Haissh.. " Ucap Ethan sembari melepaskan tangan nya dari Jilian.
" Di beri selamat malah marah, ya sudah.. Aku mau tidur sudah sangat larut." Ucap Jilian lalu pergi memasuki kamarnya.
Ethan masuk kedalam ruang kerjanya, ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek email yang masuk dari orang suruhan nya yang ia minta untuk mengikuti Yara.
" Jadi dia tinggal di tempat ini. " Ethan melihat lihat foto yang berhasil orang suruhan nya itu ambil secara diam diam.
Ethan sedikit terkejut saat membaca bahwa rumah yang yara huni setidak nya memiliki 20 pengawal bayangan yang siap siaga, namun tidak diketahui dari kelompok apa mereka itu. Ethan seketika mengingat saat Sandy menghubungi Yara dan memanggilnya nona. Apakah seorang Sandy Andrea Loo menjadi bawahan? , ataukah itu hanya panggilan formalitas antara pria dewasa dan wanita dewasa? Ethan masih belum yakin dengan kecurigaan nya.
Namun kemudian Ethan juga mengingat saat di restoran cepat saji, Yara mengatakan kepada Kristin bahwa ia tekah menghabisi tiga anjing Kristin, yang berarti anak buah Kristin.
' Aku benar benar sudah kehilangan jejakmu Yara.' Batin Ethan bermonolog.
Akhirnya Ethan menyuruh orang itu untuk tetap mengikuti Yara secara diam diam, khususnya untuk memastikan apa hubungan antara Yara dan Sandy yang sebenarnya.
...
Keesokan harinya..
__ADS_1
Yara baru saja terbangun dari tidurnya, ia baru meregangkan ototnya namun ponselnys sudsh berdering.
" Ibu.." Ucapnya saat melihat nama si pemanggil. Ia pun menggeser layar hijau itu.
" Halo kesayangan nya ibu, kamu baru bangun ya?" Tanya Aiko.
" Iya bu, ibu tumben sekali menghubungi Yara pagi pagi?" Ucap Yara dengan suara khas bangun tidur.
" Ibu kesepian.. " Ucap Aiko dengan wajah sendunya.
" Ayahmu masih koma, putra ibu sedang menjalankan tugas, putri ibu juga tidak disini. Ibu sendirian.. " Ucapnya lagi, lalu meneteslah air mata nya.
" Ibu.. Ibu tidak sendirian, bukankah ada dokter Li dan paman kecil Derico disana? kita semua akan segera kembali berkumpul lagi. Ayah akan segera bangun, kakak dan aku juga akan segera kembali. Ibu yang sabar yah.. Kita akan segera bersam sama lagi." Ucap Yara menghibur Aiko.
" Cepatlah pulang sayang, ibu sangat merindukan kalian semua. Rasanya baru saja kemarin kita kumpul bersama, dan sekarang kondisi kita seperti ini." Ucap Aiko.
" Iya ibuku sayang.. Yara janji akan segera menyelesaikan semuanya disini lalu pulang dan tinggal selamanya dengan ibu disana. Apakah ibu masih di negara C?" Tanya Yara.
" Iya, ayah dan ibu masih di negara C. Kakak mu yang saat ini di negara A sendirian." Ucap Aiko.
" Ya sudah.. Ibu jangan menangis lagi oke, ibu akan cepat tua nanti jika selalu sedih. Yara percaya ayah adalah orang yang kuat, ayah pasti bangun dan sembuh. Sampai saat itu, kita semua akan kumpul besama." Ucap Yara .
" Kamu pandai sekali bermulut manis.." Ucap Aiko dengan kekehan nya.
Yara pun tersenyum senang melihat ibunya kembali senyum, baginya airmata ibunya itu sangat berharga walaupun ia tak dibesarkan oleh ibunya secara langsung.
" Ya sudah, ibu istirahatlah.. Yara juga harus memulai aktifitas, sebentar lagi mungkin Sandy akan datang." Ucap Yara
" Baiklah.. Jaga dirimu baik baik sayang." Ucap Aiko.
" Iya ibuku tercinta, malaikatku." Ucap Yara
Akhirnya panggilan itu pun berakhir. Yara menatap langit langit kamarnya kemudian bertekad.
' Aku harus secepatnya menyelesaikan semua ini, lalu kembali pada ibu dan ayah.' Batinnya bermonolog.
Yara bangkit dari ranjangnya, ia mengganti pakaian tidurnya menjadi pakaian olah raga lalu ia turun kebawah menuju tempat latihan. Di kediaman Yara meskipun terlihat seperti rumah biasa tapi sebenarnya rumah itu memiliki banyak tempat rahasia. Seperti yang saat ini Yara masuki, lift itu berjalan ke basment bawah tanah yang artinya di bawah rumah Yara juga ada ruangan lain.
Tak tanggung tanggung, Basment dirumah itu ada 3 lantai kebawah, dan yang paling dasar adalah ruangan penyimpanan senjata. Jadi jika di hitung, rumah Yara ini memiliki 7 lantai, 4 keatas dan 3 kebawah.
DOR.!
Suara senapan mengenai target.
" Pada saat itu, aku harap kau juga bisa mati seperti apel itu, Kristin Evron." Ucap Yara.
" Nona, anda rupanya disini." Ucap Sandy.
" Kau sudah datang kak, apa ada kabar dari kakak ku?" Tanya Yara.
" Huft.. Sangat sulit menjadi diriku nona. Di smaping harus menjadi seorang CEO di perusahaan, aku juga menjadi ajudanmu serta tangan kanan tuan muda." Ucap Sandy mengeluh.
" Kalau mau mengeluh cobalah mengeluh pada kakak ku." Ucap Yara dengan kekehan nya, lalu ia meletakan senapan nya.
" Aku tidak berani." Ucap Sandy menyengir kuda.
" Tuan muda mengatakan bahwa kemungkinan besar memang segel Mavros drakos yang dicari oleh Kristin. Ia sedang berencana membangkitkan lagi Mavros drakos yang dulu namun kemungkinan besar akan digabung dengan pasukan mahkota berduri. " Ucap Sandy.
" Sampai saat itu terjadi, yang ada hanyalah kehancuran dunia." Ucap Yara.
" Benar nona. Sebaiknya nona bersiap, kita harus mengunjungi kediaman Dominique sekarang juga. Saya dapat kabar kalau John Dominique akan melakukan perjalanan hari ini ke negara P." Ucap Sandy.
" Negara P? Bukankah Huang Yu tinggal disana? Apakah sebuah kebetulan?" Tanya Yara.
" Entahlah, saya pikir John Dominique pasti sudah mendapat kabar dari Huang Yu tentang surat kemarin. Hanya saja baik itu Huang Yu atau John belum tahu siapa nona ini, jadi John memutuskan menyusul Huang Yu. " Ucap Sandy.
" Baiklah, aku akan bersiap." Ucap Yara.
Yara pun pergi menuju kamarnya, ia segera membersihkan dirinya, lalu segera bersiap. Ia menggunakan kemeja berwarna hitam dan celana biru tua yang kontras dengan kulit putihnya. Tak lupa Jas yang senada dengan celananya ia sampirkan ditangan kirinya. Dengan sepatu hitam mengkilap penampilan Yara benar benar maskulin.
" Ayo" Ucap Yara pada Sandy yang tengah memainkan ponselnya.
" Nona, ada masalah yang terjadi dengan tuan muda, Si tangan kiri mengabariku ia terluka berat karena penyerangan tiba tiba di sana dan tuan muda belum di temukan." Ucap Sandy.
DEG.!
" Kalau begitu segeralah pergi, bantu kakak ku." Ucap Yara.
__ADS_1
" Tapi bagaimana dengan nona?" Tanya Sandy.
" Aku bisa mengatasi disini, lagipula ada banyak anggota Ghost disini. Tolong selamatkan kakakku, pastikan dia baik baik saja." Ucap Yara.
" Baik nona, saya akan pergi. Jika ada sesuatu terjadi, nona bisa menghubungiku langsung atau siapapun disini." Ucap Sandy.
" Aku tahu, pergilah.. Pastikan kakak ku baik baik saja." Ucap Yara
Sandy mengangguk lalu pergi meninggalkan Yara saat itu juga. Yara benar tidak menyangka akan terjadi sesuatu pada kakaknya. Baru tadi pagi ia meyakinkan ibunya bahwa mereka akan berkumpul dan baik baik saja, dan sekarang kakak nya diserang.
" Siapa yang menyerang kakak.?" Ucap nya pada diri sendiri.
Akhirnya Yara pergi ke kediaman John Dominique dengan pengawal yang menjadi supirnya beberapa hari ini. Tak lupa ada pasukan bayangan yang juga mengikuti Yara dari belakang.
" Nona, tuan Sandy berpesan agar saya mengikuti nona kemanapun nona pergi." Ucap Supir itu.
" Baiklah, siapa namamu? " Tanya Yara.
" nama saya Ralf nona." Ucap supir itu.
" Oke Ralf, jangan panggil aku nona, nama ku Yuka diluar sana." Ucap Yara.
" Saya mengerti nona." Ucap Ralf.
Sepanjang perjalanan, pikiran Yara penuh. Memikirkan kakak nya, ibunya, ayahnya, nasibnya, juga Kristin.. Kapan semuanya menjadi indah? Pikirnya.
Hingga tak sadar mereka pun sampai di kediaman Dominique.
KLAP.!
Bunyi suara pintu mobil ditutup.
Saat Yara turun daei mobil, bertepatan juga dengan John yang akan pergi.
" Tuan John." Panggil Yara.
John menengok kearah suara dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.
" Y.. Kau.. Kau.. Masih hidup.? Astaga.. Syukurlah.." Ucap John senang. Ethan memang belum memberi tahu kepada John bahwa Yara sudah ditemukan.
" Andamau kemana tuan?" Tanya Yara berpura pura tidak tahu.
" Hanya ingin berjalan jalan, bosan rasanya dirumah hanya melihat orang orang yang ribut harta." Ucap John menyindir anggota keluarga nya sendiri.
" Oh.. Tuab, boleh aku bicara dengan anda? Ini penting." Ucap Yara.
Dan disinilah mereka berdua sekarang, di ruang kerja milik John Dominique.
" Ada apa nak Yara.?" Ucap John.
Yara terkejut, rupanya John sudah mengetahui identitasnya juga, apakah Ethan yang memberi tahunya .
" Kamu pasti terkejut karena kakek sudah tahu identitasmu. Sungguh kakek tidak menyangka kamu harus seperti ini setelah kepergian Davis Todd, kakek tidak tahu kalau kau diperlakukan dengan tidak adil di kediaman Todd, sampai kakek mendengar kabar tentang kematianmu saat itu. Tapi kakek senang kau masih hidup nak." Ucap John Dominique.
" Terimakasih kek. Kedatangan Yara kemari sebenarnya ada kaitan nya dengan pak tua Huang Yu." Ucap Yara.
" Kau mengenalnya? Tunggu apakah orang yang di temui Huang Yu kemarin adalah kamu?" Ucap John
" Benar, kemarin aku ingin meminta pertolongan nya untuk menerjemahkan surat bertulisan Yunani kuno, tapi kemudian dia berkata apakah aku adalah cucu kakek John atau bukan. Saat aku bilang bukan beliau langsung pergi tanpa mendengar penjelasan ku." Ucap Yara menjelaskan.
" Hahahaha.. Syukurlah, aku kira surat itu jatuh ditangan yang salah." Ucap John Dominique.
" Kakek, Yara sedang dalam misi untuk menangkap Kristin dan menguak misteri mengapa perang antar mafia ini terjadi. Kristin menargetkan semua orang, awalnya kakek Todd, lalu pak bima, dan aku yakin akan segera menuju target selanjutnya. Dan kedatangan Yara kemari adalah untuk mencari tahu awal mula masalah ini terjadi dari kakek. Yara yakin kakek pati tahu sesuatu kan?" Ucap Yara.
John menjadi sendu, ternyata kematian Davis Todd adalah ulah Kristin, begitu juga Bima.Ia yakin yang selanjutnya diburu mungkin dirinya.
" Masalahnya tidak sesederhana itu kakek, Kristin juga menargetkan aku, bahkan semalam ia menembak putra kandungnya sendiri Roger." Ucap Yara.
DEG.!!
John terkejut, mengapa semuanya terjadi begitu kacau begini pikirnya.
" Semua ini berawal dari kakek mu, Damian Maxwell. Jika saja dia tidak memiliki ambisi begitu kuat, dan terkesan serakah, mungkin ini semua tidak terjadi."
DEG..
TO BE CONTINUED...
__ADS_1