Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 183. SEASON 2. Terluka.


__ADS_3

Vaye sedang memakan sarapannya bersama seluruh keluarganya, ia menjadi memikirkan terus menerus dalam beberapa hari ini setelah dirinya berhasil membuka kejadian masalalu Nicholas.


" Vaye sayang, apakah telah terjadi sesuatu??" Tanya Ethan.


" Tidak ada daddy, apakah Vaye boleh kembali ke Indonesia lebih cepat?" Tanya Vaye. Seketika semua orang menatap kearah Vaye.


" Kenapa sayang? Apakah ada hal penting??" Tanya Ethan.


" Sayang, mommy masih ingin berlama lama denganmu, lagi pula libur mu masih lama." Ujar Yara.


Sementara Edmund dan Natahan hanya diam menatap Vaye, seakan mereka tahu apa yang terjadi.


" Tidak ada hal apapun, hanya saja Vaye memiliki janji dengan teman teman Vaye disana. Kami berencana untuk liburan hanya kami tanpa orang tua." Ujar Vaye berbohong.


Ethan dan Yara saling pandang, mereka masih ingin berlama lama dengan Vaye tetapi Vaye sudah besar dan memiliki urusan nya sendiri.


" Mom, dad.. Nathan ikut Vaye ke Indonesia apakah boleh?" Ucap Nathan tiba tiba.


Sekarang bukan hanya Yara dan Ethan yang terkejut, tapi Vaye dan Edmund juga terkejut.


" Kakak mau ikut aku ke Indonesia??" Tanya Vaye, dan Nathan mengangguk.


" Kamu adik kesayangan kakak, jika sesuatu terjadi padamu.. Maka kakak akan membalik seisi bumi." Ujar Nathan.


" Vaye tahu, masalahnya ini.."


" Vaye.. Kakak akan ikut, demi keamananmu. Kak Edmund tidak lama lagi berangkat tapi kakak masih memiliki banyak waktu." Ujar Nathan, memotong ucapan Yara.


" Kakakmu benar sayang, daddy setuju." Ujar Ethan.


" Daddy... " Rengek Yara, tidak rela.


" Sayang, anak anak kita sudah besar.. mereka sudah mulai memiliki urusan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua harus mendukung mereka selagi itu baik untuk mereka." Ujar Ethan.


" Mom, Vaye akan baik baik saja.. Mommy lupa Vaye siapa?" Ucap Vaye meyakinkan Yara.


Dengan berat hati Yara akhirnya mengangguk pelan.


" Berjanjilah, tidak terjadi sesuatu yang membahayakanmu. Mommy tidak mau dengar salah satu diantara kalian terluka." Ujar Yara.


" Mom, terluka itu wajar. Jika kita sudah berjanji dan secara tidak sengaja tersandung, bagaimana dengan janji kami?" Ucap Edmund angkat bicara.


" Baiklah.. lalu kapan kamu akan pergi sayang? " Tanya Yara pada Vaye.


" Besok mom.." Ujar Yara.


" Besok!!? Vaye.. Mommy masih merindukan Vaye, apa Vaye tidak rindu mommy??" Ujar Yara semakin menjadi.


" Vaye rindu mommy, hanya saja Vaye sudah memiliki janji mom, jika Vaye tidak hadir maka Vaye akan di katai sombong. Mommy tidak mau kan Vaye sampai di rundung? Penampilan Vaye di sana beda dengan Vaye disini." Ujar Vaya.


Yara menyendu, semakin besar.. anak anaknya semakin sulit untuk di temui. Semuanya mulai sibuk dengan urusan mereka. Yara jadi merasa selalu kesepian saat mereka tidak ada. Yara sadar betul, kelak ketika mereka semakin beranjak dewasa maka akan semakin sulit di temui.


" Mommy.." Ucap Vaye.


" Ya, sayang.. pergilah, maaf mommy hanya belum rela kalian mulai memiliki banyak urusan sendiri. Pergilah, kejar apa yang ingin kalian gapai. Hanya saja tolong jangan membahayakan diri kalian. Anak anak mommy sudah besar." Ucap Yara.

__ADS_1


Ketiga kembaran otu bangun dari duduknya dan memeluk sang mommy. Ethan tersenyum melihatnya, ia merasa telah membesarkan mereka dengan baik, karena mereka saling mengasihi satu sama lain. Tidak saling merasa hebat dan saling bersaing.


' Kalian semua adalah harta berharga daddy.' Batin Ethan.


" Kami menyayangi mommy dan daddy, kami tidak akan membuat hal yang membahayakan keselamatan kita semua." Ujar Edmund.


Hingga akhirnya, ke esokan harinya Nathan dan Vaye pun sungguh berangkat menuju bandara. Ethan, Edmund dan Yara mengantar kepergian keduanya itu ke bandara international.


" Jaga adikmu, nak." Ujar Yara pada Nathan.


" Jangan khawatir mom.." Ujar Nathan.


Akhirnya keduanya pun pergi dari sana memasuki pesawat, dan pesawat itu pun lepas landas.


Jakarta, Indonesia.


Malam hari, Nicholas mendengar barang jatuh. ia pun langsung berlari keluar, karena panik, ia tidak menggunakan alat pengubah suaranya.


" Aduh, kenapa jatuh. Nanti Gama bangun." Ujar Nely.


Rupanya Nely yang sedang berada di dapur, ia sedang memasak makanan untuk Nicholas yang di sangka Gama oleh Nely. Nely menjatuhkan mangkuk kaca dan dengan ceroboh ia memungutnya dengan tangan.


" Aw!!" pekiknya ketika tangannya tergores.


" Mama." Teriak Nicholas panik, dan menghampiri Nely yang sedang berjongkok di lantai.


" Mama, tangan mama berdarah." Ucap Nicholas.


Nicholas tidak memperhatikan wajah Nely berubah menyalak menatapnya. Tiba tiba Nely mendorong Nicholas hingga Nicholas jatuh kebelakang dan tangannya mengenai pecahan mangkuk kaca.


" Pembunuh!! Kau pembunuh!! Sedang apa kau disini!! Pergi!!" Teriak Nely.


" Tuan..." Ucap perawat yang khawatir.


" Tidak apa apa, tolong urus ibuku, antar dia kekamar. Obati tangannya, dia terluka." Ujar Nicholas.


" Baik.." Sahut perawat itu.


" Pembunuh! Kau pembunuh! Pembunuh.." Gumam Nely dengan tatapan menyalak kearah Nicholas.


" Nyonya, mari ikut saya ke kamar." Ujar perawat.


" Usir pembunuh itu! Jangan biarkan dia datang kemari. Dia telah membunuh Gama, Gamaku meninggal karena dia!" Teriak Nely.


" Ya, nyonya.. penjaga akan mengusirnya." Ucap perawat, dan Nely di gandeng pergi memasuki kamarnya.


Sepeninggal Nely, Nicholas berkaca kaca dan kemudian pecahlah tangisnya. Ia ingin ibunya menyayanginya seperti waktu kecil dulu, tapi rasa rasanya mustahil.


" Ma, aku tidak membunuh kakak. Bagaimana cara umtuk memberi tahu mama bahwa aku tidak membunuh kakak." Gumamnya.


Ia menghapus air matanya dengan lengannya, lalu pergi dari sana untuk menenangkan dirinya sendiri. Nicholas mengganti pakaiannya, menjadi pakaian olah raga, ia sama sekali tidak mengobati lukanya yang terkena pecahan kaca.


Ia membuka kandang Joly lalu ia pun pergi dari sana dengan membawa Joly bersamanya.


' Jika aku bisa menemukan para pembunuh kakak dan menyuruhnya mengaku kepada mama, apakah mama akan bisa mengerti? Bertahun tahun aku menyandang predikat pembunuh di mata mama, aku tersiksa sendirian.' Batin Nicholas.

__ADS_1


Tidak terasa ia berjalan kaki cukup jauh, hingga matahari sudah tinggi menyingsing. Bahkan darah di tangannya pun sampai mengering dengan sendirinya. Nicholas duduk di kursi pinggiran jalan, dan di sebelahnya saat ini ada anak kecil berusia sekitar 10 tahunan.


" Kak, tangan kakak berdarah." Ucap seorang anak laki laki yang duduk sebelah Nicholas.


" Ah, iya." Ujar Nicholas.


" Cepat di obati kak, nanti infeksi." Ujar anak itu.


Anak itu membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak P3K kecil. Ia membuka kotak itu dan meminta tangan Nicholas.


" Apa??" Tanya Nicholas bingung.


" Tangan kakak, masa anjing kakak." Ujar anak itu.


" Tidak usah, nanti juga sembuh." Ujar Nicholas.


" Ck.. Ck.. Kepala batu." Ujar anak itu. Seketika Nicholas menatap anak itu, kata katanya mengingatkan Nicholas dengan Vaye.


Nicholas tidak sadar bahwa anak itu sudah menggenggam tangannya dan mulai membersihkan darah kering Nicholas.


" Aw!!" Pekik Nicholas ketika anak itu menyiramkan alkohol di tangannya.


" Cuma alkohol, supaya steril." Ujar anak itu.


" Oi anak kecil, berapa usiamu? Kau mahir sekali merawat luka. Apa kau bercita cita menjadi dokter?" Tanya Nicholas berentet.


" Yang mana yang harus aku jawab dulu? Pertama.. aku punya nama, namaku Rasya bukan anak kecil, kedua aku sudah sepuluh tahun, apa yang aneh dengan pandai merawat luka? " Ujarnya.


" Mana ada anak seumuran dirimu bisa begitu ahli merawat luka." Ujar Nicholas.


" Mana ada juga pria sebesar kakak yang tidak mampu membersihkan luka ditangannya sendiri, ck. ck.." Ujar Rasya.


" Malah ngajak ribut." Ujar Nicholas, kesal.


" Rasya, sedang apa nak?" Panggil suara bariton, yang rupanya Rayson.


" Rasya sedang membantu kakak ini dad, kakak ini tidak bisa menjaga dirinya. Dia terluka tapi tidak segera di obati, bahkan darahnya sudah mengering tadi." Ujar Rasya.


Rayson menatap Nicholas, dan Nicholas pun hanya tersenyum kikuk sambil garuk garuk kepala.


" Nah, sudah selesai. Bagaimana daddy? Apakah Rasya sudah mulai terlihat seperti daddy saat memperban luka??" Ujar Rasya polos.


' Jadi ayahnya seorang dokter.' Batin Nicholas.


" Bagus.. Kamu melakukannya dengan rapi." Ujar Rayson.


" Terimakasih.. " Ujar Nicholas pada Rasya.


" Tetapi kamu tetap harus kerumah sakit, anakku mungin sudah membersihkan dan memperban lukanya, tapi tidak tahu apakah itu benar benar bersih atau tidak." Ujar Rayson.


" Ya, terimakasih. Oi adik, terimakasih sudah memperban luka kakak." Ujar Nicholas.


" Tidak masalah, lain kali jaga dan sayangi diri kakak." Ujar Rasya.


" Kalau begitu kami permisi." Ujar Rayson dan Nicholas mengangguk.

__ADS_1


' Dia ayah yang baik..' Batin Nicholas, sambil melihat Rasya yang di gandeng oleh Rayson.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2