Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 84. Lagi lagi kehilangan.


__ADS_3

Yara menatap wajah Kristin, wajahnya basah dengan air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir deras. Saat ini efek obat pelumpuh Saraf itu sudah berkurang, namun tetap saja Kristin masih terlalu lemah untuk banyak bergerak. Jadilah ia hanya bisa memeluk guling sambil memanggil nama Roger.


" Aku tidak ingin kau terlalu lama menderita dengan kembali mengingat masalalumu. Aku harap kau bisa bekerja sama denganku." Ucap Yara pada Kristin, tentu saja Kristin hanya bisa memandangi Yara dengan tatapan bingung.


"Kenapa kau mengendalikan Mavros drakos dan mahkota berduri secara bersamaan.?" Tanya Yara.


Tiba tiba tatapan Kristin berubah menjadi dingin, air matanya berhenti mengalir.


" Karena aku ingin melenyapkan mereka yang sudah menyakiti aku dan ayahku. Mereka.. yang sudah membuat ayahku kehilangan kendalinya atas kelompok mafia yang ia pimpin bertahun tahun dan membuatnya berhutang sebuah janji kepada seseorang untuk mengakhiri kepemimpinannya, dan membuat ayahku bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Mereka.. Berhutang nyawa padaku." Ucap Kristin dengan suara dingin.


" Siapa.??" Ucap Yara.


" Kekuarga Dominique, dan Maxwell." Ucap Kristin.


Yara memejamkan matanya, rupanya tebakannya benar, Kristin hanya mendendam.


" Dimana kau menyembunyikan Damian Maxwell.?" Ucap Yara akhirnya.


" Dia.. " Ucap Kristin menggantung. Tiba tiba kepalanya menengok kearah Yara dengan perlahan. Wajahnya terliat seperti psikopat, dengan senyum besar mengembang di wajahnya, menyeramkan.


" Dibawah tanah.. Hahahaha... " Ucap Kristin lalu tertawa terbahak bahak.


" Apa maksudnya di bawah tanah.?" Ucap Yara. Wajah Yara sedikit was was.


" Dia.. sudah mati, Hahahaha.. Dia harus menemani ayahku di liang kubur, dengan begitu ayahku bisa tenang." Ucap Kristin.


Yara memejamkan matanya, ketakutan nya terjadi, Kakeknya telah tiada. Satu butir cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Yara harus kembali menerima kabar kehilangan lagi. Walaupun ia tidak pernah bertemu dengan kakeknya, tapi banyak yang ingin Yara tanyakan kepada kakeknya jika ia bisa menemuinya. Tapi sekarang.. Bagaimana ia akan bertanya.?


" Kau membunuhnya?" Tanya Yara.


" Tidak.. dia membunuh dirinya sendiri. Sama seperti yang ayahku lakukan. Damian, dia menembak kepalanya sendiri, Dor.! Lalu Dia mengatakan padaku bahwa hutangnya dianggap lunas jika ia sudah mati, dan jangan mengganggu keluarganya. Tapi.. Bagaimana dengan diriku? Tanpa segel aku tidak bisa menjadi pemimpin sepenuhnya.. Aku juga harus membalaskan dendam penghinaan yang dilakukan keluarga Dominique padaku." Ucap Kristin menjelaskan.


' Jadi kakek sudah mengakhirinya dulu, hanya saja Kristin yang tidak menepati janji karena tenggelam dalam dendamnya.' Batin Yara bermonolog.


" Jika aku memberimu segel itu, apakah kau akan berhenti?" Ucap Yara.


" Tidak.. " Ucap Kristin dengan tatapan tajam kearah Yara.


" Kenapa.?" Tanya Yara.


" Karena jika aku berhenti maka aku yang akan musnah. Kau tahu.. Cucu Damian Maxwell, dia.. " Ucap Kristin terhenti lalu Kristin kehilangan kesadaran.


' Cucu kakek, kenapa.?? Apakah itu aku atau kakak yang dimaksud oleh Kristin.' Batin Yara bermonolog.


" Efek obatnya sudah habis. Ikat dia dengan rantai. Dan perketat pengawasan." Ucap Yara pada pelayan yang berdiri disana.


" Baik nona. " Sahut si pelayan.


Yara pun pegi keatas, menuju kamarnya. Ia membersihkan dirinya, bajunya ada sedikit cipratan darah Robin. Ia mengganti bajunya dengan baju tidur, lalu duduk di ranjangnya.Ia mengeluarkan sebuah figura foto yang terdapat kakeknya disana.


" Kakek, rupanya kakek sudah mengorbankan nyawa kakek demi kami. Maafkan Yara yang sempat mengira bahwa kakek tidak menyayangi Yara. Beristirahatlah dengan damai , kelak jika Yara sudah berhasil mengalahkan Kristin, Yara akan mengambil tulang belulang kakek dan memindahkan ya ke pemakaman yang selayaknya. Terimakasih kakek." Ucap Yara sembari mengusap foto kakeknya.


Yara tidak bisa membayangkan jika sampai kabar ini di dengar keluarganya, teruta ayah dan ibunya. Apalagi saat ini ayahnya masih koma dan belum menunjukan tanda tanda kesadaran.


Merasa lelah, akhirnya Yara memejamkan matanya sembari memeluk figura foto itu. Bahkan dalam tidurnya, sudut mata Yara masih mengeluarkan air mata. Menandakan betapa dalam hatinya terluka saat ini.


..........


Ke esokan harinya, Yara telah bangun karena mendapatkan telepon dari pelayan nya di bawah, pelayan itu mangatakan Kristin tengah mengamuk, akhirnya ia pun turun dari kamarnya dan masih mengenakan baju tidurnya. Baju tidurnya bahkan stelan baju tidur yang di kenakan pria, celana panjang dan baju lengan pendek berbahan sutera.


" Apa dengan kau mengamuk aku akan melepaskanmu.?" Ucap Yara dengan langkah santainya menghampiri Kristin.

__ADS_1


" Kau, beraninya kau mengikatku seperti binatang. Lepaskan aku Nayara Valerie.!! Teriak Kristin.


Kristin tidak mengingat kejadian semalam, yang ia ingat dirinya hanya di suntik, dan mengira itu hanya obat tidur.


" Jika aku lepas maka kau akan kabur, jadi begini saja lebih baik." Ucap Yara dengan senyum smirknya.


" Kita buat kesepakatan, jika kau membebaskan aku, maka aku akan menyuruh anak buahku untuk membebaskan kakekmu, bagaimana.?" Ucap Kristin.


' Orang yang sudah kau bunuh bagaimana bisa kau membuatnya kembali. ' Batin Yara bermonolog.


" Ck.. adakah penawaran yang lain.? Bagaimanapun kau ini kan umpan besar, jika ade hanya menukarmu dengan kakek ku, sepertinya kurang impas." Ucap Yara.


" Oh, rupanya kau menganggap remeh kakekmu sendiri? Lalu apa penawaran yang kau mau.?" Ucap Kristin berusaha bernegosiasi.


" Tidak ada, hanya kematianmu." Ucap Yara dingin dan datar.


Kristin terkejut, mengapa tiba tiba Yara berkata demikian.


' Aku harus membujuk anak ini supaya mau melepaskan aku.' Batin Kristin bermonolog.


" Kau tidak akan pernah tahu tentang keturunan terpilih pemimpin Mavros drakos jika kau membunuhku. Kau pikir akan semudah itu? Mereka yang ikut denganku hanya sebagian pemberontak yang keberatan dengan keputusan ayahku melepas kepemimpinan nya. " Ucap Kristin.


" Nona ini makanannya." Ucap seorang pelayan.


Yara mengambil sepiring makanan yang di siapkan oleh pelayan nya untuk Kristin. Lalu kemudian menyodorkan nya di hadapan Kristin.


" Makanlah, jangan banyak berkats omong kosong." Ucap Yara. Yara bangun dan berbalik hendak pergi namun tiba tiba..


PRANG.!!!


suara benda kaca pecah.


Yara menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap Kristin yang terlihat sangat emosi.


PLAK.!!


Suara tamparan.


Yara kehilangan kesabarannya. Entah mengapa perasaan nya menjadi semakin kacau saat Kristin mengungkit kedua irang tuanya.


" Jangan buat aku benar benar hilang kesabaran dan gelap mata lalu membunuhmu Kristin Evron. Aku belum mengijinkanmu mati dengsn mudah, aku akan menyiksamu terlebih dahulu. Kematian untukmu, terlalu berharga. Aku ingin kau hidup bagai di neraka, neraka yang selama ini kau buat sendiri." Ucap Yara dengan tatapan sangat dingin dan nafas memburu.


Kristin yang melihat itu sungguh terkejut, Kristin kira Yara pasti lemah karena ia seorang gadis muda. Tapi siapa sangka Yara begitu keras kepala dan lebih mendominasi.


" Jika kau tidak mau makan makanan itu, maka kau tidak usah makan. Diluar sana banyak orang yang lebih membutuhkan makaanan. Pelayan, selama 3 hari, jangan beri dia makan sedikitpun." Ucap Yara dingin lalu pergi dari hadapan Kristin.


Saat Yara sudah keluar dari ruangan itu, tiba tiba sebutir kristal bening menetes dari sudut matanya. Sesak, hatinya begitu sesak saat ini. Ia memukul mukul dadanya berharap rasa sesak itu menghilang. Dengan gerakan kasar ia menghapus air matanya, lalu ia pergi menaiki lift menuju kamarnya.


Terdengar teriakan Kristin sebelum Yara menghilang di balik pintu lift. Namun dengan tatapan dingin, ia tidak mempedulikan nya. Yara masuk kedalam kamarnya lalu bersiap siap. Ia memakai rompi anti pelurunya, lalu ia mengenakan kemejanya. Saat ini Yara mengenakan pakaian serba hitam. Kemeja lengan panjang berwarna hitam iya gulung sebatas siku, lalu ia juga mengenakan celana hitam panjang dan sepatu hitam. Ia terlihat makin menawan mengenakan pakaian berwarna kontras dengan kulitnya yang seputih susu.


Kemudian Yara mengangkat ponsel nya dan menghubungi seseorang.


" Jack, Caleb, persiapkan diri kalian. Kita akan ke pemakaman." Ucap Yara lalu mengakhiri panggilan itu


Yara mengenakan jam tangan nya, lalu ia membuka laci besar dimana disana ada berbagai jenis pistol berbagai ukuran. Yara mengambil pistol yang berukuran paling kecil namun memiliki daya tembak yang luar biasa, selain itu, pistol itu tidak memiliki suara saat di tembakkan. Sangat cocok untuk membunuh dalam jarak dekat. Yara menyimpan pistol itu di pinggangnya, lalu ia menggunakan jas berwarna hitam untuk menutupi pistol itu.


Yara turun kebawah, rupanya dibawah sudah ada Ethan. Entah sejak kapan ia datang, para pelayan nya juga tidak memberi tahu.


" Sejak kapan kau datang?" Tanya Yara.


" Belum lama, aku baru datang. Apakah kau mau pergi?" Tanya Ethan.

__ADS_1


" Hmmm.." Yara hanya berdehem sembari menganggukan kepalanya.


" Apakah kau akan kepemakaman.? Pakaianmu serba hitam. Apakah kau akan melayat ke kediaman Robin Todd.? " Tanya Ethan.


Senenarnya Yara tidak ingin Ethan tahu tujuan nya ini, dendam nya pribadi tidak ingin di ketahui Ethan. Tapi lalu dia sadar, Ethan juga sedah banyak mengetahui dendamnya saat dulu pertama kali Yara mengalami penghianatan keluarga angkatnya.


" Ya, aku akan melayat ke kediaman Robin todd." Ucap Yara singkat.


" Aku akan menemanimu." Ucap Erhan.


Yara hanya menagangguk, lalu mereka pun keluar dari rumah itu menuju halaman dimana mobil sudah terparkir. Yara juga melihat Jack dan Caleb sudah berada disana.


" Yara... " Ucap Caleb sembari melirik Ethan.


" Tidak apa apa, dia akan ikut bersama kita." Ucap Yara.


" Tuan , sebaiknya anda membawa pengawal untuk melindungi anda." Ucap Caleb.


" Mereka ada, hanya bersembunyi." Ucap Ethan datar.


Tentu saja harus begitu, Ethan kini tidak mau terlalu mencolok saat keluar. Cukup pengawalnya melindunginya diam diam itu sudah cukup.


" Saya penasaran, mengapa orang sibuk seperti anda ini bisa meluangkan waktu untuk melayat. Apalagi yang meninggal bukanlah kerabat anda. Mengapa anda tidak datang ke perusahaan anda saja, lalu menyibukan diri." Ucap Jacskon.


Jackson memang tidak terlalu menyukai Ethan setelah kejadian penembakan Bima dan lompatnya Yara kelaut.


Apalagi saat ini Jackson memiliki pendukung dibelakangnya yaitu Ryuchie, jadi ia semakin terang terangan menunjukan sikap tidak sukanya kepada Ethan.


" Aku datang bukan untuk melayat, tapi mengunjungi Yara. Juga apa pedulimu dengan kesibukanku? Perusahaan ku begitu besar, tidak kekurangan karyawan, apa yang perlu di khawatirkan." Ucap Ethan dengan tatapan dingin kearah Jackson.


" Sudah, ayo berangkat. Jika kalian ingin ribut, maka biar aku sendiri saja yang pergi." Ucap Yara, bukan maksud yara membela siapapun, hanya saja ia tidak ingin membuang buang waktu.


Akhirnya mereka pun pergi menggunakan satu mobil, Caleb yang mengemudikan mobil itu, Jack duduk disebelah Caleb. Sedangkan Yara dan Ethan, mereka duduk di belakang.


Selama perjalanan, Yara hanyut dalam lamunan nya, terlalu banyak hal yang ia pikirkan saat ini. Ethan yang melihat Yara hanya diam menjadi khawatir. Ethan ingin mengetahui sebenarnya ada apa.. Hanya saja Yara begitu tertutup padanya.


Hingga tak terasa mobil itu pun kini berhenti di depan kediaman Robin Todd. Saat Yara turun, hal yang pertama Yara lihat adalah foto Robin todd yang terpajang di ahalaman dengan karangan bunga bertuliskan berita duka atas kematian Robin.


Terdengar suara keras meraung raung, Yara kenal suara itu.. Itu adalah ibu Robin.


" Aaa.. Kenapa bisa begini, siapa yang membunuhmu. Kejam sekali dia." Ucap ibu Robin di tengah tangisnya.


Semua yang hadir disana adalah kolega kerja dan teman teman Robin. Mereka sempat terkejut mendengar kabar kematian Robin, ada yang menangisinya, ada yang diam saja, suasana begitu berkabung.


Yara melihat satu persatu tamu disana, kemudian pandangan nya jatuh pada Darren todd. Darren menatap dingin peti mati Robin, mungkin dia senang Robin mendapatkan karma nya karena mengabaikan nya saat ia butuh bantuan. Saat Darren berbalik, tatapan nya bertemu dengan Yara. Darren tersenyum tipis, kemudian ia menundukan kepalanya sebelum akhirnya bertatapan lagi dengan Yara.


Yara yang melihat itu pun membalas anggukan Darren, setelah itu ia menghampiri peti mati Robin.


' Kau beruntung.. Aku mengakhiri ini dengan lebih cepat. Kau adalah manusia yang buruk, Robin Todd. Kau lebih memilih bergabung dengan penjahat yang membunuh kakekmu sendiri. Tapi dendam tidak boleh dibawa mati, aku.. Memaafkan mu. Suster Lilith selalu berkata, jika kita mendendam pada seseorang namun orang itu tiada, maka dendam itu harus aku lupakan. Kau tahu, kau telah membunuh orang berhati malaikat di bumi. Aku berharap ksu beristirahat dengan damai.' Ucap Yara dalam hati sembari memandangi jasad Robin yang kaku.


Tidak ada air mata atau suara isakan sama sekali. Yara berdiri dengan gahah berani mengenakan kaca mata hitamnya. Tidak ada yang mengenali siapa dirinya, hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya.


" Kakak... " Ucap seorang gadis langsung memeluk Yara.


Jack dan Caleb langsung maju untuk melepaskan gadis itu. Yara tentu tahu siapa dia, dia adalah adik dari Darren Todd, Danica Todd yang lebih memilih ikut tinggal dengan Robin todd dari pada hidup kekurangan bersama orang tuanya.


" Maaf nona, apa aku mengenalmu?" Ucap Yara.


Danica terkejut, sosok dihadapan nya itu, bukan kah Yara? Kenapa Yara berpura pura tidak mengenalinya.


" Kak Yara, ini aku Danica apa kakak sudah lupa denganku.?" Ucap Danica dengan nada seolah sedih.

__ADS_1


" Siapa Yara? Namaku Yuka Andrea Loo nona, kau salah mengenali orang." Ucap Yara..


TO BE CONTINUED..


__ADS_2