
Vaue membuka matanya, dan yang pertama kali dilihatnya adalah dada Nicholas. Ya, mereka tidur dalam posisi yang sama selama dua jam lamanya. Vaye tersenyum ketika melihat Nicholas yang masih setia dalam tidurnya.
' Ck.. Bahkan tidur pun dia sangat tampan.' Batin Vaye.
Vaye menyentuh hidung mancung Nucholas, dan Nicholas pun bergerak karena merasakan sentuhan tangan Vaye.
" Kamu sudah bangun, sayang?" Ucap Nicholas dengan suara serakh khas bangun tidur.
' Suaranya, seksi sekali. ' Batin Vaye.
" Hm.." Sahut Vaye.
Nicholas memandangi Vaye yang saat ini berada di pelukan nya, lalu tersenyum.
" Kenapa kamu senyum senyum?" Tanya Vaye.
" Bukankah kita sangat romantis?? Tidur di atas sofa bersama sambil berpelukan. Kita mirip pasangan yang sudah menikah." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Pikiranmu jauh sekali.. " Ujar Vaye dan hendak bangun namun di tahan oleh Nicholas.
" Ish, bangun.. Ini gelap aku harus menyalakan lampu." Ujar Vaye.
" Kamu tidak mau menikah denganku kah?" Ujar Nicholas.
" Astaga, sekolah saja kita belum lulus. Kita bahkan masih belum tau kemana langkah kita selanjutnya dalam menempuh pendidikan. Dan kamu membicarakan menikah?" Ujar Vaye.
" Ya.. aku akan membangun usahaku sendiri, sambil menempuh pendidikanku. Di samping itu kita bisa menikah sambil kuliah nanti." Ujar Nicholas, dan Vaye malah terkekeh.
" Kenapa kamu tertawa, aku serius." Ujar Nicholas.
" Kamu mau menikah denganku karena apa?" Tanya Vaye.
" Karena aku mencintaimu, dan tidak mau kehilanganmu. Aku mau kamu selamanya disisiku." Ujar Nicholas.
" Kita masih tujuh belas tahun, dan pikiran kita mungkin saat ini masih labil. Kamu bisa saja berkata demikian, tapi siapa yang tahu beberapa tahun kedepan kamu akan tertarik dengan siapa." Ujar Vaye.
" Kamu tidak percaya denganku?" Ujar Nicholas.
" Aku percaya, tapi jauh sebelum itu.. Kita masih terlalu muda untuk membicarakan pernikahan. Jika kamu mau menikahiku, tunggulah sampai aku meraih gelar doktorku." Ujar Vaye, sambil kemudian mengecup bibir Nicholas dan bangun dari pelukan Nicholas.
" Gelar Doktor?? Usia berapa itu?" Tanya Nicholas, sambil duduk.
" Entahlah, aku akan benar benar fokus pada pendidikanku kali ini, agar aku bisa meraihnya.. gelar Doktorku." Ujar Vaye sambil mulai menyalakan lampu.
" Tadinya aku berpikir.. jika aku lulus begitu cepat dan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, aku tidak akan menemukan kebahagiaanku sendiri. Tapi sekarang aku tahu.. Kecerdasan itu penting." Ujar Vaye lagi.
__ADS_1
" Aku percaya kamu akan menyelesaikan nya dengan cepat." Ujar Nicholas tersenyum.
" Dan kamu juga tidak boleh tertinggal.. Kamu harus menjadi laki laki terhebatku." Ujar Vaye.
Tentu saja itu adalah tantangan besar dengan resiko yang juga besar. Nicholas tidak mungkin menandingi Vaye yang sudah mendapatkan predikat jenius, tapi Nicholas juga tidak mau kalau nanti Vaye malu karena memiliki pasangan yang bodoh.
" Baik, aku akan berusaha keras untuk meraih gelar yang sama denganmu. Mmm... Agak telat tidak apa apa kan?" Ujar Nicholas,dan Vaye terkekeh.
" Tidak apa apa.. Yang penting kamu sudah berusaha." Ujar Vaye.
" Ayo cuci muka, dan kita turun ke mall." Ujar Vaye lagi.
Nicholas bangun lalu mencuci wajahnya agar terlihat kebih segar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi dan menghembuskan nafas.
" Gelar Doktor, aku pasti akan meraihnya. Aku tidak mau Vaye malu memiliki pasangan yang tingkat pendidikan nya lebih rendah." Ujar Nicholas.
Padahal jika kita telisik, Nicholas sudah termasuk sangat mandiri dan mapan. Dia sudah membuka usahanya sendiri, membangun rumah dan menghidupi ibunya. Dia juga membayar uang sekolahnya sendiri.
Tapi memang benar, pendidikan sangat berpengaruh pada era sekarang yang serba canggih. Ketinggalan pendidikan saja bisa mempengaruhi keseluruhan jalan hidup kita.
Vaye sendiri juga menatap cermin di kamar mandinya, ia tersenyum ketika mengingat kobaran semangat di mata Nicholas. Itu yang Vaye tujukan sebenarnya, ia ingin agar Nicholas memiliki semangat untuk bangun dan meraih pendidikan lebih tinggi.
" Masa depan tidak ada yang tahu, Nicholas.. Tapi aku berharap aku masih bersamamu saat hari itu tiba." Gumam Vaye.
Vaye mengganti pakaian nya menjadi jeans panjang dan kaos putih sebagai atasan nya. Ia pun keluar menemui Nicholas yang rupanya sedang sibuk dengan ponselnya.
" Oh, ayo." Ujar Nicholas.
" Mm.. Sayang, besok maukah kamu temani aku membuka showroomku?" Ujar Nicholas.
" Ha? Belum kamu buka kah?" Tanya Vaye.
" Aku menunggu kamu kembali, supaya aku bisa membukanya bersamamu dan mama." Ujar Nicholas.
" Baik.. Besok jam berapa?" tanya Vaye.
" Pulang sekolah.. Nanti kita panggil teman teman kecil untuk ikut memeriahkan, mereka pasti senang karena ada banyak makanan nanti." Ujar Nicholas.
" Ide yang bagus.. baik, besok kita kumpulkan semua teman teman kecil." Ujar Vaye.
Mereka akhirnya turun ke mall untuk makan malam, karena mereka tertidur lumayan lama mereka sampai melewatkan jam makan malam.
" Restoran paman apa kabarnya ya? Paman kan sudah fokus dengan menjadi kepala sekolah." Ujar Vaye.
" Jangan salah, paman malam malam menjadi chef di restoran. Siangnya dia menjdi kepala sekolah." Ujar Nicholas.
__ADS_1
" Wih... Multifungsi sekali." Ujar Vaye, dan keduanya terkekeh.
Tapi mereka tidak mengunjungi restoran Jilian, mereka datang ke restoran yang menyajikan K'food. Vaye dan Nicholas duduk dan pramusaji langsung menghampiri mereka.
Vaye memesan beberapa menu, begitu juga dengan Nicholas. Setelah itu mereka menunggu makanan mereka di buat.
" Oiya, kamu bilang kamu mau ceritakan tentang kejadian di Negara C." Ujar Nicholas.
" Oh, iya.. Aku jadi lupa. " Ujar Vaye menepuk keningnya.
" Intinya mommy sudah baik baik saja karena pelaku sudah di tangkap." Ujar Vaye.
" Jadi kecelakaan oma dan opahmu itu bukan murni kecelakaan, Tapi pembunuhan? " Ujar Nicholas dan Vaye mengangguk.
" Hebatnya keluargamu, bisa menemukan langsung pembunuh oma dan opahmu." Ujar Nicholas.
" Oiya, dan aku lupa dengan titipan paman untukmu." Ujar Vaye.
" Tidak apa apa, nanti saja saat aku akan pulang. " Ujar Nicholas.
Dan tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Vaye sangat suka K'food, karena Vaye sangat suka hotpot dan K'food sangat identik dengan hotpotnya.
Setelah mereka selesai makan, Vaye dan Nicholas berkeliling restoran untuk sekedar menurunkan makanan di perut mereka. Tapi siapa sangka, mereka berpapasan dengan Prasetya yang juga sedang berada di mall itu.
" Nicholas.." Panggil Pras.
Nicholas berhenti, karena disana banyak krang dan ia tidak mau mengundang perhatian orang lain.
" Ada apa tuan?" Tanya Nicholas pada Pras.
Pras tentu saja terkejut mendengarnya, Nicholas memanggil dirinya tuan. Walau memang ia dan Ncholas tidak dekat sejak kematian Gama, tapi entah mengapa kali ini ada rasa sakit di hati Pras.
" Papa baru saja dari atas, papa tidak menjual apartemen itu dan sudah mengisinya dengan furniture baru. Jika kamu mau kamu dan ibumu bisa pindah ke atas dan tinggal disana." Ujar Pras.
Nicholas tersenym remeh mendengarnya. Apakah saat ini pras sedang mencoba menebus kesalahan nya? Tapi sayangnya Nicholas tidak butuh itu.
" Maaf, aku dan ibuku sudah bahagia dengan kehidupan kami yang sekarang. Walau sederhana tapi kami tidsk kekurangan apapun." Ujar Nicholas.
Pras belum tahu bahwa Nicholas sudah memiliki rumah sendiri. Ia masih beranggapan bahwa Nicholas tinggal di luaran sana yang entah dimana. Pras juga tidak tahu, bahwa Jilian adalah paman Nicholas.
" Apakah kalian butuh sesuatu?? Kamu bisa mengatakannya lada papa jika membutuhkan sesuatu." Ujar Pras.
" Kami tidak butuh apapun, tuan. Kami sudah hidup bahagia dengan apa yang kami punya." Ujar Nicholas.
" Maaf, kami harus pergi." Ujar Nicholas, dan langsung pergi dari sana dengan Vaue.
__ADS_1
' Apakah tuan Pras sedang emncoba menebus kesalahannya? Sayangnya itu tidak akan berhasil. Nicholas sudah bermutasi menjadi sosok yang tangguh .' Batin Vaye.
TO BE CONTINUED..