
Kristin melihat kedatangan Yara, Ethan dan yang lain nya dengan tatapan sinis. Ia sungguh ingin bangun dan menghabisi mereka semua.
" Anak haram, kau tidak datang melihat kondisi ibumu? Kurasa ia sebentar lagi akan mati." Ucap Kristin dengan tatapan tajam kearah Ethan.
Semua yang mendengar itu langsung kesal dengan ucapan Kristin. Bagaimana tidak, kondisinya sudah tidak berdaya tapi ia masih saja keras kepala dan bermulut besar.
" Sebaiknya kau lihat dulu kondisi dirimu sendiri sebelum kau membicarakan orang lain, apa kau tidak takut jika aku gelap mata lalu membunuhmu?" Ucap Ethan menahan emosi.
Yara yang melihat itu kini semakin mengerti posisi Ethan. Ethan kurang lebih bernasib sama seperti Jilian. Bedanya Ethan justru lebih mendominasi karena ia memiliki kekuatan dan kakek yang mendukungnya. Beda dengan Jilian yang tidak memiliki siapapun yang mendukung nya.
" Bunuh saja, maka kau juga akan melihat kematian ibumu." Ucap Kristin.
" Apa maksudmu?" Ucap Ethan.
" Kau memang anak yang tidak berbakti. Ibumu sendiri tidak pernah kau kunjungi, sedangkan putraku selalu mencari ibunya hahaha... Ironis." Ucap Kristin dengan tawanya.
Ethan memang tidak pernah mengunjungi ibunya, sudah lama sekali ia tidak datang, ia hanya mendapat laporan dari anak buahnya yang ia suruh memantau keadaan ibunya dan selama ini orangnya bilang ibunya baik baik saja. Alasan Ethan tidak pernah datang mengunjungi ibunya adalah dulu ia juga menyalahkan ibunya atas kondisi keluarganya, terutama Roger.
" Hentikan tawamu Bi*ch. Ingat umur, kau sudah tua apa tidak malu menjadi penjahat.?" Ucap Rayson.
" Penjahat atau bukan itu bukan urusanmu, anak kemarin sore sepertimu ini mana tahu urusan orang dewasa." Ucap Kristin.
" Dewasa konon.. Orang dewasa mana yang menyakiti anak kandungnya sendiri." Ucap Sean menyindir.
" Dia yang memintanya.. Sebagai ibu yang baik aku hanya memberikan apa yang dia minta." Ucap Kristin acuh tak acuh.
" Lihatlah, dia benar benar iblis berkedok manusia bersosok ibu ck.. ck.. " Ucap Jilian.
" Nyonya, sudahi omong kosongmu, hari ini hari terakhir kau sadar, apakah ada kata kata terakhir?." Ucap Yara.
" Apa maksudmu? Kau pikir aku takut dengan ancaman tak bermutu?" Ucap Kristin besar kepala.
" Baik, aku anggap itu adalah kata kata terakhirmu." Ucap Yara.
Dengan langkah pelan nya Yara menuju sebuah lemari penyimpanan, ia mengeluarkan jarum suntik, lalu mengeluarkan cairan berwarna putih bening dari dalam botol. Mata dingin nya menatap Kristin, sebenarnya ia tidak ingin terlalu kejam kepada Kristin. Ia tidak ingin menjadi manusia kejam seperti Kristin, tapi demi mendapatkan informasi, ia terpaksa melakukan itu.
" Apa itu!! Apa yang ingin kau lakukan!!!" Teriak Kristin.
" Jangan buang buang energimu nyonya, setelah ini kau akan pergi kealam mimpi. Jika ada kata kata terakhir, maka ucapkan sekarang." Ucap Yara.
" Tidak!! Lepas..!!! " Teriak Kristin.
" Sepertinya tidak ada kata kata terakhir." Ucap Yara..
Yara menyuntikan cairan itu ke lengan Kristin, semua yang melihat itu meringis ngeri. Mereka tidak tahu cairan apa itu, tapi melihat efeknya yang begitu dahsyat mereka menatap ngeri Yara. Kristin langsung kehilangan kesadaran saat itu juga.
" Apa itu obat terlarang.?" Tanya Ethan.
" Tidak ada obat yang legal jika berurusan dengan dunia bawah. Aku terpaksa melakukan ini, agar dia bisa lebih mudah diajak berkomunikasi." Ucap Yara.
" Ayo.. Dia akan bangun saat obat itu sudah tenang didalam tubuhnya." Ucap Yara.
' Sebenarnya obat apa yang disuntikan Yara pada Kristin.' Ucap Rayson membatin.
Mereka semua keluar dari ruang bawah tanah itu. Dari ruangan Kristin mereka melewati arena tembak dan alat alat berat untuk olah raga. Baik Ethan dan yang lainnya tentu tahu bahwa senjata senjata disaana bukan sembarang senjata.
' Aku selalu bertanya tanya, sebenarnya siapa orang yang mendukung Yara. Tapi orang yang aku utus untuk mengikutinya selalu kehilangan jejak.' Ethan membatin.
Akhirnya mereka makan malam di kediaman Yara, Saat tengah makan malam, terdengar suara alarm darurat.
" Kode biru, kode biru, ada bahaya.!" Terdengar dari speaker yang berada di sudut ruangan.
" Ada penyusup.!!" Ucap Yara.
Semua orang panik, para pelayan disana kini menunjukan sikap aslinya, tiba tiba saja semua pelayan mengeluarkan senjata dari balik bajunya dan berkeliling melindungi Yara dan Yang lain.
" Nayara Valerie, apakah kau tidak mau keluar menyambut sepupumu.!" Teriak seorang pria dari luar.
' Robin.' Batin Yara berucap.
Ya, Robin Todd berdiri di luar rumah Yara setelah membuat kekacauan di luar.
__ADS_1
" Yaaaraaaa.. oh Yara..... " Teriak Robin dengan nada seolah mencari seseorang dalam game petak umpet.
Yara akan keluar menemui Robin, namun tangan nya di cekal Ethan.
" Jangan, kau tidak membawa senjata. Itu terlalu berbahaya, kita tidak tahu ada berapa banyak musuh diluar." Ucap Ethan.
" Tuan tuan tolong bawa nona Yara ke ruang bawah tanah. Hanya disana tempat yang aman." Ucap salah satu pengawal.
" Yaraa.. Kau tidak mau keluar? Oke, biar aku memanggilmu lewat suara lain." Ucap Robin
DOR.!!
Suara tembakan.
Yara mendengar jeritan salah satu pelayan nya yang tertembak mati. Dengan gerakan kilat, Yara merebut senjata yang di pegang oleh pelayan di sampingnya lalu berlari keluar.
" Yara.. !!" Ucap Ethan.
" Beraninya kau membuat kekacauan di rumahku Robin todd." Ucap Yara.
" Oh, akhirnya kau keluar juga.. Kau tidak mau menyambut kakak sepupumu kah?" Ucap Robin.
" Sejak kapan aku memiliki kakak sepupu sepertimu?" Ucap Yara dingin dengan menodongkan pistol kearah Robin, tatapan matanya penuh kebencian.
" Ekhem! mari bicara baik baik, kenapa kau membantu Darren dan memasukan nya ke SAL.? Bukan kah kau membencinya?" Ucap Robin.
" Kau datang membuat kekacauan hanya untuk bertanya tentang nya?" Ucap Yara.
" Ya, karena SAL adalah salah satu perusahaan besar yang membeli saham kakek, apa kau tidak khawatir dia berbuat curang lagi?" Ucap Robin.
" Apakah kau takut jika nanti dia akan membalas dendam padamu karena kau tidak mau membantunya? Robin todd, aku tanya padamu untuk yang terakhir, apa sebenarnya tujuanmu." Ucap Yara.
" Hehehe.. Memang sulit mengelabuhimu. Baiklah, bebaskan nyonya, dan biarkan kami pergi, maka kediamanmu tidak akan hancur." Ucap Robin menunjukan niat aslinya.
Mengapa Robin tahu Kristin ada ditangan Yara, maka jawaban nya adalah karena tim yang berada di negara Y menyebarkan foto wanita yang di duga penculik Kristin, dan Robin tentu mengenali wajah itu meski menggunakan soflens dan rambut palsu serta topeng di wajahnya.
" Memangnya kau pikir kau bisa keluar dengan selamat setelah membuat kekacauan.?? " Ucap Yara dengan wajah dingin nya dan senyum smirk
" Kau yakin?" Ucap Yara dengan senyum iblisnya.
Mengapa Yara demikian, karena orang orang Ghost yang bersembunyi telah menghabisi anak buah Robbin. Yara mendekat kearah Robin sembari berkata..
" Kau sendirian disini Robin Todd. Asal kau tahu, orang orangmu bukan tandingan pasukan Ghost ku. Dan juga, untuk penghianat keluarga sepertimu di keluarga Todd kau pantas mendapatkan ini." Ucap Yara dengan nada rendah nyaris terdengar seperti bisikan.
Entah sejak kapan Yara menembakkan pistolnya, saat Yara mendekat kearah Robin bahkan tidak terdengar bunyi senjata api. Namun tiba tiba mulut Robin mengeluarkan darah, juga dada sebelah kirinya lebih tepatnya jantung Robin mengeluarkan darah. Kemeja putih yang Robin kenakan saat ini sangat kontras dengan noda merah darahnya sendiri.
BRUK!!
Robin terjatuh dilantai.
" K.. Kau.. Tidak mungkin.." Ucap Robin di tengah kesakitan nya.
" Beristirahatlah dengan damai Robin Todd." Ucap Yara dengan suara dingin dan ekspresi datar. Seakan tidak ada belas kasih sedikitpun.
Bagi Yara, Robin tidak lebih dari sekedar parasit dan penjahat labil. Yara mengingat kejadian saat suster Lilith meregang nyawa di pangkuannya akibat ulah Robin Todd. ( Ada di EPS. 4.) Robin bahkan bisa membunuh orang orang yang tidak bersalah, apalagi menghianati keluarga. Jadi tidak salah jika Yara menyingkirkan satu hama menurutnya. Dan juga itu sebagai balasan atas kematian suster Lilith dulu.
' Mata dibalas dengan mata, darah dibalas dengan darah, dan nyawa.. Di balas dengan nyawa. Suster Lilith, semoga suster tenang disana, aku sudah membalas atas apa yang suster alami.' Batin Yara bermonolog.
Dengan nafas yang tersenggal senggal dan pandangan mulai kabur, Robin akhirnya meninggal.
" Yara kau tidak apa apa.?" Ucap Ethan setelah berhasil keluar menyusul Yara.
Ethan terkejut melihat Robin Todd tewas bersimbah darah di hadapan Yara. Ethan tidak menyangka Yara membunuh Robin begitu saja.
" Ayo, aku sudah memanggil anak buahku untuk membereskan kekacauan ini" Ucap Ethan.
Ethan tidak tahu saja bahwa kekacauan di kediaman itu sudah di atasi oleh tim Ghost yang melindungi Yara dari tempat tersembunyi.
Yara dan Ethan kembali masuk kedalam, terlihat semua pengawal disana tengah memegangi tangan Rayson, Jilian, Sean, dan Bara. Sebenarnya sebelumnya Ethan juga di tahan para pelayan itu, namun Ethan berhasil meyakinkan pelayan itu bahwa ia akan melindungi Yara.
" Lepaskan mereka." Ucap Yara
__ADS_1
" Baik nona." Ucap pelayan serempak.
Rayson dan yang lainnya sungguh tidak menyangka para wanita itu memiliki tenaga yang besar.
" Siapa itu tadi Yara.??" Tanya Jilian.
" Kaki tangan Kristin. Kemungkinan besar mereka sudah tahu Kristin berada di Jakarta, demi keamanan mulai besok kalian jangan terlalu sering kemari, mereka bisa saja mengikuti kalian bahkan aku." Ucap Yara.
" Baiklah." Ucap Rayson.
Akhirnya mereka pun pulang, mereka tidak melanjutkan makan malam yang tertunda karena gangguan penyerangan tadi. Namun Ethan masih berada disana, saat ini mereka bersua tengah berada di ruang tengah rumah itu.
" Kenapa kau tidak pulang dengan mereka.?" Tanya Yara.
" Yara.. Katakan padaku, sebenarnya siapa yang berada dibelakangmu selama ini? Aku mengenal Sandy, dia tidak memiliki koneksi dunia gelap. Tidak bisakah kau memberi tahuku?" Ucap Ethan dengan pandangan sendu.
Yara terdiam, ia bingung mengapa tiap kali Ethan selalu menunjukan wajah sendu padanya. Apakah Ethan sungguh mengkhawatirkannya pikirnya.
" Aku tahu aku melanggar poin perjanjian kerja sama kita, tapi aku tidak mau melihatmu berjuang sendirian, untuk apa kita bekerja sama jika kau tetap menanggung masalahmu sendiri.?" Ucap Ethan lagi.
" Karena itu pilihanku." Ucap Yara.
" Bisakah kau tidak keras kepala.??" Ucap Ethan.
" Bisakah kau tidak berpura pura seolah kau peduli.?" Sahut Yara dengan nada sedikit meninggi.
" Aku tidak berpura pura peduli, aku sungguh peduli padamu Yara." Ucap Ethan.
Saat ini mereka duduk berhadapan, dengan meja sebagai pemisah diantara mereka. Baik Yara ataupun Ethan, mereka duduk di sofa masing masing.
" Aku tidak butuh kepura puraan. Jika tujuanmu hanya ingin mengetahui siapa yang berada di belakangku, tidak perlu kau ucapkan kau peduli padaku. " Ucap Yara lagi.
" Tidak kah kau bisa melihat aku mengatakan ini dengan sungguh sungguh.? Nayara Valerie, bisakah kau jangan menilai ku selalu buruk? Aku tahu aku dulu pernah berbuat salah padamu dengan tidak mempercayaimu. Tapi Saat ini, detik ini, aku Ethan Dominique.. Aku sungguh ingin menjadi bagian dari dirimu, bisakah??" Ucap Ethan bersungguh sungguh.
Yara menatap lekat lekat wajah Ethan, lebih tepatnya bola mata hitam Ethan. Ia mencari kebohongan disana, namun sayangnya mata itu benar benar memancarkan ketulusan. Sendu.. Sekaan ingin menangis, tatapan Ethan seperti itu saat ini.
" Aku ingin istirahat, ini sudah malam lebih baik kamu pulang." Ucap Yara pada akhirnya.
Ethan yang tidak mendengar jawaban yang ingin ia dengar dari bibir Yara, ia hanya bisa menelan kekecewaan karena Yara lagi lagi tidak mengizinkannya berada selangkah lebih dekat dari sekedar partner kerja sama.
" Baiklah.. Aku akan pulang, Tapi kamu harus selalu ingat. Aku.. Selalu ada jika kamu membutuhkan bantuanku, apapun itu." Ucap Ethan. Setelah mengucapkan itu, Ethan pun pergi dari kediaman Yara.
Setelah kepergian Ethan, Yara merenung. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan, ia pun bingung. Kadang kala ia merasa sangat dekat dengan Ethan, bahkan nyaman. Namun saat kemudian ia mengingat kejadian di kapal yang merenggut nyawa Bima, ia kembali membuang perasaan itu.
Jika mau dikatakan Yara trauma untuk jatuh cinta karena penghianatan Darren, maka jawabannya bukan. Yara sudah menerima hal itu dan menganggapnya takdir. Dendamnya kepada Darren sudah terbayarkan saat Darren menerima semua karma dalam hidupnya.
Yara hanya merasa bahwa dirinya.. Tidak pantas dicintai.
Kejadian yang terjadi dihidupnya membuatnya sadar, bahwa siapapun yang berada di dekatnya akan selalu mendapatkan bahaya. Apa lagi setelah ia mendengar bahwa dirinya dikutuk, semakin tinggi saja rasa ketidak percayaan dirinya. Yara hanya takut, jika kelak ia mencintai dan menyayangi seseorang, lalu orang itu pergi.. Maka dirinya akan ikut hancur.
' Kau pantas bahagia Ethan, kau pantas mendapatkan teman hidup yang baik. Dan aku.. Bukan orang itu.' Batin Yara bermonolog.
Rasa rendah dirinya kembali muncul. Yara tidak ingin terlalu larut dalam perasaan tentang hati, kemudian ia kembali mengingat dendamnya. Tujuannya saat ini adalah mencari tahu dimana kakeknya di sembunyikan oleh Kristin. Yara bangkit dari duduknya lalu menuju keruang bawah tanah, lebih tepatnya ke ruangan Kristin.
" Nona, Wanita itu terus mengucapkan sebuah nama." Ucap Seorang pelayan.
Yara mendekat kearah Kristin. Saat ini Kristin seperti orang gila, ia berbicara dengan sebuah guling.
" Roger.. Roger.. " Nama itu yang disebutkan oleh Kristin berkaki kali.
" Rupanya di alam bawah sadarnya ia masih mengingat kak Roger. Tapi mengapa ia bisa berubah menjadi jahat dan kejam.? Apa pemicunya." Ucap Yara bingung.
Kristin dibuat solah hidupnya kembali kemasa lalu, Obat yang Yara berikan padanya beberapa saat yang lalu adalah obat untuk membangkitkan alam bawah sadarnya. Yara ingin mencari kakeknya dari alam bawah sadar Kristin. Biasanya seseorang yang tengah berada di alam bawah sadarnya akan berkata dengan jujur.
" Kau menyayangi putramu?" Ucap Yara.
" Iya.. Tapi dia lebih menyayangi wanita itu. Dia tidak mau ikut denganku, dia.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. " Ucap Kristin saat ingatan nya kembali ke masa dimana ia melarikan diri dulu.
" Rupanya luka nya dimulai dari sana." Ucap Yara setelah menyadari sesuatu.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1