
Vaye sampai di apartemennya, dan sudah ada Edmund disana yang sedang berkutat dengan semua buku bukunya.
" Kamu sudah pulang?" Tanya Edmund.
" Hm.." Sahut Vaye.
Vaye langsung duduk di sofa dan melemparkan dirinya begitu saja.
" Apa gunanya kaka berlibur, tapi masih terus saja berkutat dengan buku buku itu." Ujar Vaye.
" Libur juga harus tetap belajar, jangan malas." Ucap Edmund.
" Haih, kutu buku.. Kakak, kenapa tadi kakak muncul di sekolah? Apakah kakak memberi tahu kepala sekolah bahwa aku adikmu?" Ujar Vaye.
" Kakak memang sudah lama di undang kesana, hanya saja kakak baru ada waktu. Tapi memang tujuan awal kakak ingin melihat sekolah tempat kamu belajar, juga... ternyata kamu sudah memiliki pacar?" Tanya Edmund melirik Vaye.
" Mana ada pacar..aku tidak punya." Ujar Vaye.
" Kakak melihatnya, dia membelamu dihadapan semua orang yang mengganggumu." Ujar Edmund.
" Aku tidak berpacaran dengannya, hanya kebetulan kita tinggal satu gedung." Ucap Vaye.
" Satu gedung?!! Apakah dia sering kemari? Ucap Edmund terkejut.
" Tidak kakak.. sudah jangan bahas dia aku kesal padanya." Ucap Vaye.
Edmund meletakan bukunya, dan menghadap Vaye. Ia menatap adiknya itu, Vaye sejak kecil memang manja pada keluarganya, tetapi jika di luar dia akan menjelma menjadi gadis tangguh yang mandiri.
" Kenapa? Apakah dia membuat kesalahan fatal, apa dia mengganggumu? Apakah perlu kaka beri pelajaran padanya?" Tanya Edmund berentet.
" Dia mengajaku taruhan kak. Dia bilang ingin aku menjadi kekasih pura puranya, dan aku menolak.. lalu dia mengajak ku bertaruh." Ujar Vaye.
" Memangnya apa taruhannya?" Tanya Edmund.
" Menembak, memanah, renang, balap motor, karate." Ucap Vaye.
Edmund terdiam, bisa bisanya Nicholas membuat taruhan seperti itu untuk adiknya.
" Hahaha.." Tawa Edmund pecah.
" Kak! jangan tertawa.." Ucap Vaye.
" Maaf ' maaf.. Kakak hanya merasa lucu saja. Lalu, kamu terima?" Tanya Edmund.
" Ya, aku terima. Besok kami tanding menembak setelah pulang sekolah." Ujar Vaye.
Edmund masih terkekeh, ada juga rupanya orang yang mau mengajak adik nya berduel.
" Semangat ya, kakak mendukungmu.. Hahaha.." Tawa Edmund kembali pecah.
" Ish, kakak!!" Teriak Vaye kesal.
" Sudah - sudah.. Ayo bersihkan dirimu lalu kita makan malam." Ujar Edmund.
" Makan malam, awal sekali?" Ujar Vaye.
__ADS_1
" Kita akan mengunjungi sebuah tempat." Ucap Edmund.
" Ah.. malas, lagi pula aku tidak mau mengambil resiko ketahuan orang bahwa aku adalah Valleria Maxwell Dominique." Ucap Vaye.
" Jadi kamu tidak mau ikut?" Tanya Edmund, dan Vaye menggeleng.
" Baiklah, biar kakak saja yang pergi. Kamu jangan lupa makan.. Oiya, mungkin kakak akan menginap disana." Ujar Edmund.
" Menginap? Sebenarnya kakak mau kemana?" Tanya Vaye penasaran.
" Ke kediaman lama daddy.." Ucap Edmund.
" Oh.. Baiklah.." Ujar Vaye.
Akhirnya Vaye justru tertidur di sofa, Edmund sampai geleng geleng sendiri melihat tingkah adiknya. Sejak bayi sampai sekarang, tiga kembaran itu memiliki sifat yang berbeda beda.
Hingga akhirnya malampun tiba dan Edmund sudah siap pergi Vaye masih belum juga bangun dari tidurnya.
" Vaye.. Bangun, ini sudah malam." Ucap Edmund membangunkan Vaye dengan pelan.
" Vay.. sayang, bangun." Ujar Edmund lagi.
" Hmm... aku bangun." Ujar Vaye, mulai membuka matanya.
" Kakak sudah mau pergi, ini jam berarpa?"
" Jam 7 malam, kakak sudah membelikan kamu makanan. Kaka pergi dulu, ya?" Ujar Edmund.
" Oke, hati hati di jalan kak." Ujar Vaye, dan Edmund pun mengacak rambut sang adik.
" Haish! Menyebalkan." Ujarnya.
Ke esokan harinya..
Vaye datang ke sekolah, dan disana sudah ada Nicholas yang menunggunya di parkiran.
" Bagaiaman tidurmu, apakah nyenyak?" Ujar Nicholas.
" Tentu saja nyenyak, kenapa kamu disini?" Tanya Vaye heran.
" Tidak apa apa, jika kamu sudah mau menyerah dengan tanding hari pertama ini, maka katakan saja.. aku ada disini." Ujar Nicholas.
" Eihhh... sombongnya.." Ucap Vaye, dan berjalan pergi daei sana.
Nicholas menyusul Vaye dan berjalan beriringan dengan Vaye. Dan saat itu juga berpapasan dengan Timothy.
" Pagi, Vaye.." Sapa Timothy.
" Pagi." Ujar Vaye.
Nicholas langsung memasang wajah datarnya. Semua orang di sana yang melihat itu merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Nicholas dan Timothy, dua pria yang terkenal di sekolah dengan masing masing predikatnya itu memperebutkan seorang gadis cupu.
" Jangan ganggu dia." Ucap Nicholas pada Timothy dengan tatapan tajam.
" Ayo, kekelas." Ucap Nicholas, ia pun langsung menarik tangan Vaye.
__ADS_1
Vaye yang tiba tiba di tarik itu langsung oleng dan hampir jatuh, untung Timothy menahan tubuh Vaye. Nicholas melihat itu, ia pun langsung terbakar emosi dan mencengkeram kerah baju Timothy.
" Aku bilang jangan ganggu dia, apa kau tuli!?" Ujar Nicho.
" Kau hampir membuatnya jatuh, kau harus mengendalikan dirimu. Jika tidak, kau akan menyakitinya nanti." Ujar Timothy.
" Apakah kau pikir aku ini seorang tempramen yang buruk? Aku bisa menjaga kekasihku sendiri tanpa kau suruh." Ujar Nicholas lalu mendorong Timothy.
" Bisa hentikan tidak! Dan kau, Nicho! Aku bukan pacarmu, berhenti mengatakan hal itu." Ujar Vaye.
Vaye langsung pergi meninggalkan Timothy dan Nicholas, masa bodo mereka akan berkelahi atau apa, Vaye terlalu kesal saat ini. Ia tidak mau memiliki pacar atau hal hal berbau romantis terlebih dahulu untuk saat ini, ia tidak mau proses belajarnya terganggu.
" Dengar! Pulang sekolah nanti datanglah ke arena tembak. Aku dan Vaye, akan melakukan duel menembak disana." Teriak Nicholas pada semua orang disana.
Semua orang pun berbisik bisik, Timothy bahkan sampai terkrjut, duel menembak? Timothy tentu tahu bahwa Nocholas adalah penembak yang ahli, sementara Vaye, dia hanya seorang gadis biasa.
Sementara Vaye yang mendengar ucapan Nicholas, semakin kesal saja jadinya. Ia berjalan lurus saja tanpa berbalik menatap Nicholas.
' Sepertinya aku salah menolong seseorang. Kenapa harus berbau bau romantisme begini..' Batin Vaye.
" Nicho, semua orang juga tahu bahwa kau ahli dalam menembak. Apa kau mau menindasnya?" Ujar Timothy.
" Bukan urusanmu." Ujar Nicholas dan langsung pergi.
Nicholas sampai di kelas, dan terlihat Vaye yang sudah duduk manis di tempat duduknya. Jika Wajsh Vaye biasanya dalam mode culun, kini tatapanya setajam tatapan Elang.
" Kenapa harus memanggil semua orang untuk datang? Tidak bisakah hanya kita berdua yang berduel?" Ujar Vaye saat Nicholas duduk.
" Kamu takut? Aku memanggil mereka untuk menjadi saksi nanti. Atau kamu pilih saja opsi kedua." Ujar Nicho.
" Opsi kedua, apa?" Tanya Vaye.
" Kita tidak perlu bertanding apapun, tapi kamu harus menerimaku menjadi kekasih pura puramu." Bisik Nicholas, dan langsung mendapat cubitan di perutnya.
" Aw.. Sakit, sayang.." Ujar Nicholas, ia sengaja membesarkan volume suaranya.
" Sayang kepalamu!" Ujar Vaye kesal.
Pelajaran pun dimulai, Nicholas hanya memandangi Vaye seorsng sambil merebahkan kepalanya di meja. eentara Vaye sendiri hanya cuh tak acuh.
Hingga akhirnya pelajaran selesai, dan kini semua orang sudah ramai berkumpul. Mereka ingin melihat duel antara Nicholas dan Vaye, siapa kiranya yang menang diantara mereka.
" Kamu yakin tidak mau mengaku kalah?" Ucap Nicholas.
" Belum berjuang langsjng mengaku kalah, itu namanya pecundang." Ujar Vaye, dan masuk kedalam mobilnya.dan oergi manuju arena tembak uang Nicholas sebutkan.
Sesampainya di sana , Vaye dan Nicholas masuk kedalam dan semua orang yang ingin melihat mereka duel, kini sudah berdiri menonton mereka di lapangan.
" Vaye??" Ucap sebuah suara.
DEG!
' Aduh, benar kan, ketahuan..' Batin Vaye. Vaye melihat kebelakang dan berdiri Sean disana. Itu yang dia takutkan, bertemu orang yang mengenalnya, lebih lebih lagi para pamannya.
" Hai.. Paman Sean." Ucap Vaye takut takut.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...