Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. END..


__ADS_3

Semua orang berdiri di hadapan panggung pernikahan, mereka saat ini sedang menantikan Nely yang akan melemparkan bunga pada orang orang yang saat ini sedang menunggunya.


" Siap???" Teriak Nely.


" Siap! Berikan padaku bibi." Teriak Bagas, dan semua orang terkekeh.


Nely menghitung satu sampai tiga dan melempar asal buket bunganya. Hingga jatuhlah di pelukan Vaye dan Nicholas.


" Ciiiee.. uhuy!! Cepat nyusul sana." Teriak Bagas antusias.


" Nyusul kepalamu." Ujar Nicholas.


Dan tawa semua orang langsung terdengar.


" Tapi kalian sudah seperti mempelai, sama sama pakai warna yang sama, Vaye juga sangat cantik sudah seperti mempelai wanitnya nya." Ujar Bagas.


" Atau aku saja yang menjadi mempelai laki lalinya? Aku akan merasa sangat bahagia di dunia ini jika bisa memiliki istri seperti Vaye. " Ujar Mark, sambil tersenyum


" Mau ku hajar kau?" Ujar Nicholas dan Mark terbahak.


Hingga akhirnya pesta itu pun berlanjut. Tak lama datanglah Tamara dan Frans. Mereka naik keatas pelaminan Nely dan Abraham.


" Nely.." Gumam Tamara sedikit takut.


Namun Nely tersenyum manis dan memeluk Tamara sembari berkata..


" Terimakasih.." Ujar Nely, dan Tamara tentu terkejut.


" Kenapa kamu mengatakan terimakasih kepadaku? Aku pernah menyakitimu." Ujar Tamara.


" Kesakitan itu sudah berlalu, dan aku sudah bahagia dengan pasanganku sekarang. Terimakasih, karena dirimu.. Aku jadi tahu bahwa cintaku saja tidak cukup untuk dia ( Pras ). Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi." Ujar Nely.


Tamara berkaca kaca, kini dia menyadari betapa jahatnya dia dulu.. Membuat hati sesama perempuan patah berkeping keping.


" Terimakasih Nely, kamu memang wanita yang baik." Ujar Tamara.


" Tidak ada wanita jahat, Nely.. hanya saja egois. Sudah jangan menangis, ini hari bahagiaku." Ujar Nely dan langsung merangkul tangan Abraham.


" Suamiku, Abraham." Ujar Nely.


" Selamat untuk kalian, semoga kalian selalu di limpahkan kebahagiaan yang tiada habisnya." Ujar Tamara.


" Apakah ini suamimu, ayah Mark?" Ujar Nely.


" Ya, dia suamiku, Frans." Ujar Tamara.


" Halo tuan Frans. " Ujar Nely.


" Halo nyonya, selamat untuk pernikahan kalian berdua." Ujar Frans.


" Terimakasih." Ujar Nely dan Abraham bersamaan.


Berganti ke sisi Nicholas dan Vaye, kini keduanya sedang memakan makanan yang tersedia disana.


" Sayang, makan lah lebih banyak. Sudah cukup dietnya." Ujar Nicholas.


" Ya, Vay.. Kamu tetap cantik kok, tidak perlu takut gemuk." Ujar Bagas.

__ADS_1


" Diam kau! Aku tidak butuh Vaye ku di nasehati olehmu." Ujar Nicholas.


" Ish galaknya, memangnya Vaye diet?" Ujar Bagas pada Vaye, dan Vaye mengangguk.


Ya, Vaye mengurangi porsi makan nya sejak setelah pencobaan gaun di hari itu. Karena ucapan Yara, Vaye jadi takut sendiri kalau sampai gaun nya tidak muat.


" Setelah acara ini selesai, baru aku makan dengan puas." Ujar Vaye.


Semua orang bahagia di acara pernikahan Nely dan Abraham, tapi lain dengan Pras yang saat ini hanya duduk di mobilnya sambil melihat papan karangan bunga yang mengucapkan selamat untuk Nely dan Abraham.


" Pada akhirnya aku yang duduk sendirian dan kesepian. Hehehe.." Ujar Pras.


Dia tertawa, namun juga menangis. Apa yang dia dapatkan kini? Hidupnya yang dulu dia pikir akan bahagia dan sempurna, rupanya hanya bayangan yang bahkan tak pernah jadi nyata.


Dia pun tak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini, ke egoisan nya yang membuat dirinya begitu. Pras menyenderkan kepalanya sambil matanya menatap papan bunga pernikahan Nely dengan air mata yang mengalir.


" Aku tidak sanggup umtuk datang menemuimu, Nely.. Maaf." Ujar Pras.


" Jalan.." Ujar Pras pada supirnya, dan mobil Pras pun pergi dari sana.


Tidak semua hal yang kita rancang dengan indah akan berakhir seindah yang kita rancang. Manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan.


__________________________


3 Bulan kemudian..


Nicholas sedang duduk di perpustakaan dengan segudang buku buku di meja nya. Nicholas sedang sangat fokus dengan apa yang sednag dia kerjakan.


" Nicho, Vaye mana?" Tanya Mark.


" Vaye sedang pergi ke toilet." Ujar Nicholas.


" Sudah dapat pencerahan?" Ujar Mark.


" Haih!!! Bagaimana kalau aku tidak bisa masuk ke universitas yang sama dengan Vaye." Ujar Nicholas frustasi.


Nicholas mengacak acak rambutnya lalu menjatuhkan kepalanya di atas buku yang sednag dia baca.


" Mark, mau tidak bertukar otak denganku?" Ujar Nicholas, dan Mark terkekeh mendengarnya.


" Kau salah jika minta bertukar otak denganku, tukar dengan Bagas lebih menjamin." Ujar Mark.


" Hhufft.. Kenapa aku memiliki otak yang yang begini payah." Ujar Nicholas.


" Pesimis duluan.." Ujar Vaye yang masuk dengan membawa sebuah buku tebal.


" Sayang." Ujar Nicholas.


" Nah, aku bawakan buku ajaib. " Ujar Vaye sambil meletakan buku itu di hadapan Nicholas.


" Again??? Oh my gosh! Otsk ku tidak muat mencangkup semua buku buku ini, Yang.." Ujar Nicholas.


" Tentu saja muat, otakmu hanya menyerap isinya, bukan memasukan semua buku ini ke otakmu. " Ujar Vaye sambil terkekeh.


" Dia minta tukar otak, tuh." Ujar Mark.


" Tukar otak kalau tidak tukar syaraf apa bisa?" Ujar Vaye.

__ADS_1


" Sayang..." Keluh Nicholas.


" Fokus, aku yakin kamu bisa. Ayo kita raih sama sama mimpi kita. " Ujar Vaye.


" Hmm..." Sahut Nicholas.


" Jika kita bisa masuk sama sama ke universitas yang sama, maka kita bisa terus sama sama sampai lulus nanti." Ujar Vaye lagi.


" Ah.. Indahnya.. " Ujar Nicholas.


" Yee.. Malah ngelamun." Ujar Mark.


" Apa lagi yang bisa aku lakukan. Kekasihku seorang Jenius, begitu pula dengan kedua kakaknya.. " Ujar Nicholas.


Cup..


Vaye mencium kening Nicholas, dan seketika Nicholas tersenyum.


" Ahh... Sayang, kamu paling bisa membuat semangatku kembali." Ujar Nicholas.


" Astaga, bisa bisa nya kalian tebar kemesraan di depanku yang jomblo ini." Ujar Mark.


" Iri bilang.." Ujar Nicholas.


" Maaf, hanya ini cara supaya bayi besar ini tidak rewel." Ujar Vaye, sambil terkekeh.


" Oh, kalau aku merengek apakah kamu juga akan mencium keningku?" Ujar Mark, dan langsung mendapat tagapan maut dari Nicholas.


" Bogemku yang akan mencium pipimu." Dan Mark terbahak mendengarnya.


" Hei!! Jangan berisik di perpustakaan." Ujar petugas perpustakaan. Seketika ketiga orang itu diam.


Bagas datang dengan segepok buku juga di tangan nya. Dia berencana untuk membantu teman nya itu, Nicholas.


" Nah, aku bawakan buku yang ampuh untukmu.. Aku yakin kamu akan lulus dengan ranking dan di terima di universitas yang sama denhan Vaye." Ujar Bagas.


Seketika Nicholas kembali melesu, Vaye dan Mark yang melihat itu pun terkekeh sendiri. Sementara Bagas yang melihat itu pun menatap bingung ketiga teman nya itu.


" Ya Tuhan! Berikan aku otak yang unlimited untuk mencerna semua ini." Teriak Nucholas.


" Nicholas Levi!! Keluar dari perpustakaan." Teriak petugas perpustakaan lagi.


" Semangat sayang.." Ujar Vaye.


" Ya, ya. Semangat." Ujar Nicholas.


" Maaf bu, saya tidak akan teriak lagi." Teriak Nicholas.


Bukannya diam, Nicholas justru berteriak kembali. Vaye, Mark, dan Bagas terkekeh melihatnya. Siapa yang menyangka siswa yang dulu terkenal bengis dan jahat itu, kini justru menjadi begitu bersahabat.


Tapi pada dasarnya, Dulu Nicholas juga adalah anak yang ceria, hanya saja setelah kematian Gama dan Pras yang berselingkuh dia menjadi pemarah dan pendendam. Namun kini cahaya hidupnya telah kembali.


Vaye.. membawa kembali keceriaan di hidup Nicholas. Sehingga Nicholas berhasil bangkit dari keterpurukan nya dan menjadi dia yang sekarang.


" Sayang, aku akan pastikan akan lulus dan masuk ke universitas yang sama denganmu." Ujar Nicholas, dan Vaye mengacungkan dua jempolnya kearah Nicholas.


" Aku menunggumu." Ujar Vaye.

__ADS_1


THE END...


__ADS_2