Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. VAYE PULANG.


__ADS_3

Seminggu telah berlalu..


Nicholas dan Mark sudah akrab seperti saat Nicholas bersama Timothy dulu saat kecil. Di tambah sifat Mark yang mudah berbaur itu meminimalisir rasa canggung diantara Nicholas dan Mark.


Mark sangat berbanding kebalik dengan Timothy yang pendiam, Mark sangat ceria. Dan Nicholas sendiri sudah tidak seperti sebelum bertemu Vaye, Jadilah mereka seperti memiliki geng sendiri. Nicholas, Bagas dan Mark.


Tiga pria incaran gadis gadis itu, selalu mencuri pusat perhatian kemanapun mereka pergi. Bagas baru masuk kembali ke sekolah sekitar dua hari yang lalu, dan kini ketiganya sedang berada di bandara menunggu Vaye.


" Aku yakin Vaue akan terkejut melihatmu." Ujar Bagas.


" Aku penasaran seperti apa Vaye." Ujar Mark.


" Awas kalau sampai kau meliriknya, dia kekasihku." Ujar Nicholas.


" Astaga.. Mana mungkin aku menikung teman." Ujar Mark.


Dan Nicholas tersenyum lebar ketika meligat sang pujaan hati berjalan menyeret kopernya. Vaye.. Ya, dia sedang berjalan menuju pintu keluar dimana kini Nicholas berada.


Vaye sangat cantik dengan stelan serba hitam. Jaket hitam, celana hitam, bahkan topinya pun hitam.


" Sayang." Panggil Nicholas.


Vaye melihat kearah Nicholas dan melambai. Tapi kemudian Vaye mengernyitkan keningnya ketika melihat Mark.


" Nicholas, dia.." Ujar Vaye ketika sudah sampai di hadapan Nicholas.


" Lama tidak bertemu Vaye.." Ujar Mark.


Vaye mengernyitkan keningnya, ia jelas jelas melihat Timothy yang terbujur kaku di peti mati, dan ini..


" Mau ku hajar kau! Kau menakuti Vaye." Ujar Nicholas.


" Hahahaha" Tawa Mark pecah.


" Sayang, dia saudara kembar Timothy, Mark." Ujar Nicholas.


" Kembaran?? kok tidak pernah lihat." Ujar Vaye.


" Aku kakak Timothy, kami kembar tapi terpisah." Ujar Mark, dan Vaye mengangguk angvukan kepalanya.


" Vaye, kamu semakin mempesona, astaga apa yang harus aku lakukan." Ujar Bagas.


" Woi! Mau ku piting kepalamu huh!" Ujar Nicholas, Bagas dan Vaye tertawa.


Mark menatap Vaye begitu lama, hingga akhirnya Nicholas memutus pandangan nya dengan berdiri di depan Vaye, lalu memeluknya.


" Aku merindukanmu.." Ujar Nicholas.


" Ish, manjanya.. Ada teman teman disini. " Ujar Vaye terkekeh.


" Biarkan saja, ayo kita pulang." Ujar Nicholas.


Akhirnya ke empat orang itu pun pulang, lebih tepatnya ke sebuah cafe karena jam sudah mendekati waktunya makan siang.


" Bagaimana? Apakah mommy mu sudah baik baik saja?" Tanya Nicholas.


" Mommy sudah baik baik saja, oleh karena itu aku pulang. Oiyah, paman menitipkan sesuatu untukmu. " Ujar Vaye.


" Apa itu??" Tanya Nicholas.

__ADS_1


" Nanti ketika kita sudah sampai di rumah saja."Ujar Vaye dan Nicholas mengangguk.


Mereka berada dalam satu mobil, mobil itu adalah mobil milik Mark, Jadi Mark yang menhetir, dan Bagas duduk di sebelah Mark, sementara Vaye dan Nicholas duduk di kursi belakang.


Hingga sampailah mereka di sebuah restaurant yang cukup terkenal dengan sea food nya.


" Apakah ada yang alergi makanan laut?" Tanya Nicholas.


" Tidak ada." Ujar Mark dan Bagas bersamaan.


" Oke, ayo." Ujar Nicholas.


Mereka masuk kedalam restoran yang rupanya sangat penuh dengan pengunjung. Beruntungnya Nicholas sudsh melakukan reservasi jadi sudsh tersedia tempat duduk untuk mereka.


" Sayang, ayo." Ujar Nicholas, dan menyuruh Vaye duduk di sebelahnya.


Uniknya, restoran itu bisa memilih sendiri jenis ikan ikanan atau udang udangan yang akan di masak, sesuai keinginan pengunjung.


" Dari mana kamu menemukan restoran ini? Menyenangkan sekali bisa memilih ikan." Ujsr Vaye sambil tertawa senang.


" Rekomendasi dari ibunya Bagas." Ujwr Nicholas.


" Ibuku?? kok aku tidak tahu mama sering kemari." Ujar Bagas bingung.


" Mungkin kamu tidak fokus tempat." Ujar Mark.


" Apa iya??" Humam Bagas sendiri.


" Vaye, bukankah seharusnya kamu sudah lulus? Aku sering mendengar tentang murid jenius kembar tiga dari negara AS yang lulus sekolah menengah sebum waktunya." Ujar Mark.


" Oh, kau mengetahui tentangku?" Ujar Vaye.


" Aku tidak mau cepat lulus, aku ingin menikmati masa mudaku. Terlalu cepat lulus pasti semakin banyak yang harus di hadapi." Ujar Vaye.


" Begitu rupanya. " Ijar Mark.


Hingga akhirnya mereka selesai dengan makan siang mereka dan kini mereka pulang ke kediaman Nicholas.


" Halo Vaye.." Ujar Nely.


" Halo ibu." Ujar Vaye dan langsung menghambur ke pelukan Nely.


Mereka berkumpul disana, hingga akhirnya waktu pun sudah sore.


" Tante, Mark pamit pulang dulu.. " Ujar Mark.


" Oh, iya.. Hati hati di jalan, Mark." Ujar Nely.


" Mark, aku ikut denganmu." Ujar Bagas.


" Ayo." Ujar Mark, dan akhirnya Bagas serta Mark pergi dari kediaman Nicholas.


" Mama masih tidak menyangka bahwa dia kembaran Timothy." Ujar Nely.


" Seperti hantu, ya ma?" Ujar Nicholas dan Nely terkekeh.


" Ibu, Vaye juga harus pulang. " Ujar Vaye tiba tiba.


" Eh, cepat sekali??" Ujar Nely.

__ADS_1


" Vaye belum menghubungi mommy, juga Vaye lelah." Ujar Vaye.


" Oiya, astaga.. Ibu lupa bahwa kamu baru saja datang dari Negara C. Nicholas , antar Vaye pulang. Pastikan kamu mengantarnya dengan baik baik, sampai ke apartemen nya." Ujar Nely.


" Sebenarnya siapa yang anak mama? " Ujar Nicholas dan Vaye terkekeh.


" Ya sudah, ayo sayang.." Ujar Nicholas.


Nicholas dan Vaye pun masuk kedalam mobil, Kali ini Nicholas berleluasa karena hanya berdua dengan Vaye.


Cup..


Tiba tiba Nicholas mencium Vaye.


" Hei!! beraninya mencuri curi ciuman." Ujar Vaue sambil terkekeh.


" Aku sangat merindukanmu." Ujar Nicholas, dan kembali mencium Vaye.


Kali ini Vaye menyambut ciuman Nicholas, karena dirinya juga sama merindukan Nicholas.


" Mmh.." Lenguh Vaye ketika bibirnya di gigit Nicholas, dan akhirnya ciuman itu terlepas.


" Kenapa di gigit, sakit tahu." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


" Maaf, kan aku belum mahir berciuman. Haruskan kita belajar setiap hari?" Ujar Nicholas.


" Itu si maunya kamu. Enak di kamu tidak enak di aku." Ujar Vaye, dan Nicholas terbahak.


" Ayo cepat, aku sangat ingin tidur." Ujar Vaye protes.


" Iya, sayang.." Ujar Nicholas, lalu melajukan mobilnya.


Nicholas menggenggam tangan Vaye sepanjang jalan menuju ke apartemen Vaye, dan sesekali mencium tangan Vaye. Hingga akhirnya mereka sampai di apartemen Vaye.


Tentu saja Nicholas tidak langsung pulang, ia mengekor Vaye naik keatas unit apartemen Vaye.


" Akhirnya.. Home sweet home. " Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


Vaye melemparkan dirinya di sofa, lalu meregangkan otot ototnya layaknya orang bangun tidur. Nicholas yang melihat itu pun emnggeleng gelengkan kepalanya.


" Eit! Mau apa kamu?" Ujar Vaye, sambil tangan nya menahan dada Nicholas.


Saat ini Nicholas berada percis di atas tibuh Vaye, hanya tersisa jarak satu jengkal jari.


" Mau ikut kamu ke alam mimpi." Ujar Nicholas, lalu merebahkan dirinya di sebelah Vaye.


" Tapi ini sempit." Ujar Vaye.


" Tidak masalah, bukankah romantis??" Ucap Nicholas, dan Vaye tersenyum.


Akhirnya Nicholas memiringkan tubuhnya menghadap Vaye.


" Kemari." Ujar Nicholas, sambil menepuk lengan nya.


" Apa?? " Ujar Vaye, bingung.


" Taruh kepalamu disini sayang." Ujar Nicholas.


Vaye menaruh kepalanya di tangan Nicholas yang kekar itu, tangan Nicholas di jadikan bantal. Keduanya pun tidur sambil berpelukan di sofa yang nyaman itu.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2