
Vaye dan Nicholas tengah berada di sebuah Cafe saat ini. Mereka keluar dari sekolah di jam jam dengan angka kemacetan tinggi, jadi mereka terjebak di jala. Vaye memutuskan untuk menepi di sebuah cafe yang berada di tepian jalan.
" Nah, kamu mau makan apa?" Tanya Vaye sambil memberikan buku menu.
" Samakan saja dengan pesananmu." Ucap Nicholas.
" Baiklah.." Ucap Vaye dan pergi menuju ke bagian pemesanan.
' Kenapa aku merasa seolah sedang berkencan dengan nya jika begini.' Batin Nicholas.
Vaye pun kembali setelah melakukan pemesanan. Ia duduk tepat di depan Nicholas yang saat ini terlihat tengah melamun.
" Kamu kenapa?" Tanya Vaye.
" Eh, tidak ada.." Ujar Nicholas.
Rupanya Nicholas membayangkan jika dirinya benar benar menjadi sepasang kekasih dengan Vaye. Ia pun menggelengkan kepalanya setelah menyadari pikiran aneh nya itu.
KRING.. KRING..
Suara ponsel Vaye, yang rupanya itu adalah panggilan dari Yara.
" Jika aku mengangkat panggilan ini, apakah aku mengganggumu?" Ucap Vaye.
' Apakah dari kekasihnya? ' Batin Nicholas.
" Tidak masalah.." Ucap Nicholas.
" Terimakasih." Ujar Vaye. Akhirnya Vaye pun mengangkat panggilan itu.
" Halo , mommy.. "
"...."
" Hm.. Vaye belum pulang ke apartemen, macet mom.."
"...... "
" Oh, benarkah? Bagus itu. Tapi Vaye tidak bisa melakukan panggilan video, ini tempat ramai."
" ..... "
" Tidak bisa, Vaye sedang bersama seorang teman, mom."
" ..... "
" Laki laki, teman sekelas."
" .... "
" Astaga! teman mom, hanya teman. Vaye akan menghubungi mommy nanti jika sudah sampai, bye mom.. "
" .... "
" Tidak mommy, janji. Vaye love mommy too.. Bye.. " Ucap Vaye, dan panggilan pun diakhiri.
' Rupanya dari mommy nya.. Dia lucu sekali masih menyebut dirinya dengan namanya sendiri, dan mengakhiri panggilan dengan manis. ' Batin Nicholas.
__ADS_1
Nicholas jadi melihat sisi lain Vaye, rupanya Vaye ini masihlah seorang anak mommy, namun jika melihat dari sikap Vaye yang dewasa, sepertinya bukan Vaye yang anak mommy. Mungkin mommy nya yang masih memperlakukan Vaye seperti anak kecil.
" Kamu masih menyebut dirimu dengan nama mu? Seperti anak kecil saja." Ujar Nicholas.
" Aku tidak ingin membuat mommy ku sedih.. " Sahut Vaye singkat.
Tak lama makanan mereka pun jadi, Vaye memberikan milik Nicholas pada Nicholas dan miliknya sendiri di hadapan nya sendiri.
" Selamat makan." Ucap Vaye, sambil tersenyum.
Mereka pun memakan makan malam mereka itu, setelah makan malam selesai, mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen.
"Terimakasih.." Ucap Nicholas tiba tiba.
" Huh? " Ucap Vaye memperjelas pendengaran nya.
" Terimakasih.. kamu dua kali menolongku saat aku berada di titik lemahku. " Ucap Nicholas.
Vaye tersenyum mendengarnya, rupanya ada kalanya singa galak itu menurunkan egonya dan mengucapkan terimakasih dengan begitu tulus.
" Kenapa kau malah tersenyum senyum begitu? " Ucap Nicholas.
" Tidak ada, hanya sedikit merasa heran saja. Rupanya ada kalanya kamu bisa berbicara begitu tulus." Ucap Vaye.
" Ck.. Percuma aku mengatakan terimakasih, malah dibuat lelucon." Ucap Nicholas kesal.
" Aku tidak membuatnya menjadi lelucon, hanya heran saja. Aku yakin sebenarnya kamu orang baik, kamu hanya terlalu keras melindungi dirimu dengan duri durimu." Ujar Vaye.
" Jangan sok tahu." Ucap Nicholas sambil menatap luar jendela.
" Tidak ada akibat tanpa sebab, Nicholas. Cobalah sedikit meluluhkan egomu, dan jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri." Ucap Vaye, dan Nicholas hanya diam.
Vaye menuju lift, rupanya Nicholas masih menunggunya disana.
" Jangan ikut campur dengan jalan hidupku. kau memang menolongku dua kali, tapi bukan berarti kau bisa ikut campur dengan hidupku." Ucap Nicholas, lalu keluar dari lift.
Vaye hanya menatap Nicholas yang berdiri di luar lift, hingga lift tertutup dan naik keatas. Sesampainya diatas, Vaye merebahkan dirinya di sofa karena hari sudah larut malam, ia merasa lelah karena harus menyetir begitu lama.
Vaye jadi memikirkan ucapan Nicholas tadi, apakah seberat itu yang Nicholas alami hingga menjadi berkepala batu.
" Apakah aku terlalu ikut campur? " Gumamnya.
Sementara itu Nicholas sendiri kini berada di dalam apartemennya, ia mengeluarkan sekaleng minuman bersoda, dan duduk di meja bar yang berada dekat dapur apartemen nya.
" Ck, meluluhkan egoku.. Seolah olah aku adalah yang paling egois di dunia ini." Ucapnya, lalu meneguk minuman bersoda di tangan nya.
" Tahu apa dia tentang hidupku, jika aku tidak keras, maka aku hanya akan di injak injak begitu saja oleh orang orang itu. Aku tidak akan pernah menjadi orang baik, aku bukan orang baik." gumamnya.
Ke esokan harinya..
Vaye sampai di sekolah, dan rupanya sudah ada Nicholas disana. Wajah Nicholas juga dingin seperti biasanya, tidak ada senyum atau sapa sedikit pun.
" Pagi, Vaye.." Sapa Timothy.
" Pagi.." Sahut Vaye.
Pelajaran pun dimulai, dan seperti biasanya Nicholas hanya akan tidur di kelas. Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba, Nicholas bangun dan berjalan keluar meninggalkan kelas.
__ADS_1
" Timothy, apa benar kamu dulu teman baik Nicholas?" Tanya Vaye.
Timothy yang menerima pertanyaan itu pun menjadi diam. Tapi akhirnya Timothy mengangguk.
" Apa kamu tahu penyebab Nicholas menjadi begitu dingin dan kasar?" Tanya Vaye.
Mata Timothy bergerak tak menentu, ia seakan bingung harus manjawab apa. Vaye tahu, mungkin salah satu penyebab Nicholas menjadi dingin dan kasar ada kaitannya dengan Timothy. Terlebih lagi, Nicholas begitu memusuhi Timothy sekarang.
" Tidak perlu dijawab, tidak penting. Ayo ke kantin." Ujar Vaye.
Akhirnya mereka pun ke kantin, tapi ternyata saat sampai di kantin terlihat Nicholas yang tengah menghajar seorang murid laki laki di lantai hingga berdarah darah. Tidak ada yang berani maju melerai mereka bahkan petugas kantin pun takut dengan Nicholas.
Timothy maju untuk melerai keduanya, namun malah terkena pukulan Nicholas. Tatapan nya begitu dingin tidak ada ampun.
" Nicholas, hentikan." Ucap Timothy.
" Kau, kau menyebar berita apa lagi, huh!!" Teriak Nicholas pada Timothy.
" Aku menyebar apa? Aku tidak menyebar berita apapun." Ujar Timothy, bingung.
" Bren*sek kau!! Jika bukan dirimu yang menyebar berita lalu siapa!? Jangan berpura pura bodoh kau!! " Ucap Nicholas begitu emosi.
" Aku tidak.."
BUGH!!
Nicholas meninju hidung Timothy sampai Timothy mengeluarkan darah.
" Mati saja kau!" Ujar Nicholas, dan memukul kembali Timothy.
Vaye langsung maju dan menahan kepalan tangan Nicholas.
" Lepas!" Ucap Nicholas.
" Tidak, kau akan membunuhnya jika aku melepaskan tanganmu." Ujar Vaye.
" AARGH!!" Teriak Nicholas dan berbalik mencekik Vaye.
" Kau pikir siapa dirimu, selalu ikut campur dengan semua urusanku, huh?!Kau pikir aku tidak bisa menyakitimu? Dengar! Aku bukan orang baik." Ucap Nicholas.
" Nicho, lepaskan Vaye." Ucap Timothy.
" Baik, kalau begitu.. cobalah.. bunuh aku." Ucap Vaye.
" Vaye!! jangan bicara sembarangan." Ucap Timothy.
" Baik, kau yang memintanya." Ujar Nicholas.
" Nicholas, kau gila!? " Ucap Timothy.
Nicholas mencengkeram leher Vaye, terlihat wajah Vaye yang sedikit membiru. Vaye tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mata Nicholas, hingga akhirnya Nicholas melepaskan tangan nya dari Vaye, dan pergi dari sana.
" UHUK!! UHUK!! UHUK!! " Vaye terbatuk.
" Vaye, kamu tidak apa apa?" Tanya Timothy, dan Vaye pun menggeleng.
' Aku tahu, kamu masih memiliki sisi baik. ' Batin Vaye.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..