Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 184. SEASON 2. VAYE PULANG.


__ADS_3

Bandara International, Soekarno Hatta.


Vaye dan Nathan keluar dari bandara bersamaan, Vaye menggunakan masker takut takut kalau ada yang mengenali dirinya disana begitu juga dengan Nathan.


Mereka menaiki taksi kemudian melesat pergi dari bandara.


" Kakak sungguhan mau menginap di apartemenku??" Tanya Vaye, Nathan pun terkekeh mendengarnya.


Selama perjalanan dari AS menuju tanah air, Vaye selalu menanyakan pertanyaan itu berulang ulang dan nathan belum juga memberikan jawaban nya.


" Kakak..." Rengek Vaye.


" Astaga adik.. Kamu sebegitu takutnya kakak menginap di apartemenmu. Apakah kamu takut kakak bertemu pacarmu??" Tanya Nathan.


" Ish! Mana ada aku punya pacar. Aku disini tidak menggunakan nama besar keluarga, bahkan aku mengubah penampilanku. Aku takut ada yang mengenali kakak, kakak itu terkenal." Ujar Vaye.


" Iya kah??" Ucap Nathan meledek.


" Kakak... " Rengek Vaye.


" Iya - iya.. Kakak tidak menginap di apartemenmu, kakak ke rumah lama daddy." Ujar Nathan.


" Kak Ed juga terakhir kali kesana, sekarang kakak juga mau kesana. Apakah kalian sedang merencanakan sesuatu??" Ujar Vaye.


" Kamu mau tahu??" Tanya Nathan, dan Vaye mengangguk.


" Kalau begitu beri tahu kakak, alasan sebenarnya kamu kembali kemari. Kakak tahu kamu berbohong pada mommy." Ujar Nathan.


" Memang sulit berbohong pada kembaran." Ucap Vaye sambil menepuk keningnya, dan Nathan terkekeh.


" Jadi.. Mau bertukar informasi atau tidak??" Tanya Nathan, ambil menaik turunkan alisnya.


" Ya.. ya.. Nanti aku ceritakan saat kita sampai di apartemen." Ujar Vaye.


Hingga akhirnya keduanya pun sampai di apartemen. Mereka menaiki lift, dan sampai di unit apartemen Vaye.


" Akhirnya sampai juga, Jakarta sangat panas.. Adik tolong nyalakan ac nya, kakak kepanasan. " Ujar Nicholas.


" Dasar beruang kutub." Ujar Vaye sambil terkekeh.


Vaye membuka koper kecilnya yang ia bawa, rupanya di dalamnya hanya berisi alat alat canggih miliknya, tidak ada satupun pakaian di dalamnya.


" Astaga, kamu membawa alat alat ini kemari??" Tanya Nathan.


" Hmm.. Vaye berjanji pada seorang teman, yang Vaye ceritakan pada kakak. Vaye berjanji akan menemukan bukti bahwa dia tidak bersalah. Walaupun dia tidak percaya, tapi Vaye tetap melakukannya." Ujar Vaye.


" Apakah kamu menyukainya?? " Ujar Nathan.

__ADS_1


" Tidak ada alasan untuk aku membencinya kan, kak.. " Ujar Vaye.


" Kamu pasti tahu apa yang kakak maksud.. suka dengan lawan jenis, adik. Do you love him?? " Tanya Nathan.


" Kak, come on.. Kami hanya teman. Kakak juga ingat Vaye pernah membantu seorang teman yang bernasib kurang lebih sama dengan Nicholas bukan? " Ucap Vaye..


" Adik.. kita mungkin bisa saja mencintai seseorang tanpa sadar." Ujar Nathan.


" Tidak, kak.. aku hanya berteman dengannya. Aku hanya tidak tega melihatnya selalu terluka sendirian. Kadang aku berpikir, mungkin dulu daddy juga sama seperti Nicholas. Aku hanya ingin membantunya sembuh, dan mengungkap kebenaran." Ujar Vaye.


Nathan mengacak rambut Vaye, Nathan yakin, Vaye mencintai Nicholas tanpa sadar. Selama Nicholas tidak menyakiti adiknya, ia akan diam dan menyaksikan pertumbuhan asmara keduanya.


" Baiklah, kalian teman.." Ujar Nathan mengalah.


____________________________________


Waktu berganti, Nathan sudah pergi dari apartemen Vaye, dan Vaye sendiri kini berada di sebuah salon. Ia ingin kembali menghitamkan warna rambutnya sebelum ada yang mengenali dirinya.


" Nona, sudah selesai." Ujar sang pegawai salon.


" Ya, terimakasih." Ucap Vaye.


Vaye membayar, dan kemudian dirinya keluar dari salon dan memasuki mobilnya. Ia memasang ear piece nya dan menghubungi seseorang.


" Kau dimana??" Ucapnya.


" ... "


Di tempat lain, Nicholas menatap heran ponselnya. Baru saja Vaye menghubunginya hanya untuk bertanya dimana dirinya berada.


" Apakah dia sedang mengigau dalam tidurnya?? Seharusnya ini jam jam tidur di sana, kan? " Gumam Nicholas.


Tak mau ambil pusing, Nicholas mengantongi kembali ponselnya dan kembali bermain bersama Joly di air.


" Hei! jangan gigit ikan itu, anak nakal ini." Teriak Nicholas ketika melihat Joly menggigit seekor ikan di danau buatan itu.


Nicholas hanya bermain bersama Joly namun ia sudah begitu bahagia. Setengah jam kemudian mereka sudah selesai bermain air, Nicholas tengah duduk di gazebo, dan Joly berlarian kesana kemari dan masih sesekali menceburkan dirinya di dalam air.


Nicholas merasa kesepian beberapa minggu ini selama liburan. Jika ia berada di rumah, ia hanya bisa mendekati ibunya dengan identitas Gama, selain itu dirinya hanya akan di perangi. Tiba tiba muncul Vaye di pikirannya.


" kenapa aku merindukannya." Gumam Nicholas.


" Merindukan siapa??" Tanya Vaye dari belakang.


Vaye sudah sampai dan berjalan mengendap endap agar Nicholas tidak menyadari kehadirannya. Ia melihat Nicholas yang tengah melamun, ia pun berniat mengejutkan Nicholas, hingga tiba tiba ia mendengar Nicholas bergumam.


" Vaye, si gadis galak." Ujar Nicholas tanpa sadar.

__ADS_1


Tiba tiba Nicholas berkedip kedip bingung, apakah dia baru saja berbicara dengan seseorang?? Nicholas berbalik ke belakang dan terkejut melihat Vaye yang berdiri di belakangnya. Seketika senyum cerah terbit di wajah Nicholas.


" Kamu kembali??" Ujar Nicholas.


" Hm.. seseorang merindukan aku jadi aku kembali dengan kecepatan turbo." Ujar Vaye dengan nada kesal, dan Nicholas terkekeh mendengarnya.


" Tertawa kau.." Gumam Vaye.


" Kenapa juga kamu marah marah??" Tanya Nicholas.


" Kau tidak sadar baru saja mengatai aku Vaye si gadis galak?? Bisa bisanya aku yang baik hati ini di katai gadis galak." Ucap Vaye kesal.


" Hahaha" Tawa Nicholas pecah, dan Vaye hanya memutar bola matanya.


" Astaga.. perutku sakit." Ujar Nicholas.


" Nye nye nye nye.. " Ucap Vaye dengan wajah kesal mengejek, dan tawa Nicholas bukannya berhenti malah semakin terpingkal.


" Bagaimana liburanmu?? " Tanya Vaye.


" Mana ada aku liburan, paling hanya dirumah dan bermain bersama dia." Ujar Nicholas sambil melihat kearah Joly.


" Membosankan sekali hidupmu." Ujar Vaye.


" Mau bagaimana lagi, satu satunya temanku pulang ke negara asalnya, jadi aku kesepian." Ujar Nicholas.


" Woah, aku merasa terhormat jadinya." Ujar Vaye sambil terkekeh.


" Kenapa kamu sudah kembali? Jangan bilang kamu merindukan aku juga." Ujar Nicholas.


" Dalam mimpimu." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


Tapi walau berkata demikian, nyatanya Vaye memang merindukan Nicholas, dan satu hal lagi yang membuatnya ingin cepat kembali, adalah ia ingin menunjukan pada Nicholas tentang bukti itu.


" Nicholas, aku sudah mendapatkan bukti bahwa kamu tidak bersalah." Ujar Vaye, dan seketika senyum di wajah Nicholas perlahan menghilang dan berubah menjadi serius.


" Kamu bilang apa?" Tanya Nicholas.


" Aku sudah mendapatkan rekaman cctv kejadian saat kakakmu meninggal di pukuli preman." Ujar Vaye.


" Itu bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah. Kamu memang tidak terjerat hukum karena kurangnya bukti, tapi kamu jadi kehilangan orang orang terkasihmu. Nicholas, ambilah aoa yang seharusnya menjadi milikmu." Ujar Vaye.


Nicholas menatap kearah danau, ia jadi teringat dengan keseluruhan kejadian itu. Tangan nya mengepal kuat tanda dia ketakutan. Vaye menyadaei itu dan menggenggam tangan Nicholas.


" Kamu takut?? Jika kamu belum siap, maka kita bisa menunggu hingga kamu siap." Ujar Vaye, dan Nicholas mengangguk.


Vaye menyadari, mungkin begitu besarnya rasa takut Nicholas. Tidak mudah menghadapi trauma yang begitu dalam, tindakan dokter dan semua obat hanya meringankan sesaat, tetapi ketika mengingat kembali keseluruhan kejadian kelam, maka ketakutan besar itu akan kembali muncul.

__ADS_1


" Tenanglah, ada aku.." Ucap Vaye, Vaye memeluk Nicholas yang saat ini sedang berjuang menenangkan dirinya dari rasa takutnya.


TO BE CONTINUED.


__ADS_2