
Vaye membawa Nicholas ke sebuah gang dimana dia bertemu dengan preman yang berwajah tidak asing itu. Saat siang hari, itu hanyalah gang biasa. Namun saat malam hari, tempat itu terlihat sangat sepi dan mengerikan. Mungkin karena pencahayaan disana sangat temaram cenderung gelap.
" Tempat apa ini, Sayang? " Tanya Nicholas.
" Tempat ini adalah tempat dimana aku mengejar pria yang sangat mencurigakan, yang menuju ke kamar rawat bagas. Dan di sini juga aku bertemu dengan Timothy yang datang menolongku. " Ujar Vaye.
" Sebenarnya banyak yang ingin aku beritahukan padamu. Aku mengingat nya .. preman yang muncul di sini malam itu sangat mirip dengan preman yang membunuh kakakmu, aku berpikir mungkinkah dia adalah orang yang sama? Lalu aku pun menyelidiki kasus kematian kakakmu, dan menemukan fakta bahwa Timothy adalah orang yang membunuh kakakmu, melalui preman itu." Ujar Vaye.
JDER!!!
NIcholas terkejut.
" Semua buktinya ada padaku, kita hanya tinggal menangkap para preman itu untuk mengakui pebuatan nya dan membuat mereka mengakui siapa orang yang menyuruh mereka." Ujar Vaye lagi.
Nicholas berkaca kaca, tidak menyangka bahwa orang terdekat nya sendiri yang melakukan itu pada kakaknya. Padahal Gamalael juga sangat menyayangi Timothy bahkan sebelum akhirnya ibu Timothy yaitu Tamara datang dan membuat pengakuan pada ibu Nicholas, Nely.
Tangan Nicholas mengepal, ia semakin menyesal pernah mengenal dan berteman dengan Timothy dulunya.
" Bren*sek!! Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan nyaman setelah ini, dia harus membayar semua perbuatan nya pada kakak ku. " Ujar Nicholas.
" Ayo kita siapkan jebakan kita, kita akan menangkap ikan yang besar." Ujar Vaye. Nicholas mengangguk dn keduanya pun pergi dari sana untuk menyiapkan alat alat yang mereka butuhkan.
Ditempat lain...
Tymothy sendiri saat ini sedang berada di dalam ruang kelasnya, ia terus menatap tempat duduk Vaye dan Nicholas secara bergantian. Sambil sebelah tangan nya memainkan pena yang diptar putar diantara jari jarinya, Matanya terlihat sangat tajam.
Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba, semua murid pun keluar dari kelas begitu juga Timothy. Saat di kantin ia kembali bertemu dengan seseorang yang sangat dia kenal, Henry.
Namun Henry menatap takut kearah Timothy, padahal Timothy hanya berjalan melewatinya tanpa sedikitpun bersuara. Tubuh Henry bergetar hebat seperti baru saja bertemu dengan hantu yang mengerikan hingga teman temannya yang lain merasa heran sendiri dengan Henry yang kini seperti pecundang ketika bertemu dengan Timothy.
" Kau sebenarnya kenapa, sejak hari itu kamu terlihat seperti bukan dirimu saja. Kau takut pada Timothy??" Tanya teman Henry.
" Aku tidak apa apa. " Ujar Henry namun tatapan nya seperti gelisah tidak karuan dan melangkah pergi dari sana.
" Aku yakin telah terjadi sesuatu padanya, dia terlihat aneh sejak Terakhir kali kami bertemu. " Gumam teman Henry.
Timothy duduk di meja nya dan memakan makanan yang ia ambil dari petugas kantin, saat ia hendak menyuapkan makanan nya masuk kedalam mulutnya, tiba tiba ia mendengar teman kelasnya membicarakan tentang Bagas lagi. Timothy pun mendengarkan nya dengan sekasama.
__ADS_1
" Apa kau sudah mengunjungi kak Bagas? Dia hampir saja lewat ( meninggal ) semalam. Kasihan, dia koma. " Ujar adik kelas.
" Ka,u sudah mengunjunginya?" tanya adik kelas yang lain.
" Sudah, kondisinya memprihatinkan, dia koma." Ujar gadis itu.
Entah mengapa Timothy menatap dua gadis itu, dua gadis itu yang di tatap Timothy pun merasa salah tingkah sendiri di tatap pria incaran para gadis. Timothy bangun dan duduk di meja yang sama dengan dua gadis itu.
" Hai, kapan kamu mengunjungi Bagas?" Tanya Timothy dengan senyum manisnya.
" Se- semalam kak, karena aku mengunjungi kerabatku, jadi sekalian mengunjungi kak Bagas. Tapi Rupanya kak Bagas semalam baru saja kolaps, beruntungnya masih bisa diselamatkan." Ujar gadis itu sedikit gugup karena Timothy duduk begitu dwkat dengan nya.
Timothy kemudian mengangguk anggukan kepalanya, lalu tersenyum. Sungguh dua gadis itu meleleh karena bisa duduk berdekatan dengan Timothy.
" Kamu gadis yang baik.. Terimakasih." Ujar Timothy sambil mengusap kepala gadis itu. Semua yang melihat itu pun terkejut.
Timothy bangun dan berjalan pergi, ketika di depan nya tidak terlihat seorangpun, tatapan nya menjadi sangat tajam dan rahangnya mengeras.
Akhirnya hari berganti menjadi sore, Nicholas dan Vaye sudah selesai memasangkan cctv di berbagai sudut di ruangan rawat Bagas.
" Tante, tolong bersikaplah biasa saja apabila anak laki laki yang kemarin itu datang kemari." Ujar Vaye.
" Tante, Bagas teman kami. Kami akan memberikan keadilan untuk Bagas. " Ujar Vaye.
" Tante jangan pergi kemana pun, tetaplah berada di sekitaran lorong ini, Dia mungkin mengamati tante lebih dulu." Ujar Vaye.
" Baik nak.." Ujar ibu Bagas.
Vaye mengangguk kearah Nicholas, begitupun sebaliknya. Mereka sudah menyiapkan sesempurna mungkin rencana untuk mendapatkan bukti bahwa Timothy melakukan kejahatan pada Bagas.
" Ayo, kita urus yang lain." Ujar Vaye, dan Nicholas mengangguk.
" Tante, kami pergi dulu." Ujar Vaye, dan Ibu Bagas mengangguk.
Vaye dan Nicholas keluar dari rumah sakit sebelum jam pulang sekolah berakhir, dan mereka menuju kembali ke gang yang sebelumnya mereka datangi.
Tentu saja mereka tidak datang terang terangan, mereka bersembunyi di sebuah tempat, sampai para preman itu datang, itu pun jika mereka datang kesana.
__ADS_1
" Vaye, apakah kamu tidak takut dengan hal hal seperti ini?" Tanya Nicholas.
Saat ini keduanya tengah berada di persembunyian mereka, Nicholas sebenarnya merasa heran dengan Vaye, dia seorang perempuan tapi begitu berani menghadapi situasi yang menurut Nicholas sendiri sangat berbahaya.
" Tidak, aku sudah terlatih. " Ujar Vaye, sambil tersenyum.
" Terlatih? " Tanya Nicholas bingung.
" Sssttt!!! Mereka datang. " Ucap Vaye.
NIcholas tentu terkejut, dia bahkan tidak mendengar apapun tapi Vaye tahu mereka datang. Tak lama seseorang sungguhan datang, dan itu adalah salah satu preman yang mengganggu Vaye kemarin.
Vaye dan Nicholas masih mengamati karena saat ini pria itu sedang bertelepon entah dengan siapa, hingga datang satu lagi pria yang berwajah seram. Dan Nicholas mengenali wajah itu, itu adalah wajah orang yang menginjak kepala Gama. Nicholas pun menjadi terpancing emosinya.
" Jangan emosi, tujuan kita saat ini adalah menangkap mereka hidup hidup." Bisik Vaye.
Vaye mengeluarkan gantungan kunci kepala gajahnya, dan berjalan keluar dari persembunyian nya.
Dua orang itu tentu saja terkejut dengan kehadiran Vaye disana, belum lagi salah satu teman mereka masih berada di rumah sakit karena ulah Vaye kemarin.
" Kenapa kau disini!! Kau mengintai kami?" Ujar salah satu preman, sementara preman yang lain terkejut dengan kehadiran Nicholas disana.
" Ya anggap lah begitu, Sekarang aku beri pilihan.. mau ikut dengan ku baik baik atau terluka dulu." Ujar Vaye.
" Kenapa wajah gadis ini seperti tidak asing, aku seperti pernah bertemu dengan nya. " Ujar salah satu preman itu.
" Semua orang kau anggap pernah kau temui. " Ujar pria yang berwajah seram itu.
Tanpa basa basi lagi Vaye menekan kepala gajah itu lalu berubah menjadi sebuah tongkat besi.. dan memukulkan nya pada dua pria itu secara bergantian.
" AARRGGHH!!! "
" AARRGGHH!!! " Teriak kedua pria itu.
Rupanya Ryuchie mendesain tongkat itu dengan sedemikian rupa, Vaye baru saja memukul preman itu sekaligus menyetrumnya hingga keduanya lemas. Nicholas langsung membekuk salah satu pria itu, Dan Vaye membekuk yang satu lagi
" Kita bisa berkenalan nanti, aku tidak punya banyak waktu saat ini. " Ujar Vaye, sambil mengikat keduanya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...