
Ethan terkejut ketika Yara dengan lincahnya mengetik di laptopnya dan muncul semua data mengenai Kristin Evron.
" Ini.. Bagaimana bisa datanya begitu mudah di akses olehmu? " Tanya Ethan.
" Karena laptop ini bukan laptop biasa tuan Dominique, kau bisa mencari siapa saja yang ingin kau cari disini. Ini di desain khusus." Ucap Yara.
Yara kembali mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian ia tersenyum. Entah apa yang Yara temukan.
" Bingo... " Ucap Yara.
" Ada apa.?" Tanya Ethan.
" Kemari.. " Ucap Yara, Ethan pun menurut saja berdiri disebelah Yara yang kini sedang duduk sembari mengotak atik laptopnya.
" Aku sudah memata matai kegiatan Kristin, dan juga menyabotase keamanan markasnya. Dari info yang aku dapat, sekitar satu minggu lagi ia akan membuka pameran di salah satu markas berkedok galeri barang antik kuno nya." Ucap Yara.
" Dimana tempat itu berada." Tanya Ethan.
" Negara Y tentu saja, bukankah dia berasal dari sana.? Dan itu adalah kesempatan kita untuk menyerang." Ucap Yara.
Ethan terkejut untuk kesekian kalinya, Yara kini semakin cerdik, juga penuh perhitungan.
" Oke, lalu apa rencanamu?" Tanya Ethan.
" Bukankah kau memiliki tim super.? Kita akan butuh banyak otak untuk mengatur strategi, dan tujuan kita adalah menangkap ekor dari Kristin Evron." Ucap Yara dengan senyum misteriusnya. Ethan juga tersenyum tanda mengerti.
" Oke.. Akan aku panggil mereka kembali secepatnya. Sepertinya Roger sudah selesai mengganti perban, kau ingin menjenguknya?" Tanya Ethan.
" Hmm.. " Ucap Yara singkat.
Yara dan Ethan pun keluar dari ruang kerja Ethan dan menuju kamar rawat Roger.
" Eh, Yara kapan kau datang.? " Ucap Jilian.
Yara menatap Roger yang tampak biasa saja saat Jilian menyebut namanya dengan sebutan Yara.
' Apakah dia sudah tahu identitas asliku.' Batin Yara bermonolog.
" Balum lama kak, bagaimana keadaan mu tuan Roger." Ucap Yara.
" Kenapa kau panggil aku tuan? Aku jadi merasa kita ini jauh sekali." Ucap Roger.
" Eh.. Baiklah, kak Roger." Ucap Yara.
" Boleh aku bicara dengan Y berdua saja.?" Tanya Roger pada Jilian dan Ethan.
Ethan dan Jilian saling pandang, lalu kemudian mengangguk. Setelah Ethan dan Jilian keluar, Roger pun menatap Yara lekat lekat.
" Apa kabar Valerie.." Ucap Roger.
Deg..
" Kau sudah tahu siapa aku?" Tanya Yara.
" Sudah, sejak awal aku sudah tahu. Kau sendiri yang memberi tahuku." Ucap Roger.
Yara mengernyit bingung, kapan dirinya memberitahu tentang jati dirinya kepada Roger pikirnya.
" Aku minta maaf, dan juga mengucapkan banyak terimakasih." Ucap Roger.
" Maaf untuk apa? Dan terimakasih untuk apa.?" Tanya Yara.
" Maaf karena ibuku menyakitimu dan keluargamu, juga terimakasih telah menyelamatkan aku." Ucap Roger serius.
" Sesuatu yang sudah berlalu tidak akan bisa di ulang, yang sudah pergi maka tidak akan kembali. Mungkin aku tidak akan bisa memaafkan ibumu karena dia sudah terlalu kejam, maaf .. Aku akan tetap membalaskan dendamku." Ucap Yara serius.
" Valerie, bukan begitu maksudku, aku tidak bermaksud memohon untuk kau menghentikan dendamu. Aku hanya meminta maaf untuk diriku. Aku tidak mau kau membenciku karena ibuku adalah orang yang membunuh keluargamu." Ucap Roger serius.
" Ibumu adalah ibumu, kamu adalah kamu kak. Aku tidak membenci mu karena kamu putra Kristin Evron. Dendamku padanya, tidak termasuk padamu. Bahkan dia saja bisa tega menembak dirimu yang adalah putranya sendiri. Bagaimana bisa aku menyamakan kamu dengannya." Ucap Yara dengan senyum manisnya.
" Terimakasih, kamu memang gadis yang baik.. " Ucap Roger berkaca kaca.
" Oh ayolah, berapa usia kakak? Mengapa menjadi cengeng seperti ini." Ucap Yara sembari menghapus air mata Roger.
" Maaf.. " Ucap Yara canggung setelah menyadari tatapan Roger padanya kian berubah.
__ADS_1
' Valerie.. Seandainya saja aku lebih awal bertemu denganmu, dan juga aku bukan putranya. Aku akan memperjuangkanmu Valerie ku. Tapi sekarang rasanya tidak mungkin aku berharap bisa memilikimu.' Ucap Roger dalam hati.
" Istirahatlah kak, aku pergi dulu." Ucap Yara, dan Roger hanya mengangguk.
Setelah Yara pergi, air mata Roger kembali luruh. Mengapa hidupnya menjadi seperti itu pikirnya. Ia selalu berharap agar bisa memperjuangkan Yara kelak, tapi kini ia hanya bisa berhenti sebelum berjuang. Dulu hidupnya tidak pernah berwarna, karena ia selalu saja tenggelam atas kematian ibunya. Sampai saat ia bertemu dengan Yara di tengah laut dan membawanya ke kediamannya, ia seakan tertarik dengan tubuh kecil dan lucu itu.
' Aku akan selalu melindungimu Valerie ku. Meski tidak bisa memilikimu, aku akan tetap mencintaimu dalam diam.' Ucap Roger dalam hati.
Saat ini Yara tengah berada di ruang tengah dengan Ethan dan Jilian.
" Jadi ini sungguhan? Bukan prank?" Ucap Jilian antusias.
" Benar kak, aku akan tinggal disini dengan kalian sebagai tim seperti semula. Tunggu hingga yang lainnya kembali, baru kita bahas rencana kita. " Ucap Yara.
" Kau tahu Yara, kakak senang sekali. Oh ya ampun, aku memiliki dua adik secara bersamaan." Ucap Jilian.
" Dua adik?" Ucap Yara bingung.
" Iya, kau adalah Yara disini, dan diluar kau adalah Yuka. Bukankah aku memiliki dua adik secara bersamaan?" Ucap Jilian lagi.
" Kenapa terkesan seperti aku memiliki kepribadian ganda.?" Ucap Yara merinding.
Sementara dua orang itu berbincang, Ethan hanya diam memandangi Yara. Ia melihat saat Roger memegang tangan Yara dari cctv, bahkan Yara sempat menghapus air mata Roger. Sebenarnya apa yang di bicarakan oleh mereka berdua. Tatapan Roger bahkan sangat sendu, sungguh mengganggu hatinya saat ini.
' Besok aku akan mengganti cctv yang bisa sekaligus mendengarkan suara di seluruh kediaman ini.' Batin nya bermonolog .
...****************...
Beberapa hari berlalu..
Di tempat lain.
Seorang pria menggunakan hodie hitam dengan masker di wajahnya nampak mengendap endap keluar dari vilanya, demi menghindari penagih hutang yang selalu datang padanya hampir setiap hari ia harus mengubah ubah penampilannya. Sudah hampir seminggu ini ia keluar masuk vila nya sendiri tapi diam diam seperti seorang buronan.
" Hei, kau mau kabur kemana kau! Bukannya bayar hutang malah kabur, beraninya kau.!!" Ucap seorang pria bertubuh tinggi besar.
" Ah.. Ampun, ampun tuan."Ucap si pria yang tengah di pukuli itu.
" Hei Darren Todd, kau mau menghindar sampai kapan huh? Ini sudah hampir satu minggu, kau janji pada kami dalam 3 hari kau akan melunasi hutangmu, mana?!!" Teriak pria besar itu.
Sebenarnya harta yang di berikan oleh Davis Todd sebagai warisan untuk mereka terbilang banyak. Hanya saja mereka terlalu boros dan serakah menjadi manusia. Hingga akhirnya beginilah mereka sekarang, hidup seakan menjadi buronan rentenir. Belum lagi sekarang Carig menjadi pria yang hanya bisa duduk di kursi roda.
" Aau....uua...hmm.!!" Teriak Carig Todd tidak jelas.
Ya, Carig Todd terserang stroke dan mengalami kelumpuhan saat ia sadar dari serangan jantungnya, ia terkejut saat mengetahui bahwa Yara telah mengambil segalanya, dan juga ayahnya tidak meninggalkan warisan yang sepadan untuknya dan Darren. Beginilah ia sekarang, hanya menjadi pria menyedihkan yang selalu mendapatkan cacian dari istrinya, bahkan putra dan menantunya.
" Aau.. Auu.. bicara yang jelas pak tua, kenapa kau menggunakan bahasa binatang, Oh aku lupa dia kan stroke Hahahaha.." Ucap si penagih hutang itu.
" Cepat lunasi hutang kalian, Atau kalian akan kami bunuh bersama sama satu keluarga." Ucap Salah satu penagih hutang itu sembari mendorong Carig hingga terjatuh dari kursi rodanya.
" Tuan, beri saya waktu sehari lagi, satu hari saja tuan. Saya ini mau mendatangi saudara sepupu saya. Tuan mengenal Robin Todd kan? Dia sepupu saya, dia pasti mau memberi saya uang, setelah saya dapat uang itu saya akan langsung datang mencari kalian, saya janji." Ucap Darren meyakinkan.
" Kau tidak sedang menipu kami kan?" Ucap si penagih hutang itu.
" Tidak tuan, aku berkata yang sebenarnya." Ucap Darren.
Setelah saling pandang, akhirnya si penagih hutang itu melepaskan cengkeraman tangannya di baju Darren
" Oke, batas waktunya malam ini. Jika malam ini kau tidak melunasi hutangmu, besok kalian sekeluarga akan menjadi mayat dan menjadi makanan anjing." Ucap si penagih hutang.
" Janji tuan, terimakasih."Ucap Darren.
Akhirnya penagih hutang itu pergi dari vila kediaman Darren.
" AAKH.!!! SIALAN.!! Ini semua gara gara Nayara Valerie! Gadis itu menghancurkan masa depan ku." Teriak Darren.
" Aaeennn... " Teriak Carig namun dengan suara bergetar.
" Diam ayah! Jika saja ayah bisa lebih cerdik saat mengurusi surat wasiat itu dulu, pasti saat ini kita tidak seperti ini." Ucap Darren.
" Lihatlah, sekarang ayah hanya bisa duduk merengek tidak berguna." Ucap Darren lagi.
Namun walau demikian, Darren tetap membantu Carig untuk duduk kembali di kursi rodanya lalu mendorongnya masuk kedalam Vila.
" Ibu, Megan, aku akan mencoba mencari Robin lagi. Jika kalian kemasi barang barang kita sekarang. Jika nanti aku kembali tanpa uang, kita segera pergi dari sini." Ucap Darren.
__ADS_1
" Sayang, kita akan tinggal dimana? Perutku sudah semakin besar, beberapa bulan lagi aku akan melahirkan dan kita masih dalam pelarian seperti ini." Ucap Megan.
" Sayang.. Kamu sabar dulu yah, aku sudah mencari sebuah tempat tinggal di luar kota, Walau tidak mewah tapi masih bisa dihuni dan juga penagih hutsng itu tidak mungkin menemukan kita." Ucap Darren.
" Baiklah, hati hati di jalan." Ucap Megan.
" Ibu, tolong jaga istriku." Ucap Darren pada Tsania.
" Hmm.. " Sahut Tsania singkat.
Tsania terlihat sangat kurus dengan penampilan acak acakan tidak rapih seperti dulu. Ia sering kali mengeluh karena harus mengurus Vila dan suaminya yang lumpuh. Megan selalu menolak membantu ibu mertuanya itu dengan alasan sedang hamil besar, jadilah Tsania yang mengerjakan pekerjaan rumah.
....
Di tempat lain..
Saat ini Yara, Ethan, Rayson, Jilian, Sean, Bara, Jackson dan Caleb sedang berada di ruang bawah tanah kediaman pribadi Yara.
Ya, Yara membawa para pria itu kerumahnya, tujuan nya adalah untuk menghindari Roger. Yara tidak ingin Roger tahu rencana penangkapan Kristin. Bagaimanapun Kristin adalah ibu kandung Roger, Roger pasti akan bersedih jika mengetahui ibunya akan ditangkap. Alhasil, dengan berbagai macam alasan, mereka pergi meninggalkan kediaman Ethan dan disinilah mereka semua.
" Kak Bara, dan kak Sean kalian yang akan memantau pergerakan cctv, aku sudah meretas semua cctv disana. Kak Jilian dan kak Rayson, kalian bertugas menjadi para medis, saat kita berhasil melumpuhkan Kristin, kalian masuk dari pintu belakang. Ethan, karena wajahmu sudah banyak dikenal oleh masyarakat, jadi tugasmu adalah menjadi salah satu tamu disana." Ucap Yara menjelaskan tugas dari masing masing orang.
" Bos memang beda, hanya menjadi tamu saja sudah termasuk memainkan peran." Ucap Rayson menyindir.
" Jika kau keberatan kau boleh keluar dari tim" Ucap Ethan sinis.
" Sudah jangan ribut.. Jack dan Caleb bertugas memantau dari kejauhan. Kuta tidak tahu situasi apa yanga kan terjadi disana. Karena kita tidak di perbolehkan membawa senjata saat masuk, keamanan disana sangat ketat." Ucap Yara menjelaskan lagi.
" Jika kita tidak membawa senjata lalu bagaimana saat rencana kita berjalan diluar kendali.?" Ucap Sean.
" Oleh karena itu, aku yang akan membawakan senjata kalian masuk nanti." Ucap Yara.
" Apa maksudmu? Kamu bilang keamanan disana sangat ketat, jangan lupa mereka memiliki banyak anggota dan persenjataan." Ucap Ethan khawatir.
" Jangan khawatir, disana nanti aku akan memerankan 3 peran. Aku akan mengantarkan senjata kalian nanti, juga aku yang akan berpura pura bertanya tentang apa saja benda disana pada panitia sambil melaporkan situasi kepada kalian semua. Saat Kristin menemuiku nanti, penampilanku adalah seorang laki laki berusia 50 tahun an, aku memiliki ini." Ucap Yara sembari menunjukan sebuah topeng kulit wajah sintetis yang benar benar hampir sama 90% dengan kulit manusia.
" Ini, wajah siapa ini.. " Ucap Bara terkejut.
" Ini hanya topeng kak, bukan wajah manusia sungguhan. Kalian lihat wajah ini baik baik." Ucap Yara.
Yara mengenakan topeng itu dihadapan para pria itu, dan seketika nampaklah sosok pria tua berusia 50 tahunan.
" Kakian sudah lihat?" Tanya Yara.
" Sudah" Ucap mereka serempak. Yara pun langsung mencopot topeng itu.
" Kenapa harus pria tua? Kenapa tidak wanita cantik atau pria tampan.?" Ucap Sean tak habis pikir.
" Kita akan menghadiri pameran barang antik kuno, tentu saja kebanyakan yang datang adalah orang orang berumur." Ucap Yara menjelaskan.
" Lalu saat semua orang mencurigai aku, aku akan pergi ke toilet dan berubah menjadi perempuan. Tentu saja aku butuh bantuan Ethan saat keluar nanti." Ucap Yara menatap ethan.
" Oke.. Rencana sudah disusun, malam ini kita berangkat. Ayo kalian segera kembali ke kediaman, kak Roger akan curiga jika kalian pergi terlalu lama." Ucap Yara.
" Lalu kau mau kemana?" Tanya Ethan.
" Aku ada urusan, sebelum berangkat nanti aku sudah kembali ke kediaman mu." Ucap Yara.
Ethan lagi lagi harus pasrah, karena poin perjanjiannya dengan Yara, jadi ia tidak bisa ikut campur apapun yang yara buat selama Yara tidak meminta bantuan nya.
" Baik, hati hati dan segeralah kembali. " Ucap Ethan.
" Hmm.. " Sahut Yara.
Hubungan mereka kian membaik seiring berjalan nya waktu, Yara juga tidak sedingin saat awal bertemu. Setidaknya Ethan bisa bernafas lega saat Yara mencoba mempercayai nya kembali. Dan selama hampir satu minggu Yara tinggal di kediaman Ethan , Ethan benar benar menghormati apapun keputusan Yara.
Ethan, Rayson, Sean, Jilian dan Bara pergi dari kediaman Yara. Tinggal lah hanya Jack dan Caleb disana.
" Yara kau belum memberitahu Ethan bahwa ada kakakmu dan kelompom GHOST di belakangmu?" Tanya Jackson
" Belum, aku tidak mau mereka tahu. Lagi pula setelah semua ini berakhir, aku tidak akan bertemu mereka lagi." Ucap Yara.
" Lalu bagaiman dengan kami?" Tanya Caleb.
" Oh ayolah.. kalian kelompok GHOST juga, tentu saja jika aku pergi dari sini kalian juga ikut denganku." Ucap Yara
__ADS_1
TO BE CONTINUED..