
Setelah selesai makan malam, kini mereka duduk di depan Tv. Nicholas sibuk dengan tv di hadapannya dan Vaye sibuk dengan bukunya. Sungguh pemandangan yang sangat kontras.
" Vay, dimana ayahmu? Apakah tidak apa apa aku menginap di apartemenmu?" Tanya Nicholas.
" Daddy tidak tinggal denganku, aku tinggal sendirian. Sejujurnya daddyku tidak akan mengizinkannya, kamu adalah orang pertama yang aku bawa menginap di tempat tinggalku." Ujar Vaye.
" Wah.. kamu yakin ayahmu tidak akan tiba tiba kembali, aku takut kamu dimarahi nanti." Ujar Nicholas.
" Tidak akan.. Kamu tenang saja. " Ucap Vaye.
Baru saja Vaye bilang begitu, sang daddy yang di singgung singgung itu menelepon.
" Wih, panjang umur daddy. " Gumam Vaye.
" Halo dad.." Ucap Vaye, sembari tangannya memberi kode untuk diam pada Nicholas.
" Hay, sayang. Daddy dengar dari paman Jil, kamu ikut turnamen menembak?" Tanya Ethan.
" Ah, ya.. semua orang menunjuk Vaye, jadi Vaye tidak bisa menolak. Jika daddy bilang tidak boleh, maka Vaye akan mundur besok." Ujar Vaye.
" Boleh sayang, tapi tolong jangan sampai melukai dirimu." Ujar Ethan.
" Siap, daddy.. " Ucap Vaye.
Tiba tiba telepon beralih ke suara perempuan, sudah bisa di pastikan siapa dia. Yara..
" Sayang, mommy rindu." Ujar Yara.
" Astaga mom.. Vaye sudah berusia 17 tahun sebentar lagi, dan mommy masih bicara seperti mommy bicara dengan Vaye bayi.." Ujar Vaye.
" Kamu tetap bayinya mommy, sayang.. Katakan, kamu mau merayakan ulang tahunmu ke 17 dimana? Apakah kamu akan pulang? " Ujar Yara.
" Vaye nanti pulang, mom." Ujar Vaye.
Percakapan itu berlanjut sangat lama, sampai Nicholas yang berada disana pun menatap kagum dengan kebersamaan Vaye bersama keluarganya. Meski lewat telepon, tapi perhatian orang tuanya terdengar sangat jelas.
' Mommy dan daddy nya pasti orang orang baik, hingga memiliki putri yang berhati malaikat seperti Vaye. ' Batin Nicholas.
Tak terasa Nicholas justru tertidur di sofa sambil terduduk. Sampai Vaye selesai menelepon, Vaye baru menyadari bahwa Nicholas tertidur. Vaye tidak tega membangunkan Nicholas, tapi demi kesehatan Nicholas akhirnya Vaye membangunkannya.
" Nicholas, pindahlah ke dalam." Ujar Vaye, namun Nicholas masih setiap dalam tidurnya.
" Nicholas.." Ucap Vaye sambil menepuk pelan pipi Nicholas.
Nicholas membuka matanya dan tatapan keduanya bertemu. Dan entah mengapa tiba tiba jantung Nicholas derdegup kencang melihat mata Vaye yang jingga ke emasan itu.
__ADS_1
" Nicholas .." Ucap Vaye.
" Hm.. " Nicholas tersadar dari lamunannya.
" Pindah ke kamar, tidur dengan baik jangan sambil duduk." Ujar Vaye.
" Baik, selamat beristirahat Vaye." Ucap Nicholas, dan langsung berlari meninggalkan Vaye.
Vaye sampai bingung melihat Nicholas yang tiba tiba berlari meninggalkannya.
" Apakah dia kebelet?" Gumam Vaye.
Vaye sendiri pun masuk kedalam kamarnya, besok adalah turnamen dan dia harus beristirahat sekarang. Di dalam kamar Nicholas, dia masih memegangi jantungnya yang berdegup kencang itu.
" Astaga, apakah aku terkena serangan jantung? Perasaan tadi Vaye membangunkan aku dengan pelan, tapi kenapa jantungku berdetak begini cepat. " Gumam Nicholas.
Nicholas merebahkan dirinya di ranjang, ia pun memejamkan matsnya guna ingin tidur. Tapi tiba tiba bayangan wajah Vaye melintas di di pikirannya. Nicholas membuka matanya dan kembali duduk.
" Apa kini aku di hantui Vaye? Tapi Vaye bukan hantu." Gumam Nicholas.
Sampai akhirnya matahari menyingsing, Nicholas pada akhirnya tidak bisa tidur. Pikirannya penuh dengan wajah Vaye dan mata jingganya. Nicholas saat ini tengah duduk di depan tv, dan kembali mulai mengantuk disana.
Vaye keluar dari kamarnya, ia sudah rapi dengan pakaian olah raganya dan berniat ke Gym. Vaye terkejut melihat Nicholas yang terkantuk kantuk duduk di sofa, Vaye sampai terkekeh pelan melihatnya.
" Apakah dia tidak tidur semalam?" Gumam Vaye.
Perlahan Vaye pergi keluar menuju Gym, untuk berolah raga. Vaye berkutat sangat lama disana, selama dua jam sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali naik keatas apartemen nya.
" Huft, apakah Nicho sudah bangun?" Gumamnya, sambil ter engah engah.
Vaye membuka pintu dengan sangat pelan, dan rupanya Nicholas masih setia dalam tidurnya. Vaye pun langsung masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Nicholas bangun dan terkejut melihat jam, rupanya dia keriduran lebih dari dua jam, dan saat ia hendak berlari menuju ke kamarnya tiba tiba Vaye muncul dengan tampilan sudah rapi.
" Kamu sudah rapi? Teganya tidak membangunkan aku." Ujar Nicholas.
" Aku melihatmu sepertinya semalam kamu tidak bisa tidur, jadi aku membiarkan kamu tidur dulu." Ujar Vaye.
______________________________________
Vaye dan Nicholas tiba di tempat dimana turnamen di adakan. Disana sangat ramai, lautan manusia membanjiri segala sudut.
" Vaye, kamu sudah datang." Tanya Timothy tiba tiba.
Vaye yang masih kesal akhirnya hanya menarik tangan Nicholas dan pergi menuju tempat duduk penonton.
__ADS_1
" Kau duduk disini saja, aku akan tanding disana nanti." Ujar Vaye.
" Astaga, apakah kamu mengantarku ke tempat duduk? Manisnya.." Ujar Nicholas.
" Ish, lebay.." Ujar Vaye.
Vaye pun pergi dari sana dan akhirnya ia bergabung dengan Timothy.
' Aku yakin kemarin pasti terjadi sesuatu. Hoodie yang Vaye pakai jelas jelas bau rokok, dan tidak biasanya Vaye bersikap acuh.' Batin Nicholas.
' Jika sampai benar benar terjadi sesuatu yang tidak baik.. Maka aku akan menghajar si bren*sek itu.' Batin Nicholas lagi.
Berpindah ke sisi Vaye, Vaye membuka jaketnya lalu mengikatkannya di pinggang. Karena dia satu tim dengan Timothy jadi kaos yang ia kenakan kembar dan hanya beda warna saja dengan kelas lain.
" Vaye, kamu marah padaku karena kejadian kemarin? Aku minta maaf.. Aku tidak bermaksud demikian." Ujar Timothy.
" Tidak ada, fokus pada pertandingan." Ujar Vaye dan melangkah meningvalkan Timothy.
" Nak Vaye, kamu dan Timothy bagian sana." Ujar kepala sekolah yang rupanya ikut memandu jalannya turnamen.
" Baik, pak." Ujar Vaye.
Turnamen pun berjalan, Vaye dan Timothy meraih poin paling tinggi disana. Semua penonton sangat ramai melihat itu, tak henti hentinya mereka berteriak dan bersorak menyemangati setiap tim yang ada.
' Gila... Vaye benar benar ahli menembak. Aku yakin saat Vaye tanding denganku pasti dia sengaja mengalah. ' Batin Nicholas yang menonton.
Hingga pertandingan pun berakhir dan dimenangkan oleh Vaye dan Timothy yang mencetak poin berkali kali. Tapi semua orang melihat bahwa, Vaye lebih mendominasi. Dalam Artian, Jika bukan satu tim dengan Vaye, Timothy mungkin sudah tersisihkan.
" Vaye, kamu hebat sekali.. kita menang." Ujar Timothy.
" Terimakasih." Ujar Vaye dan Vaye langsung pergi dari sana.
Timothy merasa Vaye benar benar manjauhinya. Ia beranggapan pasti Nicholas telah menceritakan sesuatu pada Vaye sehingga Vaye menjauhinya.
" Vaye, selamat.. Kamu meenang." Ujar Nicholas mengangkat kedua tangan nya untuk beradu tos, dan Vaye menyambutnya.
" Lelahnya.." Ujar Vaye, langsung duduk di tempat duduk Nicholas.
" Kenapa kamu istirahat disini? Bukankah sudah di siapkan tempat istirahat oleh panitia?" Ujar Nicholas.
" Aku lebih nyaman disini, denganmu." Ujar Vaye sambil menatap Nicholas.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Nicholas kembali berdegup tidak menentu.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..