
Yara menaruh kembali liontin giok miliknya kedalam kotak kayu itu dan memberikan nya kepada Bima.
" Nona, kenapa liontin ini di kembalikan.?" Ucap Bima.
" Saya belum siap mengetahui siapa orang tua saya. Untuk sekarang, saya ingin menyelesaikan apa yang sudah saya perbuat. " Ucap Yara.
" Tapi nona.. " Ucap Bima tertahan.
" Pak Bima, ada kalanya aku ingin menjalani hidup seperti yang aku mau." Ucap Yara singkat.
" Baiklah nona. " Ucap Bima.
" Jadi sekarang, bisakah pak Bima beri tahu aku siapa sebenarnya wanita itu.? Wanita yang menginginkan nyawaku dan tuanku.?" Ucap Yara.
" Saya tidak tahu siapa namanya, hanya semua orang memanggilnya Nyonya Evron." Ucap Bima.
" Nyonya Evron.. apakah dia seorang wanita muda.? " Tanya Yara.
" Tidak tahu, tidak ada yang pernah melihat siapa dia. Dia adalah pengendali yang baru dari kelompok mafia tersembunyi, namanya sangat di segani oleh kami. " Ucap Bima.
" Karena dia kelompok mafia tersembunyi, pasti akan sangat sulit menemukan dimana markas besar nya. Ya sudah, untuk sekarang ini saya berhutang nyawa kepada pak Bima. Terimakasih karena pak Bima tidak membunuh saya. Saya akan menyelesaikan ini semua, agar pak Bima tidak terlibat lagi." Ucap Yara meyakinkan Bima.
" Nona, ini adalah karma untuk saya. Nona tidak perlu melindungi saya. " Ucap Bima.
" Tidak bisa, pak Bima sudah seperti keluarga ku sendiri. Dan juga, masalah yang terjadi kepada pak Bima adalah karena saya. Kalau begitu terimakasih banyak pak, saya akan kembali ke kamar." Ucap Yara yang lalu pergi dari hadapan Bima.
" Tuan besar.. Lihatlah cucu yang kau latih dengan keras itu. Kini sudah menjadi gadis yang kuat. Tidak hanya tidak menangis, tapi dia juga sangat bertanggung jawab. Anda bisa beristirahat dengan tenang." Ucap Bima yang memandangi foto yang berada di meja kerja nya.
Bima memajang foto yang memperlihatkan kedekatan antara dirinya dan tuan nya serta Yara saat masih menjadi gadis kecil yang cantik.
Sementara kini Yara berada di kamarnya dan mengirim pesan kepada Ethan. Memberitahukan informasi mengenai apa yang ia ketahui dari Bima sebelumnya.
" Lewat pesan saja seharusnya tidak apa apa kan." Ucap Yara yang memandangi handphone nya.
Yara mempersiapkan diri untuk tidur, ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, tiba tiba Handphone nya berdering.
__ADS_1
" Aish..!" Ucap Yara kesal.
" Halo, kenapa kau mengirim pesan, tidak bisakah kamu menghubungiku langsung.? ingat aku adalah Bos mu. " Ucap Ethan di seberang sana.
" Maaf tuan, karena ini sudah larut malam, jadi saya tidak ingin mengganggu anda. " Ucap Yara.
" Kau dimana.? Beraninya melawan perintahku. Sepertinya aku memang terlalu baik kepadamu, hingga kau bersikap kurang ajar. Aku belum memaafkan mu untuk masalah di kantor. " Ucap Ethan.
" Saya tidak memohon maaf untuk kejadian di kantor. Saya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Jika nanti saya bisa bertemu dengan Tuan muda itu , saya akan menjelaskan nya kepada beliau." Ucap Yara.
" Kau.! Apa kau tahu apa yang sudah kau katakan.!?" Ucap Ethan marah.
" Saya tahu, bahkan sangat tahu. Saya akan bertanggung jawab dengan perbuatan saya, tapi saya tidak akan mengucapkan kata maaf." Ucap Yara tegas.
Ethan kehabisan kata kata akhirnya mematikan sambungan telepon nya.
Yara menaruh kembali handphone nya di meja. lalu ia pun bersiap tidur.
" Cih, memangnya hanya kau yang bisa marah bos, Kau saja tidak minta maaf padaku atas luka ku, masih berharap aku akan meminta maaf. Aku Yara, menjunjung tinggi kehormatan ku." Ucap Yara lalu terlelap dalam tidur nya.
" Wahhh.. Lihat! dia sungguh sudah berani kurang ajar kepadaku. Tidak profesional sekali dia itu. Apa tidak bisa mengesampingkan ego wanitanya, apa gunanya dia menyamar menjadi pria, sifatnya masih seperti wanita." Ucap Ethan yang emosi.
Ethan berkacak pinggang dan mengomel sendiri di ruang kerja nya. Ya, Ethan masih berada di ruang kerja nya, ia sedang memeriksa sesuatu. Hingga ada panggilan dari Yara.
" Tunggu dia kembali, aku akan menghukumnya dengan pekerjaan berat. " Ucap Ethan.
Ethan pergi keluar untuk mengambil bir, baginya minum bir sudah seperti minum air. Ia sama sekali tidak pernah mabuk meskipun minum berapa banyak bir pun. Kekuatan nya terhadap alkohol sangat tinggi.
" Selamat malam tuan." Ucap penjaga yang berpatroli di dalam penthouse nya.
Ethan hanya menganggukkan kepala nya tanpa ekspresi sama sekali. Selain terkenal karena ketampanan dan kekayaan nya, Ethan memang terkenal dengan sifat kejam, dingin dan sombong nya.
Setelah kembali ke ruang kerja nya, Ethan memeriksa nama orang yang di sebutkan Yara lewat pesan singkat itu.
" Nyonya Evron.. Leon juga memanggilnya dengan sebutan nyonya. hanya tidak ada yang tahu seperti apa wajahnya. Bisa mendirikan sebuah kelompok mafia tersembunyi dan pasukan elit yang terlatih, dia pasti bukan wanita biasa. Ngomong ngomong , dapat dari mana dia info sepenting ini." Ucap Ethan yang bertanya tanya tanya.
__ADS_1
Tiba tiba Handphone nya kembali berbunyi, dan muncul sebuah pesan.
" Apa semua orang sekarang ini sangat suka mengetik.? Informasi banyak dan sepanjang ini mereka mengetiknya dengan jari. Mahir sekali sekali mereka. !" Ucap Ethan yang kembali kesal setelah menerima pesan dari Bara. Ethan pun langsung menghubungi Bara.
" Katakan dengan jelas apa yang terjadi. Aku malas membaca pesan. " Ucap Ethan.
"Ternyata kau belum tidur.? Aku tidak bisa mengatakan nya langsung, informasi ini sangat sensitif. Jadi lebih baik aku mengirim lewat pesan. " Ucap Bara menjelaskan.
" Ya sudah." Ucap Ethan yang langsung memutuskan sambungan telepon nya.
Ethan langsung membaca pesan dari Bara.
" Jadi Leon ini hanya salah satu orang yang di manfaatkan saja. Bisa membuat Leon tunduk, identitas nyonya Evron ini jelas sangat di segani. Aku akan tanyakan kepada kakek nanti. " Ucap Ethan.
Ethan membaca nama nama orang yang juga terlibat didalam kelompok itu. dan menemukan sebuah nama yang familiar.
" Davis Todd dan Bima Laksmana.. kenapa mereka juga ada di daftar nama ini.. Sebenarnya apa yang terjadi. " Ucap Ethan.
Ethan bingung sendiri, Davis Todd adalah mendiang kakek angkat Yara, dan juga teman baik kakek nya. Dan nama yang satu lagi adalah nama asisten dari Davis yang juga sangat ia kenal dengan baik.
" Sebenarnya apa yang orang itu incar.? Apa ini dendam di masa lalu.? Tapi mengapa di mengincar nyawaku.? " Ucap Ethan yang semakin bingung.
Ethan meneguk habis bir di gelas , lalu ia menyandarkan dirinya di kursi dan memejamkan matanya dengan kepala menengadah keatas.
Tak terasa Ethan justru ketiduran. Namun tidurpun ia sangat gelisah. Wajahnya berkeringat dingin, dengan bibir yang bergumam.
" Bukan aku.. kak, bukan aku. " Gumam Ethan dalam tidurnya.
" Selamanya, kau adalah pembunuh.!"
" Huh.. huh.. Mimpi buruk itu lagi." Ucap Ethan yang mengusap kasar wajahnya.
" Kapan aku akan terbebas dari mimpi itu." Ucap Ethan..
TO BE CONTINUED..
__ADS_1