Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 188. SEASON 2. DI TAMPAR.


__ADS_3

Karena kejadian itu, sekolah sungguh di buat heboh, anehnya.. Guru yang mengajar mereka kemarin dan juga kepala sekolah yang lama tidak berada disana. Mereka mengundurkan diri dengan alasan mereka masing masing.


" Kenapa kasus seperti ini mencuat baru sekarang?? kita baru saja menghirup udara kelas baru." Ujar Nicholas.


Saat ini Vaye dan Nicholas berada di ruang kepala sekolah, dan mereka sedang menunggu kepala sekolah itu datang.


" Aku merasa ada keanehan yang terjadi." Ujar Vaye.


CKLEK!


Suara pintu terbuka.


Kepala sekolah dan dua orang lain masuk kedalam ruangan itu dan tiba tiba..


PLAK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Vaye.


" Hei!! Apa apaan anda?? Beraninya menyakiti siswa di sekolah!" Teriak Nicholas.


" Kalian!! Kalian yang telah merundung anakku bukan! Lini menangis menghubungi saya karena dia dirundung." Ujar perempuan paruh baya yang rupanya ibunya Lini.


" Ha?? Apa anda tidak salah bicara?? Anak anda menyebar fitnah tentang kami, kami hanya bertanya apa salah kami padanya, Vaye bahkan memeluk dia, bagaimana bisa kami di sebut merundung." Ujar Nicholas.


" Nyonya, anda boleh memarahi kami, tapi anda salah jika harus menyerang secara fisik. Lini yang menyebar fitnah, aku hanya bertanya dimana salahku." ujar Vaye.


" Alasan!! mana ada maling mengaku." Ujar ibu Lini.


" Memangnya kita maling apa?!" Ucap Nicholas kesal.


" Itu ibarat kata." Ucap ibu Lini, kesal.


" Kenapa harus pakai ibarat kata." Ujar Nicholas dan ibu Lini kehabisan kata kata.


" Undang orang tua dua anak ini pak, supaya mereka tahu kelakuan anak anak mereka di sekolah." Ujar ayah Lini angkat bicara.


Baik Nicholas maupun Vaye, keduanya terdiam. Nicholas tidak mungkin menyuruh Pras datang, bergitu juga dengan Vaye yang tidak mungkin menyuruh Ethan dan Yara datang.


" Kami akan urus itu nyonya, tolong anda kendalikan diri anda." Ujar kepala sekolah.


" Nicholas, Vaye.. Kalian mau mengakui kesalahan kalian dan mengulangi ujian lalu lanjut belajar, atau mendapat hukuman berupa kembali ke kelas lama kalian." Ujar kepala sekolah.


" Ketentuan macam apa itu?? Apakah anda sungguh kepala sekolah? Ujian akhir bahkan sudah lewat, anda ingin mempermalukan kami berdua?" Ucap Nicholas.


" Kami tidak bersalah sama sekali, atas dasar apa kami harus menerima hukuman? Anda kepala sekolah seharusnya anda memeriksa kejadian ini terlebih dahulu, bukan langsung menghakimi kami." Ujar Vaye.


" Di ruang guru pasti terdapat cctv bukan?? Tanyakan pada Lini, hari apa dan pukul berapa dia melihat saya masuk keruang guru untuk memotret kunci jawaban milik guru. Jika sungguh ada saya disana, maka anda berhak menghukum saya." Ujar Vaye. Baik kepala sekolah dan orang tua Lini terdiam.


" Baik, kita akan periksa rekaman cctv. Untuk hari ini, kita selesai sampai disini silahkan pulang." Ujar Kepala sekolah.


Vaye semakin merasa ada keganjilan disini. Vaye menatap kepala sekolah dan kedua orang tua Lini, lalu kemudian ia pergi dari ruang kepala sekolah.


" Apakah sakit? Astaga, pipimu merah sekali." Ujar Nicholas menyentuh pipi Vaye.


" Tidak apa apa, nanti aku kompres pakai es." Ujar Vaye.


" Sekarang saja, tunggu disini." Ujar Nicholas, dan langsung berlari menuju kantin.

__ADS_1


Vaye akhirnya duduk sendirian di sisi lapangan, tiba tiba Terlihat Timothy yang berjalan menuju kearah Vaye.


' Mau apa lagi dia.' Batin Vaye.


" Kamu tidak apa apa?? Aku dengar kamu di panggil kepala sekolah." Ujar Timothy.


" Aku tidak apa apa." Ujar Vaye.


" Astaga, kenapa dengan pipimu?" Ucap Timothy, tangan nya terulur hendak menyentuh pipi Vaye namun Nicholas mencekalnya.


Keduanya bertatapan dengan pandangan permusuhan, Nicholas langsung menghempaskan tangan Timothy begitu saja.


" Apakah masih sakit?? Kemari, biar aku kompres." Ujar Nicholas.


" Aku bisa sendiri." Ujar Vaye, namun Nicholas memaksa untuk mengompres Vaye.


" Jangan keras kepala, besok saat bukti nya sudah ada, orang tua Lini pasti malu sendiri. Kurasa Lini memiliki gangguan mental juga sepertiku, bisa bisanya dia berbuat seperti itu hanya karena nilainya dan ranking nya tergeser." Ucap Nicholas.


" Apakah orang tua Lini yang melakukan ini?" Tanya Timothy.


" Apa pedulimu? jangan ikut campur." Ujar Nicholas dengan tatapan tajam.


" Jangan seret dirimu, Timothy. Kami bisa menyelesaikannya sendiri." Ujar Vaye.


" Baikkah, aku pergi dulu.. bye Vaye." Ujar Timothy, lalu pergi


" Ayo kita pulang." Ujar Nicholas, dan. Vaye mengangguk.


" Kamu bisa menyetir?" Tanya Nicholas.


" Aku tidak selemah itu, Nicholas." Ujar Vaye terkekeh.


Mereka pun akhirnya berpencar, Vaye masih merasa penasaran dengan pergantian kepala sekolah itu, juga.. Guru yang sebelumnya mengajar di kelas lama tiba tiba tidak terlihat. Ia yakin ada sesuatu disini.


" Jika aku bertanya pada paman Jil, yang ada paman Jilian akan melapor ke daddy. Tapi jika tidak, sekolah paman Jil akan tercemar oleh manusia manusia seperti kepala sekolah yang baru." Gumam Vaye sambil menyetir.


Dia dilema sekarang, satu satunya cara adalah Vaye harus menunggu hingga besok saat bukti cctv itu di putar. Hingga akhirnya Vaye sampai di basment apartemen nya.


RING.. RING..


Ponsel Vaye berdering.


" Paman Ray, apakah dokter itu sudah kembali?" Gumamnya, ia memasang ear piece nya di telinga dan mengangkat panggilan itu.


" Halo paman.." Ucap Vaye.


" Vaye, dokter psikiatri yang Nicholas tunggu sudah datang, saat ini paman sedang bersama beliau di rumah sakit. Katakan pada Nicholas apakah Nicholas bisa menemui kami? " Tanya Rayson.


" Vaye akan hubungi dia paman, apakah paman dan dokter itu masih memiliki waktu lama? Kami baru pulang sekolah." Ujar Vaye.


" Masih, sayang.. Jangan buru buru." Ujar Rayson.


" Oke, Vaye hubungi Nicholas dulu. Terimakasih paman." Ujar Vaye.


" Oke, bye Vaye. " Ucap Rayson, dan panggilan di akhiri.


Vaye langsung menghubungi Nicholas yang kebetulan Nicholas juga baru sampai di halaman rumahnya.

__ADS_1


" Halo Vay.. " Ucap Nicholas setelah mengangkat panggilan Vaye.


" Kau dimana? Dokter untuk ibumu sudah ada di rumah sakit. Apakah kau mau kesana sekarang? Dia masih memiliki banyak waktu." Ujar Vaye.


" Sungguh? Kalau begitu aku akan kesana sekarang." Ujar Nicholas tersenyum senang.


" Oke.." Ujar Vaye. Dan panggilan pun di akhiri.


Nicholas langsung kembali melajukan motornya tanpa terlebih dahulu berganti pakaian atau bahkan masuk kedalam rumahnya, seteleh beberapa menit ia pun sampai di rumah sakit. Nicholas terkejut melihat Vaye berdiri di depan loby.


" Kamu disini??" Tanya Nicholas.


" Hum, aku juga ingin bertemu dengan dokter hebat itu. " Ujar Vaye, salah tingkah.


" Yakin?? Bukan karena kepo dengan kondisiku??" Tanya Nicholas sambil terkekeh.


" Come on.. Kau temanku tapi aku tidak boleh tahu kondisimu, kejam sekali." Ujar Vaye.


" Baiklah.. baiklah.. Ayo, jika kamu mau tahu kondisi mentalku." Ucap Nicholas.


Siapa yang menyangka, Nicholas yang terkenal sangat kasar dan kejam. Saat dia emosi sedikit dia langsung memghajar orang yang membuatnya kesal, bisa berubah menjadi begitu berhati setelah kehadiran Vaye.


Perlahan tapi pasti, Vaye menyalurkan sisi posistifnya pada Nicholas dan membuat Nicholas yang sebelumnya begitu tempramental itu bisa mengendalikan emosinya.


TOK.. TOK.. TOK..


Suara pintu di ketuk, Vaye pun membuka pintu itu.


" Halo.." Ujar Vaye.


" Halo, Vaye.." Ujar Rayson.


Keduanya duduk di ruangan Rayson yang sangat luas, jangan lupakan Rayson pemilik rumah sakit itu.


" Halo, saya dokter Abraham." Ujar sang dokter.


" Saya Nicholas, dok." Ujar Nicholas.


" Baik.. dimana ibumu??" Tanya Abraham.


" Ibuku di rumah, dok. Saya tidak mungkin membawanya keluar, karena kondisinya.." Ujar Nicholas.


" Saya mengerti, bisa kamu ceritakan pada saya awal mula ibumu begitu??" Tanya Abraham.


" Sebelum itu, dok.. bisakan anda membantu saya juga? Saya mengalami gangguan mental karena trauma masalalu saya, dan sampai sekarang rasa takut itu belum hilang. " Ujar Nicholas.


Dan Abraham terkejut, baru kali ini dia menemui pasien sakit mental yang mengakui dirinya di hadapan orang lain, dan Abraham mengangguk.


" Mari kita gunakan hipnotis, agar kamu bisa bercerita dengan tenang." Ucap Abraham, Nicholas mengangguk.


Nicholas sudah hilang dalam alam bawah sadarnya dan ia menceritakan semua cerita masalalunya sambil tangannya gemetar, bahkan Nicholas menangis.


Vaye menggenggam tangan Nicholas, dan anehnya itu membuat kekuatan tersendiri bagi Nicholas, Rayson dan Abraham yakin bahwa Vaye lah pemicunya, pemicu ketenangan pada diri Nicholas.


" Dia bisa tenang hanya karena genggaman tanganmu, nak." Ujar Rayson.


" Bukan, paman.. Dia selama ini selalu sendirian, dia hanya butuh orang yang mendukung dirinya dan mendengarkan dirinya. " Ucap Vaye.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2