
Vaye kembali ke kelasnya ketika jam istirahat berakhir. Tapi ia tak melihat keberadaan Nicholas, hanya ada Timothy yang tersenyum kearahnya. Hingga jam pelajaran di mulai dan berakhir, Nicholas tidak kembali ke kelas.
" Vaye, kamu mau kemana?" Tanya Timothy ketika melihat Vaye yang justru berjalan lurus tidak menuju pintu keluar.
" Perpustakaan." Ucap Vaye.
" Oh, kalau begitu aku duluan, ya? " Ucap Timothy.
" Hm, hati hati di jalan." Ucap Vaye.
Vaye pun pergi dari sana. Timothy menatap kepergian Vaye, sejujurnya ia ingin ikut dengan Vaye hanya saja ada hal penting lain yang harus ia lakukan.
Vaye sampai di perpustakaan, ia mencari cari buku yang berkaitan dengan pelajarannya. Pada dasarnya Vaye memanglah rajin dan cerdas, juga jenius. Tidak heran ia sudah lulus sekolah menengah atas saat usianya 15 tahun.
Saat ia tengah membaca baca buku, pandangannya sedikit terganggu oleh kaca mata tebalnya. Ia pun melepas kaca mata itu, karena tidak ada orang lain disana.
Tapi siapa sangka, ternyata Nicholas ada disana, dan melihat wajah Vaye yang tanpa kaca mata itu. Sangat cantik, tanpa sedikitpun terlihat cupu.
' Dia sebenarnya minus atau tidak? Kenapa dia pakai kaca mata tapi justru di lepas saat membaca.' Batin Nicholas.
Namun semakin Nicholas melihatnya, semakin manis. Apalagi ketika Vaye tersenyum sambil membaca bukunya. Rambut hitam Vaye yang panjang di ikat asal, terlihat sangat indah dimata Nicholas.
Vaye sibuk dengan bacaan nya, Nicholas sibuk dengan pemandangan dihadapannya, yaitu Vaye. Hingga keduanya tak menyadari bahwa jam sekolah sudah benar benar berakhir dan tidak ada kagi orang di sekolah.
" Hoamm.." Vaye menguap.
Vaye mengenakan kembali kaca mata tebalnya, lalu ia berjalan menuju pintu keluar. Saat ia hendak membuka pintu, rupamya terkunci dari luar.
" Aduh, terkunci.." Gumam Vaye.
" Halo!! Apakah ada orang.. tolong buka kan pintu ini." Teriak Vaye.
Vaye melihat jam di tangannya, dan sudah menunjukan pukul 17.55 dimana sudah pasti tidsk ada orang lagi di sekolah.
" Aih, bodoh." Ucap Vaye.
Nicholas tersenyum mendengar Vaye yang berkomat kamit sendiri. Vaye tetap tenang dan mengecek satu persatu jendela, tetapi rupanya semuanya terkunci.
" Masa aku tidur di perpustakaan. Mana ponselku hampir habis baterai pula." Gumamnya.
TEP!
Lampu sekolah semuanya mati secara otomatis karena sudah jam 18.00.
Vaye melihat kesekelilingnya yang gelap gulita, tapi ia sama sekali tidak takut. Vaye dengan tenang mencari cari jalan keluar lain menggunakan senter ponsel nya.
' Bisa bisanya dia seorang gadis tidak takut di tempat gelap. Jika gadis lain mungkin akan berteriak hingga pingsan.' Batin Nicholas.
Nicholas berjalan menghampiri Vaye, dan hendak menakuti Vaye, tetapi Vaye dengan gerakan cepatnya menarik tangan Nicholas dan hendak membantingnya.
" Hei! ini aku.." Ucap Nicholas.
Beruntungnya Vaye mengentikan gerakannya, sebelum Nicholas benar benar di banting ke lantai.
" Kamu? Kenapa kamu disini?" Ucap Vaye.
__ADS_1
" Sejak siang aku disini. Kamu ini kenapa suka sekali membantingku, kamu pikir aku karung beras?" Ucap Nicholas, protes.
" Suruh siapa kau mengendap endap, mana aku tahu itu dirimu. Kau bilang kau sejak siang disini? Kenapa aku tidak melihatmu?" Ujar Vaye.
" Kamu terlalu fokus dengan bukumu." Ucap Nicholas.
Hening.. mereka kini saling bingung sendiri bagaimana caranya keluar.
" Apakah kamu tidak tahu cara keluar dari sini?" Tanya Vaye.
" Aku tidak pernah terkurung sebelumnya disini, jadi jawabannya tidak." Ucap Nicholas.
" Haih.. Ponselku habis baterai, apa kau ada ponsel?" Ucap Vaye.
" Untuk apa?" Tanya Nicholas.
" Senter, jika ponselku mati maka kita akan gelap gelapan disini." Ujar Vaye.
" Oh.." Sahut Nicho dan merogoh saku nya mencari ponsel. Tapi tidak ada dimana pun.
" Kemari." Ucap Nicholas menarik tangan Vaye, dan mengambil ponsel Vaye lalu menyorotkannya ke tempat dia duduk sebelumnya.
" Tidak ada disini, Astaga.. aku meninggalkannya dalam tas sekolah." Ucap Nicholas.
" Haih.. ayo cari jalan keluar sebelum baterai ponselku benar benar habis.
Vaye dan Nicholas pun mengecek kembali satu persatu jendela perpustakaan, sesekali Nicho berteriak meminta tolong walau tidak ada yang datang.
" Buntu.." Gumam Vaye.
Dan setelah mengatakan itu, baterai ponselnya mati. Ruangan menjadi begitu gelap gulita, tidak ada sedikitpun pencahayaan, kecuali cahaya bulan yang sedikit menembus kaca perpustakaan.
" Aku tidak takut apapun." Ucap Vaye.
Jika Vaye berkata demikian, maka kebalikan dengan Nicholas. Saat ini tubuh Nicholas gemetaran. Kejadian mengerikan di masalalunya kembali terngiang.
Tetapi ia mencoba untuk tetap tenang, karena ia tidak mau Vaye atau siapapun melihat sisi lemahnya, walau kenyataan nya Vaye sudah melihatnya kemarin.
Vaye melangkahkan kakinya guna kembali mengintip dari jendela, tetapi hal itu membuat Nichoals semakin gemetar. Entah mengapa siluet Vaye yang perlahan menjauh itu mengingatkan nya dengan kejadian sebelum dia kehilangan kakaknya 3 tahun yang lalu.
Kakaknya meninggal tepat di hadapannya, ketika mereka tengah bersembunyi dari kejaran preman. Dan dipukuli hingga tewas oleh preman itu.
" Vaye!" Ucap Nicholas, dan hal itu menghentikan langkah Vaye.
" Huh? Ada apa?" Tanya Vaye berbalik.
" Tetaplah disini." Ucap Nicholas menahan gemetar di tubuhnya.
" Aku ingin melihat barang kali ada.."
SET..
Nicholas menarik tangan Vaye dan memeluknya erat. Vaye tekejut dengan aksi tiba tiba Nicholas yang menariknya. Ia hendak memberontak, namun Nicho mengeratkan pelukanya.
Vaye merasakan tubuh Nicho yang gemetaran hebat. Ia pun memeluk balik Nicholas.
__ADS_1
" Kau takut gelap?" Tanya Vaye. Dan Nicholas mengangguk.
" Tenanglah, ada aku." Ujar Vaye.
Lucu memang, seharusnya pria yang berkata begitu pada wanita. Tapi dalam kasus Vaye dan Nicholas.. bisa dikatakan lain dari yang lain.
Vaye menepuk nepuk punggung Nicholas, bagaimanapun tinggi Vaye hanya sebatas ketiak Nicholas jadi Nicholas sedikit membungkuk.
" Kau sudah merasa lebih baik?" Ucap Vaye.
" Hmm.." Sahut Nicholas.
Vaye melepaskan pelukan Nicholas, walau itu gelap, tapi Vaye bisa melihat bahwa mata Nicho basah, yang artinya Nicho menangis.
" Jangan takut, ada aku. Kau bisa menggandeng tanganku jika kau takut." Ucap Vaye.
Vaye menggandeng tangan Nicholas, dan berbalik menghampiri jendela untuk mengetok kaca jendela disana.
" Hei!!! Apakah ada orang?" Teriak Vaye, sambil memukuli kaca jendela dengan tangannya.
Nicho terus menatap tangannya yang di genggam tangan Vaye, ia menjadi lucu sendiri. Lagi lagi Vaye melihat sisi lemah nya. Tangan kecil itu, menggenggam tangan nya dengan erat, seakan tidak akan lepas.
Tiba tiba terlihat lampu senter yang menyorot kearah mereka.
" Pak!! Hei! Pak!! Tolong kami terkunci." Teriak Vaye.
" Apakah ada orang disana?" Teriak penjaga.
" Pak!! Saya terkunci di perpustakaan." Teriak Vaye.
" Loh, loh.. Kok kalian bisa terkunci di dalam toh.. sebentar saya buka kan." Ucap Penjaga.
Akhirnya pintu pun terbuka, Vaye langsung menarik Nicholas keluar dari sana.
" Terimakasih pak." Ucap Vaye.
" Aduh, untung saya keliling kemari. Kenapa kalian bisa terkunci disini?" tanya penjaga.
" Saya sedang mencari buku, dan tidak sadar jika pintu sudah di kunci. Kebetulan teman saya ada didalam juga." Ucap Vaye.
" Oalah, baiklah.. ini sudah malam, kalian pulanglah." Ucap penjaga itu.
" Ya, terimakasih pak." Ucap Vaye.
Nicholas sejak tadi hanya diam, dia tidak berbicara sedikitpun. Hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat parkir sekolah, dan Vaye melepaskan gandengan tangannya dari Nicholas.
" Huft.. Kau bisa mengemudikan motormu?" Ucap Vaye, tetapi Nocholas masih diam, ia justru memandangi tangannya yang sudah tak di gandeng Vaye.
" Lupakan, cepat masuk." Ucap Vaye.
" Kemana?" Tanya Nicholas, akhirnya berbicara.
" Ke mobilku, kita pulang bersama. Dari pada terjadi sesuatu padamu dijalan." Ucap Vaye.
Nicho sedikit tersenyum, lalu ia pun masuk kedalam mobil Vaye. Dan Vaye melajukan mobilnya keluar dari parkiran sekolah. Mereka keluar dari sana sekitar pukul 19.20.
__ADS_1
' Dia bisa membuat aku tenang, padahal aku selalu mengganggunya. Dan lagi lagi.. dia tahu sisi lemahku. ' Batin Nicholas merasa lucu sendiri.
TO BE CONTINUED..