
Ke esokan harinya, Nicholas menunggu Vaye seperti biasa di seberang jalan. Dan tak lama Vaye muncul dengan senyum manis nya.
" Pagi." Ujar Vaye.
" Pagi, siap untuk berperang dengan angka angka yang memusingkan kepala?" Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Ya, math adalah hal yang memusingkan, tapi itu menarik bagiku. Sangat menantang." Ujar Vaye.
" Ck.. Mentang mentang jenius." Ujar Nicholas.
Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah, Vaye tidak menceritakan apa yang dialaminya semalam, ia juga tidak menceritakan pada Nicholas tentang cctv yang berhasil dia sabotase.
Sesampainya di sekolah, Nicholas bertemu dengan Jilian dan Nicholas menyapa menggunakan panggilan paman.
" Pagi paman kepala sekolah." Ujar Nicholas.
" Pagi, nak." Ujar Jilian.
Vaye tentu mengernyit bingung, sejak kapan Jilian dan Nichiolas begitu akrab.
" Kalian... sejak kapan menjadi akrab?" Ujar Vaye, dan hanya di balas senyuman dan kekehan dari Jilian dan Nicholas.
" Akan aku ceritakan nanti." Ujar Nicholas.
" Bye paman." Ujar Nicholas dan menarik tangan Vaye pergi dari sana.
" Ada apa ini?? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang telah aku lewatkan." Ujar Vaye.
" Cerewetnya.. Nanti aku ceritakan." Ujar Nicholas.
" Ish, cerewet kepalamu, aku baru bertanya." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.
Nicholasa sedang bahagia, dia dan ibunya tidak lagi sendirian di dunia ini. Apalagi Jilian adalah orang yang hebat, Nicholas akan merasa tenang, jika kelak terjadi sesuatu padanya, setidaknya sang ibu akan aman dan baik baik saja bersama Jilian.
" Vaye, apakah semalam kamu sampai rumah dengan aman?" Tanya Timothy tiba tiba.
Vaye tantu terkejut, ia berencana untuk tidak membaeri tahu Nicholas, tapi Timothy justru mengungkit itu sekarang.
" Kamu semalam memang dari mana?" Tanya Nicholas.
" Emm.. " Vaye bingung.
"Vaye, apakah preman itu mengejarmu? Kamu terlihat ketakutan. " Tanya Timothy.
Dan Vaye semakin merasa tidak enak saja, Nicholas juga saat ini menatap serius kearahnya. Nicholas tentu khawatir terjadi sesuatu kepada Vaye.
" Vaye apakah telah terjadi sesuatu kepadamu? Kamu dari mana semalam?" Tanya Nicholas.
__ADS_1
" Aaku baik baik saja Timothy, terimakasih telah menolongku semalam." Ujar Vaye. Vaye menarik tangan Nicholas dan langsung pergi dari sana,
Nicholas langsung melepaskan tangan Vaye setelah mereka berdua sampai di koridor yang sepi, lalu Nicholas menatap tajam kearah Vaye seakan meminta penjelasan.
" Aku menyelidiki pelaku yang sudah menyiksa Bagas di toilet, dan aku melihat seseorang yang terekam cctv membawa tongkat bisbol dan terdapat darah pada ujung tongkat itu. Aku yakin orang itu yang melukai Bagas, dan karena itu aku ke rumah sakit guna memastikan penyebab luka yang dialami oleh Bagas. " Ujar Vaye.
" Tapi ibu Bagas mengatakan bahwa luka itu karena Bagas terjatuh di toilet karena panik. Tapi aku yakin itu bukan luka terbentur , melainkan di pukul. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, dan saat aku keluar dari kamar rawat Bagas, aku berpapasan dengan orang yang mencurigakan." Ucap Vaye lagi.
" Lalu aku mengejarnya.."
" Kamu mengejarnya? Astaga Vaye, apakah kamu tidak takut bahaya?! Bisa bisanya kamu mengejar orang mencurigakan yang tidak di kenal. " Ujar Nicholas memotong ucapan Vaye.
" Aku hanya yakin bahwa orang itu memiliki niat yang buruk kepada Bagas, dia berjalan kearah kamar Bagas dan dia langsung berputar arah ketika melihat diriku. " Ujar Vaye.
" Lalu bagaimana jika orang itu menyakiti dirimu? Apakah kamu tidak memikirkan keamanan dirimu sendiri?" Ucap Nicholas marah.
Nicholas menghela nafas, ia tidak bermaksud untuk memarahi Vaye, dia hanya terlalu khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepada Vaye.
" Maaf... " Ujar Nicholas.
" Tapi tidak perlu sampai menggunakan intonasi yang tinggi juga, kan? Aku hanya ingin mencari kebenaran itu." Ucap Vaye.
" Aku, tahu.. tapi bisakah kamu tidak membahayakan dirimu sendiri? Aku tidak mau terjadi seduatu padamu karena.. " Ucapan Nicholas menggantung.
" Karena apa?" Tanya Vaye, Tapi Ncholas malah terlihat gugup sendiri.
" Karena apa, Nicholas." Ujar Vaye menatap dalam dalam mata Nicholas.
Entah mengapa jantung Nicholas menjadi berdebar tidak karuan, ia takut dan khawatir di saat bersmaan juga ada rasa aneh yang mengganjal dihatinya, tapi akhirnya ia memberanikan dirinya untuk..
CUP!!
Nicholas mencium bibir Vaye, Vaye tentu saja terkejut dengan tindakan tiba tiba Nicholas.
" Karena aku mencintaimu, Vaye. Aku tidak mau sesuatu sampai terjadi pada dirimu. Aku akan merasa sangat bersalah jika itu terjadi." Ujar Nicholas dengan tatapan serius.
Nicholas memeluk Vaye, dan diam diam Vaye tersenyum namun ia tidak membalas pelukan Nicholas. Entah mengapa ada seperti kupu kupu yang berterbangan di perutnya, seperti kembang api yang meletus dengan indah.
" Jika kamu tidak mencintaiku, tidak apa apa. Setidaknya aku sudah memberanikan diriku untuk jujur padamu. Dan lupakan apa yang aku katakan jika itu membebanimu, aku tidak mau pertemanan kita hancur karena perasaanku padamu." Ujar Nicholas.
" Biarkan aku sendiri yang mencintaimu." Ujar Nicholas lagi, hingga akhirnya ia melepaskan pekukan nya dari Vaye.
Nicholas menatap bingung Vaye yang terlihat senyum senyum sendiri sambil menatap dirinya.
" Manisnya.. Tapi payah, masa tidak mau berjuang." Ujar Vaye.
" Berjuang?? " Tanya Nicholas bingung.
__ADS_1
" Hmm.. Setidaknya kamu harus menunjukan ketulusanmu bukan? Masa kamu baru menyatakan perasaan dan langsung mundur begitu saja tanpa tahu jawabanku." Ujar Vaye.
" Karena aku tahu, kamu tidak mungkin menyukai orang seperti diriku." Ujar Nicholas.
" Cih, sok tahu.. " Ujar Vaye.
"Ha??? Jadi maksudmu.." Ujar Nicholas menggantung, dan Vaye hanya tersenyum manis kearah Nicholas lalu berlari pergi.
" Hei!! mau kemana kau? Jawab aku.. Vaye." Teriak Nicholas.
Vaye malah terbahak dan berlari masuk kekelas. Nicholas menahan senyumnya, wajahnya merah padam saat ini.
" Apakah aku di terima? Astaga.." Gumam Nicholas sambil menyentuh bibirnya, lalu pergi dari sana.
Saat masuk kelas, Nicholas menatap Vaye dengan senyum senyum, begitu juga Vaye. Timothy pun merasa heran dengan keanehan keduanya itu, tapi tak lama akhirnya guru pun datang.
' Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta, entah mengapa ada perasaan bahagia yang membuncah.' Batin Vaye.
' Astaga.. Apakah aku sungguh sudah menjadi kekasih Vaye?? Aku tidak percaya.' Batin Nicholas.
Keduanya saling tenggelam dalam perasaan masing masing hingga akhirnya jam istirahat dimulai.
" Vaye, mau ke kantin bersamaku?" Ujar Timothy.
" Dia akan ke kantin denganku, ya kan.. Sayang." Ujar Nicholas dengan tatapan penuh sayang pada Vaye.
Timothy terkejut, semua orang juga terkejut. Nicholas memanggil Vaye dengan sebutan sayang.
" Kamu memanggil Vaye dengan sebutan sayang, yang tidak tahu takutnya akan salah paham, kau hanya teman Vaye." Ujar Timothy.
" Sayangmya aku bukan teman Vaye lagi.." Ucap Nicholas.
" Dengar, hari ini aku umumkan.. Bahwa aku dan Vaye sudah jadian. Kami resmi menjadi sepasang kekasih, silahkan makan sepuas kalian di kantin, aku yang bayar." Ujar Nicholas. Dan semua orang di kelas itu langsung riuh dan heboh.
" Ayo.." Ujar Nicholas memberikan tangan nya pada Vaye.
Wajah Timothy menjadi datar dan menatap Vaye seakan meminta jawaban bahwa itu tidak benar. Sayangnya Vaye menggandeng tangan Nicholas dan pergi dari sana. Timothy pun mengepalkan tangannya.
" Aku belum memberimu jawaban, lho.." Bisik Vaye, seketika Nicholas menjadi pias.
" Apa maksudmu? Tapi pagi tadi kamu tersenyum padaku." Ujar Nicholas.
" Jadi kamu tisak mau mendengar jawabanku??" Tanya Vaye.
" Aku mau." Ujar Nicholas.
Vaye pun menghentikan langkahnya, dan Nicholas menatap Vaye serius. Vaye memberi kode agar Nicholas membungkukan badan nya menggunakan tangan, lalu berbisik di telinga Nicholas.
__ADS_1
" I Love you Nicholas Levi." Ujar Vaye dan langsung berlari.