Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 160. SEASON 2. Kita teman.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Vaye hanya fokus menyetir. Sementara itu, Nicholas benar benar tidur dengan lelap. Bamun tiba tiba Nicholas seperti bermimpi buruk, tangannya mengepal dan bergetar hebat.


Vaye yang melihat itu pun berusaha membangunkan Nicholas, kata orang.. saat kita melihat seseorang yang sedang bermimpi buruk dan mengigau ketakutan, harus segera di bangunkan. Vaye mencoba membangunkan Nicholas sambil mengemudikan mobilnya.


" Nicholas.. Nicholas, bangun." Ujar Vaye.


Sayangnya posisi jalan sedang macet saat ini, jadi Vaye sedikit kesulitan membangunkan Nicholas.


" Kakak... Kakak..." Gumam Nicholas.


Di mimpi Nicholas saat ini adalah Nicholas melihat kakak nya meregang nyawa. Nicholas begitu ketakutan saat itu, dan menjadi mimpi buruk Nicholas setiap hari.


" Nicholas, hey.. Nicho kau mendengarku? Nicho.. tidak apa apa, semua akan baik baik saja, itu sudah berlalu." Ujar Vaye, seakan tahu apa yang Nicholas alami.


Vaye menggenggam tangan Nicholas, berharap bisa menenangkan Nicholas dan benar.. setelah beberapa saat Nicholas pun menjadi tenang.


' Astaga! badan nya panas sekali.'


Vaye keluar jalur tol, dan menuju ke rumah sakit saat ini, dia tidak mungkin membawa Nicholas yang sakit pulang ke apartemen. Sesampainya di rumah sakit, Vaye mencoba membangunkan Nicholas, tapi tidak bisa. Alhasil Nicho di dorong menggunakan brankar rumah sakit.


' Dia sakit saja masih mengajak tanding renang, betapa bodohnya. ' Batin Vaye.


Nicholas di infus, dan Vaye membayar biaya rumah sakit. Saat Vaye sedang mengisi formulir, seseorang menepuk pundaknya.


" Vaye?" Ujar suara yang begiti maskulin nya.


Vaye pun menengok dan terkejut melihat serang pria berjubah dokter di hadapannya.


" Paman Ray?" Ucap Vaye.


Ray, Rayson.. Rayson menjelma menjadi laki laki dewasa yang sangat matang. Rayson sudah menjadi seorang dokter sekarang, dia juga pemilik rumah sakit itu. Jangan lupa, dia pewaris keluarga Silvester yang merambah di bidang medis.


Rayson begitu tampan dengan jubah dokternya, rambutnya yang dulu hitam kini mulai sedikit beruban. Tapi itu tidak mempengaruhi ketampanan Rayson sama sekali, Rayson tetap begitu tampan.


" Sedang apa kamu di sini, nak?" Ujar Rayson.


" Oh, Vaye sedang mendaftar administrasi seorang teman, paman." Ujar Vaye.


" Oh... kenapa dengan penampilanmu? Kamu sedang cosplay? " Tanya Rayson.


" Aaa... Itu, Vaye menyembunyikan identitas Vaye.. Hehe.." Ujar Vaye.


" Astaga, ada ada saja anak ini. Kamu tidak mampir ke rumah paman? Bibimu merindukanmu." Ujar Rayson.


" Mmm.. nanti Vaye mengunjungi bibi dan adik kecil. " Ujar Vaye.


" Ya sudah, paman harus melakukan operasi, kamu paman tinggal dulu, ya?" Ujar Rayson.

__ADS_1


" Ya, paman.. bye." Ujar Vaye, Rayson oun mengusap kepala Vaye lalu pergi dari sana.


Seteleh membayar administrasi, Vaye pun perhi menuju ruangan dimana Nicholas di rawat. Nicholas terlihat masih belum sadarkan diri, dan tangan nya saat ini terpasang jarum infus.


Vaye duduk menyamping di sofa singgle yang tersedia disana, lalu mengeluarkan headset dan mendengarkan lagu sambil membaca buku.Tak terasa justru Vaye tertidur sambil duduk menyangga kepalanya.


Satu jam berlalu, Nicholas perlahan membuka matanya. Pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah atap rumah sakit yang menyilaukan, dan bau bauan khas rumah sakit yang membuat dirinya benci.


Saat Nicholas melirik kesana kemari, ia melihat Vaye yang tidur menyangga kepalanya sambil duduk.


' Apakah lagi - lagi aku menyusahkan Vaye? Astaga Nicholas, kau benar benar... ' Batin Nicholas.


Nicholas mencabut jarum infus yang sudah habis itu dengan paksa, hingga tangan nya sedikit mengeluarkan darah. Tapi bagi Nicholas itu bukan apa apa, ia pun menghampiri Vaye.


Vaye sama sekali tidak merasakan pergerakan Nicholas, karena telinganya di pasangi headset. Nicholas perlahan duduk di hadapan Vaye, dan memandangi Vaye.


' Kenapa dia begitu baik? Dia seperti malaikat yang selalu menolongku. Tanpa sadar, dia tahu banyak tentang sisi lemahku. ' Batin Nicholas.


" Vaye.." Panggilnya.


Nicholas mencoba membangunkan Vaye, ia menepuk kecil tangan Vaye dan perlahan Vaye membuka matanya. Tatapan keduanya bertemu, Nicholas lagi lagi terpukau dengan warna mata Vaye yang jingga ke emasan itu.


Apalagi saat ini tatapan Vaye sedang sayu karena bangun tidur, Vaye terlihat sangat cantik walau terhalang kaca mata tebalnya.


" Nicholas, kamu sudah sadar?" Ujar Vaye.


" Astaga, apa kau mebcabut jarum infus dengan paksa? " Ujar Vaye panik saat melihat tangan Nicho berdarah.


" Tidak apa apa, ini hanya sedikit." Ujar Nicholas.


Vaye mengambil Tisue dan mengelap darah Nicholas, Nicholas benar bemar tidak mengerti dengan Vaye. Vaye sangat baik, padahal dirinya sangat kasar dan kejam, bahkan oernah mencekik Vaye sebelumnya.


" Ceroboh dan bodoh." Ujar Vaye.


" Eh, apa?! " Ucap Nicholas.


" Kamu, Ceroboh dan bodoh. Sudah tahu sakit masih mengajak tanding renang." Ujar Vaye, sedikit kesal.


" Mana aku tahu, aku akan sakit. Pagi tadi aku masih baik baik saja." Ujar Nicho tidak terima di katai ceroboh dan bodoh.


" Cih, alasan.. sekarang jarum infus pun kau cabut paksa, senang sekali kau menyakiti dirimu sendiri." Ujar Vaye, semakin kesal.


" Hey! Kenapa juga kau menjadi begitu kesal? " Ujar Nicholas ikut menjadi semakin kesal.


" Karena kau tidak menyayangi dirimu sendiri." Ucap Vaye. Nicholas menjadi diam, rupanya Vaye mempedulikannya.


" Tidak bisakah kamu mencintai dirimu sendiri? Jaga tubuhmu, ubah pola hidupmu." Ujar Vaye, sambil memastikan darah di tangan Nicholas sudah benar benar berhenti.

__ADS_1


Nicholas terus menatap Vaye yang sedang mengelap tangan nya. Nicho hanya diam tidak lagi membantah atau melawan ucapan Vaye.


" Dengar Jika kamu ada masalah dan kamu kesulitan menghadapinya, ceritalah padaku.. Aku akan mendengarkanmu. Mommy ku mengatakan, bercerita saat kita ada masalah, akan mengurangi beban di hati kita." Ujar Vaye.


" Kenapa?" Ucap Nicholas.


" Kenapa, apanya?" Ucap Vaye.


" Kenapa kamu sangat baik padaku?" Tanya Nicholas.


" Apakah itu penting?" Ujar Vaye, tidak percaya Nicho mengucapkan hal demikian.


" Ya, kamu bukan teman dekatku, kamu bukan kerabatku, tapi kamu begitu baik padaku." Ujar Nicholas.


Vaye menatap mata Nicholas, Nicholas yang di tatap begitu intens oleh Vaye pun merasa salah tingkah sendiri.


" Kita sudah beberapa kali terlibat masalah berdua, aku sudah tahu beberapa sisi lainmu, kita juga sering menghabiskan waktu bersama di kantin, apakah itu semua masih tidak cukup untuk menjadi alasan kita berteman? Kau bahkan memintaku menjadi kekasih pura puramu." Ujar Vaye.


" Eh?? Apakah kau menganggapku teman?" Ujar Nicholas.


" Lalu?? apa kau tidak menganggapku sebagai teman? Wah.. kejamnya." Ujar Vaye.


" Ak - aku pikir kamu tidak mau berteman denganku. Aku siswa dengan predikat paling buruk di sekolah." Ujar Nicholas.


" Aku tahu kamu orang baik. Dengar Nicholas, kita adalah teman.. jika kamu melakukan semua taruhan itu hanya untuk menarikku menjadi temanmu, maka tidak perlu. Aku temanmu sekarang." Ujar Vaye.


Nicholas tersenyum, rupanya Vaye mau berteman dengannya. Nicholas pikir Vaye tidak mau berteman dengannya, Nicholas pun langsung memeluk Vaye.


" Terimakasih karena mau menjadi temanku." Ucap Nicholas, senang.


" Y- ya.." Ujar Vaye, sedikit terkejut karena Nicholas memeluknya dengan tiba tiba.


Mereka pun akhirnya pulang dari rumah sakit itu. Saat mereka keluar dari rumah sakit, hari sudah malam dan sedikit gerimis.


" Kamu parkir dimana?" Tanya Nicholas.


" Aku parkir di ujung. " Ucap Vaye.


Nicholas melepas jaket sekolahnya, lalu menutupi kepalanya dan kepala Vaye. Vaye sampai terkejut melihatnya.


" Hei! Kau baru saja selesai di infus." Ujar Vaye.


" Aku baik baik saja, ayo cepat sebelum hujan menjadi semakin deras." Ujar Nicholas.


Akhirnya mereka berdua pun berlari kecil menuju mobil Vaye dengan berpayungkan jaket Nicholas. Keduanya saling tertawa karena air hujan tetap mengenai wajah mereka.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2