
Saat ini Yara sedang berada di jalan tol, ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak sampai 10 menit ia sampai di daerah mobil Jilian berada.
" Itu mobil milik Ethan, tapi dimana kak Jil. " Mata Yara menyusuri ke semua arah namun tak menemukan keberadaan Jil.
Y memarkirkan mobil nya di dekat mobil Jil, keberadaan dua mobil sport tentu saja mengundang perhatian orang orang di sana. Yara turun dari mobil nya, seketika para gadis di sana langsung berbisik bisik.
Y terlihat acuh, ia tak bisa menghubungi Jil, akhir nya ia lari ke sembarang arah untuk menghindari kerumunan. Tiba tiba Handphone nya berbunyi.
" Halo Tuan." Ucap Yara, yang mengangkat panggilan dari Ethan.
" Kau segera cari Jil , dia memasuki sebuah gedung yang sedang di bangun di daerah itu. " Ucap Ethan.
" Baik, Terimakasih tuan. " Ucap Yara.
Yara langsung lari dan mencari gedung yang nampak sedang dalam pembangunan. Yara langsung memasuki sebuah gedung yang terlihat gagal di bangun, karena sangat sepi disana.
Samar Yara mendengar suara pria yang mengerang kesakitan di atas, Yara pun langsung naik keatas mencari sumber suara. Dan betapa terkejutnya Yara, melihat Jil yang sudah tidak berdaya sedang di pukul dan di tendang oleh 5 orang pria.
" Lima lawan satu, bukankah kalian pengecut.?" Ucap Yara yang membuat orang orang itu berhenti menendang Jil, dan menengok ke arah Yara.
" Wahhh.. kau mau jadi jagoan kesiangan? Kalau kau masih ingin hidup, lebih baik kau segera pergi dari sini." Ucap Salah satu orang itu .
" Cih, beberapa pria besar yang hanya berani memukuli orang beramai ramai. Kalau kalian bisa , maju satu satu lawan aku." Ucap Yara.
Jil ingin mencegah Yara, namun ia sudah kehabisan tenaga untuk bicara. Dan juga, kini ia dalam pengaruh obat saraf.
" Cih, kau pikir kita bodoh.? Semuanya, serang.!" Ucap pria yang memiliki badan tidak terlalu tinggi namun memiliki tato di sekujur tubuh nya.
Para pria itu menyerang Yara. Yara mundur mencari sudut tembok, menurut nya berkelahi dengan ruangan terbuka itu memiliki ancaman. Sehingga ia memilih mundur mencari sudut tembok. Yara berkelahi dengan lihai nya, melawan beberapa pria itu hingga beberapa terpental.
" Lumayan, ternyata kau tidak lemah. " Ucap Ketua dari pria pria itu.
Yara melihat sebuah batang besi kecil sisa pembangunan di lantai, ia pun langsung mengambil nya. Dan dengan gerakan bela diri pedang, ia mengayun ayun kan besi itu dan melawan pria pria tadi hingga babak belur dan mati. Yara hanya menyisakan ketua dari mereka.
"Aku mengaku kalah.! Tolong jangan bunuh aku. !" Ucap ketua preman itu.
" Cih, kau sudah membuat kakak ku tidak berdaya, lalu sekarang meminta ampun.? Kalau kau memberi tahu aku siapa yang mengirim kalian, aku akan pikirkan untuk tidak membunuhmu." Ucap Yara.
__ADS_1
" Itu.. Aku juga tidak tahu. Aku hanya di suruh seseorang." Ucap ketua preman itu.
" Aku hitung sampai sepuluh, kalau kau tidak memberikan jawaban yang membuatku senang, aku akan membunuh mu seperti anak buah mu. Satu.. Dua.. Tiga.. " Ucap Yara mengancam. Kini Yara bahkan mengeluarkan belatinya.
" Su.. sungguh, aku tidak tahu apa apa. Aku hanya di beri perintah oleh orang tidak di kenal." Jawab ketua itu lagi.
" Lima.. Enam.. " Yara menghitung.
" Ampuni aku." Ucap Preman itu lagi.
" Delapan.. Sembilan.. " Yara tetap menghitung.
" Itu adalah tuan Andrew Dominique. Tolong ampuni nyawa ku." Ucap ketua preman itu.
" Cih, kau tahu tidak dalam pekerjaan seperti kita ini apa yang paling di butuh kan.? Ucap Yara bertanya , dan hanya di jawab dengan gelengan kepala.
" Itu kesetiaan. Karena kau tidak setia , aku akan bantu tuan Andrew mu itu untuk menyingkirkan mu. Sepuluh.." Yara mendorong Pria itu hingga jatuh dari ketinggian.
Yara langsung berbalik badan dan melihat Jilian yang tak sadarkan diri.
" Gawat, ini adalah pelumpuh saraf. " Ucap Yara.
" Kumohon jangan sampai terjadi apa apa padamu." Ucap Yara.
Yara melaju dengan kecepatan tinggi, ia menyalip semua mobil yang ada di depan nya. Yara menghubungi Ethan.
" Halo tuan, Tolong siapkan dokter. Kak Jil , dia di suntik pelumpuh saraf." Ucap Yara.
" Apa ! , baik." Ucap Ethan.
Yara langsung mematikan sambungan telepon nya lalu menambah kecepatan mobil nya. Dan tak sampai 15 menit, ia sampai di rumah.
Bara langsung menggendong Jil memasuki ruangan untuk diperiksa oleh Dokter. Sementara Yara , kini sedang di obati oleh tenaga medis lain nya.
" Apa yang terjadi?" Tanya Ethan.
" Saya tidak tahu, saat saya sampai kondisi nya sudah hampir tak sadarkan diri. Setelah saya berhasil mengalahkan orang orang itu, saya baru tahu kalau kak Jil di suntikan cairan pelumpuh Saraf. " Ucap Yara.
__ADS_1
" Kau tahu siapa yang menyuruh mereka ?" Tanya Ethan.
" Andrew Dominique. Dia yang berada di balik penyerangan ini . Siapa Andrew Dominique ini tuan.?" Ucap Yara yang sontak membuat Ethan terkejut bukan main.
Bukan nya menjawab pertanyaan Yara , Ethan justru langsung pergi masuk kedalam ruang kerja nya. Yara juga tidak berani bertanya lagi. Setelah tiga puluh menit, Dokter yang menangani Jilian keluar dengan Bara.
" Tuan Bara, bagaimana keadaan kak Jil.?" Tanya Yara yang langsung berdiri dari duduk nya.
" Dia selamat, tapi mungkin dia tidak akan sadar, dan itu entah sampai kapan." Ucap Bara dengan wajah sedih.
" Apa.?!" Ucap Yara kaget.
" Dimana Ethan.? " Tanya Bara kepada Yara.
" Tuan langsung masuk ke dalam ruang kerja nya setelah saya mengatakan nama orang yang melakukan penyerangan ini." Jawab Yara.
" Siapa.?" Tanya Jil.
" Andrew Dominique. " Ucap Yara.
Bara langsung pergi dari hadapan Yara dan dokter itu. Ia langsung menyusul Ethan di ruang kerja nya.
" Kenapa mereka semua pergi setelah mendengar nama itu.?" Ucap Yara.
Sementara dokter yang menangani Jilian langsung pergi dari sana. Yara masuk kedalam ruangan tempat Jil di rawat dan melihat Jilian yang terbaring.
" Seandainya aku tidak menurutimu, mungkin kau tidak akan seperti ini. Maaf kan aku kak, Tolong berjuanglah, aku tidak ingin kembali kehilangan seseorang yang menyayangiku." Ucap Yara pelan.
Di tempat lain.
Ethan dan Bara kini sedang berdiskusi di dalam ruang kerja Ethan.
" Besok, aku akan kembali ke perusahaan. Sepertinya sudah banyak yang merindukan aku. " Ucap Ethan.
" Jangan bodoh than , Siapa yang tahu kalau paman mu akan menyuntikan pelumpuh saraf padamu setelah ini." Ucap Bara.
" Satu bulan ini, sudah banyak permainan para rubah tua itu di belakang. Hanya aku tidak tahu kalau salah satu rubah tua itu mengetahui aku tidak koma. Besok, aku akan kembali." Ucap Ethan.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.