
Bara juga menggunakan topeng miliknya.
" Ini adalah topeng milik Tuan kan.? " Ucap Yara.
" Ternyata kamu mengingat nya juga. Disini kau akan berpura pura menjadi seorang pria kaya. Katakan kepada mereka kau mencari Tuan Leon. Beri tahu mereka bahwa kau mengetahui rahasia dari Blood. Gunakan Earpiece ini, kita harus selalu terhubung." Ucap Bara.
" Lalu tuan Bara, eh maksud saya Bara.. Kau sendiri bagaimana.? " Ucap Yara.
" Aku akan masuk sebagai orang lain juga. Nama lain ku adalah Cheetah. Ini kali pertama mereka melihat topeng ini. Kau perkenalkan saja siapa nama samaran mu sendiri. Ethan belum memberi nama untuk topeng nya ini." Ucap Bara.
"Nama lain yah..?" Ucap Yara berfikir.
" Tentu saja nama lain mu harus menonjolkan siapa dirimu." Ucap Bara.
" Baiklah.." Ucap Yara.
" Aku akan masuk lebih dulu, nanti setelah aku masuk, kau tembak saja pintu besi itu. Saat ada orang yang datang, katakan kau mencari Tuan Leon yang ku katakan tadi." Ucap Bara.
" Baik, lalu setelah bertemu dengan orang nya apa yang harus saya lakukan.? " Ucap Yara.
" Sisanya serahkan kepadaku." Ucap Bara.
Bara pun pergi memasuki sebuah pintu besi yang entah pintu itu menuju kemana. Yara pun mengeluarkan pistol nya dan menembak pintu besi itu. benar saja , tak lama ada dua pria berbadan besar datang membawa senjata lengkap dan menodong kan kearah Yara.
" Siapa kau, berani beraninya menyerang markas kami.!" Ucap pria berbadan besar itu.
" Aku mencari Tuan Leon. Katakan padanya aku mengetahui rahasia Blood. " Ucap Yara singkat.
Salah satu pria berbadan besar itu pun pergi masuk kedalam untuk melapor, dan tak berapa lama kembali lagi dan berbisik pada teman nya.
" Ikut kami." Ucap dua pria berbadan besar itu.
Dua pria itu terlihat seperti pria terlatih, badan kekar, tegap, dan kuat. Yara berjalan di belakang dua pria kekar itu menyusuri lorong, hingga sampai di sebuah aula.
Terlihat di sana banyak orang orang yang di siksa. Mereka tak lain dan tak bukan adalah para pria pembunuh bayaran yang di kumpulkan oleh kelompok gangster di sana.
" Hari ini, kita kedatangan tamu.. " Ucap seorang pria yang muncul dari lantai dua.
Yara menatap kearah Leon yang berdiri menatap dirinya.
" Antar dia ke ruangan ku." Ucap pria yang mungkin bernama Leon itu.
Dua pria bersenjata lengkap itu pun mengawal Yara berjalan menuju ruangan Leon yang terletak di lantai dua. Mata Yara melihat ke sekeliling nya, terlihat begitu banyak darah dan tiba tiba Bara bersuara di balik earpiece nya.
__ADS_1
" Jangan gugup." Ucap Bara yang menyadarkan Yara.
Sebenarnya Yara tidak gugup, hanya saja Yara lebih merasa penasaran dengan apa yang terjadi disini. Tak lama mereka pun sampai di sebuah ruangan.
" Siapa kau.?" Ucap Pria yang bernama Leon itu.
" Panggil saja aku Infinity." Ucap Yara.
" Cih, Infinity..? Memangnya seberapa besar dan se berkuasa apa dirimu? Apa bisa menghancurkan kelompok gangster ku.? Ucap Leon dengan nada meremehkan.
" Mungkin aku bisa menghancurkan seratus kelompok gangster sepertimu." Ucap Yara tanpa berkedip.
" Katakan, Rahasia apa yang kau maksud tadi.?" Ucap Leon angkuh.
Tiba tiba Bara muncul di belakang Leon dan menyuntikan sesuatu di leher Leon . Leon pun hilang kesadaran.
" Kau kenapa membunuhnya.? " Ucap Yara.
" Aku tidak membunuhnya, hanya menyuntik kan obat tidur saja." Ucap Bara.
" Lalu apa yang harus kita lakukan? Orang di luar pasti akan curiga kalau dia lama dan tidak keluar." Ucap Yara.
" Kau jangan khawatir " Ucap Bara.
" Kalian.?" Ucap Yara.
" Cepat bawa dia pergi ke markas. Jika dia sadar di jalan. Suntikkan saja lagi obat bius ini." Ucap Bara memerintah Noah dan Dawn.
" Baik Ketua. " Ucap Keduanya lalu membawa Leon pergi.
Sebelum Leon pergi, Bara melepas topeng yang terpasang di wajah Leon. Yara sedikit terkejut, ternyata wajah nya ada bekas luka seperti luka bakar di bagian kirinya.
" Dia adalah Leon, salah satu pasukan elit mahkota berduri." Ucap Bara singkat, lalu ia memakai topeng Leon di wajah nya.
" Kenapa kau memakai topeng nya?" Ucap Yara.
" Tentu saja untuk memulai pertunjukan." Ucap Bara lalu keluar dari ruangan milik Leon.
Tidak ada yang curiga sama sekali dengan mereka berdua. Bara berjalan menuju ke sebuah ruangan seolah Bara sangat mengenal tempat itu.
" Seharusnya ada petunjuk di sini, Ini adalah markas nya. Menurut kakek John dia adalah salah satu kelompok pasukan Elit mahkota berduri." Ucap Bara.
Bara tidak menemukan apapun, seolah mereka tahu bahwa akan ada hari dimana markasnya di serang.
__ADS_1
" Sudahlah, Y kau Berpura pura lah menyandera ku, todong kan pistol di kepalaku." Ucap Bara.
" Apa.? Apa kau sudah gila.?" Ucap Yara tidak percaya.
" Lakukan saja." Ucap Bara sembari menarik tangan Yara. Kini Bara berada di pelukan Yara dengan pistol yang mengarah di kepala Bara.
" Semuanya, minggir.!! " Teriak Bara.
Yara sedikit terkejut, karena suara Bara tiba tiba berubah menjadi mirip Leon.
" Tuan.!!" Ucap semua pengawal dan anak buah dari Leon yang langsung menodongkan senapan mereka masing masing kearah Yara.
" Dia adalah mata mata dari God's warning.!" Ucap Bara lagi.
" Ku hitung sampai sepuluh, kalian harus membuang senapan kalian. Atau bos kalian akan mati." Ucap Yara berpura pura mengancam dengan menarik pelatuk pistol di tangan nya dan siap menembak.
" Ini.. " Ucap anak buah Leon ragu.
" Satu... dua.. tiga.. " Yara menghitung.
Semua anak buah Leon langsung menyerah dan menjatuhkan senjata mereka masing masing.
" Diam di sana, Satu langkah kaki bergerak maka aku akan menembak bos kalian." Ucap Yara lagi.
Bara terkejut dengan tindakan Yara. Ternyata dia bisa langsung mengikuti alur.
Yara dan Bara berhasil keluar dari sana, dan menginstruksi anak buah nya untuk menangkap semua anak buah Leon.
Namun tiba tiba seseorang menghujani anak buah Leon dengan peluru. Semua anak buah Leon tewas tak tersisa.
" Sial.!! Ternyata mereka sudah memperhitungkan nya." Ucap Bara.
Bara langsung lari menarik tangan Yara dan memasuki mobil mereka masing masing, lalu pergi dari sana.
" Semua tim, mundur.!!" Ucap Bara menghubungi tim nya yang berjaga dari jauh.
Seorang laki laki bertopeng muncul dari balik persembunyian nya. Pria itulah yang sudah menghujani anak buah Leon dengan peluru.
" Tidak aku sangka, ada waktu dimana aku harus membayar karma di hari tuaku." Ucap pria yang terdengar sudah tidak muda lagi itu.
Sementara Yara kini mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh. Pikiran nya masih terngiang bagaimana orang orang itu mati tertembak secara masal. Sekilas Yara juga melihat sosok pria itu.
" Siapa.?" Ucap Yara dalam hati.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..