
Nicholas terbangun ketika Abraham membangunkannya. Ia bingung melihat tangannya menggenggam erat tangan Vaye, ia pun langsung melepasnya karena merasa tidak enak dengan Rayson dan Abraham.
" Bagaimana? Apakah di hatimu masih ada yang mengganjal??" Ujar Abraham.
" Aku tidak memiliki keberanian melihat bukti kebenaran itu, dok." Ujar Nicholas.
" Kita akan coba pelan pelan, oke. Jika kamu tidak membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah, maka rasa itu akan terus menghantui dirimu." Ujar Abraham.
" Baiklah." Ucap Nicholas.
Nicholas pun menceritakan awal mula ibunya menjadi seperti sekarang. Semuanya berkaitan dengan kematian satu orang. Nicholas mengalami trauma besar karena kematian kakaknya, terlebih lagi ia juga di tuduh.
Sementara Nely, menjadi sakit jiwa karena kematian putranya, juga perselingkuhan suaminya. Rayson menjadi teringat dengan Ethan. Nasib Nicholas mirip mirip dengan Ethan.
" Baiklah, besok mungkin saya akan datang kerumahmu untuk melihat kondisi ibumu. Kamu bisa kabari saya dimana alamat rumahmu nanti." Ujar Abraham.
" Iya, dok. Tapi apakah bisa saat saya pulang sekolah?? Saya ingin melihat ibu saya di tangani." Ujar Nicholas.
" Kalau begitu saat weekend saja, supaya kita punya banyak waktu." Ujar Abraham.
" Terimakasih dok." Ucap Nicholas.
" Paman, Vaye pulang dulu." Ujar Vaye.
" Ya, sayang. Hati hati di jalan." Ujar Rayson.
Nicholas dan Vaye pun keluar daei ruangan Rayson. Sepeninggal keduanya Dokter Abraham menggelengkan kepalanya.
" Jika bukan karena nona Vaye adalah putri tuan Ethan Dominique dan nyonya Nayara, aku mana mau dalam waktu singkat kembali dari negara J dan meninggalkan pasien pentingku demi bocah seperti Nicholas." Ujar Abraham, dan Rayson terkekeh.
" Cobalah kembali ke negara J, jika kau mau." Ujar Rayson.
" Di dunia ini siapa yang berani menyenggol dan bersinggungan dengan keluarga besar seperti mereka. Aku masih sayang nyawaku." Ujar Abraham, dan Rayson kembali terkekeh.
" Sudahlah.. Kasus anak ini juga serius, bukan? anggaplah kau sedang menyelamatkan anak bangsa, atau mungkin calon menantu Ethan." Ujar Rayson, terkekeh.
Abraham hanya melengos, jika dia tidak tahu bahwa Rayson ini mantan tangan kanan Ethan di BLOOD, Mungkin saat ini dia sudah menyuntikan jarum keramatnya.
Vaye dan Nicholas sendiri kini berada di parkiran. Nicholas hendak bertanya sesuatu, tapi dia malu mengatakannya.
" Apakah kau sedang menahan buang air?? " Ucap Vaye tiba tiba.
" Ha? Tidak.." Ucap Nicholas.
" Lalu kenapa kau terlihat gelisah?" Tanya Vaye.
__ADS_1
Nicholas semakin salah tingkah sendiri jadinya, Vaye terlalu peka.
" Itu... Apakah sepanjang proses hipnotis tadi aku menggenggam tanganmu??" Tanya Nicholas akhirnya.
" Tidak.." Ucap Vaye, dan Nicholas mengernyit bingung.
" Hanya saja saat kamu mulai gelisah dan ketakutan, aku baru menggenggam tanganmu. " Ucap Vaye, dan Nicholas terkejut.
' Apakah hanya saat bersama Vaye aku bisa mengendalikan diriku? Bagaimana jika nanti Vaye pergi dariku.. ' Batin Nicholas.
" Kenapa kau malah melamun sambil menatapku? Apakah ada sesuatu di wajahku??" Tanya Vaye.
" Tidak ada, hanya saja.. apakah kita akan selamanya selalu bersama? Kita semua tahu setelah sekolah kita selesai, maka kita akan pergi ke universitas. Lalu apakah kita akan tetap bersama? " Ujar Nicholas.
" Astaga Nicholas, kau mengkhawatirkan hal yang masih jauh terjadi. Jangan pikirkan itu, fokus dulu dengan apa yang ada di depan kita." Ucap Vaye.
" Kamu benar.." Ujar Nicholas.
Akhirnya mereka berdua berpencar, Vaye pulang ke apartemen nya dan Nicholas pulang kerumahnya. Namun sepanjang perjalanan, Vaye memikirkan ucapan Nicholas. Entah mengapa ia terganggu dengan ucapan Nicholas.
Hanya satu tahun lagi, Ia dan Nicholas akan sama sama lulus, dan setelah itu bisa di pastikan dirinya akan kembali ke LA untuk melanjutkan study nya. Sampai saat itu tiba, maka mungkin ia tidak akan bertemu Nicholas lagi.
" Bagaimana dengannya nanti? Apakah dia akan baik baik saja?" Gumamnya.
" Aahh.. Kenapa aku juga ikut berpikir berlebihan begini." Gumamnya lagi, sampai akhirnya ia sampai di apartemen nya.
Ke esokan harinya..
Hari masih terlalu pagi, yakni pukul 4.30. Vaye bangun, dengan posisi yang masih sama seperti kemarin sore.
" Astaga.. Aku ketiduran sampai pagi." Gumamnya.
Ia bangun dan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya, kemudian ia menggunakan pakaian olah raga. Ia berencana untuk lari pagi di komplek apartemen nya, hingga akhirnya ia selesai dan bersiap untuk sekolah.
Ring.. Ring.. Ring..
Ponsel Vaye berdering.
" Mommy.." Ucap Vaye setelah mengangkat panggilan dari Yara.
" Sayang, kamu sedang bersiap untuk sekolah ya? " Ujar Yara.
" Ya, mom.. " Ujar Vaye.
Panggilan itu berlangsung lama, hanya pembahasan betapa Yara merindukan anak bungsunya itu. Vaye sampai terkekeh sendiri, ia sama sekali tidak menyangka mommy nya itu pemimpin Mavros drakos yang terkenal kejam.
__ADS_1
Mereka bertelepon ria sepanjang Vaye mengemudikan mobilnya menuju sekolah, sampai akhirnya Vaye sampai di sekolah dan melihat Nicholas yang sudah sampai di parkiran motor.
" Mom, Vaye matikan dulu, oke? Vaye sudah sampai." Ujar Vaye.
" Ya sayang, semangat belajar." Ujar Yara.
" Hmm.. Love you mom." Ucap Yara dan panggilan pun di akhiri.
" Kau bahagia sekali??" Tanya Nicholas yang melihat Vaye tak henti hentinya tersenyum.
" Biasa, drama mommy yang tidak mau jauh dari anaknya." Ujar Vaye.
" Ck, anak mommy." Ujar Nicholas terkekeh.
" Ye.. Aku anak mandiri." Ucap Vaye, dan Nicholas terkekeh.
Kasus di sekolah rupanya semakin memanas. Semua murid di sekolah jadi mengenal siapa itu Vaye dan Nicholas yang di maksudkan mencontek kunci jawaban milik guru. Karena foto mereka terpasang di depan forum sekolah dan semua murid menjadi menatap sinis keduanya.
" Bren*sek!!" Ujar Nicholas.
Nicholas langsung merobek foto dirinya dan Vaye yang terpajang di papan forum sekolah.
" Siapa yang melakukan ini!!" Teriak Nicholas.
Nicholas langsung emosi melihat begitu banyaknya foto yang terpanjang di forum dan sepanjang koridor sekolah.
" Percuma kamu sobek kertas itu.. Kita sudah terlanjur terkenal di sekolah. Yang terpenting, kita bisa membuktikan bahwa kita tidak melakukan kecurangan. Bukankah hari ini kita akan memeriksa cctv, kita akan tahu kebenarannya." Ujar Vaye.
Nicholas menatap satu persatu orang disana, dan tatapan terakhir jatuh pada Bagas yang ikut merobek gambar gambar di forum.
" Aku adalah saksi, bahwa Nicholas tidak melakukan kecurangan. Dia belajar dengan giat bersamaku sebelum ujian di mulai." Ucap Bagas.
" Apakah murid nomor satu kini angkat bicara membela Nicholas?" Bisik murid lain.
" Aku yakin Nicholas mengancam Bagas." Ucap yang lainnya.
" Jika kalian berpikir bahwa aku di ancam Nicholas, maka kalian salah. Dia adalah anak yang baik, kami bahkan sudah menjadi teman." Ucap Bagas.
" Percuma menjelaskan pada sekelompok anjing." Ujar Nicholas.
Bahkan ketia mereka sampai di kelas, semua teman kelas menatap mereka jijik, Timothy hanya diam menatap keduanya. Dan kemudian tatapannya berakih pada Lini.
Nicholas pun sama, ia menatap Lini dengan tatapan kebencian. Sementara yang di tatap justru terlihat seolah dia sedang terancam.
" Jika sampai terbukti aku dan Vaye tidak bersalah, kalian semua yang berada di kelas ini.. Akan menyesal. Terutama kau, Lini." Ujar Nicholas dengan tatapan tajam.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..