
Vaye menarik tangan Nicholas hingga Nicholas jatuh ke tanah. Nicholas sampai terkejut dengan gerakan tiba tiba Vaye.
" Apa yang kau lakukan! Kau ingin bunuh diri?" Ucap Vaye
" Apa yang kau lakukan, kenapa menarik tanganku begitu keras." Ucap Nicholas.
" Kau menangis?" Ucap Vaye, saat melihat mata Nicholas yang basah.
" Mana ada, aku hanya berkeringat." Ucap Nicholas berbohong.
" Mana ada berkeringat sampai sembab, lalu tadi.. Kau mau bunuh diri ya!?" Ucap Vaye.
" Tidak ada yang mau bunuh diri, turun dari tubuhku, kau berat!" Ucap Nicholas mendorong Vaye hingga jatuh di lantai di sebelah Oniel.
' Apa yang aku lalukan, apa tadi aku hampir menyerah, jika saja gadis cupu ini tidak datang menarikku?' Batin Nicholas.
" Kamu baik baik saja?" Ucap Vaye penuh selidik.
" Apa yang bisa terjadi padaku? Jangan berpikir yang tidak tidak." Ucap Nicholas.
" Bagaimana tidak berpikir yang tidak tidak, kau terlihat seperti tidak memiliki nyawa dan berjalan dengan tatapan kosong." Ucap Vaye.
' Apakah dia melihatku?' Batin Nicholas.
" Bukan urusanmu." Ucap Nicholas datar.
" Ck, ayo ikut denganku." Ucap Vaye, sambil bangun dan mengulurkan tangannya pada Nicholas.
Nicholas menatap tangan Vaye yang terulur padanya. Itu adalah pertama kalinya ia kembali mendapatkan uluran tangan setelah lima tahun ia menjadi berandal.
" Ayo.." Ucap Vaye.
" Jangan sok dekat denganku, pergilah. Kau tidak lupa kita ini musuh, kan?" Ucap Nicholas sambil membuang muka.
" Aku tidak mengatakan aku memusuhimu, kau sendiri yang bilang." Ucap Vaye.
" Sama saja, kita musuh.. pergi, sana! " Usir Nicholas.
Vaye menghembuskan nafasnya, lalu kemudian dengan gerakan cepat ia menarik tangan Nicholas, dan Nicholas oun sampai terkejut di buatnya.
" Hei!! Kau mau bawa aku kemana? Lepas." Ucap Nicholas.
Vaye sama sekali tidak menghiraukan, malah ia berlari dan menarik Nicholas bersamanya. Vaye membawa Nicholas berlari bersamanya mengitari lapangan basket disana, dan itu berlangsung sampai Nicholas ter engah engah.
" Sudah, aku.. lelah " Ucap Nicholas.
Vaye pun menghentikan langkahnya, anehnya Vaye sama sekali tidak terlihat kelelahan. Vaye pun terkekeh melihat Nicholas yang terlihat begitu kelelahan.
" Payah begitu, masih bilang mau menghajarku." Ucap Vaye.
" Aku bilang menghajar, bukan lomba lari." Ucap Nicholas sambil ter engah engah, Vaye pun terkekeh.
Vaye jadi teringat dengan kakak kembarannya, Nathan. Nathan memiliki kesamaan dengan Nicholas, tidak kuat berlari lama. Dulu Nathan akan mengoceh jika ia kelelahan setelah diajak lari oleh Edmund berkeliling taman.
" Sudah - sudah.. ayo ikut aku." Ucap Vaye.
__ADS_1
" Kemana lagi, aku tidak kuat berjalan." keluh Nicholas.
Vaye menggelengkan kepalanya lalu menarik kembali tangan Nicholas. Mereka memasuki lift dan turun ke mall. Sepanjang itu, Vaye tidak melepaskan gandengan tangannya dari Nicholas.
Nicholas yang melihat tangannya di gandeng itu, sedikit menyunggingkan senyumnya. Tapi kemudian ia bersikap seolah tidak peduli, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran cepat saji di food court mall itu dan Vaye melepaskan tangan ya dari Nicholas.
" Kau mau makan apa?" Tanya Vaye.
" Eh?" Ujar Nicholas yang kurang fokus.
" Kamu mau makan apa?" Tanya Vaye lagi.
" Burger saja." Ucap Nicholas.
" Kamu carilah temoat duduk, aku akan memesan makanan." Ucap Vaye.
" Oh, baik.." Ucap Nicholas.
Saat setelah menemukan tempat duduk, Nicholas baru menyadari sesuatu.
" Kenapa aku menurut padanya?" Gumamnya bingung sendiri.
" Gadis itu, awas saja dia nanti. Beraninya dia menyuruhku mencari tempat duduk." Gumam Nicholas lagi.
Nicholas duduk menunggu disana, hingga akhirnya Vaye datang membawa satu baki besar makanan dan minuman miliknya dengan Nicholas.
" Nah, makanlah.. Setelah berlari paling enak makan ini, dan minum soda." Ucap Vaye.
" Hm, terimakasih." Ujar Nicholas.
' Kenapa ada gadis seperti dirinya ini.. tidak bisa di tebak, selalu tenang dan tidak takut apapun. Apakah dia ini sungguhan manusia? ' Batin Nicholas.
Tidak ada pembicaraan di sepanjang mereka makan, baik Vaye maupun Nicholas, mereka berdua hanya diam. Hingga akhirnya makanan mereka berdua pun habis.
" Jika kamu sedang kesal, marah, sedih.. Berlarilah beberapa putaran. Maka rasa itu akan hilang. Jangan selalu melewatinya dengan kesedihan. Hidup itu tidak akan berjalan di tempat, akan ada masanya kita bahagia.. " Ucap Vaye, setelah selesai meminum.
" Hari ini aku sudah menemanimu melewati kesedihan, setelah kita berpisah nanti lupakan saja hal ini. Kau boleh menganggapku musuh seperti biasanya, berjanjilah besok pagi tidak ada kesedihan di wajahmu, hm.." Ucap Vaye dengan senyum nya.
Nicholas terkesima dengan gadis cupu di hadapannya ini. Jika kebanyakan gadis mungkin akan menganggap dirinya begitu penting karena berhasil melewatkan waktu bersama Nicholas, tapi Vaye.. justru menyuruh Nicho melupakan hari ini.
" Aku sudah selesai, selamat tinggal." Ucap Vaye.
Vaye pun bangun dari duduknya dan pergi, ia melangkah tanpa menoleh kembali kearah Nicholas yang masih duduk diam melihat punggung Vaye yang perlahan menjauh dan hilang.
Perlahan terbit senyum kecil di sudut bibir Nicholas. Vaye, adalah gadis dengan sejuta kejutan yang tidak pernah Nicholas duga sebelummya.
Ke esokan harinya..
Vaye berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelasnya, ia sedikit kesiangan hari ini karena semalaman ia bertelepon ria dengan dua kakak kembarnya yaitu Edmund dan Nathan. Mereka terkejut karena Vaye pindah ke Indonesia dan mengulang kembali masa sekolah menengahnya.
Flashback on..
Vaye melakukan gabungan video call dengan kedua kakak nya yang berada di beda negara, Edmund merada di negara E dan Nathan berada di negara J.
" Astaga adik, apa gunanya Tuhan memberimu kejeniusan tinggi jika kau malah mengulang sekolahmu." Ucap Nathan, ia masih saja cerewet seperti pamannya Ryuchie.
__ADS_1
" Aku tidak mau terburu buru masuk ke universitas, melihat kalian berdua rasanya hidup kalian seperti robot." Ujar Vaye terkekeh.
" Jika kita cepat lulus, kita bisa menikmati masa istirahat kita." Ucap Nathan lagi.
" Terserah kakak, aku hanya ingin menikmati masa mudaku." Ujar Vaye.
" Lalu bagaimana sekolahmu? Apakah lebih baik?" Ucap Edmund. Edmund masih saja menjadi pria yang dingin seperti waktu kecil.
" Sejauh ini baik. Hanya saja karena aku menyembunyikan identitas, jadi aku tidak mengunjungi markas BLOOD disini." Ujar Vaye.
" Aih.. Kau memang aneh dik. Tuhan memberimu hidup nyaman, tapi kau memilih jalan yang sulit." Ujar Nathan.
" Aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri kakak, seperti kalian yang mengikuti keinginan kalian, aku pun demikian." Ucap Vaye.
" Ya sudah, istirahatlah.. Besok kamu sekolah, kan? Jika ada yang menyulitkanmu, katakan pada kakak." Ucap Edmund.
" Baik kak, ya sudah.. Bye kakak kembaran." Ucap Vaye sambil terkekeh, dan panggilan pun diakhiri.
Flasback off...
Vaye telah sampai di kelasnya, dan duduk. Rupanya di sebelahnya sudah ada Nicholas dan Timothy. Nicholas memandangi Vaye dari samping, rupanya Vaye sungguh bersikap seperti biasanya, seakan ia sama sekali tidak bertemu Nicholas kemarin.
" Vaye, kamu kenapa?" Tanya Timothy.
" Tidak apa apa, hanya sedikit terburu buru tadi." Ucap Vaye.
Dan tak lama guru pun masuk setelah beberapa detik Vaye duduk.
" Untung aku tidak terlambat." Gumam Vaye, dan masih bisa di dengar Nicholas.
Pelajaran pun dimulai, dan seperti biasanya, yang Nicholas lakukan hanya tidur di kelas, hingga jam pelajaran berakhir dan setelah jam istirahat dimulai, dia baru bangun dari tidurnya.
" Vaye, ayo ke kantin bersama." Ucap Timothy.
" Oh, ayo.." Ucap Vaye.
Vaye dan Timothy pun berjalan menuju ke kantin bersama, sepanjang perjalanan mereka asik mengobrol, dan saling bertukar pendapat tentang materi pelajaran.
" Kau mau pesan apa? Biar aku pesankan." Ucap Tomothy.
" Tidak apa apa, aku pesan sendiri saja." Ujar Vaye.
" Jangan sungkan, kamu duduk saja.. kamu pesan apa?" Ucap Timothy.
" Kalau begitu maaf merepotkanmu, aku pesan ayam katsu." Ucap Vaye.
" Sip." Ujar Timothy, lalu pergi.
Vaye suduk dan melihat sekitar, kemudian ia tak sengaja melihat Nicholas yang duduk di mejanya sendirian. Ia terlihat memakan makanannya, namun dengan wajah datarnya. Sama sekali tidak ada satupun teman kelas yang mendekatinya.
" Vaye, pesananmu." Ucap Timothy.
" Terimakasih." Ucap Vaye, mereka berdua pun makan makanan mereka dengan tenang.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1