
Pagi hari di apartemen Vaye.
Ethan menggunakan apron dan tengah berdiri di depan kompor saat ini. Ia sedang membuatkan Vaye sarapan. Vaye yang keluar dari kamarnya langsung mencium aroma yang sangat lezat menggugah selera.
" Hummm.. Daddy, Vaye rindu aroma ini. Vaye jadi merindukan mommy." Ujar Vaye, dan Ethan terkekeh.
Vaye langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang mommy, yaitu Yara.
" Silahkan tuan putri, Bacon sandwich kesukaan putri kecil daddy sudah siap." Ujar Ethan, meletakan dua piring sandwich untuknya dan Vaye.
" Terimakasih daddy." Ujar Vaye.
" Sama sama, sayang. Daddy siap siap dulu." Ethan mencium pucuk kepala Vaye, lalu ia pergi untuk membersihkan dirinya.
" Halo mommy.. " Ujar Vaye.
" Hi sayang, kamu sudah siap sekolah?" Tanya Yara.
" Ya, daddy membuatkan bacon sandwich, Vaye jadi rindu mommy." Ucap Vaye.
" Daddy curang, mommy tidak boleh ikut.. padahal mommy juga merindukan Vaye. Sayang, daddy bilang kakakmu datang ke situ?" Ujar Yara.
" Ya, kakak datang kemari dan tinggal selama tiga hari." Ujar Vaye.
Percakapan mereka begitu seru, hingga Ethan pun telah bergabung di meja makan dan menikmati sarapan yang ia buat bersama Vaye. Hingga tibalah saat nya Vaye berangkat sekolah.
" Daddy ingin mengantarmu, sayang.. boleh ya?" Ujar Ethan.
" Boleh.. tapi daddy tidak boleh sama sekali keluar dari mobil." Ujar Vaye.
" Mmm... baik.. " Ujar Ethan, dari pada tidak sama sekali.
" Oke, ayo.." Ujar Vaye.
Mereka berdua turun ke loby, dimana sudah ada supir yang akan mengantar Ethan ke perusahaan selama Ethan berada di tanah air. Vaye dan Ethan masuk kemobil, tapi rupanya ada yang melihat Vaye masuk bersama Ethan kedalam mobil, Nicholas.
" Vaye dengan siapa, apakah itu ayahnya? " Ujar Nicholas.
" Tapi kenapa wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya, tapi dimana?" Gumam Nicho.
Tak lama mobil supir Nicholas pun sampai, dan Nicholas pun masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
Tak terasa Vaye dan Ethan sampai di sekolah, dan Vaye pun memeluk sang daddy.
" Semangat belajar sayang, daddy tidak bisa menjemputmu, karena setelah urusan daddy selesai, daddy harus melaukan penerbangan ke negara C." Uajar Ethan.
" Oke.. daddy hati hati di jalan." Ujar Vaye, dan Ethan mencium pucuk kepala Vaye.
Vaye pun keluar dari mobil, dan wajahnya berubah menjadi mode dingin dalam sekejap. Vaye hanya akan memasang wajah lucu dan menggemaskan di depan orang orang terkasihnya saja.
" Vaye.." Teriak Nicholas.
Vaye pun melihat kearah dari mana Nicholas muncul. Dan melambaikan tangan nya.
__ADS_1
" Kamu tidak bawa mobil? " Tanya Nicholas.
" Hmm.. aku diantar ayahku." Ujar Vaye.
Mereka pun berjalan masuk kedalam. Sepanjang mereka berjalan di koridor semua orang menatap mereka karena semakin hari mereka semakin terlihat akrab. Hingga sampailah mereka di kelas.
" Pagi Vaye." Ujar Timothy.
" Pagi.." Sahut Vaye.
Nicholas tidak suka itu, ia menatap penuh benci pada Timothy. Ia hanya ingin Vaye menjadi temannya seorang. Egois memang, tapi Nicho memiliki alasan nya tersendiri.
" Vaye, bisakah kamu mengajari aku? " Ucap Nicholas.
" Mengajari apa? " Tanya Vaye.
" Semua mata pelajaran. Aku tidak pernah mendengarkan guru atau menyimak pelajaran sedikitpun." Ujar Nicholas, dan Vaye terperanga mendengar nya.
Walau ia tahu kegiatan Nicholas hanya tidur di jam pelajaran, tapi dia tidak menyangka bahwa Nicholas sama sekali tidak menyimak sedikitpun pelajaran selama ini.
" Astaga.. pulang sekolah, kamu harus les bersamaku." Ujar Vaye.
" Siap.." Sahut Nicholas.
Pelajaran pun di mulai. Guru tiba tiba masuk bersama kepala sekolah, dan mengumumkan sesuatu.
" Anak anak.. sekolah kita akan mengikuti turnamen menembak. Adakah diantara kalian yang ingin ikut serta dalam turnamen ini?" Tanya kepala sekolah. Dan semua murid langsung berbisik bisik.
" Pak, Vaye jago menembak." Ujar Lini.
" Vaye?? Yang mana yang bernama Vaye." Ucap kepala sekolah, dan Vaye pun mau tidak mau mengangkat tangan nya.
" Wahh.. rupanya kamu ahli menembak? Ternyata penampilan tidak mempengaruhi kualitas." Ujar kepala sekolah.
" Apa maksud bapak bicara demikian?" Ujar Nicholas, langsung menatap tajam kepala sekolah.
" Maksud bapak, kita tidak bisa menilai buku dari sampulnya, seperti Vaye ini." Ujar kepala selolah yang ngeri mendapat tatapan tajam Nicho.
" Vaye, bersediakah kamu ikut turnamen mewakili sekolah kita? " Ujar kepala sekolah.
Jika Vaye menolak, ia akan dianggap jahat karena tidak mau mengharumkan nama sekolah, tapi jika di terima.. Ia takut ada yang mengenalinya.
' Sudahlah, toh penampilanku sudah berubah. Selain orang terdekat, yang lain pasti akan terkecoh. ' Batin Vaye.
" Ya, saya bersedia ikut. " Ujar Vaye.
" Saya juga." Ucap Nicholas.
" Saya juga." Ucap Timothy, menyusul.
Nicholas dan Timothy saling pandang dengan tajam, yang lain pun ikut tegang melihatnya. Jika sudah begitu, maka sebentar lagi Nicholas akan menyerang Timothy.
Untungnya kepala sekolah masih bisa mengendalikan keadaan. Ia sudah melihat gelagat keduanya yang tidak baik baik saja, lalu berucap..
__ADS_1
" Sayang nya tiap kelas hanya boleh dua orang yang ikut, sebagai perwakilan kelas. " Ucap kepala sekolah.
" Kalau begitu, saya mengundurkan diri." Ujar Vaye.
Vaye senang mendengar bahwa kepala sekolah mengatakan bahwa kuotanya hanya dua orang. Tapi tiba tiba..
" Saya juga mengundurkan diri." Ucap Nicholas.
" Saya juga." Ucap Timothy, kembali menyusul.
" Eh??? Ini..." Ucap kepala sekolah bingung.
" Kau mau ku hajar?!" Ucap Nicholas emosi pada Timothy.
" Apa yang salah denganku, aku juga ahli menembak?" Ujar Timothy.
" Kau!! " Ucap Nicholas tertahan.
" Begini saja, kalian bertiga bertandinglah untuk menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan kelas ini." Ujar kepala sekolah.
" Baik." Ucap Timothy, namun Vaye dan Nicholas hanya diam.
" Pulang sekolah nanti, berkumpulah di lapangan tembak sekolah, kita akan menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan sekolah." Ujar kepala sekolah.
Setelah pengusulan itu, kepala sekolah pun pergi dan pelajaran di lanjutkan. Sepanjang pelajaran berlangsung, Nicholas menjadi kesal sendiri dengan Timothy yang berusaha mengikuti Vaye.
' Tidak tahu malu, dia merebut semua miliku dan kini Vaye pun ingin dia rebut.' Batin Nicholas.
Jam pelajaran berakhir, semua murid keluar dari kelas tak terkecuali Nicholas dan Vaye. Keduanya jadi sering terlihat bersama, gadis culun dan pemuda super nakal.. mereka terlihat sangat kontras.
" Kenapa kamu ingin ikut turnamen itu?" Tanya Vaye.
" Karena kamu ikut." Ujar Nicholas.
" Astaga..." Ujar Vaye sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Kenapa? Dengan begitu kita juga jadi sering bersama. Aku tidak memiliki teman lain selain kau." Ucap Nicholas.
" Ya.. Ya.. kalau begitu tunjukan bahwa kamu bisa, agar kita bisa mengikuti turnamen bersama." Ujar Vaye.
Dan seperti yang sudah di sepakati, kini semua murid berkumpul untuk melihat pertandingan penentuan antara Vaye, Nicholas dan Timothy. Ketiganya sudah sama sama siap dengan perlengkapan masing masing.
" Baik.. Target ada di hadapan kalian. Siapa yang lebih banyak menembak tali apel yang menggantung itu hingga apel itu jatuh, dia yang menang." Ujar kepala sekolah dan ketiganya mengangguk.
" Masing masing di senapan kalian memiliki sepuluh peluru jadi manfaatkan dengan baik dan jatuhkan apel apel itu." Ujar kepala sekolah lagi.
Vaye, Nicholas dan Timothy sudah bersiap dengan senapan mereka masing masing. Mereka juga sudah mulai menargetkan tali apel itu.
" Setelah hitungan ketiga, satu.. dua.. Tiga.."
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Suara senapan terdengar sangat menggema, ketiganya mulai menembaki tali apel hingga apel apel itu berjatuhan dan berserakan.
__ADS_1
Hingga akhirnya peluru mereka habis, dan terdengar bisikan bisikan dari para penonton yang merupakan teman sekelas.
TO BE CONTINUED...