
Sementara itu di negara C..
Vaye sudah sampai disana, dan langsung di susuli oleh Nathan dan Edmund. Sepanjang perjalanan itu, Vaye terus memeluk Edmund dan sesekali menghapus air matanya.
" Vaye, jangan terus menangis." Ujar Edmund.
" Tapi Oma dan opah.. Kenapa mereka bisa pergi secepat ini, kak?? Padahal baru kemarin Vaye bertelepon dengan Oma dan mengatakan bahwa saat libur sekolah nanti aku akan datang kemari.. Tapi mereka pergi." Ujar Vaye dan kembali terisak di pelukan Edmund.
Percaya atau tidak, Edmund dan Natahan seolah merasakan sesaknya Vaye. Mereka berdua juga jadi ikut menangis, mungkin karena ikatan batin mereka yang begitu kuat.
" Kenapa kakak juga ikut menangis, sekarang? Kakak menguatkan aku tapi kakak sendiri menangis." Ujar Vaye, dan Edmund tersenyum dalam tangisnya.
" Mungkin karena kita kembar dik, jadiapa yang kamu rasa kakak bisa rasakan. Kecuali saat kita berjauhan, mungkin ikatan batin kita tidak terkonek." Ujar Edmund.
" Bisa begitu..." Gumam Vaye.
Yara datang dan Vaye langsung berhambur kepelukan sang mommy. Yara sendiri terlihat semakin kacau saat ini, matanya begitu sembab.
" Mommy, jangan menangis lagi. Oma dan opah sudah bahagia disana. " Ujar Vaye.
" Iya, sayang.. Mommy hanya belum siap kehilangan." Ujar Yara.
Akhirnya Ryuchi pun tiba. Dia meninggalkan segala urusan nya di negara R agar bisa menemui kedua orang tuanya untuk yang terakhir kali.
" Kakak.." Ujar Yara.
Ryuchie langsung memeluk Yara, Ryu tidak menangis, namun terlihat dari wajahnya dia begitu kehilangan. Mungkin dia malu jika harus menangis di hadaoan adik dan tiga keponakan nya.
" Its ok.. its ok.." Ujar Ryuchie.
" Mereka sudah bahagia di sana, tugas kita hanya harus merelakan mereka." Ujar Ryu, dengan suara parau.
" Apakah dokter Li sudah di temukan? " Tanya Ryu.
" Sudah, dia juga di temukan tewas. Tapi jaraknya lumayan jauh dari jatuhnya mobil di dasar jurang, dan ada luka tusukan tusukan di tubuhnya." Ujar Yara.
" Dia sedang dalam perjalanan kemari." Ujar Yara lagi.
" Kakak akan selidiki ini." Ujar Ryu.
Ryu membuka satu tangan nya lagi, dan Vaye memeluk sang paman.
Di luar kediaman itu, begitu banyak bunga bunga ucapan bela sungkawa untuk Aiko dan Jhosua. Mengingat kediaman itu begitu besarnya, bahkan tamu ratusan orang pun bisa masuk untuk mengucapkan bela sungkawa.
__ADS_1
" Hari ini.. Anak anak kehilangan ayah dan ibu mereka, para cucu kehilangan kakek dan nenek mereka. Mereka adalah nyonya Aiko Maxwell dan tuan Jhosua Maxwell. Semoga mereka di tempatkan di dalam surga Allah dan kepada mereka yang di tinggalkan, semoga di beri keikhlasan dan ketabahan." Ujar Jilian..
Ya Jilian telah sampai disana, dan semuanya sepakat untuk memakamkan Aiko dan Jhosua di kediaman mereka di negara C. Mengingat Aiko dan Jhosua sangat menyukai tempat yang damai.
Semua orang yang menggunakan pakaian serba hitam itu menunduk ikut bersedih. Para anggota mafia mereka juga ikut menunduk sedih meski mereka berada di tempat tersembunyi.
Aiko, Jhosua dan dokter Li di makamkan, lalu satu persatu orang pergi dari sana setelah sesi upacara pemakaman telah berakhir. Kini hanya tinggal keluarga besar saja yang masih berdiri di depan makam Aiko dan Jhosua.
' Beristirahatlah dengan damai, ma.. Yara akan mencari tahu siapa yang sudah dengan tega mencelakai kalian.' Batin Yara.
' Oma, opah.. Tenang tenanglah disana. Apapun itu, Vaye, kak Edmund dan kak Nathan.. Akan mencari tahu penyebab kematian kalian.' Batin Vaye.
" Ayo kita pergi." Ujar Ethan, dan Yara mengangguk.
Semua orang pun pergi dari makam Aiko dan Jhosua. Masuk kembali ke kediaman, karena makam mereka berada di halaman belakang kediaman itu, lebih tepatnya di bawah pohon besar yang rindang.
" Kakak akan menyelidiki siapa yang sudah berani mengganggu keluarga kita, dan memastikan dia mendapatkan balasan yang lebih. Beraninya mereka menyentuh keluarga Maxwell." Ujar Ryuchie.
Jilian duduk di dekat Vaye, dan Vaye saat ini masih terlihat murung walau sudah tidak menangis.
" Vaye, apakah kamu sudah mengabari Nicholas?" Tanya Jilian.
Seketika Vaye tersadar, ya.. Dia belum sama sekali memegang ponselnya atau hanya untuk sekedar memberi kabar pada Nicholas bahwa dia pergi.
" Astaga, paman.. Vaye lupa." Ujar Vaye.
" Iya, nanti Vaye menghubungi dia." Ujar Vaye.
Vaye bangun dari duduknya, dan pergi ke kamarnya dimana ponselnya berada. Ia menggunakan ponsel berbeda di negara yang berbeda, ia pun hendak menghubungi Nicholas tapi kemudian..
" Haish.. aku lupa, disana jam segini pasti masih sekolah." Ujar Vaye.
Vaye merebahkan dirinya di kasur, dan terpejam.. dia merasa sangat mengantuk karena sejak kemarin malam dia tidak sama sekali beristirahat atau tidur. Akhirnya ia pergi ke alam mimpi.
Sementara itu di tanah air..
Nicholas tidak fokus dengan pelajaran nya, sejak pagi hingga sore menjelang pelajaran berakhir, dia sama sekali tidak fokus.
RIINGG!!! Akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Nicholas berjalan sendirian keluar dari kelas dan menuju tempat parkir, ia masuk kedlaam mobilnya tapi kemudian ia terkejut ketika melihat sosok yang berjalan di loby sekolah.
" Apakah mataku mulai rabun?? Tidak mungkin kan aku melihat hantu di siang bolong begini." Gumamnya.
__ADS_1
Sosok yang Nicholas lihat itu sudah menghilang di balik tembok, Nicholas sampai mengucek kucek matanya karena dia merasa mustahil dengan apa yang ia lihat barusan.
" Mungkin hanya perasaanku saja." Gimam Nicholas dan lalu menyalakan mesin mobilnya.
Nicholas menyalakan musik sangat keras guna mengusir ke galauan di hatinya itu, dia pun melajukan mobilnya pulang ke rumah. Tak lama, Nicholas sampai dan terlihat Nely yang sedang menyetek bunga di halaman.
Nely sudah mulai kembali seperti dulu lagi, dia senang menanami bunga, dan merawatnya. Ia akan turun tangan sendiri dan di bantu para pelayan nya.
" Mama.." Panggil Nicholas.
" Oh, hay sayang.. Kamu sudah pulang?" Ujar Nely, dan nicholas mengangguk.
" Kenapa dengan wajah yang lecek seperti pakaian tidak di setrika itu?? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Nely.
" Vaye terbang ke negara C semalam, ma. Oma dan Opah nya meninggal dunia." Ujar Nicholas.
" Astaga, Vaye pasti saat ini sedang sedih. Lalu apakah kamu tidak mau terbang kesana, menyusul Vaye? " Tanya Nely.
" Paman bilang mama akan sendirian. Tapi memang benar mama akan sendirian, jadi aku tidak ikut." Ujar Nicholas.
" Astaga, pamanmu itu.. Mama tidak apa apa, sayang. Kamu sidah besar, jadi pasti punya banyak urusan. Mama akan baik baik saja." Ujar Nely.
" Tidak apa apa, Vaye pasti akan menghubungiku nanti." Ujar Nicholas.
" Ya sudah.. Pegilah bersihkan dirimu dan beristirahat." Ujar Nely, dan Nicholas mengangguk.
' Padahal rencananya hari ini aku akan membuka Showroom itu. Sudahlah, tunggu Vaye kembali saja baru buka.' Batin Nicholas.
Sayangnya, hingga malam hari pukul 8 malam, Vaye belum juga mengabarinya. Nicholas jadi semakin uring uringan. Terlepas tubuhnya yang besar seperti pria dewasa, Nicholas masihlah remaja berusia 17 tahun yang labil.
Seperti saat ini, dia sedang bertelungkup di ranjang namun dengan posisi separuh badan bagian atasnya berada di lantai, dan kakinya berada di kasur, dengan tangan yang menggenggam ponsel.
" Vaye... apakah kamu melupakan aku.." gumamnya.
Ring.. Ring..
Baru saja Nicholas bergumam tidak jelas, ponselnya berdering.
Nicholas langsung semangat dan hendak mengangkat panggilan itu, sampai dia hilang keseimbangan dan
BRUK!! GUBRAK!!
" Aduh !! Haish... Ah, dimana ponselku." Ujarnya sambil mengusap usap kepala dan kakinya.
__ADS_1
" Halo.. Hai sayang.." Ujar nya ketika sudah mendengar suara Vaye.
TO BE CONTINUED...