Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 154. SEASON 2. KAKAK MENGUNJUNGI ADIK.


__ADS_3

Pelajaran pun dimulai, Tapi seperti biasanya Nicholas hanya akan tidur di kelas. Tapi kali ini, wajahnya menghadap ke arah Vaye. Hingga tiba tiba ia melihat wajah Timothy yang berada di sebelah Vaye.


" Haiish.. wajah yang merusak pemandangan." Gumam Nicholas.


" Miss!!" Teriak Nicholas.


" Ya, ada apa Nicho?" Ucap sang guru.


" Aku ingin tukar tempat duduk." Ujar Nicholas.


" Kenapa? Apakah kamu tidak bisa melihat papan tulis dari situ?" Tanya sang guru.


" Ya, aku terganggu." Ujar Nicholas.


Semua orang menatap Vaye dan berbisik, mereka mengira mungkin Vaye lah penyebabnya. Vaye sendiri tidak menunjukan ekspresi apapun, ia hanya diam mendengarkan.


" Baik, jadi dimana kamu mau tukar temoat duduk?" Tanya sang guru.


Nicholas tersenyum, lalu bangun dari temoat duduk nya, san menghampiri Vaye. Vaye mendongak karena Nicholas saat ini berada di sampingnya.


" Kamu, pindah kesana." Ujar Nicholas pada Vaye.


Vaye menunjuk dirinya sendiri dengan wajah seakan bertanya.


" Hm... sana pindah." Ucap Nicholas.


" Vaye, apakah kamu keberatan? Jika iya kamu boleh bertukar dengan yang lainnya." Ujar sang guru.


" Tidak perlu miss, saya saja bertukar tempat duduk dengan Nicho." Ujar Vaye, lalu bangun dari tempat duduknya.


Nicholas pun sedikit tersenyum, melihat Vaye yang menurut untuk pindah. Saat ia hendak duduk, ia bertatapan dengan Timothy, dan wajahnya berubah menjadi dingin.


" Merusak mood saja." Gumam Nicholas.


Pelajaran pun kembali di lanjutkan. Dan seperti biasanya Nicholas merebahkan kepalanya di meja, tapi kali ini ia menatap kearah Vaye. Vaye yang merasa di tatap hanya diam saja dan sama sekali tidak peduli dengan makhluk di sebelahnya.


Hingga tiba tiba terlihat guru yang sebelum nya sedang mengajar, mmenghentikan aktifitasnya setelah pintu ruang kelas di ketuk dari luar. Lalu masuklah seorang pria yang mungkin berumur 50 tahunan.


" Selamat pagi.." Ucapnya.


" Selamat pagi, pak kepala sekolah." Sahut guru, namun tidak dengan murid muridnya. Jangan lupa kelas itu adalah kelas dengan predikat buruk tertinggi.


" Aih, kelas ini selalu senyap." Ujar kepala sekolah.


" Sudahlah, bapak datang kemari karena ingin memberikan sedikit pandangan untuk kalian. Bapak mengundang seorang murid dengan kejeniusan tinggi, sehingga di usia yang seusia kalian dia sudah duduk di bangku universitas. " Ucap kepala sekolah.


Meski kepala sekolah berbicara pun, banyak murid yang tampak acuh tak acuh. Seperti Nicho contohnya, dia masih setia merebahkan kepalanya diatas meja.


Kepala sekolah menerangkan presrasi yang di peroleh oleh anak jenius itu, juga sambil memberikan pandangan pada murid nurid kelas itu, kelas yang tidak pernah ada sedikitpun kemajuan kecuali Timothy.

__ADS_1


" Sudahlah, silahkan masuk nak." Ucap kepala sekolah, sambil menatap pintu masuk.


Lalu dari luar kelas masuk seorang pemuda tampan dengan rambut abu abunya. Tubuhnya tinggi, dan terlihat berotot meski dia mengenakan kemeja yang lengannya di gulung hingga ke siku.


"KYAAA.." Teriak seluruh murid perempuan saat melihat siapa yang masuk.


" Halo.." Sapa pemuda itu.


Vaya terperanga melihat siapa yang di depan kelasnya itu. Kakaknya, Edmund.. Nicholas yang membuka mata karena berisik itu melihat wajah Vaye yang tampak terkejut, ia pun bangun dan melihat kedepan.


' Bukankah itu pria yang semalam duduk dengan Vaye di restoran? Apakah dia pacarnya? ' Batin Nicholas. Nicholas hanya mendengar Vaye memanggil Jilian paman.


Nicholas menatap Vaye yang saat ini tengah berkomat kamit. Lalu kembali melihat kedepan yang rupanya pria di sana juga menatap kearah Vaye sambil tersenyum.


' Ck, pasangan yang sangat kontras.' Batin Nicholas lalu kembali menjatuhkan kepalanya di meja.


Entah mengapa ada sedikit rasa kesal di hati Nicho, melihat Vaye yang terus menatap kearah Edmund. Padahal sesungguhnya Vaye tengah berkomat kamit kesla dsngan kedatamgan kakak nya.


' Astaga, bagaimana ini. Kakak tidak berniat untuk mebuka jati diriku bukan? Kenapa dia terus menatap kearahku, nanti orang akan curiga, kak Edmund bodoh.' Baton Vaye, antara sedikit kesal bercampur khawatir.


Ruang kelas yang riuh itu pun semakin riuh, karena Edmund mempersilahkan untuk bertanya dsn dia yangvakan menjawabnya. hal itu berlangsung cukup lama.


" Saya sudah lama di undang kemari sebenarnya, hanya saja saya baru memiliki waktu libur jadi baru sekarang mengunjungi sekolah ini. " Ujar Edmund.


" Baiklah, anak anak.. Kalian harus mencontoh Edmund ini. Dia sudah meraih begitu banyak penghargaan dan prestasi yang bagus. Semoga kalian ada yang tergerak hatinya untuk lebih giat belajar." Ujar kepala sekolah.


Rupanya Timothy pun menangkap arah pandang Edmund yang terus melihat ke arah Vaye dan tersenyum. Vaye yang di lempari senyum malah justru memutar bola matanya.


Hingga akhirnya pertemuan itu pun selesai saat jam istirahat berbunyi. Edmund pun keluar bersama kepala sekolah. Nicholas membuka matanya dan menatap kearah Vaye, terlihat Vaye yang bersiap bangun dan hendak keluar namun tangannya langsung di cekal oleh Nicho.


" Ada apa?" Tanya Vaye.


" Duduk." Ucap Nicholas.


Semua murid pun melihat ke arah Nicholas dan Vaye yang kini tampak seperti bersitegang.


" Aku mau ke kantin, lapar." Ujar Vaye.


Nicholas memiliki firasat, Vaye akan mengejar pria bernama Edmund itu. Jadi Nicholas sengaja menahan Vaye di kelas.


" Hei kau! Belikan makanan untuk dia dan bawa kemari." Ujar Nicholas pada teman kelasnya yang terlihat sama cupunya dengan Vaye.


" Hei, dilarang makan di kelas." Ujar Vaye, protes.


" Baik, kalau begitu ayo kita kantin." Ujar Nicholas.


Semua orang terkejut mendengarnya, apa tadi Nicho bilang? Ke kantin bersama Vaye, sang gadis cupu berkaca mata tebal? Batin semua orang.


Nicho menarik tangan Vaye dan hendak pergi tapi kali ini tangan kiri Vaye yang di cekal oleh Timothy. Nicho pun menatap tajam Timothy dan begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


" Lepas!" Ucap Nicho.


" Kau dulu, lepaskan Vaye." Ujar Timothy.


Keduanya bertatapan bagai musuh bebuyutan yang berebut kekasih. Vaye menunduk jengah, lagi lagi mereka ribut.


" Kalian berdua, lepaskan tanganku." Ucap Vaye. Namun keduanya tidak menggubris.


'Eiih.. Sama sama kepala batu.' Batin Vaye.


" Aku hitung sampai tiga, jika kau tidak melepasnya, maka akan aku lempar ke dinding. Satu.. Dua.. " Ucap Nicholas.


Tapi Timothy sama sekali tidak takut, ia justru semakin mengeratkan pegangannya di tangan Vaye. Hingga akhirnya tiba tiba Nicho maju dan menendang Timothy hingga Timothy terpental ke dinding.


" Nicho!! kau gila?!" Teriak Vaye.


Tapi Nicho tidak peduli dan hendak kembali menarik Vaye keluar daei sana. Sampai akhirnya Vaye menarik paksa dan menghempaskan tangannya dari cekalan Nicholas.


" Timothy, kau tidak apa apa?" Tanya Vaye, yang langsung membantu Timothy bangun.


Nicholas begitu terlihat kesal sekarang, tatapannya begitu tajam, tangan nya bahkan sudah mengepal kuat. Akhirnya dia yang pergi sendirian dan sebelum keluar kelas, ia menendang meja milik teman sekelas hingga meja itu berantakan.


" Terimakasih Vaye." Ucap Timothy.


" Tidak masalah , ayo." Ujar Vaye membantu Timothy duduk.


" Aku minta maaf, tapi aku harus pergi." Ujar Vaye, dan Timothy pun tidak bisa berkata apa apa.


"Ya, pergilah.. Yang terpenting kamu tidak di ganggu Nicho." Ujar Timothy.


" Terimakasih." Ucap Vaye dan ia langsung berlari pergi.


Semua teman kelas yang menyaksikan itu mangkap adanya cinta segitiga diantara Timothy, Vaye, dan Nicholas. Tetapi mereka tisak tahu, siapa yang Vaye sukai diantara keduanya.


Vaye berlari mencari keberadaan kakaknya, ia khawatir kakak nya mengatakan kepada kepala sekolah bahwa dirinya adalah adik Edmund. Walau Vaye sudah memberi tabu kakaknya untuk tidak membuka jati dirinya, tapi ia hanya ingin memastikan.


" Ish, kemana kakak pergi?" Gumam Vaye.


Tapi kemudian ia melihat kepala sekolah, Vaye pun langsung menghentikan kepala sekolah.


" Pak kepala sekolah, apakah murid jenius yang tadi itu masih ada?" Tanya Vaye.


" Oh, Edmund? Dia sudah pulang nak. Memang sangat susah mengundang nya datang, sekalinya datang hanya sebentar. Orang jenius memang sibuk." Ujar kepala sekolah.


' Sepertinya kakak tidak memberi tahu identitasku, baguslah. ' Batin Vaye.


" Begitu ya pak, baik kalau begitu saya permisi pak." Ucap Vaye dan langsung pergi.


' Membuatku takut saja.' Batin Vaye.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2