Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 179. SEASON 2 Perayaan sweet seventeen.


__ADS_3

Vaye tengah berada di salon, ia berencana mengembalikan warna rambutnya seperti semula yaitu perak. Nanti malam adalah pesta besar perayaan ulang tahun tiga kembar jenius, yaitu Edmund, Nathan dan Vaye.


Karena itu adalah sweet seventeen mereka, Yara dan Ethan menyelenggarakan pesta yang begitu megahnya untuk anak - anak mereka di hotel mewah milik mereka di kota LA.


"Bagaimana hasilnya nona?" Tanya pegawai salon.


" Bagus.. Terimakasih." Ujar Vaye. .


Vaye pun keluar dari salon itu, dan tujuannya saat ini adalah pulang ke kediamannya. Vaye mengendarai mobil sportnya, dan atap mobil itu di buka hingga rambut peraknya yang indah bergelombang berkibar bebas diudara.


" Nicholas, sedang apa dia." Gumam Vaye.


Vaye memasang ear piece di telinganya dan menekan panggilan menghubungi Nicholas. Baru sekali dering, panggilan itu langsung terangkat, Vaye pun terkekeh.


" Yo... Ada yang semangat sekali menerima panggilan dariku." Ujar Vaye sambil terkekeh.


" Ish, mana ada.. Aku sedang bermain game, dan kau menghubungiku." Ujar Nicholas.


" Iya kah?? Aku pikir seseorang tengah sangat kesepian hingga begitu semangat mendapat panggilan dariku." Ujar Vaye.


" Percaya diri sekali anda." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.


Tapi sesungguhnya, memang benar Nicholas sedang menunggu Vaye menghubunginya. Entah mengapa seperti ada yang hilang ketika Vaye tidak bersamanya.


Begitu ponselnya berdering, senyum indah terukir di bibir Nicholas dan langsung menggeser layar hijaunya. Tetapi Nicholas terlalu gengsi mengakui bahwa dirinya menunggu Vaye.


" Bagaimana kabarmu??" Tanya Vaye.


" Aku baik, seperti biasanya." Ujar Nicholas.


" Oh, kau tidak sedang berdiri di atap gedung bukan?? " Ujar Vaye, dan itu berhasil membuat Nicholas terkekeh.


" Kau masih mengira aku adalah Nicholas yang labil?? Bagaimana disana? Apakah mommy dan daddymu sehat??" Tanya Nicholas.


" Ya, mereka baik.. Nicholas, jangan merindukan aku, oke." Ujar Vaye sambil terkekeh.


" Ck! si paling tahu isi hati orang." Ujar Nicholas.


" Ha! Jadi kau benar benar merindukan aku?? Wah.. Legend. " Ujar Vaye terkekeh.


Mereka berdua bertelepon sembari Vaye mengemudikan mobilnya, begitu asih dan tidak peduli dengan sekitarnya. Vaye bahkan bisa tertawa begitu lepas hanya karena menelepon Nicholas, begitupun Nicholas.


Semua yang melihat Vaye, begitu terpesona dengan kecantikan Vaye, terutama ketika melihat rambut perak Vaye yang berkibar, sangat mengagumkan.


" Sudah dulu ya, aku sudah sampai rumah." Ujar Vaye.


" Hm.. Jaga dirimu baik baik." Ujar Nicholas.

__ADS_1


" Yes sir!! " Ujar Vaye , dan Nicholas pun terkekeh.


Panggilan pun diakhiri, Nicholas di seberang sana tersenyum senyum tidak jelas, wajahnya memerah tidak beralasan.


" Ekhem!! Aku sepertinya terlalu banyak makan makanan manis." Ujar Nicholas.


Hingga akhirnya malam pesta perayaan ulang tahun Vaye, Edmund, dan Nathan pun tiba. Nathan sudah terlihat sangat tampan dengan stelan tuksedo berwarna putih, begitu juga Edmund. Keduanya, terlihat begitu mempesona dan wajah mereka benar benar tidak bisa di bedakan, bedanya adalah warna rambut dan mata mereka yang tidak serupa.


" Anak anak mommy, kalian sudah siap?" Ujar Yara yang muncul dari luar.


" Astaga mom, mana bisa mommy masuk kedalam kamar pria begitu saja?" Ujar Nathan.


" Ish, pria apa nya, kamu anak mommy. Masih kecil sudah sok dewasa." Ujar Yara.


" Tapi kan kami sudah tujuh belas tahun, mom.." Ujar Nathan dan Edmund bersamaan.


" Astaga, iya.. iya.. Anak mommy sudah dewasa, mommy sudah tidak bisa sembarangan masuk kamar." ujar Yara mengsedih.


Pada akhirnya baik Nathan maupun Edmund hanya bisa menghela nafas. Mereka tidak bisa melihat Yara sedih apalagi terluka. Yara adalah Ratu mereka, sebelum Vaye.


" Sudah.. Sudah.. Nathan minta maaf, mommy jangan sedih." Ujar Nathan, dan Edmund memeluk Yara.


" Kami tetap anak anak mommy, dan tetap putra kecil mommy." Ujar Edmund.


Yara merasa waktu cepat sekali berlalu, ketiga anak nya itu sudah tumbuh besar saja, bahkan di usia 17 tahun saja tinggi mereka sudah seperti pria dewasa.


" Mana adik kalian?? Apakah dia belum selesai di make up?" Tanya Yara.


Edmund keluar dari pintu kamar hotel itu, dan berjalan menghampiri Vaye yang berada di kamar lain. Edmun menempelkan kartu dan pintu terbuka.


Saat pintu terbuka, Edmund terkejut melihat Vaye yang sudah selesai di make up.


Vaye menggunakan dres berwarna putih dengan panjang selutut. Rambut perak nya ia biarkan terurai, dan hanya di beri jepit kecil sebagai pemanis.


" Woah.. Peri kecil, kamu sudah bertransformasi menjadi peri dewasa yang cantik." Ujar Edmund.


" Kakak, jangan membual padaku.. Jika ingin membual, sana pada gadis pujaan kakak." Ujar Vaye.


" Hmm.. yang sudah punya pacar, sudah tidak mau di puji kakak." Ujar Edmund.


" Mana ada aku punya pacar, sembarangan bicara." Ujar Vaye.


Akhirnya Vaye selesai di make up, dan keduanya keluar dari kamar. Ethan, Yara dan Nathan pun sudah berada di luar. Mereka pun turun bersama sama menuju aula hotel, dimana pesta ulang tahun mereka berada.


Semua orang menatap penuh kagum pada keluarga itu, keluarga yang harmonis dan kaya raya tentunya. Di tambah lagi ada dua pangeran tampan dan satu putri cantik yang siap melanjutkan jenjang kedua orang tuanya.


Banyak yang menggadang gadang ketiganya itu untuk menjadiken nya menantu, siapa yang tidak mau berbesan dengan Ethan dan Yara.. apalagi ketiga anak anaknya itu terkenal jenius.

__ADS_1


Rayson, Jilian, Sean dan Bara juga berada disana. Membicarakan Bara, Bara terlihat begitu berbeda. Wajahnya kini di tumbuhi jambang yang di cukur rapi, dia terlihat sangat dewasa dan seksi.


" Terima kasih telah datang di acara ulang tahun putra dan putri kami yang ke tujuh belas. " Ujar Yara.


Semua tamu berbondong bondong mendekat ke arah Ethan dan Yara, mereka sebisa mungkin akan menonjolkan diri mereka, mungkin agar Ethan melirik mereka sebagai kolega kerja.


" Tuan Dominique, selamat atas ulang tahun putra dan putri kalian." Ujar sebuah suara yang tidak asing di telinga Vaye.


Vaye melihat ke asal suara dan benar, Prasetya berdiri disana dengan Timothy di sampingnya. Vaye terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya, seolah tidak habis pikir.


" Oh, terimakasih tuan Pras.. Apakah ini putra anda?" Tanya Ethan.


" Ah, ya.. Dia putraku, Timothy." Ujar Pras memperkenalkan Timothy.


" Halo tuan Dominique, salam kenal saya Timothy." Ujar Timothy.


" Ya.. ya.. Kamu pasti seumuran anak anak saya." Ujar Ethan.


" Dimana gerangan yang berulang tahun, tuan Dominique?" Tanya Pras.


" Ah, mereka disana, anak anak, kemari." Panggil Ethan. Vaye, Edmund dan Nathan pun menghamipri sang daddy.


" Perkenalkan, Dia tuan Pras, salah satu kolega kerja daddy. " Ujar Ethan.


" Halo, selamat ulang tahun untuk kalian. Astaga.. tuan Ethan anda sangat beruntung memeiliki sekaligus tiga anak kembar. " Ujar Pras.


" Terimakasih." Ujar Ethan.


Vaye, Edmund dan Nathan hanya diam saja, entah mungkin karena hati mereka teroaut satu sama lain, Mereka semua tidsk menyukai kehadiran Pras disana.


" Entah mengapa, sepertinya wajah putri anda seperti tidak asing. Saya seperti pernah bertemu dengannya, siapa namanya tuan??" Tanya Pras.


" Dia V.."


" Valleria." Ujar Vaye memotong ucapan sang daddy.


" Oh, nama yang indah." Ujar Pras.


Entah ada yang melihat atau tidak, Timothy terus menatap kearah Vaye. Tapi Vaye sama sekali tidak peduli, ia bersikap seolah tidak mengenal Timothy.


" Apakah kamu Edmund? Yang pernah datang ke sekolahku, di Jakarta?" Tanya Tomothy.


" Sekolahmu yang mana? Aku tidak datang hanya di satu sekolah." Ujar Edmund.


" Apakah kamu mengenalnya, nak?" Tanya Pras.


" Ya, dia adalah jenius yang terkenal.. Edmund, dan kamu pasti Nathan, benar?" Ujar Timothy mencoba akrab, dan Nathan hanya mengangguk singkat.

__ADS_1


' Sepertinya dia teman kelas adik, tapi adik sepertinya tidak menyukai anak ini. Kelihatannya adik memiliki cerita seru. ' Batin Nathan.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2