
Vaye dan Nicholas berada di luar ruangan Ibu Nicholas. Vaye masih penasaran mengapa ibu Nicholas begitu membenci Nicholas. Vaye juga menatap penuh simpati pada Nicholas yang saat ini hanya diam saja.
" Nicholas, kau tidak apa apa??" Tanya Vaye.
" Aku tidak apa apa, Vaye. Itu pemandangangan yang biasa terjadi saat aku berkunjung kemari." Ujar Nicholas tersenyum.
Saat ini mereka berdua sedang menyaksikan bagaimana ibu Nicholas di tangani oleh dokter. Ibu Nicholas berteriak teriak terus menyebut pembunuh dan pembunuh.
" Apakah kamu tidak memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah? " Tanya Vaye pada Nicholas.
Nicholas menatap Vaye, dia selalu menginginkan itu.. hanya saja ia tidak memiliki keberanian. Entahlah.. jika mengingat hal itu, dia menjadi sangat ketakutan, apalagi selama ini dia selalu sendirian.
Dia bisa saja melakukan penyelidikan, tapi dia tidak yakin mentalnya akan kuat. Karena jika ia menyelidiki itu, secara otomatis dia akan kembali mengingat kejadian bagaimana saat kakaknya meninggal.
" Aku takut.." Ujar Nicholas.
Vaye mengerti, Nicholas memiliki trauma nya sendiri untuk membuka masalalu dan penyebab kematian sang kakak.
" Aku mengerti, bagaimana jika aku membantumu??" Tanya Vaye.
" Kamu?? Membantuku?" Ujar Nicholas tidak percaya.
" Hmm.. Serahkan padaku. Jangan terlalu kamu pikirkan, nanti kamu kembali di hantui trauma itu lagi. Fokus saja pada kesembuhanmu." Ujar Vaye.
" Tapi bagaimana caramu melakukannya?" Ucap Nicholas.
" Rahasia."Ucap Vaye sambil menyengir.
" Ish, sok misterius sekali." Ujar Nicholas.
" Kamu juga.. tidak mau memberitahu pekerjaanmu." Ujar Vaye.
' Sudahlah, tidak mungkin dia bisa mencari tahu kejadian itu.' Batin Nicholas.
" Kalau itu memang rahasia." Ujar Nicholas sambil terkekeh.
" Ibumu sudah tertidur.. " Ujar Vaye saat melihat ibu Nicholas yang sudah tenang berbaring di atas ranjangnya.
" Ayo kita pulang." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.
Akhirnya keduanya pergi dari rumah sakit jiwa itu tanpa sempat Vaye berbincang dengan ibu Nicholas.
" Kenapa aku merasa mobil di belakang terus mengikuti kita?" Ujar Vaye pada Nicholas.
" Mobil? " Ujar Nicholas sambil melihat kearah spionnya.
" Mungkin hanya kebetulan satu arah dengan kita." Ujar Nicholas.
" Tidak mungkin, kita sudah melewati banyak tikungan. Ayo kita tes, coba kamu belok ke jalan itu." Ujar Vaye, san Nicholas mengangguk.
Mereka masuk ke jalanan yang lumayan sepi, bukan sepi sekali tetapi pengandara lain tidak terlalu banyak yang lewat disana.
" Kemana dia, tidak ada kan?" Ujar Nicholas.
" Nicholas awas!!" Ucap Vaye tiba tiba dan Nicholas langsung mengerem mendadak.
CCKIT!!!
Suara rem yang bergesekan.
__ADS_1
" Astaga, apa dia ingin mati!" Ujar Nicholas.
Mobil yang sebelumnya mengikuti mereka tiba tiba memotong di tengah jalan. Lalu keluar beberapa pria ber pakaian hitam.
' Siapa mereka?' Batin Vaye.
Nicholas dan Vaye keluar dari mobil, dan kini keduanya berhadap hadapan dengan empat pria berbadan besar dan bertato.
" Nicholas dan Vaye.. itu kalian berdua bukan?" Ujar pria itu.
" Bukan." Ujar Nicholas.
" Bohong! jelas jelas di foto itu wajah kalian." Ujar Pria itu.
" Kalau sudah tau, kenapa bertanya? Bodoh." Ujar Nicholas.
" Kurang ajar! Beraninya mengataiku bodoh." Ujar pria itu.
" Kau sudah tau itu kami, tapi bertanya. Apa namanya kalau bukan bodoh?Kalian suruhan siapa?? Henry si bren*sek?" Ujar Nicholas.
" Tidak perlu tahu kami suruhan siapa, sekarang ikut denganku baik baik, atau babak belur terlebih dahulu." Ujar pria itu.
" Ada pilihan lain??" Tanya Vaye.
" Tidak ada, hanya dua." Ujar oria itu.
" Kalau begitu biar aku buat pilihan ketiga, aku ingin menghajar kalian." Ujar Vaye.
" Wah - wah.. Bocah bau kencur tapi mulutnya besar." Ucap pria itu.
" Mulutku kecil, dan apa itu kencur?" Ujar Vaye.
Pria itu kehabisan kata kata, sejujurnya dia juga tidak tahu apa itu kencur. Hanya saja banyak yang mengatakan kata kata demikian pada anak anak.
Dua pria maju, karena menurut mereka untuk melumpuhkan anak anak kecil seperti Vaye dan Nicholas pasti sangat mudah. Sekali tempeleng mungkin pingsan pikir mereka, dan mereka pun melayangkan bogeman mereka pada Nicholas dan Vaye.
Vaye menangkis pukulan pria besar yang mencoba menyerangnya, dan berbalik dia yang memukul mulut pria itu, hingga satu gigi pria itu copot.
" Aduh!! Bocah s*alan! Beraninya memukul gigi." Ujar pria itu.
" Suka suka saya." Ujar Vaye.
Sementara itu, Nicholas dan pria yang satu lagi terlihat sangat sengit. Nicholas juga rupanya lumayan sulit di tangkap. Pria besar itu sampai terlihat emosi karena kesulitan menangkap Nicholas.
"Biar aku beri tahu kau, paman. Aku sedang tidak ingin menyakiti orang, jadi lebih baik paman pergi." Ujar Vaye.
" Enak saja, kau sudah membuat satu gigiku patah. Masih bilang sedang tidak ingin menyakiti orang. Jika aku belum menangkapmu, maka dendamku belum lunas." Ujar pria itu.
" Baru bertemu sudah mendendam, dasar pria tua." Ujar Vaye, meledek.
Pria itu maju, dan kali ini dia tidak lagi menyepelekan Vaye. Ia dengan kekuatannya melawan Vaye namun tetap masih bisa di imbangi Vaye, bahkan beberapa kali wajah pria itu terkena pukulan Vaye.
" Kenapa kau terus mengarah ke wajahku!? Banyak spot lain kenapa harus pukul wajah?" Ujar pria itu kesal.
" Suka suka aku lah." Ujar Vaye santai.
Perkelahian itu kembali sengit, bahkan Nicholas sudah menumbangkan satu pria dan kini sedang melawan yang satunya.
' Wah, lumayan.. Bisa berolah raga sedikit.' Batin Vaye.
__ADS_1
' Tapi aku tidak mau buang buang waktu, aku harus tahu siapa yang menyuruh mereka.' Batin Vaye.
KRAKK!!
" Arrggh!!! Sakit, sakit, sakit!" Teriak pria yang sudah ompong itu.
" Katakan, siapa yang menyuruh kalian. Atau kau mau tangan mu yang satu lagi patah?" Ujar Vaye.
" Hei!! Beraninya kau." Ujar Pria yang sedari tadi hanya berdiri.
Pria itu hendak menyerang Vaye, namun dengan gerakan gesit nya Vaye menendang pria itu hingga terpental ke aspal.
" Katakan! Aku tidak punya waktu untuk bermain sekarang." Ujar Vaye, sambil terus menekuk tangan pria itu.
" ARGH!! Iya, iya.. Saya katakan, saya katakan." Ujar pria itu kesakitan.
Sungguh terlihat menyedihkan, sudah giginya ompong, tangan kanannya patah, wajahnya babak belur dan kini tangan kirinya juga terancam patah.
" Apakah Henry?" Tanya Vaye.
" B- bukan.. Nona Lini yang menyuruh kami." Ujar pria itu.
" Lini?? Apakah Lini Audrey? " Ucap Vaye.
" Ya, tolong lepaskan tanganku, nak." Ujar pria itu.
Vaye melepaskan tangan pria itu, dan pria itu merasa lega, baru saja ia tersenyum senang karena tangan nya di lepaskan Vaye menendang bokongnya hingga pria itu tersungkur di atas pria yang tersungkur tadi hingga keduanya tidak sengaja berciuman.
GUBRAK!!
" Bodoh! Kenapa kau jatuh ke arahku." Ujar pria yang tertimpa sambil menyentuh bibirnya.
" Mana aku tahu aku akan di tendang." Ujar pria itu kesulitan bangun.
Vaye menutup mulutnya, melihat posisi mereka yang bisa di katakan.. Sangat romantis.
" Ups.." Gumam Vaye.
" Vaye, kau tidak apa - ap... Hah?? Kenapa mereka berbagi kasih sayang di sana." Ujar Nicholas menatap dua pria yang saat ini masih berada di atas aspal.
Seketika Nicholas langsung menutup mata Vaye. Vaye pun memegang tangan Nicholas untuk melepas, tapi Nicholas semakin kencang saja.
" Kamu belum tujuh belas tahun, dilarang melihat itu. " Ujar Nicholas.
" Memangnya kau sudah?" Ujar Vaye.
" Bukan itu poin nya, kau jangan melihat pemandangan yang merusak. Ayo kita pergi dari sini." Ujar Nicholas.
" Hei!! Mau kemana kalian." Teriak pria yang di timpa.
" Bangun bodoh! Kau mau sampai kapan berada di atasku!" Teriak pria itu pada pria yang ompong.
" Tangan kananku patah, aku kesulitan bangun." Sahut si pria ompong.
Vaye dan Nicholas masuk kedalam mobil dan kemudian melesat dari sana. Sepanjang jalan itu, Vaye dan Nicholas tertawa terbahak bahak ketika mengingat pemandangan tadi.
" Mereka di kirim Lini.." Ujar Vaye.
" Lini?? Lini teman kelas kita?" Ucap Nicholas terkejut, dan Vaye mengangguk.
__ADS_1
" Ck, hanya karena posisi rankingnya tergeser dia mengirim preman untuk menyakiti kita. Untung saja kita bisa melawan, Lini sudah keterlaluan. " Ujar Nicholas.
TO BE CONTINUED..