
Sean sedikit mengerutkan keningnya karena malihat Vaye yang berganti penampilan.
" Vaye kamu.."
" Paman, hehehe.. Paman, daddy menitipkan pesan, paman bisa ikut Vaye sebentar?" Ujar Vaye memotong ucapan Sean.
Sean pun mengangguk, dan mengikuti kemana Vaye pergi. Nicholas merasa Vaye seperti menyembunyikan sesuatu tapi entah apa itu.
' Paman? Berapa banyak pamannya? kemarin chef Jilian juga dia panggil paman.' Batin Nicholas.
" Astaga, apakah Vaye adalah keponakan paman tampan tadi? Ya ampun aku mau jadi sugar babynya." Canda teman kelas Vaye.
Sementara itu, Vaye mengajak Sean masuk kedalam dan melirik kesana kemari memastikan bahwa tidak ada orang yang mengenalnya.
" Kamu kenapa, sayang?" Ujar Sean.
" Paman.. bisakah paman jangan mengatakan kepada siapapun bahwa aku adalah Vaye? Maksudku Valleria. Aku menyembunyikan identitasku, dan sekolah di Jakarta." Ujar Vaye menjelaskan.
" Kamu sekolah lagi? Bukankah kamu sudah lulus?" Ucap Sean.
" Ya, tapi Vaye masih ingin menikmati masa muda Vaye dan belum ingin masuk ke Universitas. Bisakah paman jangan beri tahu siapapun?" ucap Vaye.
" Baik... paman kira kamu kabur dari rumah." Ujar Sean.
" Astaga.. Daddy akan memecat Vaye nanti." Ucap Vaye, dan Sean terkekeh dibuatnya.
" Lalu apa yang kamu lakukan di lapangan tembak?" Tanya Sean.
" Emm.. Itu, apakah paman juga bisa merahasiakan ini dari daddy dan mommy? Vaye terpaksa paman, ini adalah tantangan." Ujar Vaye.
" Apakah kamu dirundung?" Ucap Sean serius.
" Tidak, Vaye tidak dirundung. Vaye sedang taruhan dengan seorang teman kelas. Ceritanya panjang, tapi Vaye sungguh tidak sedang dirundung." Ucap Vaye.
" Baik.. Tapi janji tidak terjadi hal buruk padamu." Ujar Sean.
" Ya, Vaye janji. Kalau begitu Vaye pergi dulu, paman. Teman teman Vaye menunggu, bye paman Sean." Ucap Vaye dan langsung berlari.
Sean tentu tidak mengindahkan ucapan Vaye. Keselamatan Vaye adalah yang terpenting.
" Halo, putrimu sedang di lapangan tembak sekarang.." Ucap Sean.
" ..... "
" Tidak, jangan memarahinya. Aku mengatakan ini bukan untuk kau memarahinya, tapi kirimkan saja anak buahmu untuk menjaga dia dari jauh." Ucap Sean lagi.
" ...... "
" Kalau begitu biar anak buahku saja yang mengawasinya, Vaye pasti tidak mengenali anak buahku." Ucap Sean.
" .... "
"Dia baik baik saja, hm.. Aku mengerti, bye. " Ujar Sean, dan panggilan diakhiri.
Sean Theron, kini menjelma menjadi laki laki yang matang dan dewasa, jika dulu dia berada di Blood, kini dirinya mendirikan sebuah tempat pelatihan olah raga, seperti lapangan tembak itu dan beberapa tempat lain. Dia juga CEO dari perusahaan nya sendiri yang kini sudah merambah besar.
Jika dulu Sean dianggap sebagai putra tidak berguna, kini keluarganya justru hanya bisa memandang iri Sean yang berdiri begitu tingginya. Sayangnya, dia seperti Jilian.. belum menikah dan masih saja menjadi seorang cassanova seperti dulu.
Berpindah pada lapangan tembak yang terbuka.. Nicholas sudah siap dengan semua peralatannya, papan target juga sudah berdiri di hadapannya saat ini.
" Kita mendapatkan sepuluh kali kesempatan, siapa yang mencetak skor lebih banyak dia menang." Ujar Nicho pada Vaye.
" Hm.. silahkan dimulai." Ujar Vaye.
" Vaye, jangan melawannya, dia ahli dalam menembak. Kamu akan kalah nanti. Atau biar aku saja yang menggantikanmu." Ucap Timothy.
Timothy mendengar kabar taruhan ini, dan ia merasa khawatir dengan Vaye. Ia pun menyusul datanh ke arena tembak.
__ADS_1
" Terimakasih sudah menawarkan diri, tapi tidak perlu. Ini adalah taruhanku." Ucap Vaye.
" Nicholas, silahkan mulai duluan." Ujar Vaye.
Papan tembak itu berjejer kebelakang. Yang paling depan adalah jarak 10 meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Dan semakin mundur papan, semakin jauh jaraknya.
Perbedaan dari papan satu ke yang lain adalah 5 meter. Jadi papan paling belakang berjarak 50 meter dari tempat mereka berdiri sekarang.
" Aku mulai.. Oiya, Vaye. Harus kena tepat di tengah target." Ujar Nicholas.
" Nicho kau gila?!! kau sama saja menindas Vaye." Ujar Timothy.
" Atau kau mau berdiri disana menjadi target? " Ujar Nicholas dengan senyum smirknya.
" Sudah - sudah, aku setuju.." Ujar Vaye.
" Vay.." Ucap Timothy
" Tidak apa apa.. Nicholas, silahkan mulai." Ujar Vaye.
Nicholas memposisikan dirinya, ia membidik target target pertama dan..
DOR!!
Papan pertama berhasil Nicho tembak tepat di tengah. Semua orang pun bertepuk tangan.
Nicholas kembali membidik papan kedua dan..
DOR!!
Papan kedua itu juga berhasil Nicho tembak. Hingga papan ketiga, keempat, kelima, dan ke enam.. Nicholas berhasil melewatinya.
' Jika aku lanjut, aku belum tentu bisa tepat sasaran. Lebih baik aku berhenti disini saja, lagi pula Vaye juga belum tentu bisa mencetak skor sebanyak aku.' Batin Nicholas.
" Aku selesai." Ujar Nicholas.
" Vaye, giliranmu." Ucap Nicholas.
" Vaye, biar aku gantikan, ya?" Ucap Timothy.
" Kau bisa diam! Ini adalah taruhan antara aku dan Vaye. " Ucap Nicholas.
" Kau menindasnya, dengan skor 60 siapa yang bisa mengalahkanmu." Ujar Timothy.
" Berisik." Ujar Nicholas.
" Tidak apa apa, ini giliranku." Ucap Vaye.
Vaye maju dan membongkar senapan yang Nicholas gunakan. Vaye membukanya dengan gerakan santai tanpa takut salah saat memasangnya kembali.
" Lihat dia, dia malah membongkar senjata nya." Bisik anak anak disana.
" Dia pasti tidak tahu cara menggunakan senjata." Ujar yang lain.
Tapi rupanya Vaye justru mengisi ulang peluru senjata api itu dan merakitnya kembali seperti semula.
' Dia mahir sekali merakit senjata.' Batin Nicholas.
Vaye memposisikan dirinya ia berdiri dengan tanpa menggunakan peralatan keselamatan.
" Gunakan rompimu." Ujar Nicholas.
" Tidak perlu." Ujar Vaye. Vaye memposisikan dirinya, dan membidik sasaran.
DOR!!
Hening, tapi kemudian disusul tawa yang begitu renyah. Tembakan Vaye meleset dari target. Bahkan tidak mengenai papan sama sekali.
__ADS_1
" Ups.. Dia sok jagoan sekali." Ucap teman kelas Vaye.
' Dia mahir merakit senjata tapi mengapa tidak bisa menembak dengan benar.' Batin Nicholas.
Lalu vaye menembak papan kedua dan ketiga, semuanya kembali meleset. Vaye ditertawakan semua orang yang melihat disana. Nicholas menjadi sangat emosi melihat Vaye di tertawakan.
" Diam!! " Bentak Nicholas, dan semua orang pun diam ketakutan.Vaye membidik papan selanjutnya dan..
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Semua orang terperanga, Vaye menembak tepat di tengah sasaran dan ketujuh papan itu bolong dalam waktu kuran dari satu menit.
" K- kamu!! Kamu ahli menembak?" Ujar Nicholas terkejut.
" Tidak, hanya kebetulan beruntung." Ujar Vaye tersenyum.
Bahkan Nicholas tidak yakin untuk melewati papan ke tujuh, tapi Vaye menembak dari papan ke empat hingga ke sepuluh. Vaye mencetak skor 70 dan Nicholas 60 yang berarti Vaye adalah pemenangnya.
Timothy menatap kagum pada Vaye, dia tersenyum bangga, karena Vaye akhirnya mengalahkan Nicholas, dan dengan papan target yang lebih jauh dari Nicholas.
" Pemenangnya Vaye." Teriak Timothy.
Semua orang disana bertepuk bahkan Sean pun yang melihat Vaye dari jauh juga ikut tersenyum bangga.
" Prajurit kecilku sungguh hebat." Gumam Sean.
" Kau menang untuk pertandingan ini, kita masih ada beberapa pertandingan lagi, jangan lupa." Ujar Nicholas mengulurkan tangannya untuk berjabat.
" Ya, aku tahu.." Ujar Vaye dan menjabat tangan Nicholas.
" Vaye, apakah kalian masih akan bertanding?" Tanya Timothy.
" Bukan urusanmu, ayo Vaye." Ujar Nicholas menarik tangan Vaye.
" Aku bertanya pada Vaye bukan padamu." Ujar Timothy mencekal tangan Vaye.
Selalu begitu, orang yang melihat mungkin akan mengira mereka terlibat cinta segitiga.
" Lepas!" Ucap Nicholas.
Timothy tidak melepaskan tangan Vaye, akhirnya Vaye yang melepaskan tangannya dari dua pria itu. Dia terlalu malas untuk terlibat dengan dua pria yang selalu bermusuhan itu.
" Karena ini sudah selesai, aku pulang dulu." Ujar Vaye, dan melangkah pergi.
" Apakah kau menyukainya, Nicho?" Ujar Timothy.
" Terlepas apakah aku menyukainya atau tidak, apa hubungannya denganmu?" Ucap Nicholas.
" Jika kau hanya ingin mempermainkannya, lebih baik jangan dekati dia, dia gadis baik baik." Ujar Timothy.
" Lalu? Aku adalah pria yang buruk dan kau adalah pria baik baik, begitu? " Ujar Nicholas.
" Nicho, kau mendekatinya karena dendam denganku bukan? Kau tidak mau aku memiliki teman lain, kau cemburu padaku bukan?" Ujar Timothy.
Mendengar itu, Nicholas menjadi murka dan langsung menghajar Timothy. Nicholas memukuli Timothy hingga bibir dan hidung Timothy mengeluarkan darah.
" HEI! Berhenti! Jangan berkelahi disini." Ucap Sean melerai keduanya di bantu oleh asisten Sean.
" Kau bilang aku cemburu padamu? Cuih!! Lucu.. Apa kau tidak salah bicara? Kau yang merebut apa yang seharusnya menjadi miliku, apa kau lupa anak haram?!" Ujar Nicholas.
Sean dan asistennya itu hanya geleng geleng melihat dua bocah ingusan berkelahi di tempatnya.
" Pulanglah, jangan berkelahi disini, nak." Ujar Sean.
" Permisi paman." Ujar Nicho dan langsung pergi dari sana.
" Eh?? Dia panggil aku apa barusan??" Ucap Sean.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...