Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 174. SEASON 2. BERBAIKAN.


__ADS_3

Vaye dan Nicholas sampai di danau tempat biasa mereka berkumpul. Nicholas sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi berjauhan dari Vaye.


" Kau tahu, sebenarnya aku berniat mengakhiri taruhan itu saat ujian kita berakhir nanti." Ujar Nicholas.


" Taruhan apa?" Ujar Vaye.


" Taruhan untuk aku menjauh sementara darimu. Aku bertatuh pada diriku sendiri, untuk tidak mendekat atau bicara padamu sampai ujian nanti, tapi rupanya aku tidak bisa." Ujar Nicholas sambil terkekeh.


" Ish, senang sekali kau membuat orang merasa bersalah." Ujar Vaye, kesal.


" Ha? Aku kan sudah mengatakan kepadamu sebelumnya, bahwa aku akan berusaha agar aku mendapat nilai yang bagus, agar aku layak menjadi temanmu. Dan aku tidak menyalahkanmu atas apapun." Ujar Nicholas.


" Lalu kau pikir dengan kau tiba tiba menjauh begitu aku tidak merasa bersalah? " Ujar Vaye.


" Y- ya maaf.. " Ujar Nicholas sambil menggaruk kepalanya.


" Sekarang katakan padaku, kau kemana saja selama ini? Lalu siapa yang mengajarimu?" Tanya Vaye.


" Aku?? Berada di sekitarmu." Ujar Nicholas.


" Bohong.." Ujar Vaye tidak percaya.


" Serius, aku berada di sekitarmu. Aku khawatir Henry menyakitimu lagi, jadi aku berada di sekitarmu tanpa kamu sadari. Lalu aku belajar dengan murid nomor satu di sekolah, Bagas. " Ujar Nicholas.


Seolah tidak percaya, Vaye memicingkan matanya. Dan Nicholas malah tertawa terbahak melihat bagaimana seriusnya wajah Vaye.


" Aku tidak bohong Vay, kau bahkan berdiri lama di depan pintu apartemenku, kan?" Ujar Nicholas .Dan Hal itu berhasil membuat Vaye melototkan matanya.


" Jadi kau ada di apartemenmu?? Ish! Jahat sekali kau membuat aku menjadi orang menyedihkan." Ujar Vaye sambil memukuli lengan Nicholas, dan Nicholas semakin terbahak saja.


" Ampun.. Ampun.." Ujar Nicholas di sela tawanya.


Sore pun berganti malam, Vaye bersama Nicholas di taman rakyat. Rupanya pemandangan disana lebih bagus dimalam hari, lampu lampu warna warni menerangi isi taman itu. Vaye dan Nicholas memesan telur gulung seperti biasanya.


Tapi kali ini mereka mencoba makanan yang lain, Vaye begitu antusias mencoba satu persatu jenis makanan yang berada disana. Dari telur gulung, bakso bakar, baso tusuk, pisang cokelat, dan lain lainnya. Vaye sangat menikmati hari itu, hatinya merasa senang kembali.


Vaye sampai lupa dirinya memiliki janji dengan Timothy. Timothy saat ini berdiri di depan pintu masuk bioskop. Ia terus menatap keluar dan menunggu kedatangan Vaye, namun hingga saat nya film itu tayang, Vaye belum juga muncul.


" Seharusnya aku sudah tahu, dia tidak akan datang. Dia pasti sedang bersama Nicholas saat ini." Gumam Timothy.


Akhirnya Timothy meremas tiket masuknya dan melangkah keluar dari sana. Timothy begitu kesal dan memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Kembali ke sisi Vaye dan Nicholas keduanya saat ini sedang kekenyangan. Vaye benar benar lupa memiliki janji dengan Timothy, karena makanan disana begitu menggoda.


" Astaga, perutku sampai seperti orang hamil." Ujar Vaye, sambil menepuk perutnya.


" Sehat sehat di perut mama ya nak." Ujar Nicholas, sambil mengusap perut Vaye dan langsung mendapat tempelengan dari Vaye.


" Hey!! Mau ku hajar kau!?" Ujar Vaye, dan Nicholas terbahak.


" Aku tidak bisa membayangkan gadis galak sepertimu nanti akan menikah." Ujar Nicholas, sambil terkekeh.


" Yeee!! Sirik." Ujar Vaye kesal.


" Ayo pulang.. besok kita masih ujian, atau kita akan bangun kesiangan." Ujar Nicholas.

__ADS_1


" Ayolah, aku tidak sanggup dengan perut ini." Ujar Vaye.


" Ibu hamil dilarang banyak gerak." Ujar Nicholas.


" Nicholas!!! jangan sampai ada sepatu melayang ke kepalamu nanti." Ucap Vaye mengancam, dan Nicholas semakin terbahak.


Mereka lupa bahwa sebelumnya mereka seperti dua orang yang tengah bermusuhan. Vaye bahkan lupa dengan imagenya sebagai gadis cupu dan dingin, di hadapan Nicholas dia sudah mulai menunjukan sifat aslinya ketika bersama orang terkasihnya.


Ke esokan harinya..


Vaye turun ke basment dan melihat Nicholas yang duduk di kap mobilnya, ia pun melemparkan kunci kearah Nicholas dan langsung di tangkap.


" Selamat pagi ibu hamil." Ujar Nicholas.


" Astaga Nicholas! Ini masih pagi dan kau sudah mengajakku berperang." Ujar Vaye.


" Hahahaha.. " Tawa Nicholas renyah terdengar. Akhirnya mereka berdua pun pergi dari apartemen menuju sekolah.


Sepanjang perjalanan itu, keduanya kembali saling bercanda lagi. Sampai tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Mereka turun dari mobil dan Vaye tidak sengaja melihat Timothy yang juga baru turun dari mobil.


' Astaga!! Aku lupa aku punya janji dengan Timothy. Dia pasti menungguku semalam.' Batin Vaye.


" Timothy.." Panggil Vaye, dan Timothy menengok lalu tersenyum.


" Pagi, Vay.." Ujar Timothy.


" Ma- maaf aku lupa aku punya janji nonton denganmu." Ujar Vaye tidak enak hati.


" Tidak masalah, aku juga tidak datang kesana. Tiba tiba ada urusan mendadak, aku justru mau minta maaf padamu jika kamu menungguku semalam." Ujar Timothy, berbohong.


" Sukurlah, jadi kamu tidak menungguku." Ujar Timothy.


Nicholas hanya berdiri menatap keduanya, ia tahu selama ini Timothy berusaha mendekati Vaye namun tidak pernah berhasil. Ia hanya tersenyum smirk melihatnya.


' Dia mau menarik Vaye dariku, jangan harap.' Batin Nicholas.


" Vaye, ayo ke kelas." Ujar Nicholas.


" kalian sudah berbaikan?" Tanya Timothy berpura pura tidak tahu.


" Hehe, iya, kami hanya terlibat salah paham. Kalau begitu aku masuk kelas dulu, bye Timothy." Ujar Vaye, Dan Timothy tersenyum.


" Ibu hamil, jangan lari lari." Ujar Nicholas.


" Hey!! bilang apa kau!! Kemari kau, biar ku beri pukulan kepala gajah." Ujar Vaye mengejar Nicholas yang berlari sambil tertawa.


" Hahahaha" Tawa Nicholas sangat renyah terdengar.


Timothy mengepalkan tangannya, ia iri melihat kedekatan Vaye dengan Nicholas. Vaye bisa begitu asik berteman dengan Nicholas, tapi tidak dengannya.


" Padahal aku sudah bersikap sangat baik.. tapi Vaye lebih asik berteman dengan Nicholas yang terkenal berandalan." Gumam Timothy.


Hingga akhirnya Vaye dan Nicholas sampai di kelas, kali ini tempat duduk mereka terpisah cukup jauh, tapi Vaye bersebelahan dengan tempat duduk Timothy.


" Ck! Kau duduk di sebelah mahkluk munafik itu." Gumam Nicholas.

__ADS_1


" Heh! Sembarangan bicara apa kau? Jangan begitu, toh dia saudaramu juga." Ujar Vaye.


" Aku lebih baik tidak punya saudara, dari pada punya saudara sepertinya, munafik." Ujar Nicholas.


Vaye melihat Timothy yang datang dari luar, dan ia menepak tangan Nicholas dengan keras hingga Nicholas terkejut.


" Aduh!! Kau mau membunuhku?" Teriak Nicholas.


" Ada nyamuk.." Ujar Vaye.


Nicholas tidak sengaja melirik kebelakang, dan rupanya Timothy berdiri tak jauh dari sana. Ia pun bangun dari tempat duduk Timothy.


" Semangat ujiannya.." Ucap Nicholas sambil mencubit kedua pipi Vaye yang sedikit chuby itu hingga berakhir kemerahan.


" Sakit, Astaga! Kembali kau ke tempatmu, sana! " Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


Teman kelas kembali merssa heran dengan keduanya. Mudah sekali mereka kembali berbaikan, padahal sudah dua mingguan ini mereka seperti bermusuhan.


" Vaye dan Nicholas sudsh berbaikan." Ujar Satu teman ke teman yang lain.


Dari satu mulut ke mulut yang lain, dan berakhir menyebar di satu sekolah bahwa Nicholas dan Vaye sudah berbaikan. Seolah kabar itu adalah trending topik sekolah. Hingga jam istirahat pun di mulai..


" Vaye ka.." Ujar Timothy yang kemudian di potong Nicholas.


" Oi bakpao, ayo ke kantin." Ucap Nicholas mendahului Timothy.


" Hm, ayo.. Timothy, kamu mau bilang apa?" Tanya Vaye.


" Tidak ada.. aku lupa." Ujar Timothy.


" Kau memotong ucapan Timothy, jadi dia lupa." Ucap Vaye pada Nicholas.


" Mana aku tahu dia mau bersuara." Ucap Nicholas acuh.


" Sudahlah, ayo! Aku kelaparan." Ujar Nicholas menyeret leher Vaye hingga Vaye berjalan mundur.


" Hey! Hey! Kau panggil aku apa tadi?" Ucap Vaye.


" Bakpao." Ucap Nicholas.


" Bakpao kepalamu! Aku manusia." Ujar Vaye.


Nicholas menarik Vaye hingga Vaye hampir terjatuh dan kini posisi mereka adalah Vaye berada di pelukan Nicholas dengan Nicholas yang memegang pinggang Vaye, dan tatapan keduanya bertemu.


DEG! DEG! DEG!


Lagi lagi Nicholas berdebar tidak menentu ketika menatap intens mata Vaye. Dan begitupun Vaye yang ikut merasalan debaran di jantungnya.


" Pipimu bulat seperti bakpao." Ujar Nicholas, sambil kembali tersenyum tengil dan berlari meninggalkan Vaye.


"NICHOLAS!! " Teriak Vaye.


' Astaga.. Ada apa dengan diriku.' Batin Nicholas dan Vaye bersamaan.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2