
" Siapa identitas Yara sebenarnya.? " Ucap Jackson.
Jackson belum tahu kalau Yara adalah cucu angkat dari keluarga Todd. Hanya Caleb yang tahu.
Yara sedang berada di dalam mesin ATM, ia mengambil sejumlah uang untuk keperluan nya. Setelah selesai ia langsung pergi menuju ke gudang minyak terbengkalai, tempat sebelum nya ia menyelamatkan Caleb.
Yara melihat bangunan itu kini sudah bersih, mayat para pengawal elit tadi siang sudah tidak ada.
" Cepat sekali mereka membersihkan tempat ini. Kuning, ayo kita pulang. " Ucap Yara.
Datang nya Yara ke sana adalah untuk mengambil si kuning , motor kesayangan nya.
Yara melihat beberapa orang berjalan keluar dari gudang minyak terbengkalai itu.
" Itu pasti adalah rekan para pengawal elit itu. " Ucap Yara yang langsung sembunyi.
" Bisa bisa nya mereka semua kalah, siapa yang membebaskan tahanan itu. kalau kita tidak kesini malam ini kita tidak akan tahu kabar mereka." Ucap salah satu pria.
Terlihat hanya dua orang yang datang, Yara melihat tato mahkota berduri di tengkuk pria tersebut.
" Ayo laporkan ke tuan." Ucap rekan nya.
Yara bergegas mengikuti mobil para pengawal tadi dari belakang. Selama hampir satu jam Yara mengikuti mobil itu, hingga tiba di sebuah gang buntu.
" Sial, aku ketahuan." Ucap Yara ia tidak sempat untuk memutar balik karena di belakang nya tiba tiba muncul sebuah mobil, dan turun beberapa pria berotot.
" Yo... siapa ini. Pria yang cantik, sepertinya wajah nya tidak asing.. " Ucap salah satu pria yang turun terakhir dari mobil itu.
" Tidak asing? ini adalah pertama kalinya aku bertemu mereka. " Ucap Yara dalam hati.
" Kau pasti si Y itu kan.? pria yang baru saja di rekrut oleh Dicki si brengsek ?!" Ucap orang itu lagi.
" Siapa kau?" Tanya Yara.
" Aku? haha, kau tidak perlu tahu namaku, lagi pula sebentar lagi kau akan mati. Tangkap dia hidup hidup.!" Ucap pria itu kepada bawahan nya.
Beberapa orang maju mendekati Yara, sedangkan dua orang tadi yang tadi di ikuti berjalan melewati Yara dengan tatapan merendahkan lalu pergi dari sana.
" Empat orang lawan satu orang, bukankah tidak adil.?" Ucap Yara mengulur waktu.
__ADS_1
" Tidak perduli berapa lawan berapa, kau tidak pantas menawar dengan kami. Kau sudah gagal, produk gagal harus disingkirkan." Ucap pria tadi.
Yara merasa dirinya tidak yakin bisa menang, kalau pun berhasil mengalahkan mereka, belum tentu dia sendiri selamat , karena luka di kepala dan di lengan nya juga belum sembuh.
" Menang atau tidak, yang penting mencoba melawan." Ucap Yara.
Yara langsung menghadapi beberapa pria yang mulai maju, dengan seluruh kekuatan ia mengalahkan lawan nya itu. Beruntung Yara berhasil menang dengan beberapa kali pukulan dan membuat musuh nya tumbang.
" Shhh.. Sial, luka ku terbuka lagi." Ucap Yara dalam hati.
" Lumayan juga, kau terluka tapi bisa mengalahkan bawahanku. Sekarang giliran ku yang menjadi lawan mu." Ucap pria tadi.
Yara mengusap sudut bibir nya yang mengeluarkan darah, dengan nafas tersenggal dia mengumpulkan sisa kekuatan nya.
Pria itu langsung maju dan tanpa Yara sadari, pria itu memegang sebilah belati yang berhasil menggores tepat di lengan Yara yang terluka.
" Sshh.!!" Desis Yara.
" Hahaha , sakit kah.?" Ucap pria itu.
Yara sudah tidak yakin akan menang, ia melihat pagar besi di ujung gang buntu itu. Ia berlari ke sana dan langsung naik keatas tembok. Yara terkejut, ternyata di balik tembok itu adalah sungai yang sangat luas dengan air yang meluap luap.
" Kau tidak bisa kabur, kalau kau lompat, kau juga mati. Lebih baik ikut aku hidup hidup." Ucap pria itu lagi.
" Tidak.!! Sial! besar juga nyalinya. Sudahlah, lagi pula sungai itu sangat luas dan dalam, paling dia akan mati." Ucap pria itu.
Sementara itu, kini Yara sedang berjuang antara hidup dan matinya di dalam sungai itu. Kondisi yang gelap membuatnya kesulitan melihat sekeliling. Tangan nya masih berusaha meraih sesuatu di samping nya.
" Ugh.!!" Kepala Yara terbentur batang pohon yang tersangkut.
Yara masih terus mencoba meraih apapun yang bisa ia raih, dan akhirnya ia menangkap dahan pohon yang menjuntai ke sungai itu. Yara langsung berusaha sekuat tenaga untuk menarik dirinya ke tepi sungai .
" Aaaarggh.!! Sedikit lagi Yara, kau tidak boleh lemah." Ucap Yara yang menyemangati dirinya. Karena tangan nya terluka, ia jadi semakin kesulitan.
Akhirnya Yara berhasil naik ke tepi sungai, Yara memejamkan matanya dan mengambil nafas. Sebulir air mata lolos dari matanya meskipun tanpa Isak an.
Yara menghapus kasar air matanya, lalu ia bangkit dan pergi menyusuri sungai itu , berharap menemukan jalan keluar.
" Sungai apa ini, begitu lama aku berjalan tidak ada sedikitpun tanda tanda jalan keluar. " Gerutu Yara yang kini berjalan lunglai karena kesakitan dan kedinginan.
__ADS_1
Tiba tiba seseorang mengarahkan senter ke wajah Yara , dan membuat Yara menutup wajahnya.
" Y.. " Teriak seseorang yang sedikit Yara kenal.
" Siapa kau." Ucap Yara.
Pria itu langsung lari kearah Yara, dan betapa terkejut nya Yara melihat siapa itu.
" Jil.?" Ucap Yara.
" Kau ini benar benar idiot yah.? sudah aku bilang jangan membuat kekacauan yang membuatku repot.! Masih tertangkap orang orang itu. Kalau aku tidak melihatmu di jalan dan mengikutimu bagaimana ? " Ucap Jilian yang emosi.
" Terimakasih." Ucap Yara.
Jilian kaget melihat Yara yang di kaki nya malah justru mengucapkan kata terimakasih kepadanya.
" Kau ini.. Sudahlah, ayo aku bantu." Ucap Jil yang memapah Yara. Tinggi Jilian dan Yara hampir sama, beda beberapa senti saja.
Mereka menyusuri sungai dan menemukan jalan keluar, di sana Jilian sudah di tunggu oleh beberapa anak buahnya.
" Salah satu dari kalian , bawa motor dia pulang. Sisa nya ikut aku pulang." Ucap Jilian.
" Baik tuan ." Ucap beberapa orang itu.
Yara semakin melemah, lengan nya mengeluarkan banyak darah, badan nya juga basah kuyup.
" Cih, tadi siang masih sok sok an membentak orang, sekarang sudah sekarat. " Ucap Jilian.
Mereka pun pergi dari sana dan langsung pulang ke kediaman Ethan. Ethan langsung keluar dari ruang kerja nya setelah melihat dari cctv kondisi Yara yang tidak sadarkan diri.
" Kenapa dia .?" Tanya Ethan.
" Kenapa lagi, dia di hajar preman. Pria seperti dia paling paling di hajar preman karena jadi selingkuhan wanita kaya." Ucap Jilian merendahkan Yara.
" Berikan dia padaku. " Ucap Ethan yang khawatir melihat kondisi Yara.
" Hei, biar pelayan saja yang membersihkan dia, dia baru saja jatuh di sungai. Kau kan.." Ucap Jilian terhenti ketika melihat Ethan menggendong Yara.
" Gila, apa apa an Ethan itu, seumur umur aku jadi teman nya belum pernah di gendong begitu. Tunggu, kenapa dia yang menggendong si Y. Than.. " Teriak Jilian yang berusaha mengejar Ethan, namun Ethan sudah memasuki kamar Yara dan membanting pintu kamar nya.
__ADS_1
" Buset.!!" Ucap Jil kaget sembari mengelus dadanya.
TO BE CONTINUED..