
Sampailah Ethan dan Yara di kediaman mereka. Yara turun dengan menggandeng tangan Ethan begitu eratnya. Sebelum masuk ke dalam, Ethan merasa sedikit aneh dengan rumahnya, lampunya.. menyala terang.
" Sayang, kenapa sepertinya rumah kita begitu ramai.?" Ucap Yara.
" Aku juga berpikir demikian.." Ucap Ethan.
Mereka pun membuka pintu utama, dan lsngsung disambut oleh pemandangan yang begitu menyilaukan mata.
" Mereka datang.. Hei, kalian dari mana.?" Ucap Jilian.
Ethan dan Yara masih tidak bisa berkata kata. Di kediaman nya, penuh dengan barang barang bayi. Seperti ayunan bayi, kasur bayi, stroler bayi, pakaian bayi, bahkan sampai sepatu bayi yang begitu lucu.
" Woahh.. Siapa yang beli ini.?" Ucap Yara antusias.
" Tentu saja para calon paman dari calon keponakan." Ucap Bara. .
" Terimakasih.. Tapi kan kita belum tahu jenis kelaminnya, kenapa kalian sudah beli ini semua.." Ucap Yara.
" Tidak masalah Yara, kami terlalu bahagia akan menjadi paman. Lagi pula warna ini adalah warna netral, bisa dipakai untuk bayi perempuan atau laki laki." Ucap Rayson.
" Benar.. Yara, kau bagaikan penghapus, apa kau tahu itu.?" Ucap Sean.
" Penghapus.??" Ucap Yara bingung.
" Ya.. Kau selalu menjadi penghapus duka bagi Ethan dan kami. Disaat seharusnya Ethan berduka, tetapi ia langsung mendapatkan kejutan darimu. Kamu benar benar seperti penghapus." Ucap Sean lagi.
" Sean benar sayang.. Kamu adalah segalanya bagiku. Terimakasih sudah hadir dan sudah kembali kepadaku." Ucap Ethan.
" Uhuk.. Ya. " Ucap Yara dengan senyum canggungnya.
" Nah, ibu hamil dilarang bekerja berat. Malam ini kita makan BBQ apakah boleh Than.?" Ucap Jilian.
" Terserah kalian, sebarkan juga berita kehamilan Yara pada anak buah kita, agar mereka semakin ketat menjaga Yara." Ucap Ethan.
" Siap.. " Ucap Jilian.
Akhirnya mereka pun pergi kehalaman belakang rumah Ethan. Halaman yang sangat luas untuk sebuah rumah hunian. Rayson, Jilian, Bara dan Sean mereka tengah asik berkecimpung dengan tugas mereka masing masing.
Bara adalah yang paling sial disana, ia bertugas untuk mengipas, sementara Jilian asik makan.
" Jil, sekali lagi kau ambil makanan ini, kau tidak usah makan nanti." Ucap Bara kesal.
" Ck, pelit." Ucap Jilian.
" Pelit kepalamu, kau tidak lihat tanganku sampai sengklek karena mengipas tanpa henti? Kau malah enak enakan makan hasilnya. Kemari, bantu aku." Ucap Bara.
" Iya iya.." Ucap Jilian.
Akhirnya mereka kembali saling bekerja sama. Sementara itu, Ethan dan Yara hanya duduk saja di kursi santai. Pandangan mereka menatap ke langit malam yang cerah, dimana ada banyak bintang disana.
" Ibu pasti sedang melihat kita kan.?" Ucap Ethan.
" Pasti.. " Sahut Yara.
" Ibu.. Ibu pergi disaat belum mendengar kabar baik ini. Aku akan menjadi seorang ayah bu, jika ibu masih ada, ibu pasti akan menjadi seorang nenek yang paking bahagia." Ucap Ethan.
" Sayang, jangan sedih.." Ucap Yara.
" Aku tidak sedih sayang, hanya menyayangkan." Ucap Ethan.
" Hei.. Makanan sudah siap, mari makan." Teriak Jilian.
__ADS_1
" Ayo.." Ucap Ethan.
Yara dan Ethan pun menghampiri teman teman nya dan makan malam bersama. Entah mengapa Yara begitu manja kepada Ethan, mungkin bawaan bayi.
7 Bulan berlalu..
Yara saat ini tengah berada di rumah sakit melahirkan. Mereka tidak melakukan USG selama kehamilan, karena mereka ingin itu menjadi kejutan. Tetapi jika dilihat lihat, perut Yara begitu besarnya.. Dipastikan Yara tengah hamil kembar.
" Aaaa... Sakit sekali daddy." Teriak Yara.
Selama hamil itu, Yara seperti memiliki banyak kepribadian. Kadang dia begitu tegas dan dingin, kadang dia begitu manja dan saking manjanya Ethan benar benar kewalahan. Kadang Yara juga begitu cerewet, sangat bertolak belakang dengan Yara pribadi.
Seperti saat ini, Yara dalam mode sangat cerewet. Ethan benar benar harus ekstra sabar menghadapi Yara yang seperti anak kecil itu.
" Sabar yah.. Sebentar lagi sayang." Ucap Ethan menenangkan.
"Dok, apa tidak bisa di percepat?? Saya tidak sanggup melihat istri saya menderita." Ucap Ethan.
" Nyonya, apakah anda mau di operasi saja.? " Tanya sang dokter.
" Boleh dok, cepat. Sakit sekali ini..!!" Teriak Yara.
" I.. Iya nyonya." ucap sang dokter gugup sendiri.
" Daddy..." Rengek Yara.
" Sabar ya sayang.." Ucap Ethan menenangkan.
Tak lama perawat datang dan mengabarkan kepada dokter, babwa ruang operasi sudah siap di gunakan.
" Mari tuan dan nyonya, kita pindah ke ruang operasi." ucap sang dokter.
" Anak Daddy.. Jangan buat mommy menderita oke, kamu harus bersikap baik." Ucap Ethan.
Walau dokter sudah mempredisi bahwa Yara kemungkinan hamil kembar, tetapi Ethan tidak mau terlalu berharap demikian. Jika benar kembar, maka Ethan akan sangat bahagia tentunya, tetapi ia tidak mau mengharapkan sesuatu yang belum pasti.
" Kita mulai." Ucap sang Dokter.
" Tolong jangan buat istri saya menderita." Ucap Ethan.
" Baik tuan." Ucap sang Dokter.
Operasi pun dimulai, Yara ingin agar dirinya tetap sadar dan melihat buah hatinya itu lahir. Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa bayi mereka kembar tiga.
" Selamat tuan Ethan, anda menjadi ayah dari tiga bayi menggemaskan ini, Selamat nyonya. " Ucap Sang dokter.
" Sayang, mereka kembar tiga. Terimakasih Tuhan, terimakasih Dok." Ucap Ethan antusias.
Dokter sampai tersenyum senyum melihat bagaimana Ethan begitu antusias. Apalagi, tangan nya secara langsung di jabat oleh seorang Ethan Dominique.
" Tidak heran perut mommy besar sekali, rupanya ada kalian." Ucap Yara dengan tangis bahagianya.
" Siapa nama mereka sayang.?" Ucap Ethan.
" kamu saja yang beri nama mereka dad." Ucap Yara.
" Baik.. Kalau begitu, putra daddy yang ber rambut perak ini, Daddy beri nama Edmund Maxwell Dominique.
" Eh, kenapa ada nama keluarga mommy.?? " Ucap Yara.
" Daddy ingin anak anak kita menggunakan nama keluarga kita." Ucap Ethan.
__ADS_1
" Baiklah.." sahut Yara.
" Dan untuk yang memiliki mata indah ini, daddy beri nama Nathanael Maxwell Dominique, lalu untuk putri cantik daddy yang memiliki mata juga rambut yang sama seperti mommy nya, namamu adalah Valleria Maxwell Dominique. "
" Itu nama mommy, daddy.. " Ucap Yara.
" Aku mau, supaya putri cantik kita ini menuruni semua sifat dan sikapmu. Cantik, baik, pemberani, paket lengkap." Ucap Ethan.
Yara melahirkan dua putra dan satu putri. Mereka memiliki ciri fisik perpaduan antara Yara dan Ethan. Edmund memiliki rambut perak namun matanya berwarna hitam seperti Ethan. Sementara Nathanael memiliki warna mata Yara, tetapi rambutnya hitam seperti Ethan.
Untuk Valleria, dia bagaikan coppy paste ibunya. Warna rambut, dan warna matanya sama dengan Yara.
Yara di pindahkan ke ruang rawat setelah semua prosedur operasi selesai.
" Adik.. dimana keponakan kakak." Ucap Ryuchie antusias. Ia, Jhosua dan Aiko langsung terbang dari Negara C setelah mendengar Yara akan segera melahirkan.
" Astaga Ryu, kau ini.. " Ucap Aiko geleng geleng.
" Ibu, aku ingin segera bertemu keponakanku. Adik, katakan dimana dia? Dia laki laki atau perempuan.?" Ucap Ryuchie.
" Mereka sedang di urus dokter, sebentar lagi mereka dibawa kemari." Ucap Ethan.
" Hah.!! Mereka.? Apakah keponakan ku kembar.??" Ucap Ryu semakin antusias.
" Apakah benar sayang? cucu ibu kembar.??" Ucap Aiko.
" Benar, mereka kembar. Yara melahirkan bayi kembar bu." Ucap Yara.
" Astaga.. Terimakasih Tuhan, doaku terkabul." Ucap Ryuchie.
Lalu datang lah bayi bayi kembar itu, mereka di taruh di bak bayi dan di dorong oleh perawat yang membawa mereka.
Mereka semua terkejut ketika melihat ada tiga bak bayi yang masuk keruangan itu.
" Sayang, kenapa ada tiga bak bayi?" Ucap Jhosua.
" Yara, jangan bilang kamu.. " Ucap Ryu menggantung."
" Kya... Ayah, kita akan jadi opa oma dari tiga cucu." Ucap Aiko antusias.
" Astaga, dia lucu lucu sekali.." Ucap Ryuchie.
" Ekhem, kenapa yang ini tidak mirip dirimu adik.??" Ucap Ryu.
Namun tiba tiba bayi yang di maksud oleh Ryu membuka matanya.
" Kya.. matanya mirip mata Yara." Ucap Ryu heboh.
" Selamat ya nak, akhirnya kalian menjadi orang tua. Langsung tiga pula, semoga mereka menjadi pribadi yang baik seperti kalian." Ucap Jhosua.
"Oekk.. oeek.. "
" Aduh.. Cucu omah yang ini kenapa menangis. Siapa namama mereka sayang.?" Ucap Aiko.
" Yang berambut perak bernama Edmund, dia adalah kakak tertua. Yang berambut hitam bernama Nathanael, dia adalah kakak kedua, dan yang bungsu adalah Valleria, si putri yang selalu tertidur ini." Ucap Ethan sembari membelai hidung putrinya itu.
Sungguh sebuah keluarga yang bahagia. Mereka bahkan tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan memiliki sebuah keluarga kecil, namun ramai. Sungguh, waktu mampu mengubah apapun itu.
Ethan yang dingin bagai kutub utara cair ketika menemukan belahan hatinya. Yara yang dulu di penuhi dendam, kini hidupnya hangat penuh cinta. Mereka saling melengkapi satu sama lain..
THE END..
__ADS_1