
Seminggu kemudian..
Seminggu berlalu, setelah melalui berbagai pemerikasaan dan pengumpulan barang bukti dan bukti lain, kini Timothy harus menjalani sidang untuk memutuskan hukuman yang sesuai baginya.
Pras merasa terpukul ketika mendapatkan bukti bukti berupa catatan medis Timothy yang dinyatakan mengalami sindrom Skizofrenia, dia sama sekali tidak mengetahui hal hal itu.
"Saudara Timothy.. Apakah anda melakukan kejahatan itu dengan sadar? Anda memukul saudara Bagas hingga saudara Bagas koma. Dan lebih dari itu, anda juga menyuntikan cairan mematikan pada selang pernafasan saudara Bagas. Apakah anda melakukannya dengan sadar? " Tanya Hakim.
Timothy tersenyum, dan mengangguk lalu berkata.
" Ya, saya melukainya dengan sadar. Dia pantas mendapatkannya." Ujar Timothy.
Semua yang hadir di persidangan itu terkejut. Pras, Tamara dan Vaye serta Nicholas termasuk orang tua Bagas lebih lebih terkejut lagi mendengar Timothy mengakuinya dengan lantang. Ibu Bagas sampai berkali kali menghapus air matanya.
" Apa motif anda hingga melakukan hal demikian?" Tanya penyidik.
" Dia mengambil sesuatu dariku." Ujar Timothy dengan tatapan sendu.
Vaye melihat itu, tatapan Timothy saat ini adalah tatapan keputus asaan. Vaye menjadi kembali penasaran, sebenarnya apa yang dilalui Timothy hingga dia menjadi psikopat kejam begitu.
" Sesuatu? Sesuatu apakah yang saudara Bagas ambil darimu, hingga anda melakukan hal demikian?" Tanya penyidik.
" Sesuatu yang berharga bagiku." Ujar Timothy.
" Bisakah anda sebutkan sesuatu apa itu?" Ujar penyidik.
Tatapan Timothy menjadi kian sendu, itu adalah pertama kalinya Timothy memasang wajah yang sangat sendu. Dia pernah memasang wajah sendu, tapi ini lebih dari itu. Dan tiba tiba setetes air mata jatuh mengenai tangan nya.
" Apakah anda menyesali perbuatan anda?" Tanya penyidik.
Timothy menggelengkan kepalanya, lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap penyidik itu, juga hakim yang duduk di meja hijau.
" Saya tidak menyesalinya, orang yang mengambil sesuatu dariku layak mendapatkan nya." Ujar Timothy.
" Lalu kenapa anda menangis? Bisakah anda beri tahu saya sesuatu apa yang saudara Bagas ambil dari anda?" Tanya penyidik.
Tatapan Timothy menjadi kosong, penyidik itu sedikit heran dengan Timothy, dia menjawab dengan mudah semua pertanyaan nya tapi ketika ia bertanya tentang sesuatu yang diambil Bagas,Timothy selalu menjadi diam.
" Saudara Timothy??" Panggil penyidik, namun Timothy tidak merespon.
" Sidang dilanjutkan dua hari mendatang." Ujar hakim akhirnya.
Semua orang merasa kecewa karena lagi lahi harus menunggu sidang lanjutan. Timothy saat ini tidak bisa diajak bekerja sama, dia hanyut dalam pikiran nya sendiri. Persidangan pun di bubarkan.
Vaye dan Nicholas berjalan beriringan keluar dari ruang persidangan, dan tidak sengaja berpapasan dengan Pras di pintu keluar. Nicholas hanya menatap sekilas Pras lalu melanjutkan langkahnya kembali.
__ADS_1
Pras sendiri seakan masa bodo dengan Nicholas, ia juga sama sekali tidak berkata apa apa bagai dua orang yang tidak saling kenal. Tiba tiba Nicholas menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Pras.
" Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan? Kau butuh uang, sehingga kau menyusulku datang ke persidangan ini, bukan?" Ujar Pras, langsung menyerang Nicholas dengan sindiran.
" Cih! uangmu? Maaf aku tidak butuh sepeserpun." Ujar Nicholas, sambil tersenyum.
" Jika bukan karena ada masalah penting, aku tidak akan mungkin mau berbicara denganmu." Ujar Nicholas lagi.
" Katakan saja, ada apa? Tidak perlu malu jika pun kau butuh uang. Kau dan ibumu pasti kelaparan bukan? Bagaimanapin aku masihlah suaminya, dan kau anakku walau pun aku tidak singin memiliki anak sepertimu." Ujar Pras, dan Nicholas hanya tersenyjm mengejek.
" Tolong setidaknya lihat situasi dan kondisi saat anda ingin menyombong. Aku ingin memberikan ini pada anda." Ujar Nicholas , sambil memberikan sebuah map cokelat yang terdapat tanda pengadilan agama di depan nya.
" Apa ini?" Tanya Pras.
" Anda tidak buta mata dan buta huruf bukan? Bacalah baik baik, lalu jangan lupa datang." Ujar Nicholas dan langsung pergi dari sana dengan Vaye.
Pras menatap map itu, lalu pergi dari sana. Ketika telah sampai di mobil, Pras membuka map itu dan dia terkejut. Itu adalah surat gugatan cerai dari Nely untuknya.
" Nely ingin cerai denganku?? Apakah dia sudah sembuh sehingga bisa meminta cerai dariku?" Gumamnya.
" Apakah Nely sudah sembuh?"Tanya Tamara.
" Entah, tapi bagus lah.. Aku jadi tidak perlu repot repot mengeluarkan uang untuknya. Juga sejak dulu aku sudah ingin menceraikan dirinya. " Ujar Pras, dan Tamara tersenyum.
Sementara itu, Nicholas dan Vaye sendiri kini sudah berada di dalam mobil mereka, Nicholas terlihat begitu emosi setelah bertemu Pras tadi.
" Aku baik baik saja, hanya sedikit kesal melihat bagaimana dia sangat sombong." Ujar Nicholas.
" Kenapa kamu tidak beri tahu saja dia bahwa Timothy bukan putra kandungnya, dia pasti akan kehilangan kesombongannya. " Ujar Vaye.
" Jangan dulu, biarkan saja dia terus membela Timothy. Saat mama dan dia sudah resmi bercerai, baru aku beri tahu kebenaran itu." Ujar Nicholas.
Hingga keduanya sampai di apartemen Vaye, karena mereka memiliki janji makan siang bersama dengan Yara dan Ethan.
Ya, Yara dan Ethan terbang dari LA setelah mendengar bahwa Vaye membawa seseorang dari pihak musuh, mereka yang khawatir itu langsung saja memutuskan terbang daei sana dan baru sampai tiha hari yang lalu.
" Akhirnya kalian datang juga.." Ujar Yara.
" Halo tante, om.. " Sapa Nicholas.
Nicholas sudah mulai terbiasa dengan Yara dan Ethan, mungkin karena Yara dan Ethan juga menyukai Nicholas jadi tidak mempersulit Nicholas.
" Halo.. Halo.. Ayo silahkan masuk." Ujar Ethan.
" Lah, mommy bilang kita mau makan bersama? " Tanya Vaye.
__ADS_1
" Ya, benar.." Ujar Yara.
" Lalu mana makanannya?" Tanya Vaye bingung, karena meja makannya bersih tidak ada satupun makanan disana.
" Oh.. Kita mau makan bersama di tempat lain, kita makan di rumah lama daddy." Ujar Yara, dan Vaye mengangguk.
" Nicholas, bagaimana sidang Timothy?" Tanya Ethan.
" Akan dilanjut nanti dua hari lagi, om. " Ujar Nicholas.
" Oh.. Cukup lama juga mengurusi satu psikopat." Ujar Ethan, dan Vaye terkekeh mendengarnya.
" Ayo kita jalan sekarang." Ujar Yara.
" Hm.. Ayo." Sahut Ethan.
Mereka berempat pun turun dari unit apartemen Vaye, di loby sudah banyak mobil berjejer. Dari mobil jeep yang berisi para bodyguard, dan mobil petugas polisi yang akan mengawal mereka. Yang tidak tahu mungkin mengira pejabat negara sedang mampir disana.
Saat di Loby, Pras yang sedang menandatangani surat di loby terkejut melihat Nicholas yang berjalan di sisi Ethan, mengiringi Vaye dan Yara yang berjalan di depan mereka.
' Apakah aku tidak salah lihat? Nicholas berjalan beriringan dengan Tuan Ethan? ' Batin Pras.
Pras sedang bersama agen jual beli properti, ia menjual apartemen yang dulu di tinggali oleh Nicholas karena ia masih yakin Nicholas masih sering kembali dan tinggal disana diam diam.
Tamara pun muncul dari toilet, dan menatap kemana Pras menatap.
" Apakah itu pejabat negara?" Tanya Tamara.
" Eh, itu Nicholas, kan? Kenapa dia ikut masuk ke mobil itu?" Tanya Tamara lagi.
" Sudahlah, jangan urusi anak itu." Ujar Prasetya.
" Nah, semua suratnya sudah saya tanda tangani." Ujar Pras pada agen jual beli properti itu.
" Baik tuan, akan saya kabari nanti ketika ada peminat yang mau membeli unit itu. " Ujar agen, dan Pras mengangguk, dan agen properti itu pun pergi dari sana.
" Aku penasaran, sebenarnya mereka tinggal dimana." Ujar Tamara.
" Siapa?" Tanya Pras.
" Nely, dan Nicholas." Sahut Tamara.
" Untuk apa tahu mereka tinggal dimana, tidak merecoki hidup kita saja sudah bagus." Ucap Prasetya.
Jika saja Pras tahu bahwa kediaman Nicholas yang sekarang sangat bagus, mungkin dia akan melongo di buatnya. Pras selalu mengira mungkin Nicholas dan Nely tinggal di sebuah rumah susun atau rumah kontrakan kecil.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..