Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. SEBULAN BERLALU.


__ADS_3

Sebulan telah berlalu.


Saat ini, Vaye sedang berada di toko buah, ia dan Nicholas sedang memilih buah buahan yang akan mereka bawa untuk memgunjungi Bagas.


" Apakah ini sudah cukup? " Ujar Nicholas.


" Sepertinya sudah, ayo kita bayar." Uhar Vaye, dan Nicholas mengangguk.


Keduanya pun berjalan menuju ke kasir dan melakukan pembayaran untuk belanjaan itu.


" Nanti mampir ke showroom dulu ya? " Ujar Nicholas.


" Oke.. " Sahut Vaye.


Nicholas sedang membangun sebuah Showroom sekaligus bengkel khusus mobil sport, dan hari ini adalah hari penyerah terimaan karena showroom itu sudah jadi.


Mereka pun menuju ke Showroon milik Nicholas sebelum akhirnya berangkat ke rumah sakit. Tak lama mereka sampai di showroom .


" Halo tuan, anda datang?" Ujar seorang arsitek yang sedang mengecek keseluruhan kondisi bangunan itu.


" Ya, pak. Bagaimana? Apakah ini sudah benar benar seratus persen clear?" Tanya Nicholas.


" Sudah, wah.. Saya ikut bangga denganmu tuan. Di usia semuda ini sudah membangun usaha sendiri, orang tua anda pasti sangat bangga." Ujar arsitek itu.


" Semoga saja.." Ujar Nicholas sambil terkekeh.


" Anak saya saja masih sibuk dengan semua game nya, dan kamu sudah membuat bisnis di usia semuda ini." Ujar Arsitek itu.


" Anggap saja sedang merintis masa depan, ngomong ngomomg terimakasih karena bapak sudah membantu saya membangin showroom ini, saya benar benar puas dengan hasilnya. " Ujar Nicholas.


" Tidak maslaah, itu tugas saya. Oiyah, mari.. Kita selesaikan serah terima nya." Ujar Arsitek itu, dan Nicholas mengangguk.


Setelah beberapa saat pertemuan itu, akhirnya Nicholas sudah menerima surat serah terima showroom itu. Showroom itu dia beri nama NICAR'S.


" Akhirnya.. " Ujar Nicholas.


" Selamat, akhirnya impian kecilmu terwujud juga." Ujar Vaye.


" Apakah kamu akan menungguku sampai sukses nanti, lalu menikah denganku?" Ujar Nicholas.


Dan Vaye langsung tersenyum merona, apa apaan pikirnya.. Nicholas mengatakan tentang pernikahan di usia mereka yang masih sangat muda.


" Ish!! Kita saja masih belum lulus sekolah dan kamu membahas pernikahan." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


" Aku hanya memastikan. Aku sangat mencintaimu Vaye, aku tidak bisa bayangkan hidupku tanpa dirimu. Mungkin aku akan mati tan.."


" Sshh!!! Jangan mendahului takdir. Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu. Kita akan melewati semua ini bersama." Ujar Vaye sambil tangan nya membekap mulut Nicholas.


Tapi apakah bisa seperti yang mereka harapkan dan rencanakan? Terkadang takdir bisa lebih sadis dari pada apa yang kita bayangkan, atau bahkan lebih indah dari pada yang kita rencanakan.


Nicholas mengecup telapak tangan Vaye yang membekap mulutnya. Vaye langsung melepaskan tangan nya dan Nicholas langsung terkekeh.

__ADS_1


" Astaga.. Aku benar benar menemukan keberuntungan terbesar di dalam hidupku. Sebelum bertemu denganmu aku bukanlah aku, tapi aku menjadi aku ketika bertemu denganmu. Kamu segalanya bagiku Vaye." Ucap Nicholas sambil memeluk Vaye.


" Hmm.. Sudahi bucin nya, ayo ke rumah sakit. " Ujar Vaye.


" Oh iya, lupa.. " Ucap Nicholas.


Akhirnya mereka pun pergi dari showroom itu dan menuju ke rumah sakit. Sepanjang mengemudi tangan Kiri Nicholas selalu menggenggam tangan Vaye, dan sepanjang jalan itu mereka bersenda gurau bersama.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Tapi Nicholas memicingkan matanya ketika melihat ke loby rumah sakit, dia melihat Pras yang keluar dari sana.


" Bukankah itu tuan Pras?" Tanya Vaye yang ruoanya melihat kehadiran Pras disana.


" Sudahlah, biarkan saja." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.


Mereka pun turun, dan rupanya Pras masih berdiri disana seperti menunggu seseorang. Mungkin dia menunggu supirnya dan mereka pun akhirnya saling bertatapan.


" Nicholas.." Gumam Pras.


Tapi bagai tidak saling mengenal, Nicholas sama sekali tidak menyapa Prasetya.


" Paman.." Teriak Vaye, dan Langsung menghampiri Rayson.


Nicholas juga mengikuti Vaye, dia sama sekali tidak menghiraukan Pras yang mengulurkan tangan dan hendak memanggilnya namun tertahan.


" Hey, sayang.. Kamu mengunjungi Bagas?" Tanya Rayson.


" Ya, paman.." Ujar Vaye.


" Kabar baik untuk kalian, Bagas sudah sadar." Ujar Rayson.


Rayson melihat Prasetya yang masih berdiri disana menatap kepergian Nicholas.


" Tuan Prasetya, apakah anda sedang menunggu seseorang?" Ujar Rayson.


" Ah, iya.. Saya menunggu supir." Ujar Prasetya.


" Sepertinya anda mengenal Nicholas?" Ujar Rayson, mengetes.


Rupanya Prasetya menyendu, dia menunduk dan menghelakan nafasnya.


Rayson memutar bola matanya, dia sudah berkali kali bertemu dengan jenis ayah seperti Prasetya itu.


" Dokter Ray, seorang pasien bernama Bagas mencari anda." Ujar perawat.


" Baik, saya kesana." Ujar Rayson.


" Tuan Pras, saya permisi." Ujar Rayson, dan Pras mengangguk.


Setelah Rayson pergi, mobil Pras datang. Pras pun masuk kedalam mobilnya.


' Apakah aku masih pantas menyebut diriku sebagai ayahnya?? rasanya tidak.' Batin Pras.

__ADS_1


Vaye dan Nicholas sedang berada di kamar rawat Bagas saat ini. Nicholas terlihat begitu senang, temannya itu berhasil di selamatkan dan kini sudah sadar.


" Astaga, aku merasa seperti bangun di peradaban baru. Bagaimana bisa kau begitu berubah? Dan juga Vaye.. Vaye kamu seperti makhluk tidak nyata. " Ujar Bagas.


" Anak ini baru bangun saja sudah banyak berceloteh." Ujar Nicholas.


Ayah dan ibu Bagas begitu bahagia melihat anaknya kembali sadar. Beruntungnya Bagas tidak mengalami amnesia, walau saat ini masih lemah tapi Bagas begitu bahagia masih di berikan kesempatan hidup.


" Vaye, bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadamu??" Ujar Bagas.


" Kubur mimpimu dalam dalam, Vaye hanya miliku seorang." Ujar Nicholas, kesal. Dan semua orang tertawa karena hal itu.


" Bagas, apakah ada sesuatu yang kamu rasakan?" Tanya Rayson ketika sudah masuk keruangan Bagas.


" Dokter, sepertinya aku merasakan sesuatu." Ujar Bagas.


" Apa yang kamu rasakan?" Tanya Rayson.


" Aku sepertinya.. Aku ter saranghae saranghae pada Vaye." Ujar Bagas.


" Hoi!! Mau kubunuh kau." Ujar Nicholas.


" Jangan! Enak saja." Ujar ibu Bagas.


" Maaf tante, Bagas duluan." Ujar Nicholas sambil tersenyum.


" Awas kau, tunggu sudah sembuh nanti, ku hajar supaya balik kemari lagi." Bisik Nicholas kearah Bagas.


Vayedan yang lain nya yang mendengar itu tertawa.


" Dokter, apakah aku sudah baik baik saja?" Tanya Bagas.


" Kamu baik baik saja, tapi mari kita lakukan pengecekan keseluruhan. Kita cek syaraf syarafmu." Ujar Rayson, dan Bagas mengangguk.


Rayson mulai mengecek Bagas, mulai dari jari jarinya hingga Bagas di suruh menggerakan kaki kakinya. Dan kabar baiknya, Bagas normal seutuhnya.


" Wahh.. Selamat, kamu baik baik saja." Ujar Vaye.


" Terimakasih cantik." Ujar Bagas, dan Nicholas hanya bisa melotot.


Tentu saja walaupun dia kesal tapi dia tahu bahwa Bagas hanya bercanda. Ruangan rawat Bagas terdengar sangat ramai dengan candaan dan tawa. Rayson pergi karena harus mengecek kondisi pasien lain.


" Oiya, aku luoa memberi tahu kalian siapa yang sudah memukulku di toilet." Ujar Bagas.


" Timothy??" Ujar Nicholas.


" Eh, bagaimana kamu bisa tahu?? Hanya ada aku seorang di toilet itu. Awas saja dia, saat aku sudah kembali ke sekolah nanti, aku akan buat perhitungan dengannya. "Ujar Bagas.


" Dia sudah meninggal." Ujar Vaye.


" Eh, apa?? Siapa yang meninggal?" Tanya Bagas memastikan pendengaran nya.

__ADS_1


" Timothy, dia sudah meninggal.. Sebulan yang lalu." Ujar Vaye, dan Bagas meranga terkejut.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2