Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 155. SEASON 2. DIA PACARKU.


__ADS_3

Vaye datang ke kantin, dan disana ia melihat Nicholas dengan wajah begitu dingin sambil makan makananannya. Tiba tiba Timothy datang dan menepuk pundak Vaye.


" Lihat apa? Serius sekali." Ujar Timothy.


" Kau mengejutkan ku saja." Ucap Vaye.


" Maaf... kamu lihat Nicholas? Kamu suka dia, kah?" Tanya Timothy.


" Dia bukan musuhku, tidak ada alasan untuk membencinya." Ujar Vaye.


" Tapi dia mencekikmu kemarin. Aku tidak menyangka dia bisa begitu tega mencekik perempuan." Ujar Timothy.


" Karena aku yang salah, ayo pesan makanan." Ujar Vaye.


Vaye mengambil makanan, lalu duduk di meja yang jauh dari Nicholas. Timothy pun duduk di depan Vaye. Nicholas melihatnya dari jauh, lalu bangun dari duduknya dan menghampiri Vaye.


" Kau! Pindah sana." Ucap Nicholas pada gadis yang berada di sebelah Vaye. Gadis itu pun langsung pergi karena takut dengan Nicholas.


" Ekhem.. Kamu dari mana tadi?" Tanya Nicholas pada Vaye.


" Menemui kepala sekolah, karena ada urusan." Ucap Vaye jujur, tapi tidak menyebutkan urusannya.


" Kenapa kamu duduk disini, padahal aku sudah menunggumu duduk disana." Ujar Nicholas lembut.


Vaye menatap bingung makhluk bernma Nicholas itu, apakah kepalanya terbentur tembok, atau kakinya tersandung dan otaknya geser? Tiba tiba berbicara begitu baik dan manis.


" Kenapa bengong?" Ucap Nicholas sambil mencubit pipi Vaye.


" Sakit! Minta di pukul, ya!?" Ucap Vaye, dan Nicholas terkekeh.


Itu, adalah pertama kalinya Vaye melihat Nicholas tertawa begitu lepas. Entah sungguh tertawa, atau hanya akting.


" Aku senang melihatmu tertawa lagi." Ujar Timothy, namun sama sekali tak di gubris oleh Nicholas.


Nicholas menatap ke arah Timothy, dengan tatapan ejekannya. Namun Timothy sama sekali tidak merasa terganggu.


" Kau mau melihatku dan Vaye bermesraan sampai kapan?" Ujar Nicholas. Vaye sampai tersedak mendengarnya.


"Uhuk!! Uhuk!! " Vaye terbatuk.


" Pelan pelan, kamu tidak perlu terburu buru." Ucao Nicholas sambil mengusap usap punggung Vaye.


Timothy akhirnya menunjukan wajah kesalnya melihat kedekatan Vaye dan Nicholas, namun dia masih saja setia duduk disana karena ia khawatir dengan Vaye.


" Kau mau membuatku mati muda, ya? " Ucap Vaye.


" Apa salahku?" Ucap Nicholas.


" Ish, benar benar.. Timothy, jangan dengarkan dia." Ucap Vaye, dan Timothy pun tersenyum mendengarnya.


" Kenapa juga kamu harus menjelaskan padanya? " Ucap Nicholas kesal.

__ADS_1


" Aku tidak mau membuat orang orang salah paham padaku. Aku datang ke sekolah, adalah untuk belajar."Ujar Vaye.


" Oke.. Kamu kan bisa membagi waktu. bisa belajar jika waktunya tiba, dan bersamaku jika sedang tidak belajar." Ujar Nicholas.


" Kau..."


" Aa.... Makan dulu Vaye, jam istirahat akan segera berakhir." Ucap Nicholas memasukan nuget ayam kedalam mulut Vaye sampai kepenuhan di mulut.


' Aku ingin sekali memukul kepalanya. ' Batin Vaye sambil mengunyah dan menatap tajam Nicholas.


Sementara yang di tatap sedang tersenyum manis dan menaik turunkan alisnya.


" Jangan menatapku begitu, Vay.. Aku tahu aku tampan." Ujar Nicholas.


" Nic, jika kamu melakukan itu hanya untuk mengusirku pergi, maka tidak usah. Aku akan pergi, tapi jangan menjadikan Vaye sebagai bahan candaanmu." Ucap Timothy, yang merasa tak tega pada Vaye.


" Apa maksudmu? Aku dan Vaye memang pacaran." Ucap Nicholas, dan Vaye langsung memukul lengan Nicho.


" Dengar!! Vaye adalah kekasihku! Jangan samp..." Teriak Nicholas.


Semua orang di kantin pun terkejut mendengarnya, Timothy juga menatap tak percaya pada Nicholas. Sementara Vaye, ia langsung membekap mulut Nicholas dan menarik Nicholas pergi dari sana.


Vaye menghempaskan Nicholas saat mereka sampai di sisi lain sekolah yang sepi.


" Kau gila, ya?? " Ujar Vaye.


" Kenapa? Kamu ingin aku benar benar menjadi kekasihmu?" Ucap Nicholas.


" Tadi aku hanya bercanda mengatakan kamu adalah kekasihku. Aku minta tolong padamu, berpura puralah menjadi kekasihku." Ucap Nicholas.


Vaye sampai terperanga, ia tidak percaya ada manusia aneh seperti Nicholas.


" Dengar, aku sekolah disini adalah untuk belajar.. Aku tidak mau sampai orang tuaku tau bahwa aku terlibat dengan cinta dan hal hal sebagainya yang mengganggu belajarku, meskipun itu hanya pura pura.. aku tidak mau. " Ujar Vaye.


" Jika begitu, maka aku akan terus berkoar koar pada semua orang bahwa kamu pacarku." Ucap Nicholas.


" Kau minta di hajar?" Ucap Vaye.


" Hajar saja, dengan cinta.. " Ucap Nicholas, tersenyum manis.


" Gila.." Ujar Vaye dan langsung meninggalkan Nicholas pergi dari sana.


" Ya, aku tergila gila padamu." Ucap Nicho saat ada orang yang lewat, dan Vaye hanya memutar bola matanya malas tanpa berbalik badan.


Setelah tidak ada orang, wajah Nicholas yang sebelumnya tersenyjm manis itu, kini berubah menjadi dingin.


" Aku tahu kau mendekati Vaye karena Vaye peduli padaku. Aku tidak akan membiarkan kau mengambil satu satunya orang yang peduli padaku." Gumam Nicholas, dengam tatapan lurus kedepan. Ucapan nya itu ditujukan untuk Timothy.


Jam istirahat selesai semua murid pun kembali ke kelas. Mereka semua berbisik bisik tidak percaya bahwa Nicholas mengumumkan dirinya sebagai kekasih Vaye yang cupu itu. Padahal di kelas itu banyak gadis gadis cantik yang menyukai Nicho, sayangnya Nicho begitu sadis.


Vaye masuk kelas, dan mendapat berbagai tatapan dari teman teman sekelasnya. Tapi ia hanya berjalan lurus menuju tempat duduknya.

__ADS_1


' Aku sudah tahu akan berakhir begini, mereka semua pasti memusuhiku sekarang.' Batin Vaye.


Padahal ia berubah menjadi cupu, tapi masih saja menemukan masalah. Nicholas masuk kedalam kelas, dan langsung duduk memendangi Vaye sambil tersenyum.


" Papan tulis ada di depan, hadap sana." Ucap Vaye datar.


" Oke, sayang." Ucap Nicholas, dan aye langsung melotot tajam kearah Nicholas.


Semua teman kelas meranga tidak percaya, mendengar Nicho memanggil Vaye sayang di dalam kelas. Timothy yang mendengar itu pun mengepalkan tangannya.


Dan untuk pertama kalinya, Nicholas tidak tidur di kelas selama pelajaran berlangsung. Ia menatap papan tulis, sesuai yang Vaye katakan. Guru yang mengajar pun ikut heran melihat Nicholas yang memperhatikan pelajaran.


Hingga sekolah pun berakhir, Nicholas langsung menarik tangan Vaye yang sudah berdiri lebih dulu dan hendak pergi.


" Teganya kamu meninggalkan aku." Ucap Nicholas.


" Kamu bisa jalan sendiri, kan?" Ujar Vaye.


" Sudahlah, ayo." Ucap Nicho, menggandeng tangan Vaye.


Tidak munafik, Nicho memang menyukai tangannya di gandeng oleh Vaye. Sejak kejadian di perpustakaan, ia terus menatap tangan nya yang perbah di gandeng Vaye.


" Ayo buat taruhan.." Ucap Nicho setelah sampai di dalam mobil Vaye.


" Taruhan, untuk apa?" Ucap Vaye.


" Untuk agar kamu mau menjadi kekasih pura puraku." Ucap Nicholas.


" Ck.. Tidak mau, aku tidak ada waktu dengan hal hal taruhan." Ucap Vaye.


" Ayolah.. bilang saja kamu takut kalah, kan?" Ucap Nicholas.


" Oke! apa tantangannya?" Ucap Vaye kesal.


" Kita tanding, lima pertandingan." Ucap Nicholas.


" Lima? Apa saja itu.." Ucap Vaye.


' Hehe.. Kamu tidak akan menang, aku akan memilih olah raga kegemaranku.' Btain Nicholas.


" Pertama menembak, kedua berenang, ketiga balap motor, ke empat balap kuda sambil memanah target, kelima karate." Ucap Nicholas.


Vaye terdiam, Nicholas sedikit senang sekarang, Vaye pasti sedang kesal karena itu semua olah raga yang sulit. Karena Vaye jago bela diri, Nicholas hanya menyebut satu itu saja, sisanya adalah olah raga yang dirinya kuasai.


" Kamu yakin? " Ujar Vaye.


" Tentu saja, besok sepulang sekolah, kita akan mulai bertanding menembak. Katakan padaku, jika kamu tidak sanggup nanti. " Ucap Nicholas, dan langsung turun dari mobil Vaye. Sementara Vaye hanya melihat kepergian Nicholas, lalu menghela nafas.


" Hhufft... "


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2