
Ryu langsung menggunakan kembali maskernya agar tidak di kihat oleh Ethan. Riu belum tahu bahwa Ethan sudsh menyadari bahwa Yara memiliki saudara kembar.
" Yara.. " Ucap Ethan lagi.
" Aku disini, jangan banyak bergerak, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." Ucap Yara.
" Kamu baik baik saja.? " Tanya Ethan.
" Aku baik baik saja." Ucap Yara.
" Syukurlah.. " Ucap Ethan laku kembali tak sadarkan diri.
' Cecunguk ini, bikin aku kaget saja. Aku pikir akan ketahuan, Hufft...' Batin Ryu bermonolog.
Helikopter itu mendarat di atap rumah sakit, dan disana sudah ada dokter yang menunggu. Ethan di pindahkan ke ranjang rumah sakit lalu di dorong memasuki lift.
" Kak, aku boleh menunggunya disini.?" Ucap Yara.
Ryu menatap adiknya itu lekat lekat, Ryu menyadari satu hal.. Sepertinya adiknya itu sudah benar benar jatuh cinta pada Ethan.
' Adikku sudah dewasa.' Batin Ryu bermonolog.
" Boleh.. Kakak akan kembali ke kediaman, kabari kakak jika terjadi sesuatu." Ucap Ryu sembari mengusap kepala Yara.
" Terimakasih kak." Ucap Yara.
Yara pun langsung berlari dan ikut masuk kedalam lift yang akan membawa Ethan.
" Tuan muda, bagaimana dengan nona.?" Tanya Ralf.
" Biarkan dia disini, perintahkan mata mata yang menjaga nya untuk terus memantau orang keluarga Dominique. Jika ada yang berani berniat menyakiti adiku, habisi." Ucap Ryu.
" Baik tuan muda." Sahut Ralf.
Ryu pun kembali menaiki helikopter nya dan mengudara pergi dari sana. Setelah Ryu pergi, datang lagi helikopter lain, kali ini helikopter itu membawa Rayson, Bara, dan Jilian yang telah kembali berkumpul. Jilian hanya mengalami sedikit luka, yang paling oarah dsri mereka bertiga adalah Bara.
" Apakah Ethan Dominique dudah tiba.?" Tanya Rsyson kepada perawat.
" Sudah tuan Silvester, Tuan Dominique tengah ditangani di meja operasi." Ucap perawat itu.
" Bagus, tolong obati mereka." Ucap Rayson.
Mereka pun masuk kedalam gedung rumah sakit itu menggunakan lift yang sama dengan yang digunakan oleh Ethan sebelumnya. Saat Rayson tiba di depan ruang operasi, ia melihat Yara yang tengah duduk. Namun terlihat dari raut wajahnya ada kekhawatiran yang besar.
" Yara.. " Panggil Rayson.
__ADS_1
" Kau sudah datang, dimana yang lain.?" Tanya Yara.
" Mereka sedang ditangani dokter. Bagaimana Ethan.?" Ucap Rayson.
" Entah, operasi belum lama dimulai." Ucap Yara.
Rayson ingin bertanya perihal pria yang mirip dengan Yara, tapi ia mengurungkan niatnya. Rayson tidak ingin menghakimi Yara, ia akan menunggu Yara memberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Setelah hari dimana Yara menyusun rencana besar menangkap Kristin di Negara Y, Rayson tahu satu hal. Identitas Yara, tidak lagi sesederhana itu.
Oleh karena itu, ia tidak akan sembarangan bertindak. Yara bukan lagi orang yang hidup tanpa tujuan seperti dulu saat menggunakan identitas sebagai Y.
" Dia akan baik baik saja." Ucap Rayson.
Tiba tiba seorsng dokter kekuar dari meja operasi.
" Tuan Silvester, tuan Dominique sedang dalam keadaan bahaya, ia mencari cari anda." Ucap sang dokter.
Rayson langsung bangun dan menghamipri sang dokter.
" Ada apa.?" Ucap Rsyson panik.
" Tuan Dominique mencari anda, tolkng tuan cepat masuk, tuan Dominique tidak bisa menunggu lama." Ucap dokter.
Rayson langsung saja masuk kedalam ruang operasi. Yara ingin masuk namun dihadang oleh dokter itu.
" Maaf tuan, tuan Dominique hanya mencari tuan Silvester saja. Anda dilarang masuk." Ucap sang dokter, lalu kembali masuk kedalam ruang operasi.
Yara nampak khawatir, ia berjalan mondar mandir di depan ruangan operasi sambil menggigit jari jarinya.
Tak lama tiba tiba pintu ruang operasi itu kembali terbuka, dan terlihat Ethan yang tengah tak sadarkan diri di dorong menuju ruang rawat. Yara melihat wajah Rayson seperti ada yang tidak beres. Yara mulai merasa takut.
" Apa yang terjadi dengan nya.?" Tanya Yara.
Rayson hanya menggeleng lemas, Yara berkaca kaca. Entah mengapa hatinya begitu sakit, nafasnya terasa sesak.
" Apakah operasinya lancar.?" Tanya Yara.
Rayson kembali menggeleng lemah dengan wajah sendu.
" Katakan sesuatu, apa yang terjadi. Apakah terjadi sesuatu padanya.?" Ucap Yara sedikit meninggi.
" Lebih baik kita keruang rawat Ethan dulu, akan aku ceritakan disana nanti." Ucap Rayson.
Yara hanya menganggukan kepalanya , Lalu bergegas pergi menyusul Ethan yang di dorong menggunakan brankar rumah sakit.
" Dok, apakah olerasinya lancar.?" Tanya Yara kepada dokter yang menangani Ethan.
__ADS_1
" Maaf tuan, kondisi pasien sangat rahasia. Demi keamanan, kami hanya bisa memberi tahu orang terdekat tuan Dominique saja. " Ucap sang dokter.
" Aku juga orang terdekatnya, katakan apakah terjadi sesuatu kepadanya.?" Ucap Yara lagi.
" Maaf tuan, saya permisi." Ucap sang dokter. Dokter itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Yara dengan sejuta ke khawatiran.
Yara mendekat kearah Ethan, lalu duduk di kursi yang berada disamping Ethan tidur.
" Ethan.. " Ucap Yara pelan.
Tak terasa sebutir air mata lolos dari ujung mata Yara dan jatuh diatas tangan Ethan .
' Kenapa ini Tuhan, kenapa rasanya sakit saat melihat dia tak berdaya.' Batin Yara bermonolog.
' Apakah aku benar benar sudah menyukainya, tapi aku akan segera pergi setelah semua ini berakhir.' Ucap Yara lagi.
Yara menghapus air matanya, dan saat itu juga Rayson dan Jilian masuk kedalam.
" Yara, hari sudah hampir pagi, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku sudah memesan sebuah kamar rawat untukmu." Ucap Rayson.
" Tapi bagaimana dengan kondisinya.?" Ucap Yara masih penasaran.
" Dia kritis, kita bahas besok saja. Kamu juga butuh istirahat." Ucap Rayson lagi.
Yara mengangguk, Ia pun diantar Rayson ke kamar rawat yang bertepatan disebelah Ethan. Mengapa mereka bisa sesuka hati menggunakan fasilitas rumah sakit, jawaban nya karena itu adalah rumah sakit milik keluarga Rayson. Dan semua pegawai di rumah sakit itu mengenal Rayson.
" Istirahatlah, Ethan akan memarahiku jika ia tahu aku membiarkan mu menunggunya dan tidak istirahat." Ucap Rayson.
" Terimakasih." Ucap Yara.
" Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Rayson.
Rayson meninggalakn Yara di kamar rawat kosong itu sendirian. Walau itu kaamr rumah sakit, tapi fasilitas disana sangat mewah, karena itu adalah kamar VVVIP khusus keluarga Silvester.
Yara merebahkan dirinya di sofa yang berada disana, tubuhnya benar benar lelah. Namun ia masih juga kepikiran dengan kondisi Ethan.
' Ya Tuhan, aku harap dia baik baik saja.' Doa Yara dalam hati.
Perlahan tapi pasti, Yara pun mulai memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpi. Setelah beberapa menit Yara tertidur tiba tiba pintu kamar itu terbuka, dan masuk sesosok pria yang berbadan tinggi. Ia berjalan pelan menghampiri Yara lalu duduk di meja, dimana di hadapan nya ada Yara yang tengah tertidur pulas.
" Tidur pun keningnya berkerut." Ucap pria itu.
Pria itu mengecup kening Yara, lalu memakaikan selimut untuk menutupi tubuh Yara. Yara yang terlalu lelah tidak terusik sama sekali dengan pergerakan pria itu.
" Selamat tidur, sampai bertemu besok." Ucap pria itu lalu pergi dari kamar itu meninggalkan Yara yang tertidur lelap.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.